Zanna melamun di gazebo taman belakang. Tempat yang jauh dari keramaian, tempat biasa ia menulis, menuangkan imajinasi yang mengawang-awang, sekaligus tempat mengajari Lintang membaca dan menulis di siang hari saat ia libur kerja.
Waktu berlalu semakin cepat. Ini sudah hari keempat setelah ia pulang dari rumah sakit. Pikirannya sedang kusut mengingat apa yang ditawarkan Abahnya, lanjut S2. Tapi rasanya ia tidak ada semangat untuk meneruskan kuliah, mendalami sastra atau masuk jurusan lain pun tak ada bedanya, ia tidak punya nyawa kearah sana. Ia hanya ingin pergi jauh namun entah kebelahan bumi yang mana.
Pernah tebersit bahwa dia harus pergi ke luar negeri seperti Mbak Sekar, tapi tidak mungkin. Dia tidak pandai berbahasa Inggris seperti kakaknya. Bahasa memang bisa di pelajari, tapi tidak dalam waktu yang singkat, sementara dia ingin segera meninggalkan rumah ini karena sudah tidak krasan lagi di sini.
“Zan, ada telepon buat kamu.” Ibu sudah duduk di sampingnya, tangannya menyerahkan ponsel putih tipis milik ibu pribadi.
“Siapa, Bu?” kening Zanna berkerut. Sejak ia sakit sampai sekarang tidak ada orang yang mencarinya. Semua teman-teman di kantor sudah ia kabari jauh sebelum ia sakit, mereka tidak ada keperluan apapun dengannya, kecuali Wulan yang kemarin datang untuk menjenguknya.
“Bude Hanum, katanya mau bicara dengan kamu. Ibu nggak bilang kamu sakit, sudah angkat saja. Barangkali ada sesuatu yang penting.” Ibunya bergegas meninggalkan Zanna seorang diri. Dan gadis itu segera mendekatkan ponsel di telinganya, sudah ada suara Bude Hanum, kakak ibunya yang tinggal di Pekalongan.
“Halo, Cah ayuku? Piye kabarmu, Nduk? Bude kok tiba-tiba kangen kamu sih, ada apa ya? Kamu sehat?” ujar Bude dengan ramah sekali.
Zanna di serbu oleh serentetan pertanyaan. Ia bingung harus menjawab yang mana dulu. Akhirnya ia tersenyum seolah Bude bisa melihat dirinya.
“Kamu sehat tho, Nduk?”
“Nggih, Bude. Zanna sehat kok. Ada apa Bude telepon, tumben sekali.”
“Lha… memangnya ndak boleh Bude kangen-kangenan karo ponakane?”
Zanna tersenyum lagi, lupa kalau Bude tidak bisa melihat wajahnya.
“Cah ayu, Bude dengar kamu suka nulis ya? Langsung saja kalau begitu. Bude diceritakan ibumu kalau kamu berhenti kerja di surat kabar terkenal itu ya? Gini, jadi Bude ada kenalan yang kerja di kantor penerbitan di Jakarta. Lagi butuh orang di kantornya buat lowongan editor gitu lho, Nduk. Kamu mau tak tawari ini, gimana?”
Zanna sempat termangu sejenak, berpikir dan mencerna setiap kalimat dari Budenya. “Ehm… Jakarta ya, Bude?”
“Memang jauh sih, tapi mbakmu lebih jauh lagi perginya. Dia ke Eropa tho? Jakarta bukan apa-apa, wong masih dekat gitu kok. Nanti kamu bisa tinggal di apartemen Pakde Heru yang di Jakarta Selatan, tempatnya bersih dan bagus, sudah lama tidak ada yang menyewa. Gimana, mau?”
Dalam lamunan singkatnya Zanna memikirkan ini baik-baik, Jakarta memang dekat tapi ia belum pernah ke sana. Kalau Surabaya dan Jogja ia pernah beberapa kali ke sana sebab di ajak Abahnya mengikuti seminar.
“Ini kantor penerbit yang terkenal itu lho, Nduk. Yang buku-bukunya laris di pasaran. Kamu kan sudah ada pengalaman dua tahun di surat kabar, bisalah… ehm, nyambung juga kan sama jurusanmu?” Bude Hanum semangat membujuk Zanna.
“Zanna pikirkan dulu, Bude. Masih agak samar.”
“Yo wis, Bude tunggu ya. Jangan lama-lama, nanti lowongannya sudah keburu di isi orang. Ini teman baik Bude yang kasih kabar lho, Nduk. Ya sudah, salam buat Abah dan Ibumu ya. Kapan-kapan Bude main ke sana, mau ada perlu juga sama Abahmu.”
“Nggih, Bude. Matur nuwun. Salamnya nanti Zanna sampaikan.”
“O ya, hampir lupa. Itu, masmu nitip salam rindu katanya. Mas Daffa-mu itu lagi nyusun thesis, doakan ya semoga semuanya lancar.”
“Aamiin. Nggih, Zanna turut mendoakan Mas Daffa, Bude. Salam balik, Zanna juga rindu.” Zanna tersenyum membayangkan wajah bersih Daffa. Anak kedua Bude yang terkenal cerdas dan sregep sekali.
“Ya sudah itu dulu, Nduk. Nanti kabarin Bude lagi ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam wa rahmatullah.” Zanna menjawab sambil menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menarik napas panjang, dadanya terasa lapang sekali.
“Alhamdulillah, aku di kelilingi orang-orang yang sayang padaku.” Lirihnya sendiri.
Semalaman Zanna memikirkan tawaran budenya, dalam hati ia ingin sekali ke sana tapi tidak mau sendiri. Hidup di apartemen seorang diri sungguh menyisakan kisah yang semakin pilu, waktu kosongnya mungkin akan membuatnya ingat Mas Fajar. Mau tidak mau, wajah lelaki itu masih mampir di dalam kepalanya. Zanna lelah dengan semua ini, ia ingin istirahat dari pikiran yang terus memutar gambar Fajar.
Lama ia berpikir sampai akhirnya keputusan besarnya itu ia ajukan pada Abah dan Ibu, mereka berunding di ruang tengah. Zanna duduk di samping ibunya yang tak henti mengelus rambut panjangnya dengan lembut.
“Kanapa kamu harus bawa Lintang? Biarlah Lintang sama Abah di sini, sudah waktunya kamu memikirkan dirimu sendiri, memikirkan tentang masa depanmu.” Abah angkat suara setelah mendengar keinginan anak bungsunya.
“Zanna tidak bisa jauh dari Lintang, Bah. Dia… milik Zanna, Bah. Biarkan Lintang ikut Zanna ke Jakarta.” Zanna memohon pada abahnya.
“Ibu khawatir kamu tidak bisa membagi waktu mengurus Lintang dan dirimu sendiri, ibu Khawatir, Sayang.” Kini sang ibu mendekap erat tubuh anaknya. “Kamu kerja atau kuliah, itu sudah sangat menyita waktumu, Nduk.”
“Insya Allah semua akan baik-baik saja. Zanna akan sering memberi kabar kepada Ibu dan Abah.” Zanna melepas pelukan ibunya. “Zanna belum kepikiran untuk lanjut S2, Bah.” Matanya menatap lurus kepada abahnya.
“Mbakmu belum pernah pulang sejak pergi ke London, sekarang kamu harus pergi lagi. Punya dua anak rasanya tidak cukup ya, Bah?” Ibu bertanya pada suaminya tapi wajahnya memandang ke arah lain. Ada gurat sedih di wajah Ambar mendengar keputusan anak gadisnya ini. “Zan, kalau kamu bawa Lintang pergi… apa tidak menyulitkanmu nanti? Kapan kamu dapat suami? Nanti orang lain kira Lintang itu anakmu, Zan?”
“Bu, sampai detik ini Zanna belum berpikir untuk menikah. Entahlah… mungkin Zanna memang tidak akan pernah menikah seperti Rabi’ah Al Adawiyah.” Ucap Zanna ringan sekali, seringan kapas.
Abah melirik kepada istrinya, ia memberi tatapan menegur agar jangan dulu membicarakan perihal pernikahan. Zanna masih alergi mendengar kata itu.
Esoknya, Zanna mulai mengemasi barang-barangnya, memasukkan beberapa baju ke dalam koper besar. Ia berhasil meyakinkan Ibu dan Abah untuk membawa Lintang bersamanya, ia akan membuktikan bahwa ia bisa merawat dan menyekolahkan Lintang seperti anaknya sendiri. Lagipula sejak Lintang lahir, ia menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri, bukan keponakannya atau anak dari Sekar.
