9 Sebuah Pesan Darimu

1195 Kata
Akhirnya siang itu mereka sampai di Jakarta dengan selamat. Sedan itu membawa mereka ke subuah alamat yang di berikan oleh Wulan, sahabat Zanna. Dia punya saudara di Jakarta yang punya banyak kontrakan. Ia memilihkan satu rumah sederhana yang punya sedikit halaman untuk parkir mobil dan sebuah taman kecil. Wulan sudah menghubungi saudaranya sebelum Zanna sampai di Jakarta. Zanna dan Lintang akan tinggal di sini, rumah sewaan yang berukuran mungil di daerah Jakarta Selatan. Ia menolak tawaran Bude Hanum untuk tinggal di apartemennya, sebab ia merasa tidak leluasa jika hidup di apartemen itu. Ia tidak bisa main air di halaman dengan Lintang, tidak bisa menanam bunga di tanah secara langsung, dan sulit mengajari Lintang naik sepeda. Kini tangannya mulai membuka kunci rumah yang di berikan oleh pemiliknya, Ibu Rahma namanya. Rahma masih ada ikatan kekerabatan jauh dengan sahabatnya, Wulan. Rahma cukup baik, dia juga murah senyum. Ia membantu Zanna mengangkut beberapa barang-barangnya yang ringan. “Nak, ini sudah di bayar setengah ya. Sisanya bisa nanti saja.” “Siapa yang bayar, Bu?” Zanna bingung. Ia baru saja sampai, belum mengeluarkan uang sepeserpun utuk sewa rumah ini. “Tadi ada orang menelepon saya, mengaku sebagai Bapaknya Nak Zanna. Terus minta nomor rekening saya dan mentrasfer setengah dari total biaya sewa setahun.” Jelas Ibu pemilik kontrakan. Zanna mengangguk. Ia teringat janji abahnya yang akan memberikan jatah untuknya dan Lintang. Padahal ia sudah bolak-balik menjelaskan bahwa dia mampu membiayai kebutuhannya dan Lintang dengan uang tabungan semasa ia bekerja dulu. Abah tetap memaksa diri untuk tetap menyokong kebutuhan anak dan cucunya selama merantau. Zanna tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sebab kalau ia menolak nanti bisa di cap sebagai anak durhaka, ia tidak mau itu terjadi. “Sudah kewajiban Abah memenuhi semua kebutuhanmu dan Lintang. Kamu kan anak Abah, kalau kamu tidak sudi menerimanya artinya kamu tidak menganggap Abah lagi, Zan.” Ucapan Abah terngiang jelas, ucapan yang tidak bisa Zanna bantah. “Baiklah, kalau begitu biarkan sewanya Zanna bayar setengah. Aku ingin belajar bertanggungjawab dengan hidup dan pilihanku sendiri, Bah.” Jawabnya saat itu. Akhirnya mereka menemukan kesepakatan dengan membagi biaya sewa itu menjadi dua. Zanna kembali tersadar setelah melihat sosok Anas berdiri di depannya. Tubuh lelaki itu menjulang tinggi. Sekilas Zanna mengamati Anas, melihat Anas dari ujung kaki sampai ujung kepala, lelaki itu berbadan tegap, d**a bidang, postur tubuhnya sangat proporsional. “Dik Zanna?” Zanna merasa tersentak. Dengan cepat ia memalingkan pandangannya ke arah lain. “Lintang sudah saya bawa ke kamar depan. Ada dua kamar di rumah ini.” Zanna merasa rusuh. Ia tidak punya jawaban selain mengangguk canggung. “Semua barang-barangmu sudah saya masukkan. Oh ya, ini kunci mobilnya.” Anas menyerahkan kunci itu kepada Zanna. “Terimakasih.” “Sama-sama.” Jawab Anas tanpa menatap wajah Zanna. “Kalau begitu saya permisi dulu, Dik.” Anas sudah bersiap untuk pergi. “Tunggu! Ehm, maksud saya… apa tidak mau istirahat dulu sebentar?” Zanna bingung harus bagaimana, tapi tidak ada salahnya memberi tawaran pada sepupunya sendiri. “Tidak perlu, saya langsung ke apartemen Ibu saja. Kalau Dik Zanna ada perlu bisa hubungi nomor saya. Sepekan kedepan saya masih di Jakarta, insya Allah.” Sejujurnya Anas sangat menjaga diri, ia tidak mungkin berlama-lama dengan seorang perempuan di rumah yang sepi ini, walau pun perempuan itu masih terhitung saudaranya. Lebih baik ia mencegah timbulnya perihal buruk dari pada harus berkubang dalam kepayahan. “Saya permisi, Dik Zanna.” “Tunggu, nomor Mas Anas berapa?” Anas menyebutkan, Zanna mencatat di ponselnya. “Terimakasih banyak sudah membantu saya dan Lintang. Maaf jika saya banyak merepotkan.” Ucap Zanna yang merasa tidak enak hati. “Tidak