Karena Anas laki-laki maka ia berhak menyetir sedan itu, ia fokus pada jalan sambil mendengarkan radio yang ia nyalakan sejak mobil itu berjalan.
Sepanjang perjalanan radio memberikan informasi-informati tentang kuliner Jawa, objek wisata Jawa, kadang ada acara bincang-bincang tamu yang menggunakan bahasa Jawa. Anas beberapa kali mengganti saluran siarannya hingga berhenti pada saluran yang islami. Berisi ceramah singkat dari seorang mubaligh muda yang suaranya sangat Anas kenal, Muhammad Ali. Mereka pernah bertemu di Masjid Agung Pekalongan saat ada seminar pemuda muslim, Anas dan Ali sama-sama menjadi tamu undangan di seminar itu.
Rupanya Ali adalah seorang penceramah di radio yang di gandrungi banyak muda-mudi. Bahasanya halus dan pembawaannya kalem, apa yang dia sampaikan sangat mengena di jiwa. Sekitar lima belas menitan ceramah itu berlangsung, Anas merasa Ali adalah sosok yang cerdas dalam menyampaikan dakwahnya. Ia kagum pada pemuda yang seumuran dengannya itu.
Setelah ceramah selesai radio itu tidak di matikan, Anas menunggu siaran berikutnya sambil terus fokus pada jalanan. Sesekali ia melirik ke kursi penumpang yang ada dibelakang, melihat Zanna memangku kelapa Lintang, kadang Zanna memperbaiki selimut Lintang yang sedikit terbuka. Ia hanya mengecek keadaan dua orang itu, tidak ada maksud lain yang terselubung.
Sepuluh menit berlalu, kini murotal Al-Quran mengalun syahdu di dalam sedan itu. Zanna tidak berkomentar apapun. Ia turut hanyut dalam kesyahduan lantunan ayat-ayat-Nya. Terkadang ia larut dalam suasana, entah ayat mana yang di baca qori itu hingga sempat membuat jantung Zanna berdesir.
Ia meraba diri, pernahkah ia membaca Al-Quran sampai begitu nikmat hingga menitikkan air mata? Rasanya belum pernah dalam hidupnya ia menangis tersedu-sedu sebab ayat-ayatnya terlantun begitu indah. Ini kali pertama ia merasakan getaran hebat di dalam d**a.
Jujur, ia merasa tertampar ketika mengingat bahwa dia sempat sakit karena cinta—tapi tak sempat menafakuri ayat-ayat Allah yang begitu dahsyat di baca hingga menggetarkan jiwa.
Ia ingin menangis, dengan cepat ia memalingkan wajah. Lelaki di depannya tidak boleh melihat. Sejak tadi lelaki itu fokus menyetir sambil memenuhi jiwanya dengan ayat-ayat suci-Nya, tidak ada obrolan apapun sepanjang perjalanan hingga kini mereka sampai di Cirebon.
Adzan Subuh mulai terdengar bersahutan. Anas menepikan mobilnya, ia melihat-lihat sekitar untuk mengecek keberadaan masjid terdekat. Setelah mendapat petunjuk barulah ia bertanya pada Zanna yang baru bangun dari tidurnya. Gadis itu mengucek pelan matanya lalu melihat Lintang di pangkuannya.
“Kita shalat subuh dulu, lalu istirahat sebentar, bagaimana?”
Zanna mengiyakan tanpa suara. Ia mengecek keadaan Lintang, anak itu masih pulas.
“Biar saya gendong dia ke dalam.” Tawaran Anas disetujui, lelaki itu membawa tubuh mungil Lintang ke area masjid. Ia meletakkan Lintang di area khusus wanita. Seletah itu ia beranjak untuk segera mengambil wudhu. Mata Zanna tak henti memperhatikan gerak lelaki itu, tidak banyak bicara namun sikapnya seolah selalu peduli padanya dan Lintang.
Zanna tak terlalu mengenal Anas, dia hanya pernah mendengar tentang lelaki itu dari cerita-cerita bude dan ibunya. Dan semasa SMA sampai kuliah ia malah tak pernah melihat batang hidung Anas sama sekali. Lelaki itu seolah menghilang di tengah-tengah ramainya dunia.