Di ambang pintu ibunya sedang berdiri menatapnya lamat-lamat. Tangannya bersedekap, mulutnya terkunci namun dari ekspresinya—Zanna tahu apa yang sedang di pikirkan oleh ibunya—terlihat sedih dan seperti tidak rela bahwa anaknya harus pergi jauh. Dan ibu juga masih tidak terima ketika mendengar anak gadisnya tidak berniat menikah seperti Rabi’ah Al Adawiyah.
Masalah itu kini mereka bahas lagi.
Zanna angkat suara melihat ibunya mendekat. “Ibu dan Abah doakan Zanna saja, semoga ada jodoh yang mau menerima aku dan Lintang. Selama Mbak Sekar belum mengambil Lintang berarti dia itu anakku, Bu. Kalau tidak ada yang bersedia menerima kami berdua artinya Zanna memang tidak akan menikah.”
“Jangan berpikir seperti itu, Zanna.” Suara Ibunya meninggi.
Setelah itu terdengar suara sandal jepit semakin dekat, menuju kamar Zanna. Abah datang, beliau sudah pasti mendengar percakapan mereka hingga sampai berkata, “Ibu sing sabar,” ia mengingatkan. Abah tahu perasaan putrinya saat ini, Zanna pergi ke Jakarta pun bukan karena ingin, tapi ada rasa terpaksa karena tidak krasan tinggal di rumahnya sendiri. Ia ingin menghindari takdir agar tidak bertatap muka dengan Fajar dan istrinya, apalagi rumah mereka berjarak sangat dekat.
Zanna tidak sanggup melihat kebahagiaan dan kemesraan mereka berdua, ia belum ikhlas menerima takdirnya sendiri. Kenapa harus ada cinta kalau akhirnya menyiksa? Batinnya masih berontak.
“Jangan lupa sering kabari Ibu dan Abah. Jangan seperti Sekar, mbakmu, dia ndak pernah rindu sama Ibu, masa usia Lintang sudah mau lima tahun dia ndak pulang-pulang juga. Dan kalau sampai usiamu lewat tiga puluh dan belum menikah, Ibu dan Abah akan carikan jodoh untukku, Zanna.” Kata-kata ibunya sangat tegas, malah terdengar seperti ancaman.
Zanna menanggapi dengan santai, usianya baru akan menginjak dua puluh lima tahunan. Masih ada banyak waktu tersisa untuk mengobati luka hati yang sangat perih sebelum akhirnya kembali membuka hati untuk lelaki lain, itu pun kalau ada yang menarik perhatiannya.
“Abah akan kirimkan uang untuk biaya hidup kalian dan sekolahnya Lintang. Dan berhubung kamu tidak mau tinggal di apartemen Pakde Heru, berarti kalian harus sewa rumah tho?”
Zanna menghentikan aktivitasnya, ia menatap wajah kedua orangtuanya dengan lembut. “Abah dan Ibu tidak udah repot-repot kirim uang untuk kami, Zanna punya tabungan. Insya Allah Zanna akan dapat pekerjaan dan gajinya yang bisa membiayai segala kebutuhan kami di sana. Bukankah Abah yang bilang bahwa Allah Maha memberi rezeki? Doakan Zanna dan Lintang saja. Zanna tidak akan kekurangan, Allah Maha Pemurah, Bah.”
“Zanna, kamu mau kerja apa? Lihat diri kamu, Zanna. Mengurus diri sendiri saja kamu belum becus! Kamu jangan memaksakan diri, kabur untuk melupakan masalah Fajar dan Wanda, tapi jangan membuat oranglain ikut menderita!” ibunya mulai naik darah. Sebenarnya ia khawatir dengan putri bungsu dan cucunya. “Ibu cerita ke Mbakyu Hanum sebab itu mau kamu bahagia kalau pergi dari rumah, tapi kok rasanya aku nggak kuat harus di tinggal anak lagi. Apalagi kamu minta bawa Lintang segala. Kamu jangan egois, Zan, ibu juga butuh kalian di sini, temani ibu. Pokoknya Ibu mau ikut!”
Abah tercengang mendengar itu. Air mata istrinya sudah merambat di pipi, membasahi paras ayu yang masih sedap untuk di pandang. Padahal kemarin Abah melihat istrinya sendiri yang cerita kepada mbakyunya kalau Zanna butuh tempat refresing, tempat baru untuk mengusir kedukaan. Nyatanya istrinya itu masih tidak siap untuk di tinggal anaknya lagi. Terkadang hati perempuan memang susah untuk diterka.
Zanna duduk bersimpuh di hadapan Ibu dan Abahnya. “Beri waktu untuk Zanna, aku ingin pergi dan menata hidupku sendiri bersama Lintang.” Ia memohon dengan isak tangis yang tak terbendung lagi. “Abah… Ibu… Zanna mohon restu kalian, Zanna akan tetap pergi dengan Lintang.”
Ibunya keluar kamar Zanna, ia tidak sanggup melihat Zanna terus mengemas barang-barangnya itu. Sudah cukup baginya di tinggal oleh Sekar, anak sulungnya yang tidak juga pulang sejak melahirkan anak pertamanya. Kini anak itu di rawat oleh Zanna, gadis itu sangat menyayangi Lintang melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.
Kalau tidak ada Lintang, mungkin hidup Zanna—karena patah hati—akan lebih tidak berguna. Lintang adalah sumber kekuatannya sekarang, tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua kecuali takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan. Sampai kapanpun Zanna kan tetap menyayangi Lintang seolah dia yang telah melahirkan anak itu.
Abah menunduk mengelus pundak anaknya. “Bangun, Nduk. Abah insya Allah ridho dengan pilihanmu sekarang. Tapi, siapa teman Abah nanti pas menghadiri seminar ya?”
Zanna segera bangkit. Ia tersenyum lembut. Matanya berbinar menatap wajah teduh abahnya. “Abah kan punya banyak mahasiswa, ajak saja salah satunya untuk ikut dengan Abah.”
“O ya, kadang Abah lupa kalau punya banyak anak di luar sana, Nduk. Tidak cuma kamu dan Sekar saja ya.”
Zanna memeluk abahnya dengan penuh rasa sayang. Beruntunglah dia punya Abah yang selalu mendekatkan dirinya pada Sang Kuasa.
Setelah Abah keluar dari kamarnya, Zanna lanjut memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Ia juga membawa beberapa buku penting, ia kemas bersama Al-Qur’an ukuran sedang. Tak ketingalan ia membawa barang penting yang selalu ia butuhkan untuk menuangkan ide, laptop, benda yang sangat kramat baginya.
Pagi itu burung cicit bercuit-cuit riang. Matahari mulai menampakkan diri di peraduan, warnanya sedikit oranye. Awan tebal melapisi langit biru membentuk banyak gambar, seperti gambar singgasana raja, gunung, bahkan wajah manusia.
Di teras rumah ada Lintang dan Ambar—Eyang Putri—mereka sedang mencoba bermain tebak-tebakan bentuk awan di atas langit. Beberapa kali Lintang bilang gambar yang ia tangkap adalah huruf hijaiyah, “Ta!”.
Dan Ambar mengoreksi, “itu gambar perahu, Lintang.”
“Eyang salah. Itu “Ta!”” Lintang kekeh.
Melihat kemesraan itu hati Zanna tampak sedih. Ia akan membawa Lintang pergi, ibunya pasti akan bersedih selama beberapa hari. Ya, mereka harus belajar dengan perpisahan sementara ini.
Abah mulai mengangkut barang-barang ke bagasi mobil. Zanna ikut menata tumpukan dus yang berisi buku dan beberapa mainan Lintang, anak itu ingin membawa beberapa bonekanya ke Jakarta. Dalam hati Zanna berpikir untuk mengendarai sedannya sendiri sampai ke Jakarta, ia yakin akan sanggup. Walau hatinya sakit tetapi fisiknya tidak lemah. Ia nekat membawa kendaraan sendiri sebab mobil adalah salah satu benda penting yang wajib ia bawa. Mengingat betapa ganasnya angkutan umum di Jakarta dari berita-berita yang ia lihat di koran, maklum dua tahun ia kerja di kantor surat kabar, ia sering membaca berita lewat koran yang di cetak oleh kantornya.