"Heh, mau ngapain lagi? Jalannya cepat, pelan banget."
"Mulut kamu bisa diem gak sih, Mas? Dari tadi nyerocos terus. Capek nih telinga aku dengernya."
Kami berjalanan beriringan dikoridor rumah sakit. Mas Bagas memang sudah terlebih dahulu keluar, tidak dengan Sarah. Perempuan cantik itu masih saja setia disini. Ntah apa yang terjadi padanya, aku pun tidak tau, atau lebih tepatnya tidak perduli. Selama itu bukan terjadi kepadaku ataupun pada Mas Bagas, jangan harap aku mau ikut campur.
Tetapi tidak kali ini, karena kulihat Mas Bagas sudah hampir mati menahan rindunya.
"Gak cuma diem, mulutku ini bisa apapun," Mas Bagas berusaha mengimbangi langkahku yang rasanya sudah secepat kilat. "Mulutku ini bisa buat kamu mendesah sekaligus merintih dibawah kuasaku. Kamu bakal memohon supaya kuberi kepuasan. Jadi jangan spele, Al."
"Nantangin kamu, Mas? Nanti nangesss," ledekku.
"Susah bicara sama bocah, gak nyambung."
Dengan isengnya, Mas Bagas mengacak-ngacak rambutku yang sudah rapi. Lalu, merangkul bahuku dengan tangan yang sudah sibuk mencubit-cubit pipiku.
"Mas ih... rambutnya berantakan."
Suamiku itu kerjaannya kalau gak bikin jatuh cinta ya bikin kesel. "Lagian bocah-bocah begini, aku tuh uda bisa bikin bocah lainnya tau."
"Kirain belum." Receh banget. Gak lucu.
"Ayo. Aku tantang kamu."
"Siapa takut."
Aku memutar bola mataku malas. Memberhentikan langkahku yang otomatis membuatnya ikut berhenti. Aku berdiri tegak dihadapannya. Kepala ku mendongak demi menatap mata tajamnya, "Nih, kalau berani. Coba buktikan, mulutmu selain diem, bisanya apalagi?"
Mas Bagas mendengus, memandangku remeh, "Yakin, Al? Kalau kamu nangis, jangan minta tanggung jawabku ya."
"Jangan banyak omong. Ayo sini, kita buktiin, yang bakal nangis itu siapa, kamu atau aku."
Eitsss, jangan kira aku tidak takut. Tentu saja dong, aku takut. Mas Bagas ini, ibaratnya bunglon, yang bisa menyesuaikan diri dengan mimikri atau kemampuan mengubah warna sesuai dengan lingkungan di sekitarnya. Dia akan berubah menjadi bayi kecil ketika sedang meminta sesuatu, dia akan berubah menjadi bongkahan es batu ketika sedang tak ingin diganggu dan dia akan berubah menjadi seekor srigala buas ketika sedang ingin mencoba hal yang dapat menyalurkan nafsunya. Buktinya sekarang, kilatan mata tajamnya serta senyuman miringnya terpancar dari wajahnya. Sepertinya laki-laki dewasa itu sudah siap menerkamku.
"Eits, saya tidak bermaksud-" Ucapanku terhenti saat merasakan tarikannya dibagian punggungku. "Mas, kayaknya masih bisa dibicarakan baik-baik." Mas Bagas merapatkan tubuhku hingga rasanya tidak berjarak sedikitpun. Nafas hangatnya terhembus disetiap kulit-kulit wajahnku.
"Saya belum melakukannya, bukan berarti saya tidak akan melakukannya." Suara seraknya mulai terdengar, membuatku meremang dalam kukungan posesifnya. Jari-jarinya mulai bergerak nakal, menggaruk dan mengelus punggungku. Kemudian melingkupi lekukan tubuhku. "Jangan pernah sekalipun meremehkan saya. Saya paling gak suka diremehin. Karena ketika saya sudah mendapatkanmu, mengukungmu, mencubumu, bercinta denganmu, saya gak akan kasih kamu ampun. Saya akan memaksamu untuk terus mendesah dan merintih dibawah kekuasaan saya. Jangan main-main, Alena." Bisiknya sensual. Benar saja, mulutnya tidak bisa tinggal diam. Perlahan-lahan lidahnya menjilat telingaku, menggigit-gigitnya sambil menghembuskan nafas hangatnya.
Diperlakukan seintim itu rasanya waktu menjadi berhenti berjalan. Jantung berhenti berdetak. Aliran darah berhenti mengalir. Jiwa dan ragaku seakan melayang entah kemana. Otakku tidak bekerja lagi. Aku terdiam, tidak bisa berbicara walau satu katapun. Kalian tau, defenisi semacam nge-fly tapi sedang tidak memakai sabu. Sungguh memabukkan.
"M-mas, kita-"
"Kamu perlu pembuktian kan? Kamu selalu minta untuk saya menjamahmu, bercinta denganmu. Maka ayo, saya mau."
"Tapi gak sekarang."
"Pembuktiannya hanya sekarang, atau tidak sama sekali." Mas Bagas tidak main-main, ditengah koridor rumah sakit ini, kedua tangannya sudah masuk kedalam blazerku. Saat tangannya sudah hampir sampai menyentuh payudaraku, gerakannya harus terintrupsi oleh seorang perawat, membuat kelegaan kembali datang padaku.
"Ehem! Permisi Bapak Ibu, kalau mau shooting video clip jangan disini ya. Kasihan, pasien yang lain pada gak bisa lewat." Seorang perawat yang mungkin umurnya tidak terlalu jauh diatas Mas Bagas menegur kami. Terlihat beberapa pasien sedang menonton pertunjukan kami. Ada yang menahan tawa juga ada yang memasang ekspresi aneh. Sungguh memalukan.
"Maaf, Sus... silahkan." Kami yang tadinya berada ditengah, langsung minggir. Memberi jalan kepada yang lainnya.
"Lain kali kalau mau pacaran jangan disini dong, Om. Gak kasihan apa sama saya? Saya kan jomblo, jadi pengen pacaran. Om sih!!!." Kali ini giliran bocil alisan bocah kecil. Tanpa takut menatap horor kami berdua.
Dih, dilawan gak nih? Bocil mah kalau dilawan pasti keterusan. Ada aja nanti gitu tingkahnya. Jadi mending diem aja. Lihatin aja terus, sinisin, sampai ketar ketir sendiri. Kan jadinya kabur.
"Dih, siapa suruh jomblo? Emang enak. Masih bocil juga, bukannya belajar malah sok-sokan mikirin begituan. Pipis aja belum lurus, yeuhhh!!!" Seruku. Aku berbicara tepat dihadapan Mas Bagas.
Laki-laki itu meniup kedua mataku, "Sadar. Situ juga bocil."
"Mas, aku uda bilang ya. Aku tuh bukan sembarang bocil. Aku juga uda bisa menghasilkan bocil yang lainnya. Jangan-"
Cup!
Demi apapun, Mas Bagas mengecup bibirku. "I know."
Cup!
Kali ini giliran pepilisku. Sedep banget.
Pipiku bersemu merah, tanganku tergepal kuat menahan jerit. Mas Bagas ini gimana sih? Kan aku makin cinta.
Weekend begini biasanya aku akan berleha-leha dirumah. Entah itu rebahan dikasur, nonton film, main handphone atau gelendotan kalau Mas Bagas sedang dirumah. Berbeda dengan Mas Bagas yang akan berpindah-pindah, dari tempat satu ketempat yang lainnya. Maklum, orang sibuk. Sibuk mikirin perasaan orang lain tetapi tidak dengan perasaan istrinya sendiri.
Perasaan egois itu kusingkirkan sejauh mungkin saat kami sudah berdiri didepan satu ruangan rawat inap. Mas Bagas menoleh, aku tersenyum. Aku tau aku bisa, aku tau aku kuat. Aku telah melewati banyak hal dan aku berhasil. Kalau cuma ini saja, kenapa harus ragu?
"Its oke for you?" Tanyanya untuk memastikanku.
"Yeah, go there, Mas. Shes already waiting for you." Aku tersenyum. Aku baik-baik saja, selalu.
Sebab, ketika kamu mencintai seseorang, kamu harus selalu ingat, bahwa tidak akan pernah ada perasaan yang bisa dipaksakan. Jika kamu memang benar-benar mencintai, menyayangi dan mengasihinya dengan sepenuh hati, maka kamu harus selalu ingat, bahwa kamu hanya perlu memberikan yang terbaik tanpa harus mengharapkan suatu balasan.
Defenisi bahagia baginya adalah saat melihat Sarah. Melihat senyumnya, mendengar kabarnya.
Dan defenisi bahagian bagiku adalah melihat Mas Bagas bahagia. Senyumnya, tawanya juga suaranya. Lantas ketika bahagianya itu adalah Sarah, tidak mengapa. Aku harus rela, karena aku mencintai seluruh tentang dirinya.
Ini yang terbaik, saat tadi pagi Sarah tiba-tiba saja menghubungiku. Memintaku mengembalikan pacarnya yang paling ganteng kedalam pelukannya. Tanpa membuang waktu, aku menyetujuinya. Mereka saling mencintai. Ada aku, bukan berarti sebagai penghalang. Mereka bebas bertemu. Aku hanya orang baru, aku gak punya hak untuk melarang.
"Bagas!!!" Teriaknya heboh ketika pintu berhasil terbuka, memperlihatkan Sarah yang sedang terduduk sambil dikeliling beberapa orang yang kuyakini itu adalah teman-temannya. "Aaaaa kangen kangen kangen, pengen peluk!"
Bagaimana aku bisa menolak kalau Mas Bagas seperti satu-satunya sumber kebahagiaan Sarah. Kedatangan Mas Bagas langsung menggusur yang lainnya. Dia melangkah cepat, setelah itu memeluk erat tubuh mungil Sarah, "I miss you too, sayang..." Ucapnya lembut sekali.
"Wahhh ganteng ya pacarnya. Worth it banget kalau Sarah mau nungguinnya."
"Gue gak bakal mikir dua kali sih, langsung sikat. Orang bentukannya begini. Siapa yang gak mau? Rezeki nomplok ini mah."
"Uda ganteng, pinter, baik, romantis terus tajir melintir. By the way, nyokapnya dulu ngidam apa yah sampe ngelahirin anak seganteng dia?"
Aku tertunduk lesu, senyuman miris terpasang sebagai tameng. Sudah takdirnya begini, sang pangeran akan berpasangan dengan sang ratu, bukannya si buruk rupa kayak aku.
"Sayang, kenalin, ini temen-teman kuliah aku dulu. Ada Secil, Eve dan Ira. Mereka jengukin aku dari tadi pagi, mereka juga yang nemenin aku. Aku kesepian banget, mana Mama Papa aku lagi diluar kota. Kamu enak, keluarnya duluan, lah aku, masih harus diperban begini." Ujar Sarah, wajahnya sudah tersembunyi didalam d**a bidang pacarnya.
Lupa banget ngasih tau, kalau kemarin mereka mengalami kecelakaan beruntun. Mas Bagas tidak terlalu parah, hanya ada beberapa goresan didahi juga tangannya. Kalau Sarah, sempat pingsan karena terkejut, juga kepalanya terbentur pada dashboard mobil. Tidak kuat, tetapi bisalah kalau bikin lupa ingatan.
"Apa jangan-jangan kamu gak khawatir sama aku ya? Kamu gak rindu aku ya? Kamu juga gak sayang aku? Ihh jahat banget." Sarah mundur, memberi jarak antara keduanya, "Tau gitu aku gak bakal nungguin kamu deh. Sebel aku tuh," rajuknya persis seperti anak kecil.
Panik dia, Mas Bagas langsung menangkup pipinya, tersenyum manis kemudian mengecup ujung hidung mancungnya, "Siapa bilang? Khawatir banget lah, aku sayang banget sama kamu. Kamu gemes gini, gimana aku bisa lupain? Malah aku semakin rindu saja rasanya. Jangan ngomong gitu lagi. Aku gak suka."
Muntah boleh? Huekkkkk....
Seketika para perempuan itu langsung kesemsem sendiri. Tersenyum-senyum gak jelas melihat keromantisan sepasang anak manusia tersebut, "So sweet banget, mau dong gue..." Kata si Secil. "Haduh, kalian berdua yang pacaran tapi gue yang baper."
"Beruntung banget, Rah. Gue iri parah. Buat gue aja bisa gak sih?" Kalau ini si Eve.
"Kalau lo mau gak, Ra?" Tanya Sarah menggoda.
Ira tersenyum menang, kemudian berkata, "Enggak. Gue yakin gue pasti bisa dapat yang lebih. Tapi gue dukung hubungan kalian berdua. Awas aja ada yang berniat menganggu atau jadi orang ketiga, siap-siap aka gue habisin ditempat."
"Seriusan?"
"Iyalah, pegang omongan gue. Gue janji."
Mereka tertawa renyah. Tetapi tidak dengan aku. Apa yang perlu ditertawakan? Apa setiap ucapan mereka itu terkesan lucu? Atau aku yang terlalu berlebihan sampai tidak merasa lucu?
"Kalau ini siapa? Jangan bilang calon orang ketiga?" Tunjuk Ira remeh padaku.
Aku tersenyum kikuk, mengulurkan tanganku, "Saya Alena."
"Teman satu kantornya Bagas. Yakan, sayang?" Mas Bagas mengangguk.
"Ngapain lo disini?" Masih dengan orang yang sama.
"Nemenin Mas Bagas."
"Mas? Gak salah? Ceritanya lo nemenin atau demenin pacarnya temen gue?" Aku menggeleng, "Awas ya lo macem-macem, gue habisin lo." Ancamnya.
Aku takut? Tentu saja tidak. Umur boleh saja dikatakan dewasa, tetapi tidak dengan kelakuan.
"Tugas lo uda selesai. Cuma sebatas nemenin, tolong digaris bawahi, nemenin. Jadi jangan berharap lebih. Lo itu masih anak kecil, gak pantes banget ikut nimbrung sama kita-kita. Mending lo pulang aja deh, dari pada merusak suasana atau jadi bahan candaan. Ntar yang ada lo nangis lagi, sana huss huss..." Ira, sepertinya perempuan punya dendam mendalam padaku.
"Jangan gitu, Ra. Biarin aja disini, gapapa kok." Bela Sarah.
"Bikin sumpek." Kemudian mereka tersenyum yang menurutku penuh arti.
Tanganku mengepal kuat. Dengan keberanian, aku membalas tatapan Mas Bagas. Aku berharap dia membelaku, aku berhadap dia mengatakan bahwa niatku tidak seperti itu. Sayang sekali, harapan itu harus pupus begitu saja. Mas Bagas diam dibawah tatapan cinta Sarah. Tidak ada sedikitpun niatan membelaku.
"Nama saya Alena, pegawai kantornya Pak Bagas. Maaf tadi sudah salah menyebut, kesannya saya terlalu percaya hingga menyebutnya dengan sebutan Mas. Saya kesini cuma hanya segedar ingin menemani, tetapi kalau bagi kalian itu sudah termaksud dari kesalahan, saya minta maaf. Terimakasih sudah mengingatkan saya. Haram haram hukumnya bagi saya berdekatan dengan seorang laki-laki yang sudah mempunyai pasangan, kecuali ada satu atau dua hal keadaan yang memaksa untuk saling berdekatan tetapi tidak dalam memasuki sebuah hubungan." Senyum miring keberi untuk Sarah. "Cepat sembuh Mbak Sarah, semoga apa yang tidak normal bisa dinormalkan kembali."
"Maksud lo?" Bentak Secil padaku.
"Biarin aja. Namanya juga orang stres." Sanggah Sarah. "Pergi sana. Bagas uda gak butuh kamu lagi."
Aku mengangguk faham. "Saya pamit, Pak. Maaf sudah mengganggu waktunya. Senang bertemu dan berkenalan dengan kalian. Permisi."
Kata hampa merasuk dalam jiwaku. Tidak ada pembelaan dari siapapun membuatku mengerti, bahwa didunia ini, tidak sepatutnya aku menaruh seluruh kepercayaanku selain kepada-Nya.
"Saya antar, Al..." akhirnya dia bersuara.
Tanpa berbalik, meluruhkan segala rasa hormatku kepadanya sebagai suamiku, aku hanya menganggkat tanganku. Bergerak kekanan dan kekiri, sebagai jawaban tidak.
Sebagai anak yatim piatu, kata diabaikan juga ditinggalkan sudah menjadi teman baikku sedari dulu. Tidak ada satpun sandaran dan semangat diberi sehingga membuatku menjadi terlatih dengan kesendirian. Aku berjuang melawan waktu. Menghadapi orang-orang yang akhirnya selalu datang disaat ada butuhnya saja. Aku tidak marah, malah aku tersenyum, bahwa aku tau hidup tidak selalu tentang aku dan kesedihanku. Aku menerima segalanya dengan cara belajar mengikhlaskan.
Aku tau, apapun yang terjadi, baik buruknya, aku telah melalukan yang semampuku. Jika hasilnya masih tetap tidak sesuai seperti yang aku harapkan, tidak masalah, sebab keadaan selalu mengharuskanku dewasa sebelum waktunya, agar lebih bersabar dan ikhlas.
Gak ada yang benar-benar memberi semangat seutuhnya kecuali tekad dari diri sendiri untuk tetap merasa lebih kuat bahwa masih ada hari esok untuk dijalani dengan baik. Hingga aku merasakan, sepasang tangan menutupi kepalaku dari rintik hujan yang mulai berjatuhan tidak sabaran.
"Kadang apa yang kita harapkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Kita sebagai umatnya hanya bisa meminta, memohon dan berdoa."
"Rio!"
"Sini peluk, kamu uda hebat banget melalui ini semua. Aku bangga banget sama kamu."
Tanpa pikir panjang, tubuhku beringsut memeluknya erat. Menenggelamkan wajahku didalam pelukan hangatnya. Aku meluapkan segala kesedihanku dibawah derasnya hujan, seakan tidak ingin ada yang tau kalau aku sedang menangis.