Aku terbangun dari tidur nyenyakku saat mendapati ada sepasang lengan kokoh memeluk posesif pinggang rampingku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, lalu memutar tubuhku, hingga kini kami saling berhadapan.
Sebelum bertanya apa gerangan yang terjadi padanya, aku membiarkan mataku menikmati ciptaan Tuhan yang nyata adanya. Sungguh, dalam kondisi apapun, Mas Bagas selalu berhasil menarik perhatianku. Hingga sedang terlelap sekalipun, pesonanya gak akan pernah luntur walau sedikitpun. Aku tersenyum, mengelus lembut rahang tegasnya hingga lenguhannya terdengar saat elusan ku berpindah tempat pada d**a bidangnya.
"Mas." panggilku dengan suara khas bangun tidur, "Mas Bagas..."
"Lagi tidur" jawabnya cuek.
"Dih, bisa banget jawabannya," kujepit ujung hidung mancungnya, "Mas Bagas gak kerja?"
"Aku bossnya, kamu lupa?" Tubuh tegapnya semakin mendekat, hingga kini wajahnya sudah berhasil tenggelam dalam perpotongan leherku.
"Gak perlu diingetin juga aku tau kok, Mas tenang aja, aku gak akan pernah lupa. Tapi masalahnya ini uda jam enam, nanti Mas telat. Aku juga mau siapin sarapan dulu untuk kamu. Lepas dulu ya..."
Kebiasaan banget kalau manjanya uda dateng. Ngalahin anak kecil, heran aku tuh.
"Diem dulu. Aku mau tidur."
"Yaudah, nanti aku bangungin lagi jam tujuh. Tapi lepas dulu, jangan dikekep gini, sesak, Mas..."
"Gulingku cuma kamu dan aku gak bisa tidur tanpa guling." Ucapnya pelan.
"Ntar aku ambilin guling dari kamar sebelah," Aku menangkup pipinya, mengecupi kulit-kulit wajahnya, "Oke, ganteng? Lepas dulu ya..."
Jadwal kerja kami berbeda, aku di jam sepuluh dan Mas Bagas di jam delapan. Aku gak tau kenapa bisa berbeda, tapi yang jelas pasti semua ini ulahnya, supaya aku bisa terlebih dahulu mempersiapkan keperluannya sebelum bekerja.
"Aku gak bisa gerak, geserin tangannya." Kesabaranku mulai luntur, kutepuk lengan kokohnya, "Mas, please..."
"Gak usah kerja, temani aku seharian, Al." Dihhh, tumben banget.
"Kenapa gak kerja? Kamu masih sakit?" buru-buru aku menggesernya kuat, kutangkup pipi kanannya, lalu ku letakkan punggung tangan kiriku didahi lebarnya, "Gak panas kok," gumamku, tapi terdengar oleh Mas Bagas.
"Aku gak sakit, lagi malas aja."
Bos mah enak yakan, kerja gak kerja tetep aja uang ngalir terus.
"Kamu gak mau seharian sama ku?" Ucapnya tiba-tiba, membuat kedua mataku membola, "Tidur seharian sama aku."
Ada apa nih?
Aku menyerngitkan dahiku, gak paham apa yang baru saja dikatakannya.
"Kamu gak mau seharian sama ku? Tiduran sampek sore gitu," tanyanya lagi.
Tiduran doang? Lebih dari tiduran juga aku mau Mas!
"Mau gak?" Suaranya sudah terdengar jengah.
"Mauuuu!!!" Tanpa membuang waktu, aku menjawabnya heboh. Langsung kupeluk tubuhnya, membenamkan tubuh mungilku pada d**a bidangnya. Ku hirup dalam-dalam aroma suamiku, walaupun tidak sedang memakai parfume, aroma alami yang nempel ditubuh Mas Bagas itu candu sekali bagiku. Hingga tak sampai lima menit, aku sudah kembali pada mimpi indahku yang tadi sempat terjeda karena alarm.
Tentu saja, kami terbangun tepat dipukul satu siang. Aku melewatkan banyak hal, menikmati udara pagi, memasak, beresin rumah, dan yang terpenting memberi kabar ke Rio yang semalam sibuk menawarkan dirinya untuk mengantarkanku kekantor.
"Halo, sorry, gue lupa ngabarin lo..." Menghubunginya adalah jalan ninjaku. Gak enak juga, bagaimana pun niat Rio itu baik.
"Santai. Gue uda biasa kok."
Perasaan bersalah menghampiriku, "Gak marah kan? Sorry ya sekali lagi."
"Gue tadi bingung aja kenapa lo gak angkat telfon gue, padahal tadi malam lo sendiri yang bilang kalau hari ini lo gak bisa telat."
"Lo nungguin gue?"
Rio berdehem.
"Sampe jam berapa?"
"Sampe jam yang gak memungkinkan lagi untuk ikut absen."
Yang berarti itu...
"Lama banget!!!! Kok gak lanjut aja sih???"
Ck, Aku sendiri gak mengerti maksud dari perlukannya padaku. Terkadang kelewat manis, terkadang juga kelewat cuek.
"Sampe jam sebelas kok. Lumayan juga, dapat jatah sarapan dari tukang jual bubur didepan rumah lo. Enak, kapan-kapan lo harus traktir gue sebagai gantinya."
Selama bertelfonan dengannya, aku mengaktifkan loudspeaker-nya. Sama sekali tidak berniat menyembunyinkan sesuatu dari seorang laki-laki yang saat ini sosok sudah duduk anteng disampingku. Sebelas alisnya naik, dahinya berkerut setiap mendengar kata demi kata yang terlontar dari Rio.
"Gue gak bisa janji, tapi gue usahain ya."
"Gue tunggu, kapan aja gue bisa kok. Lo tenang aja."
Itu kata-kata terakhir yang terdengar darinya. Tak lupa aku mengucapkan maaf berulang kali lalu memutuskan hubungannya dalam sepihak.
"Kamu pernah berfikir gak sih, gak ada pertemanan cewek cowok yang berakhir tanpa cinta." Selalu, Mas Bagas dengan segala ketidak jelasannya.
"Maksudnya?" Kuteguk minuman soda yang sudah tersedia untukku.
"Hampir semua orang yang awalnya mengaku hanya sebatan teman, akhirnya justru saling jatuh cinta satu sama lain. Biasanya, salah satu dari mereka mulai tertarik terlebih dahulu, lantaran sudah mengerti bagaimana perasaannya, betapa nyamannya ketika berbicara, betapa menyenangkannya kalau sudah bersama, dan lain sebagainya. Menurut kamu, Bisa gak cewek dan cowok berteman dekat atau sahabatan tanpa ada perasaan tertarik akan perihal cinta?"
Aku terdiam, memikirkan jawaban terbaik untuk menjawabnya.
"Jawab cepat, jangan buang-buang waktu."
Aku menatapnya sinis, "Males ah kalau diburu."
Bukannya berusaha membujuk, suami ku itu malah mengambil benda pipih yang terlihat lebih menarik dari ku.
"Mas, tadi bilangnya mau seharian. Masa baru gini aja uda main hp sih, gak konsisten banget. Tau gitu aku tadi ngantor aja. Biarin kamu sendiri."
Mas Bagas menurut, meletakkan kembali handphonenya.
"Jawab, jangan kebanyakan mikir."
"Sabar. Mas sendiri tau otakku ini berada di pentium paling rendah, jadi wajar dong."
Mas Bagas menggeleng, mungkin merasa gak mengerti atas sikapku.
"Aku jawab, tapi cium dulu, belum dapet jatah nih dari tadi pagi, kering banget." Kusodorkan pipiku kebibirnya, dengan patuh Mas Bagas mengecupnya, "Kurang terasa, coba satunya lagi," kini berpindah kesebalah kanan, "Yah, Mas... bibirnya nangis nih, masa pipi doang." Bibirku bergetar menahan senyum.
"Ribet kamu."
Gak sabar menunggu, aku lebih dulu mencuri satu kecupan manis darinya, "Gitu dong, ganteng. Kan jadi enak," aku terdiam, kemudian melanjutkan, "Menurut aku sih bisa. Soalnyakan dari awal niatnya itu emang uda temenan, jadi gak bakal keseret ke hal-hal lain. Paling kalaupun salah satu dari mereka melakukan suatu hal yang mungkin bisa saja dilakukan dari seorang pacar, ya wajar, kan namanya berteman."
"Contohnya."
Bisa gak sih jawabnya itu kayak, contohnya apa, sayang? Kan kesannya lebih romantis.
"Misalnya nih, saling menghibur kalau lagi sedih. Jadi pendengar yang baik kalau lagi butuh temen cerita. Bisa saling jujur tanpa perlu khawatir. Saling tertawa tanpa beban."
"Jadi menurut kamu itu defenisi perteman tanpa cinta?"
"Iyalah." Jawabku tanpa ragu. Aku mengangguk dengan penuh percaya diri. Berbanding terbalik dengan Mas Bagas yang memberi tatapan aneh padaku, "Gak salah kan, Mas?"
"Emang kamu pernah salah?"
"Sering banget. Apalagi dimata kamu. Keknya besok-besok aku harus pindah kemata kamu aja."
Setelahnya kami saling terdiam. Angin sepoy-sepot yang sesekali berhembus membuat suasana semakin menyejukkan. Jarang sekali kami ada waktu berduaan begini, dalam sebulan mungkin bisa dihitung jari. "So tell me, Mas. Kenapa tiba-tiba membicarakan tentang pertemanan?"
"Kukira sudah selesai."
"Belum lah. Kenapa emang? Mas suka sama temen Mas sendiri?"
"Temenmu yang suka."
"Temenku suka sama Mas?" Tanyaku kaget, mendramatis keadaan.
"Temenmu suka samamu."
"Kalau gak suka, gak mungkin mereka mau temenan sama ku."
Emang iya kan? Kalau gak suka pasti kami gak bakal berteman. Saling gak suka satu sama lain, saling berlomba-lomba mencari kesalahan satu sama lain dan dijadiin bahan gosipan.
"Rio suka kamu."
Tiga kata tetapi mampu memporak-porandakan perasaanku.
"Jangan ngawur, Mas. Aku ini uda jadi istri, gak laku lagi."
"Yasudah kalau tidak percaya."
Mas Bagas ini kebiasaan deh, cerita suka setengah-setengah. Bikin greget.
"Mas... apasih, cerita itu jangan setengah-setengah. Ntar dapet istri jenggotan tau rasa."
"Kamu jenggotan, gak?"
"Enggak."
"Yasudah."
Aku tercengo, sungguh tidak jelas wahai engkau Bapak Bagas Dirgantara yang terhormat.
"Rio itu temenku, Mas. Kami uda temenan lama banget. Dari awal aku masuk kantor. Jadi wajar dong kalau kami akrab begitu." Jawabku mencoba mengembalikan topik semula.
"Dia antar-jemput kamu. Kasih kamu makan tiga kali sehari, padahal jelas-jelas saya lebih mampu. Ngajakin kamu malam mingguan, padahal lagi nemenin saya. Modusin kamu kalau lagi kerja. Suka lihatin kamu diam-diam. Kemarin ketangkep sama saya lagi pegangin kepala kamu. Apa itu namanya teman?"
"Iyalah!"
"Itu namanya demen bukan temen."
Please, Mas, kalau cemburu gak gini dong caranya."
"Kenapa saya harus cemburu? Rio masih berada jauh dibawah saya. Saya lebih kaya, lebih mapan, lebih hebat dan tentu saja lebih ganteng. Apa yang mau diragukan dari saya?" Katanya jumawa. Kalau sudah memakai saya, berarti ini sebuah topik yang lumayan berat.
"Terus kenapa? random banget tiba-tiba membicarakan dia."
"Yang sedang dibicarain ini adalah seorang laki-laki yang sedang berusaha mengambil hati istri saya."
"Gak ada yang ngambil, Mas, hatiku cuma untuk kamu doang. Tenang aja, Mas tinggal menikmati dan aku akan siap melayani," Kakiku berselonjor dengan santai diatas pahanya, memberi isyarat agar diberi pijetan gratis darinya, "Lagian Rio itu temenku, gak mungkin lah dia naksir aku. Paling kalau dia perhatian gitu, cuma karena dia kasihan sama aku, karena semua orang juga tau aku itu yatim piatu. Gak ada yang urus, gak ada yang perhatiin. Jadi wajar aja."
"Beni juga temenmu. Tapi dia gak selancang itu sama kamu. Ngerti kan perbedaannya?"
"Gak."
"Al, saya serius."
"Aku juga serius. Dua rius malahan. Aku selalu cinta Mas, selalu sayang Mas. Apapun rela kulakukan demi Mas. Jadi Mas tenang aja, semua bakal tetap berjalan seperti semestinya. Aku istri diam-diam kamu, dan kamu suami aku sekaligus pacar dari Sarah. Percaya sama aku, gak bakal ada yang tau. Aku akan berusaha kuat untuk menyembunyikan semuanya. Oke?" Kukedipkan sebelah mataku, menarik kakiku darinya. Lalu berdiri, "Kita bakal baik-baik saja. Aku dengan hidupku dan kamu dengan hidupmu." Kemudian pergi meninggalkannya.
Memang sudah sepertinya begitu kan? Untuk apa saling berdebat pada prihal yang ujung-ujungnya tetap berakhir sama?