Chapter 1
ALENA KHANDRA’S POV
Banyak kata apakah yang selalu tertanam didalam otakku, mulai dari :
Apakah dia mencintai ku?
Apakah dia menyayangi ku?
Apakah dia membutuhkan ku?
Dan apakah dia masih menganggapku ada atau tidak didalam dihidupnya?
Jika disuruh mengulang waktu, aku gak akan pernah mau, sebab jawabannya sudah pasti sama, yaitu aku tetap memilihnya.
Menikah dengannya menjadi pilihan yang sangat kudambakan. Perihal dia cinta atau tidak, aku tidak mempermasalahkannya, karena bagiku cinta dan sayang itu akan datang sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu.
Namanya Bagas Dirgantara, enam tahun lebih tua dari ku. Sorotan mata yang tajam, irit berbicara serta mempunyai perasaan sekeras batu.
Percaya atau tidak, tetapi itu semua terkesan menarik bagiku.
Aku sangat suka dia yang begitu.
Oh iya, Namaku Alena Khandra- seorang anak perempun yang kelak menjadi gadis cantik dan penuh pesona- , panggil saja Al. Umurku baru 22 tahun, bekerja disalah satu perusahaan besar yang dikelola oleh keluargaku dan sekarang sudah diambil ahli oleh Mas Bagas. Sebelum Mas Bagas berpindah haluan ke perusahaan tersebut, aku terlebih dahulu mengisi jabatannya menjadi seorang Chief Executive Officer (CEO)- yang berarti seseorang yang mempunyai posisi tertinggi di sebuah perusahaan . Setelah menikah dengannya aku mengundurkan diri, merasa Mas Bagas lebih sanggup menghandle segalanya.
Lima bulan yang lalu, kami berdiri bersama didepan bangunan megah berwarna putih. Dihiasi ukiran-ukiran dan kaligrafi atas nama-Nya serta ditemani lambang bulan sabit juga bintang. Kami saling mengikat janji sehidup semati. Meresmikan hubungan yang seharusnya tidak pernah diharapkan adanya.
Pernikahan kami dipenuhi dengan perjanjian, yang tentu saja dibuat oleh Mas Bagas sendiri, dan salah satunya adalah membiarkan dia tetap terikat dengan seorang wanita cantik dari masalalunya yang selalu mampu mebuatnya bahagia.
Kalau kalian bertanya, apakah tidak sakit ketika rasa sayang yang seharusnya diberi kepada istrinya malah dibagi kewanita lain? Jawabanku adalah tidak, rasanya hatiku uda kebal, sangkin kebalnya aku sampai gak ngerasain sakit lagi kalau lihat dia jalan sama pacarnya.
Sekarang, aku lagi meratapi nasib ku sebagai istrinya, hatiku rasanya tersayat-sayat saat Mas Bagas memandang kosong kearah satu ruangan dirumah sakit ini, diisikan oleh seorang wanita cantik, yang tak lain adalah pujaan hatinya. Aku gak tau jelas apa yang terjadi dengan mereka, pihak rumah sakit menghubungiku, hanya mengatakan bahwa suami gantengku mengalami kecelakaan. Jadilah aku disini.
Tangan ku mengelus pelan pundaknya, segedar memberi kekuatan, tetapi Mas Bagas menepisnya kasar, aku hanya bisa tersenyum, karena hal seperti itu sudah biasa dia lakukan untukku.
Setelah lima bulan kami bersama, baru kali ini aku ingin menuntutnya. Rasanya aku ingin sekali menangis, ingin bilang ke Mas Bagas kalau aku juga butuh perhatiannya, butuh kasih sayangnya dan butuh perlindungannya, tapi aku tak sanggup.
"Al!" lamunan ku buyar ketika suara beratnya memanggilku dengan nada tidak senang, "Kamu pulang saja, aku masih mau menemaninya disini."
"Nanti Mas pulang?" pertanyaan seperti apa itu, ya jelaslah dia gak akan pulang.
"Gak."
Tuhkan bener, sebenernya aku ini apa sih bagi Mas Bagas? Penjaga rumahnya? Wanita yang hanya menemani dia tidur? Atau...
"Jangan berfikir yang aneh, kamu itu istriku."
Kok bisa tau? Aku kan sedang berfikir, bukan menyuarakan isi hatiku.
"Tapi aku mau juga Mas, mau diperhatiin sama kamu, mau disayang sama kamu." bibir ku mulai bergetar, mataku juga rasanya semakin memanas.
"Gantiin dia kalau begitu." tunjuknya, tanpa menatapku yang sudah berjongkok dihadapannya.
"Maksudnya?"
"Kamu yang kecelakaan, bukan dia.”
Mendengar itu, air mataku akhirnya terjatuh, satu tetes, dua tetes, tiga tetes, langsung kuhapus dengan punggung tanganku. Aku takut Mas Bagas tau, karena dia tak suka melihatku menangis.
"Pulang, Alena. Kalau kamu sudah memutuskannya, katakan padaku. Aku gak akan pernah memaksamamu." tangannya terulur menepuk-nepuk puncak kepalaku. Seketika perasaan sakit itu kembali menguap kepermukaan.
Tidak akan ada yang melarang kalau kamu sudah berkehendak untuk lebih memilih mencintainya. Bukan karena tidak ada yang berani, melainkan kamu akan lebih memilih menutup mata dari sikap buruknya. Pepatah lama pernah mengatakan bahwa cinta itu buta. Artinya kamu akan merasa sangat mencintainya, sampai rela melakukan apa saja demi dirinya, tanpa memperdulikan dirimu sendiri.
Seperti aku salah satunya. Aku selalu menolak kenyataan bahwa aku memiliki pasangan yang sifat, sikap, karakter, atau kebiasaan-kebiasanya dilihat sebagai kekurangan. Aku akan dengan senang hati menerima segala kekurangannya. Mangatakan pada diriku sendiri bahwa itu semua akan berubah pada waktunya. Padahal akupun tau, faktanya kita gak pernah bisa mengubah orang lain cuma karena kita berharap dia bakal berubah. Kecuali, perubahan tersebut berasal dari dirinya sendiri.
"Apa pernikahan kita gak ada artinya dimata kamu, Mas?"
"Bukan gak, tetapi belum. Aku belum menemukan apa artinya. Bersama kamu terasa sangat biasa saja, tidak ada yang berbeda. Kecuali tidurku sudah tidak sendiri lagi, hidupku lebih terurus, dan itu semua bisa kudapatkan tanpa bersamamu." ucapnya pelan, seperti bisikan, tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya dengan jelas, "Sebelum bertemu kamu, hatiku sudah dipenuhi oleh Sarah. Sarah adalah seorang perempuan baik hatinya, lembut sikapnya, baik tuturnya, manis perawakannya. Aku mencintainya lebih dari apapun. Bahkan kalau sekarang aku boleh memilih, lebih baik aku yang berada disana bukan dia."
Terkadang, kalau kita uda sayang sama seseorang itu, sakitpun rasanya gak masalah. Yang penting dia ada didepan muka kita, walaupun kayak gak pasti, tapi yaudah. Yang penting uda ketemu, ngeliat mukanya, senyumnya, otomatis luluh aja gitu.
Tanganku terlipat diatas pahanya, menopang daguku dengan lesu. Tanpa berucap sedikitpun, tangannya bergerak cepat menghapus sisa-sisa airmataku, "Jangan dihapus, biarin aja nangis. Supaya capek sendiri matanya, terus nanti jadi mudah tidurnya." kepalaku mendongak, menikmati rahangnya yang sudah dipenuhi bulu-bulu halus, "Kenapa gak shaving? Biasanya paling anti ada giniannya," ku sentuh rahangnya, memberi usapan seringan bulu.
Entah apa yang terdengar lucu dari ucapanku, Mas Bagas mendengus geli lalu tersenyum miring. Mengambil tanganku, memberi kecupan-kecupan singkat, "Kerjaanku numpuk. Kemarin harus pulang-balik dari rumah, tempat Sarah dan kantor, jadi gak sempat."
Aku mengangguk, sesekali mataku mengerjap saat perlahan-lahan tatapannya turun kepadaku. Mencoba mengusai diri dari kesedihan dan kekecawaan. Sebab yang saat ini harus ku kulakukan adalah memanfaatkan waktu, agar bisa saling berbicara dari hati-kehati.
"Aku semalam lupa bilang Mas, kalau aku baru dari rumah Mama. Gak ngapa-ngapain sih, paling bantuin Mama masak sama beresin sedikit tamannya."
"Pasti Mama seneng."
"Gak tau, gak mau baper juga, tapi kayaknya Mama seneng, Mas,” Suasana sepi semakin mendukungku untuk semakin dekat dengannya. Maka yang selanjutnya ku lakukan adalah duduk dipangkuannya, "Kakinya gak sakit kan, Mas?"
"Gak."
"Kalau gini akunya berat atau ringan, Mas?” aku mengalungkan tanganku dilehernya, mengusap tengkuknya agar suami gantengku dapat merasakan lebih rileks.
"Ringan."
"Tapi pipiku tambah tembem, coba deh cium," dengan berani kumajukan pipiku mendekat kebibirnya, ku kira Mas Bagas bakal menolak, ternyata tidak. Mas Bagas mengecupnya dalam dan lama, sampai mengeluarkan suara mwahhh.
"Harum." gumamnya lagi, teramat pelan.
"Apa tadi?"
"Gak ada."
Sok cuek. Gemes banget. Bungkusin bawa pulang boleh gak sih? Pengen meluk, pengen cium, sampai pagi.
Selanjutnya kami kembali terdiam. Aku harus berpikir keras, bagaimana suasana romantis ini tidak hanya sampai disini saja.
"By the way, aku pakek parfumenya, Mas."
"Sudah tau."
"Kangen sama orangnya, tapi orangnya gak ada. Yaudalah, parfumenya juga boleh. Wangi banget, beli dimana sih? Aku boleh pake juga gak? Tenang, Mas, aku bukan tipikal orang yang kalau pakai parfume itu pasti dari ujung kepala sampai ujung kaki." aku mendongakkan kepalaku, memberinya akses untuk menghirup leherku, "Hirup deh," dengan patuh Mas Bagas melakukannya. Setelah itu memiringkan kepalaku, agar hirupannya pindah kebelakang telingaku, "Disini juga," dan terakhir kusodorkan pergelangan tanganku, "Terakhir."
Ntah hari ini sang pencipta lagi sayang-sayangnya padaku atau memang hatinya sedang adem-adem aja, Mas Bagas tidak berkomentar sama sekali atau sekalipun menolak. Malam ini dia berubah menjadi seorang suami yang sangat baik hatinya, walau masih tidak bisa kumiliki seutuhnya, aku akan berusaha semampuku.
"Irit kan, jadi Mas gak perlu takut kalau parfumenya cepat habis."
"Yasudah."
"Tapi kalau sudah habis, Mas jangan lupa beliin aku juga ya, supaya kayak couple goals gitu."
Setidaknya dia sudah mau merespon segala omongan gak jelasku. Walaupun hanya mengangguk, tapi aku tetap menikmatinya.
"Aku tau kita sudah membicarakan ini berulang kali, dan berakhir kamu kabur atau aku yang gak kuat dengan segala omongan sinismu. Tapi aku masih ingin membicarakannya, karena aku mau. Supaya ada temennya dirumah kalau kamu lembur atau lupa pulang." aku turun dari pangkuannya. Duduk disampingnya, namun tanganku masih betah menggenggam tangan lebarnya, "Boleh kita coba sekali lagi? Kalau memang masih belum bisa, aku bakal menyerah. Aku gak akan menyelipkan topik ini disela-sela pembicaraan kita lagi."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Gak ada. Aku memang sudah pengen. Aku selalu kesepian dirumah kalau kamu gak ada. Bibi sama pekerja lainnya tetap gak cukup, Mas. Aku masih selalu merasa kurang. Aku pengen rumah kita berisik dengan suara tangisan bayi. Aku pengen lebih menyibukkan diriku untuk mengurus anak-anak kita. Aku pengen punya keturunan, Mas. Apa sesusah itu?"
"Mama atau keluargaku yang lain?" ekspresinya berubah tajam. Berusaha menusukku lewat tatapannya.
"Mama..." jawabku akhirnya.
"Ini tentang kita, aku dan kamu. Jangan dengerin siapapun, even itu Mamaku. Yang ngejalanin kita, yang ngerasain kita. Mama cuma sebagai tokoh pendukung sebab kamu dan aku tokoh utamanya. Kita sudah usaha, sampai sekarang belum bisa juga. Aku capek, kerjaanku bukan itu-itu aja." perlahan-lahan genggaman tanganku terlepas. Menjauh dari jangkauannya.
"Kita baru menikah lima bulan, belum terlambat kalau kita masih terus berusaha. Aku bisa kok, Mas, seriusan. Kita coba lagi ya?" aku memohon padanya. Berusaha menguatkan diriku sendiri. Padahal akupun tau, semakin aku berusaha kuat maka semakin bebas dia menyakitiku.
"Aku mau, tapi bukan sama kamu. Tolong hargai keputusanku." putusnya akhirnya. Seperti biasa, yang bisa kulakuan hanya tersenyum menahan sesak didada.