6 Perjalanan Melupakan

1801 Kata
Sebelum Zanna berangkat abahnya tampak resah. Ibunya berkali-kali menatap wajah anaknya, ia masih tidak rela ditinggal pergi Zanna dan Lintang. Ia peluk dua orang itu bergantian, pelukan yang sangat hangat. “Zanna, Abah khawatir dengan keadaan kamu. Kamu perempuan, Nduk. Sebaiknya kamu jangan nekat ke Jakarta dengan membawa mobil sendiri. Abah harap kamu terima saran abah, Nduk.” Nasehat sekaligus saran dari Abah kali ini di dengar Zanna, ia patuh pada abahnya. Ia berharap semoga selamat sampai tujuan dan juga memperoleh ridho orangtua yang telah merawat dan membesarkannya. “Nanti kamu ke Pekalongan dulu, mampir ke rumah Bude Hanum. Dari sana biarkan Anas yang membawa mobilmu. Kamu masih ingat Anas kan?” Zanna kembali memutar ingatannya kebeberapa tahun silam, ia masih punya sedikit memori tentang Anas dalam kepalanya. Anas adalah sepupunya dari pihak Ibu yang tinggal di Pekalongan, dan ibunya pernah dibesarkan di sana. Keluarga besar Ibu sampai sekarang masih di sana, tapi Zanna tidak banyak mengenal keluarganya yang lain sebab sejak kecil dia tinggal di Semarang. Terakhir kali ia melihat Anas saat masih SMP, setelah itu mereka tidak pernah lagi bertemu sampai menginjak usia sekarang, dan sebenarnya sejak dulu mereka tidak begitu dekat. Anas itu anak bungsu Bude Hanum yang kemarin meneleponnya, dia adik Daffa. Kalau kata Ibunya Zanna, Daffa adalah keponakannya yang paling sregep. Zanna pun lebih mengenal Daffa di banding Anas, sebab Daffa itu yang sering memberi kritik dari artikel-artikel yang ia buat di majalah dan koran terbitan kantornya. Kritiknya lumayan tajam tetapi membangun. Zanna selalu menerima kritik dan masukan dari Daffa untuk proses perbaikan. Maklum saja, soalnya Daffa memang lebih jado darinya, wawasannya luas dan suka membaca buku apa saja. “Anas yang sedikit pendiam itu, Bah?” Zanna bersuara. “Dia hanya mau mengantar aku ke Jakarta saja?” “Iya, dia memang sedikit pendiam dan Insya Allah amanah, Abah percayakan kamu sama Anas sampai Jakarta. Abah sudah menghubungi dia sejak semalam.” Abah mengambil jeda sebentar, “dia ada urusan di Jakarta, jadi bareng saja sama kamu, Nduk. Katanya mau cari lokasi yang strategis buat buka butik baru atau cari tempat kosong di Mall Jakarta. Jelasnya abah tidak paham. Yang Abah tahu batiknya kan sudah sampai manca negara, Zan. Kamu harusnya bangga punya Bude yang sudah jadi pengusaha sukses. Kemarin saja Bude nyuruh Anas ke negara tetangga, Zan. Malaysia kalau tidak salah.” “Sampai ke Malaysia, Bah?” Zanna merasa agak terkejut. “Iya, benar itu.” Ambar tiba-tiba ikut nimbrung pada obrolan anak dan suaminya. “Kamu sibuk dengan duniamu sendiri sih, tiap hari di depan komputer terus sampai kantung matamu besar. Eh, Zan… Ibu nitip salam buat Anas ya. Sudah lama Ibu tidak ketemu dia, sebesar apa dia sekarang. Kalau Daffa kan ibu sudah lihat, dia makin gagah, Zan.” Ambar berkata bangga. Dia memang memiliki keponakan yang hebat-hebat. “Ya sebesar Zanna-lah, Bu. Mereka kan seumuran, waktu Zanna masuk SMA bukannya Anas mondok ya, Bu?”Abah melirik ke arah istrinya. “Sekarang dia bantu Mbak Hanum ngurus butik?” Istrinya mengangguk. “Lho… bukannya dia harusnya menerapkan ilmunya untuk ngajar agama gitu lho, Bu. Sayang saja, lulusan pondok kalau ilmunya nggak di ajarkan ke masyarakat.” Protes Abah. “Hust, Abah ini sembarangan. Makanya kalau tanya jangan setengah-setengah. Anas sekarang sudah banyak ngisi kajian di sekitar Pekalongan, dia tidak cuma bantuin Mbakyu, Bah. Tapi dia itu kerja, lagi mau buat usaha sendiri. Yang di Jakarta itu nanti dia yang ngurus.” “O walah… Alhamdulillah, Bu. Ponakanmu mau jadi pengusaha.” “Nggih, Bah. Alhamdulillah.” Zanna geleng-geleng kepala. “Kok malah ngomongin si Anas sih, Bah?” “Perkenalan saja dulu, Nduk. Siapa tahu…” abah tidak berani melanjutkan. Sebab Abah tahu, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Fajar di hati putrinya sampai detik ini. Fajar adalah penyebab semua kerumitan ini terjadi hingga Zanna harus pergi. Laki-laki itu menghadirkan cinta dan juga luka, luka yang tidak memberikan penawarnya. “Sudah-sudah. Itu pun kalau kamu cocok, Zan. Kalau tidak ya sudah tidak usah di paksakan. Orang Anas juga nggak pernah lagi ketemu kamu, tho? Siapa tahu dia sudah punya calon dari pondokan.” Ibunya berlalu, tapi setelah agak jauh dia menghentikan langkahnya, menatap Zanna dan abah. “Jangan cemaskan jodohmu, Zan. Tenang, Ibu punya stok banyak buat di kenalkan ke kamu kalau kamu sudah siap. Ngomong-ngomong Daffa itu juga gagah lho, Zan.” Ibunya tersenyum-senyum sendiri. “Pinter lagi,” tambahnya. “Halah ibumu, Nduk… dari dulu nge-fans sama keponakan sendiri.” Sahut Abah yang tidak mau kalah. “Mahasiswa Abah yang lagi S2 juga banyak yang belum menikah.” “Ya sudah kalau begitu kenalkan saja Zanna sama mantan asisten Abah dulu di kampus. Yang katanya memiliki intelektualitas yang bagus, tapi menurut Ibu tetap Daffa. Wong dia juga nggak kalah pinter kok, dia itu lagi S2 juga, Bah!” Kata Ambar yang agak mengeraskan suaranya. “Sudah-sudah. Kok malah jadi debat begini tho?” Zanna menengahi. “Iya, nanti kalau Zanna sudah kepikiran buat nikah Zanna bilang sama Ibu dan Abah, insya Allah. Tapi kayaknya niat Zanna masih sama. Zanna mau jadi Rabi’ah Al Adawiyah saja lah.” Sahut Zanna enteng. “Kalau jadi dia berat, Nduk. Waktunya hanya untuk Allah, lha… kamu sakit hati saja sudah mewek gimana tho?” Abah meliriknya, ada sedikit gurauan dalam tatapannya. Zanna mengangkat bahu, ia masih ada alergi mendengar kata “menikah”. Ambar sudah masuk ke dalam rumah menyusul Lintang yang minta di buatkan s**u. Sementara Zanna masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia ingin mengungkapkan suara hatinya. “Bah, gimana ya kalau aku masih terus ingat sama Mas Fajar dan Mbak Wanda. Hatiku rasanya sakit sekali.” Abah melangkah maju mendekati Zanna, ia mengelus kepala Zanna. “Serahkan saja semua urusanmu kepada Allah. Semoga semua keputusan-Nya bisa kamu terima dengan ikhlas. Lapangkan dadamu, Nduk!” “Susah sekali rasanya melupakan Mas Fajar.” Zanna menghela napasnya. “Cinta itu hadir karena ada perjalanan waktu yang panjang, setiap waktunya ada satu episode yang membuat kamu suka padanya, jadi artinya cara melupakan dan mengobati juga perlu waktu, butuh yang namanya perjalanan melupakan. Setiap hari harus ada yang dilupakan dan di tinggalkan, Nduk.” Zanna mengangguk. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya, sebab air mata mulai menetes perlahan. Pukul sepuluh pagi, Zanna sudah selesai sarapan. Ibu menyuruhnya makan yang banyak sampai akhirnya perutnya penuh. Ia mengecek kembali barang-barang yang sudah ada di bagasi, takut kalau ada yang terlinggal. Wulan, teman yang ia kenal sejak kuliah itu datang. Ia memeluk Zanna erat sekali. “Kamu akhirnya merantau, Zan. Semoga sukses ya! O ya, disana ada banyak penerbit yang terkenal, siapa tahu kamu cocok kerja di sana. Sekalian terbitkanlah tulisanmu itu. Jangan hanya di pendam di dalam laptop saja, keburu basi nanti!” Zanna bisa tertawa dengan sahabatnya itu. Wulan adalah teman sekaligus sahabat terbaik yang Zanna miliki. Dia juga pembaca setia tulisan-tulisan Zanna yang tidak juga terbit alias mendam didalam file-file laptopnya sampai sekarang. Zanna menyimpannya sendiri sebagai koleksi pribadi, sampai saat ini ia belum memiliki niat untuk menerbitkan tulisan fiksinya yang kata sahabatnya itu lumayan menguras air mata. Saat masih bekerja di kantor surat kabar dia lebih giat menulis artikel, sebab ia mendapat banyak masukan dari abahnya. “Kapan-kapan kalau aku libur kerja panjang, aku akan ke Jakarta, Zan.” “Iya, kamu harus kesana.” “Lintang mana?” Wulan mengedarkan pandangannya, dia mencari keberadaan gadis kecil berambut pirang itu. “Aku bakal kangen kalian, Zan!” Zanna memeluk Wulan sekali lagi. “Lintang sudah tidak sabar ingin pergi, katanya mau jalan-jalan ke kota besar. Dia ada di dalam mobil sama Ibu.” Wulan segera mencari keberadaan Lintang, disana ada Ambar yang sedang menemani cucunya. Dari jarak empat meter terdengar suara Ambar sedang memberikan nasehat pada gadis kecil itu. Lintang terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, ia juga tersenyum menunjukkan deretan gigi depannya. Zanna melihat abahnya mendekat. “Bah?” “Hati-hati, Nduk. Maafkan Abah tidak bisa mengantarmu untuk bisa menikah dengan dia, Nduk.” Zanna menunduk. Setiap kali mengingat Fajar, matanya langsung panas. “Sudahlah, mungkin memang bukan dia jodoh Zanna. Masih banyak laki-laki di luar sana yang mungkin menerima Zanna dan Lintang. Bah, hidup itu bukan hanya soal jodoh tho? Zanna baru mau berjuang, Bah. Berjuang bersama Lintang, doakan Zanna selalu ya, Bah.” Zanna meraih tangan Abahnya, ia mencium tangan keriput itu dengan penuh syukur. Abah mengelus punggung anaknya, “semoga kamu selamat dunia akhirat, Nduk!” “Aamiin, insya Allah. Abah, Zanna titip Ibu ya. Zanna pamit, Bah.” Tubuh Zanna di rengkuh oleh abahnya, ini kali pertama Zanna pergi jauh. Dari sejak lahir sampai besar, Zanna tidak pernah pergi jauh dari rumahnya kecuali bersama Abah jika ia ikut seminar, sekolah dan kuliahnya sejak dulu ia tempuh di Semarang. Gadis itu berjalan menuju mobilnya, mencari sosok Ibu yang telah megandung dan membesarkannya. “Maafkan Zanna ya, Bu… kalau selama ini aku banyak salah dan nge-bantah sama Ibu.” Ibunya memeluk Zanna erat. Mereka terisak-isak bersama. Wulan yang berdiri di samping ibunya ikut menitikkan air mata. “Hati-hati, Nduk. Ingat pesan Ibu, jangan paksa awakmu kerja terus, jaga kesehatan. Ibu khawatir kamu sakit, siapa yang merawat.” “Nggih, Bu. Zanna pamit dulu.” Zanna melepas pelukan ibunya. “Sudahlah Bu, jangan nangis. Zanna dan Lintang cuma pergi ke Jakarta kok, bukan ke Eropa.” “Ibu sedih saja, masa Ibu di tinggal anak-anak Ibu.” “Bu… doa adalah cara seseorang mengungkap rindu. Doakan kami saja ya.” “Bahasamu sok puitis sih! Ibu bukan penulis kayak kamu.” Protes Ibu sambil diiringi senyum, tangannya mengelus lembut pipi mulus Zanna. “Cah ayuku, sing ati-ati.” Kini gantian Zanna memeluk Wulan. Sudah berapa kali mereka berpelukan, entahlah tidak terhitung. Berpisah dengan sahabat adalah salah satu hal yang menyedihkan. Tapi ini adalah perpisahan sementara, karena masih ada perpisahan selamanya jika kematian telah tiba. “Kamu sudah pamit ke Bude Ningrum belum, Nduk?” Abah bertanya hati-hati. “Sudak kok, Bah. Orang Ibu yang mengantar. Tadi selepas subuh sebelum Mas Hadid berangkat ngajar juga. Tapi sama Fajar dan Wanda belum, mereka berdua kebetulan lagi nginap di rumah orangtuanya Wanda. Nanti Ibu yang sampaikan saja.” Ibu kembali melirik anaknya, “sudah sana, kamu masuk ke dalam mobil.” Ibu membukakan pintu untuk Zanna. Zanna menurut. Ia tersenyum menatap tiga wajah bergantian. Setelah Ibu dan Abah mencium Lintang, barulah dia menutup pintunya rapat. Dalam hati ia mengucap doa safar yang dulu di ajarkan abahnya sewaktu kelas empat SD. “Bismillah ya, Bunda. Semoga kita selamat sampai tujuan.” Ujar Lintang dengan senyum cerianya. “Iya, Sayang. Insya Allah kita selamat, kita mampir ke rumah Eyang Hanum dulu ya, Lintang.” “Oke, Bunda. Lintang manut saja, kata Eyang Putri, Lintang harus manut sama Bunda Zanna.” Lintang tersenyum ceria. Gadis kecil itu memeluk bonekanya dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN