Chapter 2

1589 Kata
    Aku pulang dengan perasaan yang berkecamuk, antara gak rela meninggalkan Mas Bagas sendirian dirumah sakit atau pergi sejauh mungkin untuk melepaskannya. Walaupun pria gateng itu sering berkata kasar dan membuat ku pengen memukul kepalanya dengan benda apapun yang tak luput dari penglihatanku. Tapi dia tetap suamiku, imamku, pelindung ku. Meskipun belum seratus persen terlaksana olehnya, gak pa-pa, bermimpi juga tidak terlalu menyakitkan bagiku.     Aku pengen cerita deh, sebenarnya sih gak terlalu penting, tapi ntah mengapa memikirkannya membuat otakku yang setengah ini mau meledak. Semalam karena terlalu merasa kesepian dan gak tau lagi mau kemana, akhirnya aku memutuskan untuk singgah kerumah mertuaku . Melemparkan setiap keluh kesalku kepada Mama, karena selain dengan beliau, aku tidak punya tempat lagi untuk mencurahkan isi hatiku. Aku anak yatim piatu, sedari kecil sudah ditinggal pergi jauh oleh orangtuaku. Aku tidak punya tempat lagi untuk mengadu juga tidak ada kekuatan lagi untuk bertahan. Tanpa orangtua Mas Bagas mungkin aku akan lebih memilih menyerah.     Makanya sekarang posisi mereka sudah digantikan oleh orangtua Mas Bagas. Mereka baik, memperlakukanku layaknya anak kandung mereka sendiri. Aku bersyukur bisa mengenal sekaligus menjadi bagian dari keluarga mereka. Tapi masih saja ada satu hal yang membuatku sedikit risih ketika sudah ditanya tentang kapan hamil.     Semalam Mama bertanya, apakah aku sudah isi atau belum, dan langsung kujawab dengan sebuah gelengan. Bagaimana mau hamil, mengadonnya saja kami belum pernah. Sudah pasti Mama langsung menyembur ku dengan celotehannya.     "Kenapa sih, Nak? Lama banget. Apa kamu gak ngerasa kesepian dirumah sebesar ini? Kamu sendiri tau, suamimu itu jarang pulang. Betah banget dikantornya, setiap Mama tanyain pasti ada aja alesannya. Dan Mama gak mungkin terus-terusan singgah hanya demi menemani kamu."     Aku cuma diem. Pengen berontak, tapi apalah dayaku.     "Atau kamu gak mau hamil, ya?" Mama menghentikan kegiatannya, gunting yang telah tergenggam, dilepas begitu saja.     Astaga, demi apapun, perempuan manasih yang gak mau hamil, ngasilin buah hati yang susah payah dibuat saat bercinta. Apa perlu kujawab kalau sebenarnya Mas Bagas itu gak pernah mau punya anak dari aku. Selalu, ketika kami ingin melakukannya, bayangan Sarah seakan datang menghantuinya. Pernah kami mencoba, tetap gak bisa juga. Pasti ada saja hal yang membuat gagal. Entah itu kepentingan Mas Bagas yang lain atau aku lebih memilih menyerah sebab Mas Bagas salah menyebutkan nama.     Sesimple itu, salah menyebutkan nama. s**t men, aku sudah memberinya banyak waktu untuk bercinta dengan kekasihnya. Kenapa saat bersamaku, aku masih saja dianggap tidak ada?     "Al, jangan diem aja. Mau mama bantu? Ikut program hamil atau minum jamu untuk kesuburan, yuk? Ntar Mama suruh Mang Amin nganterin jamunya setiap minggu kerumah kamu."     Masalahnya bukan itu, Mama. Membuatnya saja kami belum pernah, gimana mau punya? Sama aja, mau ikut program hamil atau minum jamu sekalipun, gak akan membuat aku hamil.     Pusing gak kalian bacanya? Apa lagi aku. Rasanya aku pengen menghilang dari bumi aja. Tetapi setelah dipikir-pikir gak dulu deh, kasian suamiku harus ngurusin dirinya sendiri. Kan kalau bareng, akunya bisa enak. Enak disentuh, enak mainin, enak dimanjain.     Saat ini aku sedang rebahan ditempat tidur kebanggaan kami, sambil menatap langi-langit kamar berwarna putih. Lampu gantung berhiaskan kristal menjadi objek favoritku kalau sedang menunggu kehadirannya. Mas Bagas itu walaupun cuek, tapi gak pernah menolak ketika aku meminta sesuatu. Dia akan selalu siap siaga kapanpun dan dimanapun.     Tetapi jangan merasa Mas Bagas baik karena ucapan ku yang diatas. Maksud dari siap siaganya itu bukan suami siap antar jaga pada umumnya. Melainkan memberi tunjangan uang belanja yang teratur, mengisi atmku penuh, sampai aku bingung sendiri gimana cara ngehabisinya. Mas Bagas itu ribet kan? Tapi ntah mengapa aku doyan dengannya. Lucu gak sih?     Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, melihat kesisi kananku, masih kosong. Beralih kearah jendela, tempat favorite Mas Bagas apabila sedang nenikmati udara pagi, tentu saja kosong juga. Aku baru teringat, tadi malam Mas Bagas mengabariku bahwa dia gak akan pulang sampai beberapa hari kedepan. Hebat sekali suamiku itu. Aku gak pulang untuk beberapa hari kedepan, uang untukmu nanti ku transfer.     Aku tersenyum kecut, merasa bahwa aku adalah seorang istri tapi rasa janda. Kupijat dadaku pelan, berusaha meredam pahitnya sebuah kekecawan. Aku sudah melangkah sejauh ini, banyak lika-liku kudapati ketika bersamanya. Aku gak boleh menyerah. Semua akan berjalan sesuai dengan mauku. Bismillah...     Dari pada berdiam diri, lebih baik aku kekantor. Bertemu banyak orang sambil diam-diam berharap kemunculannya ada sebagai warna-warni hariku.     "Gue gak nyangka, Wak. Ya lo bayangin sendiri, mereka itu kalau nikah, anaknya seganteng apa."     "Setajir apa juga? Gue lebih memilih gak ngebayangin sih karena emang gak akan pernah bisa terbayang. Perpaduan sempurna. Gue juga kalau jadi Mbak Sarah mau-mau aja. Siapa coba yang bisa ngelewatin Pak Bagas?"     Emang gak ada yang bisa, semua yang ada dirinya seakan menarik untuk dimiliki, ucapku dalam hati.     "Ada apa nih? Pagi-pagi bukannya kerja malah ngegibah. Ikut dong gue..." Aku langsung nimbrung, duduk ditengah-tengah Ara dan Anin yang kelihatannya mempunyai banyak bahan untuk digosipin pagi ini.     "Lama lo, uda habis setengah nih." Rio yang sedang asik mengetikkan sesuatu dilaptopnya, ikut menimpaliku, "Gak ada siaran ulang. Siapa suruh datangnya telat." "Baru jam delapan. Telat dari mana sih? Jangan ngarang deh, Yo!"     Gimana kabarnya kalau tiba-tiba aku umumin kemereka, aku itu uda nikah sama Mas Bagas. Aku juga salah satu pewaris perusahaan ini. Mereka bakal menjerit histeris gak ya? Atau bodoh amat?     "Makanya, Yo, lo itu kalau suka sama seseorang harus ditunjukinlah. Jangan menang omong doang. Kasihan kan anaknya, pasti ketinggalan berita hot begini, gak lo jemput sih," Selesai berbicara, Rina mengedipkan sebelah matanya kepada Rio.     Aku gak mengerti maksudnya apa, "Lo suka sama orang, Yo? Bukanya kemarin lo bilang kegue lagi proses move on? Mana sih yang bener?" tanyaku heran.     "Gimana gak move on, cintanya ditolak terus." Kali ini giliran Ara, "Kasihan sekali." Perempuan manis itu menepuk-nepuk bahu Rio, seakan ikut merasakan sakit.     "Emang siapa? Gue boleh tau gak orang?" Aku memohon, menangkup kedua tanganku didepan d**a.     "Lo sih pasti tau banget." Ujar Ara.     "Terus siapa, Ra?"     Ketika Ara hendak menjawab, Rio menutup laptopnya, kemudian menatapku intens. Sebuah senyuman manis muncul dari bibirnya, membuat lubang-lubang kecil dipipinya muncul tanpa malu sedikitpun.     "Gue kasih tau pun gak akan ada gunanya, Al. Mau gimanapun usaha gue, perlakuan gue. Gak akan terlihat dimata dia. Jadi mending lo gak usah tau aja, supaya otak sama hati lo bisa berjalan dengan singkron." Tatapannya mengunciku. Membuatku sedikit terpesona akan tatapannya.     "Lo single gak, Al?" Tau-tau Beni muncul, memukul punggungku. Tidak keras, tapi boleh juga.     "Single, lah. Lo kan tau sendiri, gue lagi gak minat pacaran."     "YAAAA!!!!! BARU KUSADARI CINTAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN!!!!" Ara dan Anin bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak.     "Bukan itu njir lagunya."     "Jadi apa dong, Ben?"     Mendadak suasana yang tadinya heboh, berubah menjadi sunyi. Tidak ada satupun yang berniat berbicara, sampai suara berat Beni terdengar menyapa telinga kami.     "Tuhan tolonglah hapus dia dari hatiku     Kini semua percuma tak kan mungkin terjadi     Kisah cinta yang selalu aku banggakan     Tanpa pernah melihat     Betapa ku mencoba jadi yang terbaik untuk dirimu..." Beni berdiri tegak diatas bangku semen tempat kami duduk. Tangannya tertarik keatas, "Mari semua. mana suaranya?!!!"     "OH MENGAPA, TAK BISA DIRIMU YANG MENCINTAIKU TULUS DAN APA ADANYA. AKU MEMANG BUKAN MANUSIA SEMPURNA, TAPI KU LAYAK DICINTA KARENA KETULUSAN. KINI BIARLAH, WAKTU YANG JAWAB SEMUA..." Anin dan Ara ikut-ikutan.     "TANYA APAAA??" Beni berseru heboh. Yang tentu saja disambut tak kalah heboh dari sang penonton.     "TANYA HATI!!!!"     Aku mendengus geli melihat tingkah konyol mereka. Terkadang mereka itu seperti manusia yang sudah lupa umur. Bisa melakukan hal-hal gak masuk akal seperti ini, hanya demi bisa menimbulkan sebuah kehebohan.     Tatapannya masih setia kepadaku. Sayang kali, senyumnya harus pudar, "Mereka kenapa sih, Yo?"     "Gak tau, Al. Biarin aja."     Aku mengangguk, mengambil handphoneku dari dalam tas, refleks terhenti saat merasakan kepalaku dielus pelan dari seseorang.     "Lo kalau kenapa-kenapa atau butuh sesuatu gitu, bilang ke gue ya. Gue bakal dengan senang hati membantu lo. Jangan segan-segan, Al. Kita kan teman."     Alisku menyatu, dahiku berkerut, "Maksudnya, Yo?"     "Ya lo kalau butuh sesuatu tinggal bilang gue. Misalnya antar-jemput lo, nemenin kalau lo gabut, ngabisin weekend bareng. Pokoknya ketika lo merasa sendiri dan lo butuh banget teman untuk hanya segedar cerita atau menjadi pendengar sekalipun, lo bilang ke gue ya. Gue bakal siap, kapanpun dan dimanapun."     "Makasih banyak atas tawarannya, tapi gue emang lagi gak butuh." Selain Tuhan, aku gak akan pernah bercerita tentang hidupku kepada orang lain. Perjalanan ku rumit, tidak akan ada yang mengerti. Jadi untuk apa dia menawari diri, sedangkan aku selalu berusaha menjauh untuknya.     "Sekarang emang enggak, tapi suatu saat nanti."     Aku tersenyum kikuk, tak lupa mengangguk.     "Gue kalau temenan emang suka begini, Al. Jadi jangan bingung ya. Gue harap gue bakal jadi orang pertama yang lo panggil ketika lo lagi butuh sesuatu."     "Aduh, miris deh gue dengernya."     "Namanya juga teman, Nin. Wajar dong saling membantu." Beni emang suka gak tau diri. Ada aja jawabannya. "Ngapain masih disini?" suara itu sangat kukenali sekaligus kirindukan kehadirannya, "Bukannya kerja malah santai-santai disini."     Aku mendongak menatapnya. Setiap hari, perasaan cinta ini selalu tumbuh seiring berjalannya waktu. Seakan tidak mengenal lelah, cintaku padanya semakin besar saja rasanya.     "Eng- anu, Pak, nemenin Rio ngerjain deadline untuk siang ini." jawab Anin.     "Nemenin atau ngeroyokin Beni kalian?"     Beni bangkit dari tidurnya, membersihkan bajunya yang sudah dipenuhi oleh rumput-rumput halus,     "Tau nih, Pak. Gak ada perasaannya. Kasih dispensasi, Pak, kekerasan ini namanya."     Tanpa memperdulikan Beni, Mas Bagas mengalihkan pandangannya kepadaku. Pelan tapi pasti, aku mencoba memahami maksud dari tatapannya saat berhenti dibahuku. Benar saja, ada tangan Rio yang sudah merangkulku. Bukannya menghindar, aku malah membiarkannya. Alisnya bergerak, tapi aku mengabaikannya. Kenapa? Ada yang salah? Dia saja bisa melakukannya bersama Sarah, kenapa tidak dengan ku? Masih mending yang sedang merangkulku ini temanku, bukan pacarku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN