Chapter 5

2042 Kata
Rio adalah sosok laki-laki yang pembawaannya sangat tenang. Berbeda dengan Mas Bagas yang memang lebih memilih diam, Rio akan mencoba berusaha sekeras mungkin ketika sesuatu terjadi kepada seseorang yang ditemuinya. Tidak banyak tanya, bertahan dan tidak meninggalkan. Kalau Mas Bagas, juga tidak banyak tanya tetapi tidak bertahan dan pergi meninggalkan. Sangat kontras, membuatku jadi membandingkan keduanya. Mungkin aku setuju ketika Ara dan Anin mengatakan bahwa Rio itu mempunyai karakter yang boyfriend material banget. Buktinya, Rio akan selalu mengingat detail-detail kecil tentangku, yang terkadang aku sendiri tidak ingat bahwa pernah menceritakannya. Berkomunikasi dengan Rio terasa sangat mudah, mengalir begitu saja, dari subjek satu ke subjek yang lainnya. Gak cuma sayang kepada Ibunya, Rio juga kerap menaruh seluruh perhatiannya terhadap hewan, membuatku terkadang merasa gemas ketika melihatnya berinteraksi dengan hewan tersebut. Bersama ku, Rio hampir tidak pernah menjelekkan-jelekkan seseorang yang pernah ada dimasalalunya. Dibanding Mas Bagas, Rio lebih sering memberi perhatian-perhatin kecil yang terkadang dianggap remeh oleh Mas Bagas. Seperti menurunkan step motor, memakaikan helm, mengelap jok motor ketika basah akibat hujan, membuka tutup botol air mineral, mengganti posisi ketika hendak menyebrang dan lebih memilih berdiri dibelakang ketika sedang berada ditempat ramai. Diam-diam aku terpesona. Kalau saja kemarin Mas Bagas tidak membahas soal antara cinta dan pertemanan, mungkin aku tidak akan berpikiran seperti ini. Tetapi sayangnya sudah terlanjur, hingga rasanya ada perasaan asing masuk kedalam hatiku. "Al, ada ide gak kita mau kemana? Ini uda jam sembilan. Gue takut lo sakit kalau hujan-hujanan begini. Lo yakin gak mau pakai helm?" Ucapnya ditengah suasana malam yang berisik akibat hujan. Tanpa sadar aku mendekatkan diriku padanya. Merapatkan tubuhku, hingga kedua lenganku bergerak mengalung dipinggangnya. Daguku sudah terjatuh dibahunya otomatis membuat tangannya ikut bergerak naik keatas, menyentuh dahiku agar penglihatanku tidak kabur karena derasnya hujan. "Gak usah, lo lebih butuh helm dari pada gue. Makan bakso aja boleh gak?" Balasku. "Apalagi hujan-hujan begini, pasti sedep." Rio memelankan laju motornya. "Kita bungkus aja ya, Al? Makannya dirumah kamu. Boleh?" "Lagi males pulang." Balasku lesu. Bibirku mengerucut lucu, membuatnya tersenyum geli saat tatapan mata kami saling bertubrukan dikaca spionnya. "Kayaknya gue gak ada alasan deh, Al, buat nolak lo, karena lo semenggemaskan ini. Kita makan ditempat. Selesai makan langsung pulang. Oke, bos?" "Oke bos ku!!!" Seruku kencang sambil tertawa. Diam-diam hatiku berbunga-bunga. Perutku seperti diterbangi oleh ribuan kupu-kupu. Rio selalu baik, selalu mengerti aku. Ini bukan pertama kalinya dia menolong dan ini juga bukan pertama kalinya dia menemaniku disaat sedih. Namun inilah pertama kalinya aku merasa mempunyai seseorang yang memperlakukanku layaknya seseorang yang berharga untuknya. Selama diperjalanan juga setelah sampai ditempat tujuan, kami sama sekali tidak kehabisan topik pembicaraan. Ada aja gitu yang dibahas, walaupun gak jelas, tetapi seru aja "Main lanjut-lanjutan kata yuk, supaya gak bosen nunggu baksonya." Aku mengangguk antusias. "Ayo." Ucapku dengan bibir bergetar. "Dingin, Al? Mau pake jaket gue gak? Biar gue ambilin." Rio panik sendiri melihatku yang sudah kedinginan. Sebab ketika Rio mengatakan ingin mengantarku pulang, aku menolak. Memilih hujan-hujanan dijalan sampai reda dan berakhir diwarung bakso begini. "Gak kok. Ntar juga anget kalau uda makan baksonya." Rio mengangkat sebelah alisnya, mungkin masih ragu. Tetapi aku berusaha meyakininya lewat senyuman manisku. Aishh, gak terlalu manis kok, manisan ke Mas Bagas. Tenang saja. "Gue duluan, ntar lo tinggal lanjut," kembali aku mengangguk, "I love tik? "Tok." "I love ins?" "Tagram." "I love whats?" "App." Kali ini Rio memiringkan kepalanya, sebelah tangannya naik sebagai penopang dagunya. Dia tersenyum kepadaku membuatku sedikit salah tingkah, "I love tele?" Sambungnya. "Gram." "I love you?" "Too!" Jawabku cepat, tanpa mikir. Rio tersenyum lebih lebar sampai matanya menyipit seperti bulan sabit. Seketika aku terbengong, memikirkan jawabanku dan ternyata, "Ihhh maksudnya gak gitu. Ulang dong." Paksaku padanya. Rio berhasil meloloskan tawanya, "Youtube, Al, Youtube, bukannya malah too. Tapi kayaknya gue lebih memilih jawaban pertama deh, jadi makasih ya Ibu Alena." Balasnya penuh kemenangan. "Rio! Gak jelas banget. Ulang dong. Lo sih nanyanya kecepatan. Gue kan jadi gak bisa mikir." "Sorry. Dimana-dimana jawaban pertama dan cepat itu lebih memakai hati." Sebelah tangannya terjulur mengacak rambutku yang basah. "Gemes banget ya Tuhan!" Lalu memencet ujung hidungku dan menariknya. Ya Tuhan, tiba-tiba pipiku merasakan panas. Sepertinya rona kemerahan itu sudah menjalar keseluruh bagian permukaan kulit wajahku. Malu sekali. Gak seharusnya aku jawab seperti itu. "Curang ih, males." Demi menghilangkan rasa maluku, aku mengambil satu botol air mineral, hendak membukanya tetapi Rio dengan cepat mendahuluiku. Kukira laki-laki itu hanya segedar ingin iseng, tanpa banyak komentar aku mengambil botol yang lain. Betapa terkejutnya aku, ternyata Rio membukakannya untukku, bukan untuk dirinya sendiri atau mengisengiku. "Nih, hilangin tuh yang ada dipipi lo. Ntar orang rumah lo ngiranya lo habis digebukin makanya merah begitu." "Ck! Gak lucu, Yo." Sosok Mas Bagas seakan-akan hilang begitu saja dari pikiranku. Saat ini cuma ada Rio Rio dan Rio yang mampu memberiku tawa. Aku lupa aku sudah jadi istri. Aku lupa seharusnya aku pulang kerumah, bukannya malah disini. Rio berhasil mengeluarkanku dari jeratan kesedihan. Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya dan menemani. Dengan senang hati aku menerimanya. Tetapi ingat, ini bukan demi cinta tetapi demi pertemanan. Tolong selalu ingatkan aku. "Al." Aku berdehem. "Al." Kembali aku berdehem. "Alena." "Ya, Rio????" Rio beringsut maju, tubuhnya menyebrangi meja dan mengusap puncak kepalaku, "You did well, Al. Aku bangga banget sama kamu." Dahiku mengkerut, "Padahal lo gak tau gue kenapa." "Aku gak bakal bombardir kamu, Al, dengan beribu pertanyaan hanya karena ingin memuaskan rasa penasaranku, kecuali kamu sendiri yang mau cerita. Kalau gak mau juga gapapa kok, aku tau itu privasi kamu. Apapun yang terjadi, baik atau buruknya sampai buat kamu sesedih itu, gak masalah kok, Al. Aku tau kamu uda berbuat semampu kamu dan aku bangga dengan itu. Jadi... jangan sedih lagi. Ntar aku ikutan sedih," Rio memasang ekspresi sesedih mungkin, "Tuhkan jadi ikutan sedih." Aku tersenyum, giliran aku yang beringsut, "Jangan dong," kusentuh ujung bibirnya menggunakan jari telunjuk. Kutarik keatas hingga memunculkan sebuah lengkungan keatas, "Lo jelek kalau sedih, mending senyum, kan cakep." Tak ku sangka-sangka, Rio mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya. Lalu mengecupnya berulang kali, "Thank you so much, Al." Perutku seperti sedang terjun bebas ke dasar jurang yang paling dalam. Otakku tidak bisa berpikir sejernih mungkin. Ya Tuhan, tolong aku, ini maksudnya gimana? Bukannya marah atau menarik tanganku. Aku malah berkata, "Jangan ih, malu dilihatin orang." "Ngapain malu? Namanya juga romansa orang dewasa. Orang lain juga pasti bakal maklumin lah, lagian kita cocok tau, Al. Lo cantik, gue ganteng. Lo sedang sendiri begitu pula dengan gue. Apa yang perlu dipermaluin? Terus Kalau saat ini, detik ini, menit ini, gue minta izin buat deketin lo, lo bolehin gak?" Aih, mampus aku. Ini sudah diluar nalarku. Sungguh, aku tidak menyangka akan terjadi secepat ini. Apa tidak bisa dia menunggu sampai hari esok? Membiarkan lukaku sembuh terlebih dahulu. "Haduh, gimana ya, lo kan tau sendiri gue lagi gak doyan pacaran. Gue trauma sama cinta-cintaan. Lo mending sama yang lain aja. Bukannya kemarin Ara bilang lo lagi deket sama cewek lain? Yaudah, dia aja. Jangan gue." Rio tersenyum kecut, lalu menghembuskan nafasnya lelah, "Yang gue deketin sama kayak lo, Al, gak doyan pacaran. Capek gue, pengen gue nikahin aja." "Ya kalo dianya mau, gas aja." Balasku enteng. "Lo mau gak?" "Apanya?" "Gue nikahin." "Ya jangan gue lah, cewek yang lagi lo deketin aja." "Ah! Lo ribet, Al. Pusing gue." Aku menatapnya tak mengerti. Kenapa tiba-tibia Rio jadi berubah begitu? Emangnya aku ada salah? Gak mungkin lah dia nikahnya sama aku tapi ada cewek lain yang sedang didekatinya. Sebagai sesama perempuan, aku melarangnya. Rio harus konsisten dengan pilihannya, jangan plin-plan kayak sosok laki-laki yang kini sudah mencecarku dengan puluhan pesan. Masku? Di mana? Saya sudah dijalan, mau singgah beli sate. Kamu mau? Masih marah? Sarah dan teman-temannya tidak bermaksud meremehkan kamu. Jangan diambil hati. Alana? Youve still alive right? Hello... Alana Kamu marah? Cmon Al. Jangan memperumit keadaan. Ive told you before, untuk harus lebih bersabar kalau masih ingin bersama saya. Apa kamu pikir ketika terjadi seperti ini saya pantas disalahkan? Kalau memang kamu masih keberatan dengan segala konsekuensinya, maka ayo urus perceraian kita. Supaya kamu lebih bisa merasa benas dan tentu saja, tidak merasa tertekan atas perasaan tidak terbalaskanmu dari saya. Membacanya membuat mood ku kembali buruk. Bahkan Rio yang sesekali bertawa ditengah riuh suara klackson motor, tak ku perdulikan sama sekali. Mas Bagas itu sudah berulang kali mematahkan hatiku, mematahkan perasaanku juga mematahkan semangatku. Tetapi kenapa hatiku masih betah bertahan? Seakan-akan karena terlalu mencintainya, membuat rasa benciku terhadapnya menjadi menghilang begitu saja. Aku menyenderkan dahi pada punggung lebar Rio. Memikirkan tentang perjalanan hidupku yang tidak pernah berjalan sesuai mauku. Mulai dari kecil hingga sampai saat ini, aku masih dikaruniai kesedihan yang berlimpah. Kehilangan orang tua, diasingkan teman-teman sewaktu masa sekolah, di bully, dihancurkan mentalnya, hingga dimatikan rasanya. Kukira bertemu dengannya akan menjadi obat dari segala luka dalam kesedihanku, tetapi sayangnya tidak, malah Mas Bagas adalah sumber luka terhebatnya. Saat ini yang ada dipikiranku adalah pergi menjauh darinya. Meninggalkannya dalam ribuan penyesalan. Tetapi rasanya Mas Bagas tidak akan pernah menyesal, sebab untuk memulainya saja Mas Bagas belum pernah. Menahan diri untuk mengatakan selesai saat berantem tetapi sedang lagi fase sayang-sayangnya itu susahnya setengah mati. Dulu aku pengen ketika hubungan ini sudah tidak bisa diselamatkan kembali dan pada saat bersamaan Mas Bagas mengatakan menyerah, aku akan tanpa pikir panjang mengikutinya. Ternya aku salah besar. Aku semakin terbuai dalam sakit yang diberinya, terlena dalam luka yang ditorehnya dan tergoda dalam ucapan kasar yang dikatakannya. Aku sadar bahwa aku tidak akan sanggup bila hidup tanpanya. Hanya Mas Bagas yang kupunya. Mungkin kalau suatu hari nanti, Tuhan memintanya lebih dulu, maka aku akan marah, membantah perintahnya, agar akulah yang lebih dulu dipintanya. "Dari mana?" Aku sedikit terkesiap saat baru saja menutup pintu rumah dan disuguhi oleh sosok Mas Bagas dengan stelan piyama tidur kebanggaannya yaitu celana kolor yang hanya menutupi miliknya dengan atasan yang dibiarkan terbuka begitu saja atau lebih tepatnya shirtless. "Kok pesan dariku gak dibalas? Pulang sama siapa? Malam banget, tumben gak izin dulu." Aku menghembuskan nafas kasar, "Nanyanya satu-satu." "Dari mana?" "Dari warung bakso langganan Mama." "Kenapa pesan dariku gak dibalas?" "Hpnya keburu lowbat." "Pulang sama siapa?" "Rio." "Kenapa gak izin?" "Kan hpnya lowbat, gimana mau izin." Aku persis seperti terdakwa yang sedang disidang oleh hakim. Seakan tidak memberiku jera, sang hakim terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuatku pusing tujuh keliling. "Rio gak bilang kalau dia lagi suka-sukanya sama kamu?" Mas Bagas mulai berjalan pelan, seperti menyuhruhku untuk mengikutinya. "Jangan ngaco, Mas." "Aku gak bakal ngaco kalau kamu gak mencoba untuk memancing aku. Kamu seharusnya tau etikanya, kalau sudah punya suami, gak baik pulangnya jam segini, apalagi dianterin sama laki-laki lain. Kamu mau jadi objek gosip tetangga? Mana gak izin samaku. Kamu sudah lupa? Perlu aku ingetin lagi?" Aku mendongak, menatapnya aneh. "Apaan sih, Mas. Lebay banget." "Lebay kamu bilang?" Mas Bagas membalikkan tubuhnya, mengurungkan niatnya masuk kekamar, "Gila ya kamu, kayak gini kamu bilang aku lebay? Gak usah pulang aja sekalian, nginap dirumah Rio. Mau kalian cuma segedar makan bakso, ngobrol, saling melemparkan tawa atau nge-s*x sekalian, gak bakal ada yang tau." Aku berhasil sampai dianak tangga paling akhir, sedikit tersenyak ketika mendengarnya mengatakan s*x. "Mas, kalau emang energimu masih banyak sehingga ingin mengajakku berantem, mending disimpen aja dulu. Aku gak bakal sanggup melawan kata-kata kasar yang keluar dari mulutmu. Aku capek, mau istirahat." Aku tau, aku sudah kelewatan. Apalagi ketika kata mulutmu terlontar. "Wahhh, semakin dekat dengan Rio maka semakin kuat pula rasa beranimu melawanku. Cukup mengagumkan. Emang Rio uda berhasil ngasih apa aja kekamu? Uang? Emas? Mobil? Atau having s*x? Sampai kamu segitu beraninya sama suami kamu sendiri." Mas Bagas menggelengkan kepalanya lalu tersenyum miring kearahku. "Hebat kamu, Alena." "Rio dan aku bahkan gak pernah melakukan itu, kenapa Mas seenak jidat mengatakannya?" "KARENA BARU KALI INI KAMU SEBEGITU BERANINYA SAMA AKU. KAMU MENGERTI ALENA? BAHKAN KAMU LUPA ETIKAMU MENJADI SEORANG ISTRI ITU APA? SEHARUSNYA, KEMANAPUN LANGKAHMU, KEMANAPUN TUJUANMU, HARUS DISERTAI IZIN DARIKU. BUKANNYA MAIN PERGI GITU AJA. KAMU SUDAH MENIKAH, KAMU SUDAH MENJADI SEORANG ISTRI. APA SEBEGITU SUSAHNYA MENANAMKAN DIOTAKMI BAHWA HAL-HAL SEDERHANA YANG KAMU LANGGAR ITU AKAN MEMBERI DOSA UNTUKMU." Aku terdiam. "Kukasih kamu waktu sampi besok pagi. Kalau memang sudah tidak tahan dan menginginkan perceraian, katakan. Kamu gak perlu repot-repot. Aku akan mengurusnya secepat mungkin." Setelah mengatakannya, Mas Bagas berbalik badan, membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kuat. Meninggalkanku dalam perasaan tidak karuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN