Baik jantung, kamu gak boleh deg-degkan atau kerennya berdetak lebih kencang. Anggap saja mereka cuma segilintir orang asing yang maunya menjadi wartawan mendadak buat kamu. Rio ada benarnya juga. Aku harus pulang, aku harus bertemu dengannya. Aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Aku gak boleh menjadi abu yang bisanya cuma semakin menyakiti diri ku. Aku harus positif thingking, ada Mama, ada Papa dan ada Raga yang sudah pasti membela ku, tapi kan... Fix, aku pura-pura sakit aja deh, dari pada pulang tapi rasa neraka. Aku celingak-celinguk mencari keberadaan Rio, belum kelihatan, masih ada waktu untuk- "Gue anter. Tenang aja, gak bakal ketahuan." Suara khasnya terdengar ditelinga ku membuat ku terperanjat kaget. "Yo... itu... Anu... A-aku... Hoekk... Hoek.... mual, mau

