Pukul tiga sore akhirnya sedan Zanna sampai di halaman sebuah rumah joglo yang terlihat asri. Rumah Bude Hanum masih bernuansa tradisional Jawa Tengah, namun tetap terlihat menarik, halaman luasnya di isi taman dan kolam ikan mas yang jumlahnya banyak. Ada kebun kecil tempat Hanum menanam bumbu-bumbu dapur seperti sereh, cabai rawit, dan palawija lainnya.
Tidak jauh dari sana terdapat gudang batik, tempat Bude menyimpan kain gulungan yang siap di buat batik. Gudang itu tidak terlalu besar, hanya menampung sebagian kain yang sudah tidak muat di pabrik batiknya.
Kedatangan Zanna sudah di sambut hangat oleh Hanum, ia tahu keponakannya bakal mampir. Abah Zanna yang meminta izin supaya Anas bisa menemani Zanna ke Jakarta hari ini, lagipula ini kali pertama Zanna pergi ke Jakarta, abah takut anaknya tersesat di jalan jika memaksa pergi sendiri.
Bude memeluk Zanna dengan penuh kehangatan. “Kangen banget sama kamu, Nduk!”
Zanna balas memeluk Budenya yang terlihat lebih kurus dari beberapa bulan yang lalu. Keluarga Zanna memang sering silaturahmi ke sini, sebab jaraknya juga tidak terlalu jauh. Masih bisa sampai dalam waktu setengah hari.
“Iki Lintang tho?” Hanum mengulurkan tangan pada anak kecil itu.
Lintang menyambut uluran tangan Hanum dengan semringah. Wajahnya yang lucu membuat Bude Hanum gemas, ia langsung mengajak Lintang jalan-jalan sekitaran rumah.
“Halo Dik Zanna, gimana kabarmu? Masih apik tho?” Sapa Daffa kepada Zanna. Mereka memang lumayan akrab. “Kok lama ndak ada tulisanmu sih? Aku tunggu lho padahal. Gatel mulutku ini mau mengkritik.”
Zanna menanggapi dengan cengiran lebar. “Alhamdulillah sae, Mas Daffa.” Ia duduk di atas kursi kayu yang ada bantalannya. “Kan sudah selesai Mas kontrakku sama kantor itu. Aku mau memulai perjuangan baru di Jakarta saja.”
“Iya, aku dengar itu dari Ibu, tapi kok mendadak sekali. Ada apa tho?”
Zanna menggeleng. Tepat saat itu seorang pemuda datang, ia menebak-nebak siapa pemuda itu, mungkin Anas. Dan menurutnya wajah Anas sejak dulu hingga sekarang kurang mirip orang Jawa. Itulah yang ingin Zanna tanyakan sejak lama, kenapa sepupunya yang bernama Anas itu tidak mirip dengan kedua masnya, Hanan dan Daffa.
“Oh itu dia, Anas. Kamu lama kan nggak pernah ketemu dia, Zan?” ujar Daffa.
“Nggih, Mas. Terakhir ketemu kayaknya pas SMP ya?”
Anas sempat tersenyum sekilas, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Ia sedang mengangkut beberapa barangnya, ia membawa sebuah ransel besar dan tas laptop serta tote bag yang isinya beberapa berkas.
“Kasih aku kabar ya, Zan. Kalau ada apa-apa minta tolong saja ke Anas. Kemungkinan dia akan sering bolak-balik ke Jakarta kok.”
Zanna mengangguk saja. Matanya mencari-cari Lintang, anak itu sudah di ajak Bude Hanum ke kolam ikan. Seketika Lintang langsung akrab dengan orang-orang yang baru ditemuinya hari ini.
“Gimana kabar Sekar, Zan?”
Zanna menganggkat bahu. Dia benar-benar tidak tahu kabar mbaknya. Sudah lama tidak ada surat atau email dari Sekar, sebenarnya Zanna juga ingin cerita banyak tentang dirinya pada Sekar. Tapi rupanya mbaknya itu sedang sangat sibuk dengan agenda kuliahnya di London. Terakhir mereka video call-an saja dua bulan yang lalu, setelah itu Sekar tidak ada kabar sama sekali.
“Dia ndak mau pulang ke Semarang apa, ndak kangen sama keluarga?”
Zanna menanggapi dengan senyuman tipis lalu ia berkata pelan, “mungkin dia sibuk, Mas.”
Selesai makan, Zanna ikut membantu Hanum mebersihkan meja makan. Ia mengelap bersih meja itu sampai mengkilap. Budenya memang punya pembantu di rumahnya, tapi kebetulan pembantu itu sedang izin pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Hanum sendiri. Alhasil Hanum yang memasak sendiri makanannya.
Zanna mengumpulkan sendok yang sudah bersih, ia mencuci dan mengelapnya sendiri. Ia bingung meletakkan sendok-sendok kering itu dimana. Ia bertanya pada budenya yang ia pikir masih ada di dapur.
“Ini diletakkan di mana, Bude?” katanya sambil membalikkan badan hendak mencari sosok Bude.
Zanna terlonjak kaget, sebab sejak tadi Anas-lah yang berada di belakangnya. Pemuda itu sedang menyapu lantai dapur, lalu bersiap mengambil alat pel lantai.
Zanna masih memandangi Anas, sementara pemuda itu masih sibuk dengan aktivitasnya.
“Kenapa, Dik?” Daffa tiba-tiba datang membawa nampan dan gelas bekas mereka minum di ruang tamu.
“Ini, Mas. Sendok yang sudah keringnya diletakkan di mana ya?”
“Oh, di sana saja, itu yang sudah siap pakai.” Daffa mendekat sambil menunjuk arah kanan Zanna, tempat sendok yang sudah kering dan bersih.
“Nggih, Mas. Dari tadi aku nyari nggak ketemu. Maklumlah bukan rumah sendiri.” Kata Zanna malu.
Zanna masih berdiri di dekat wastafel. Ia pikir Daffa akan segera keluar setelah meletakkan nampan dan gelas-gelas itu, ternyata tidak, lelaki itu malah siap menggulung lengan kemejanya dan mencuci gelas itu satu persatu. Zanna masih terpaku melihat aktivitas di dapur itu. Ia kagum pada anak-anak budenya yang tidak segan membantu pekerjaan rumah saat pembantu sedang pergi.
“Apa tho, Dik? Kok ngeliatin aku terus?” tanya Daffa sambil menyalakan kran air. “Nas, ajak ngobrol Zanna dong. Diam saja dari tadi.” Daffa melirik Anas yang kini lanjut mengepel. Aroma lemon tercium di dapur, Anas menuangkan pembersih lantai beraroma lemon.
Anas masih diam. Menurut pendapat Zanna, tidak banyak yang berubah dari Anas, sejak dulu anak itu memang lebih pendiam dari dua saudaranya. Dan semakin dewasa wajah Anas tampak makin berubah, tampang Jawa-nya semakin tidak terlihat. Alisnya tebal membingkai mata yang bulat, hidungnya mancung, rahangnya kokoh dan rambutnya agak ikal, cambang tipis tumbuh di sekitar dagunya—seperti keturunan Timur Tengah.
Anas merasa ada yang sedang memperhatikannya, ia menoleh dan mendapati Zanna melamun menatapnya. Dengan cepat Anas kembali fokus pada pekerjaannya. Ia masih ingat Zanna, sepupunya dari Semarang. Dulu saat Zanna masih remaja, usianya sekitar empat belas tahun, gadis itu belum mengenakan jilbab seperti sekarang. Anas juga ingat betapa seringnya keluarga bulik-nya main ke sini, kadang membawa oleh-oleh khas Kota Semarang, lumpia, wingko babat sampai ikan bandeng pun di bawa bulik-nya itu.
Ini kali pertama Anas bertemu Zanna lagi setelah bertahun-tahun lamanya, sebab ia sibuk sekolah di Jawa Timur sambil mondok. Ia memilih sekolah dan nyantri atas kemauannya sendiri, ia ingin mendalami ilmu agama dan mengaji dengan kyai besar di Jawa Timur saat baru lulus SMP. Anas sendiri baru dua bulan pulang ke rumah, dan ia di suruh ibunya untuk memulai merintis bisnis batik di Jakarta. Selama dua bulan ini ia sudah belajar banyak tentang batik dan cara berwirausaha yang di ajarkan oleh ibu dan bapaknya. Bahkan di sela-sela kesibukkannya mengisi beberapa undangan kajian, Anas sering keluar kota untuk terjun langsung mendistribusikan batik keluarganya ke beberapa kota di Indonesia, Jakarta adalah salah satunya.
Malam itu setelah shalat Isya semua anggota keluarga Bude berkumpul, kecuali anak sulung dan istrinya yang tinggal di Solo. Lintang duduk di tengah, antara Zanna dan Bude Hanum. Anak itu menyandarkan kepalanya di pundak Zanna, ia terlihat sangat kemalet dengan Zanna. Wajar saja kalau semua orang mengira bahwa Lintang anaknya Zanna—kalau mereka tidak tahu bahwa Zanna belum pernah menikah.
“Bude berharap kamu menginap lho, Nduk. Walau cuma sehari.” Hanum memandang wajah Zanna, air mukanya berubah kecewa.
“Kapan-kapan lagi, Bude. Zanna sudah tidak sabar ingin melihat Jakarta.” Senyum di wajah ayu Zanna mengembang.
“Bude ndak punya anak wedhok sing ayune kayak kamu, Nduk. Eh, ibumu malah ndak punya anak lanang yang gagah-gagah ya?”
Mereka terkekeh bersama. Heru, suami Bude Hanum paling keras tawanya.
“Dari dulu ngomongnya gitu terus, Ibu… Ibu…” Daffa sampai geleng-geleng kepala.
“Kalau Ibu sanggup melahirkan lagi. Lha… aku siap ngopeni bayi kok.” Heru berkomentar. “Ya sudah, kan ada Citra, istrinya Hanan. Anak mantu-kan seperti anak sendiri, bedanya dia ndak di lahirkan oleh Ibu tho?”
“Orang mereka jauh kok. Coba saja kalau Citra mau tinggal di sini bukan di rumah bapaknya.” Keluh Hanum, “nanti pokoknya istri Daffa harus tinggal di sini. Titik.” Perintah Hanum, semua mata memandangnya bingung.
“Lha, masalahnya sekarang bukan itu, Bu. Calonnya Daffa sopo tho?” tanya Heru langsung. Heru melirik anaknya dengan tatapan penuh arti.
“Walah, repot aku. Orang masih mau lanjut nimba ilmu, kok malah di tanya calon. Piye iki?” jawab Daffa kebingungan.
Zanna dan Lintang saling menatap, mereka tersenyum. Walau tidak sepenuhnya paham obrolan orang dewasa, Lintang tetap antusias mendengarkan. Apalagi kepalanya di elus-elus oleh tangan lembut Zanna, ia makin anteng duduk di tengah-tengah orang dewasa.
“Nas, kamu kok diam saja tho? Kamu sudah dapat santriwati yang mau di kenalin ke Bapak belum? Ayolah, jangan malu-malu. Jangan-jangan kamu duluan yang sebar undangan.” Seru Heru pada anaknya yang satu lagi.
Anas menjawab dengan senyuman paling sulit di artikan. Tidak ada yang bisa menebak maksud senyumnya itu, bahkan Hanum sekalipun.
“Apalagi Anas, Pak, yang ndak punya teman perempuan. Wong Daffa saja yang punya banyak teman perempuan ndak ada yang nyangkut satupun.” Seloroh Hanum, “mereka itu nunggu Ibu jantungan baru mau cari calon.”
“Ibu jangan bilang begitu, ndak bagus.” Daffa mengelus pundak ibunya.
“Nggih, Bu. Jangan bilang begitu, setiap ucapan adalah doa.” Kali ini Anas ikut menimpali dengan bahasa yang teramat santun.
Hanun tersenyum menatap wajah anaknya satu-satu, mereka semua sudah besar dan dewasa. Ia kembali menatap wajah gadis di sampingnya, “Nduk, kowe lagi deket karo sopo tho?”
Zanna bingung di tanya begitu. Ia angkat bahu dan tersenyum tipis.
“Lha piye iki. Anak zaman sekarang di suruh nikah saja susahnya minta ampun, dulu aku sama Bapak di jodohin juga jadi ya, Pak?”
“Lha, itu kan dulu, Bu! Sekarang jamannya sudah beda, sudah ada handphone canggih dan youtube!” jawab Heru semangat.
Obrolan berlanjut sampai pukul depalan malam. Tepat saat itu mereka semua mengantar Anas, Zanna dan Lintang masuk ke dalam mobil.
Di pelataran rumah Hanum menitikkan air mata, entah kenapa melepas Zanna pergi hatinya merasa sedih. Padahal gadis itu bukan anaknya sendiri. Hanum langsung masuk ke dalam rumah ketika mobil Zanna sudah tidak tampak lagi di jalanan yang gelap. Heru segera menyusulnya, menepuk-nepuk pundak istrinya dengan penuh kelembutan.
Daffa sempat termenung di depan rumahnya, cukup lama ia berdiri di sana sambil memandang lurus ke depan. Ia masih memikirkan kata-kata ibunya tentang perempuan mana yang akan dia kenalkan pada keluarganya. Ia benar-benar buntu, tidak tahu harus mengenalkan siapa, sebab sampai detik ini belum ada perempuan yang pas di hatinya.