Zanna membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Sambil menemani Lintang, ia sibuk membuat back cover buku yang akan di cetak. Ada puluhan naskah yang antre minta untuk segera di respon, belasan buku siap maju ke mesin percetakan menunggu design sampulnya dari Jani, dan beberapa naskah harus segera di rampungkan, mereka juga menunggu back cover terbaik dari timnya. “Bunda…” lirih suara Lintang memanggilnya. Zanna mengangkat wajahnya dari layar laptop di meja sebelah ranjang Lintang. Ia tersenyum menatap anak itu. “Lintang mau pipis.” “Ayo, Bunda antar.” Zanna membantu Lintang sendiri, ia tidak terbiasa meminta bantuan suster sejak di rumah sakit ini. Kecuali jika ia sedang pergi ke kantor sebentar atau pulang untuk mengambil sesuatu, barulah ia menitipkan Lintang pada suster. Pagi tadi ia bar