perlu sungkan, sudah kewajiban kita untuk saling membantu, Dik.” Zanna mengangguk. Ia mengantar Anas sampai halaman depan, setelahnya ia masuk dan mengunci pintu utama. Ia mulai memberekan barang-barangnya sendiri. Menata satu-persatu dengan telaten dan sabar. Sebelum itu ia sempat mengecek kamar, apakah aman untuk mereka tinggali? “Aman.” Gumamnya pelan. Lintang masih tidur di atas kasur tipis. Zanna akan membeli yang baru supaya Lintang tidak sakit badannya. Rumah itu sederhana, cukup untuk satu keluarga dengan dua orang anak kecil. Lengkap, ada dapur, ruang tengah di gabung dengan ruang makan, ada satu meja dan empat kursi. Di ruang tamunya masih kosong melompong. Satu kamar mandi dan dua kamar tidur yang berurukan sedang. Ia akan tidur terpisah dengan Lintang, seperti saat di Semarang dulu. Ia khawatir jika ia sedang menulis ataupun bekerja maka aktivitasnya dapat menganggu istirahat Lintang. Ia sering sekali menulis tengah malam atau pagi-pagi buta saat ayam jantan belum berkokok. Selesai shalat Maghrib Zanna ingin mengajak Lintang keluar, mereka akan mencari makan malam. Dia belum tahu daerah ini sama sekali, ia juga tidak bisa membaca peta atau map. Ia lemah dalam mengingat jalan dan juga arah, sehingga ia memilih untuk menggunakan taksi selama beberapa hari ke depan agar tidak kerepotan sendiri. Suara pesan masuk dari aplikasi w******p terdengar, ia segera mengambil ponselnya di meja tengah. Sebuah pesan dari Fajar muncul di notifikasi ponselnya, Zanna ingin mengabaikan Fajar untuk sementara waktu—tapi rasanya sulit. Apalagi semakin jauh dari Fajar ia merasa semakin rindu, ia tahu perasaannya ini terlarang. Perasaan yang dapat menghancurkan rumah tangga oranglain. Haram baginya merindukan suami oranglain, tapi mau bagaimana lagi? Perasaannya masih seperti sedia kala. Cinta itu masih ada. Biar bagaimanapun cinta tak mudah terkikis oleh jarak dan waktu. Layaknya kenangan yang selalu muncul di sudut pikiran. Zanna akhirnya membaca pesan itu. Jantungnya berdesir halus, seperti orang sedang jatuh cinta. Zanna mulai membaca, pesan itu beruntun datangnya dan lumayan panjang sampai Zanna terkaget sendiri. Dik, kamu pergi kok nggak pamit Mas? Kamu masih marah sama Mas ya? Maafkan masmu ini, Dik. Sungguh, bila waktu bisa di putar kembali, aku ingin tetap bersamamu atau tidak usah ketemu kamu sekalian di dunia ini. –Mas Fajar. Kalau kamu butuh sesuatu, tak usah sungkan. Kabari Mas ya? Mas tunggu kabarmu selalu, Dik. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kita. –Mas Fajar. Zanna menahan gejolak di dadanya, ia ingin berteriak kencang demi melepas semua rasa di dalam d**a. Sayang, semua itu hanya sia-sia belaka. Ia lanjut membaca pesan beikutnya. Kamu tetap adikku dan aku tetap masmu, kita dalam ikatan keluarga besar. Kita tetap bisa saling mengabari, Dik. Tolong, sekali lagi Mas minta maaf, Dik. Mas sedang belajar menata hidup dengan Wanda, belajar ikhlas menerima takdir Gusti Allah, semoga kamu juga ridho, Dik Zanna. –Mas Fajar. Selesai membaca semua pesan air mata Zanna tak sanggup ditahan lagi. Ia menutup mulutnya dengan dua tangan, menangis penuh sesal dan benci. Ia menyesal karena telah lama mengurung perasaannya sendiri sampai tidak mebiarkan siapapun tahu. “Bunda…” Mendengar panggilan Lintang dengan cepat ia menghapus air matanya. Ia siap memasang wajah paling bahagia di depan anak kecil itu. “Iya, Sayang. Sebentar ya.” Zanna menyimpan pesan itu sebagai pesan berbintang. Ia tidak membalas, sebab ia merasa itu tidak perlu, malah akan memporak-porandakan perasaannya saja. Dan bagaimana jika Wanda tahu kalau suaminya menyimpan rasa untuk orang lain? Apakah dia tidak akan sakit hati dan membenci Zanna? Zanna benar-benar ingin pergi dari hidup Fajar, selamanya. Biar bagaimana pun dia juga seorang perempuan, yang tidak ingin ada perempuan lain dalam hati dan kehidupan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN