Sedan itu sudah berhenti di halaman rumah kontrakan Zanna. Lintang segera melepas seat beltnya dan berlari ke beranda rumah, wajahnya terlihat ceria. Anak itu benar-benar bahagia bersama Zanna di kota Jakarta. Ia sudah memiliki banyak teman dan ia cepat dekat dengan para pengajar di Al Amanah. “Lintang, kalau masuk bilang apa?” Zanna baru saja membuka pintu. “Assalamu’alaikum, Bunda!” “Pintar.” Zanna mengelus lembut kepala Lintang. “Iya, biar setannya nggak ikut masuk ya, Bunda? Biar aku dan Bunda nggak di gangguin kalau bobo.” Anak itu lalu tertawa. Zanna ikut melangkahkan kakinya di belakang Lintang. Ia sudah mengunci pintu itu kembali. “Bunda, kita masak apa hari ini?” tanya Lintang yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kita masak habis shalat Maghrib ya, Bunda?” Zanna terlihat

