Seharusnya meeting yang sedang dihadiri Mas Bagas sudah selesai dari satu jam yang lalu, tetapi kenapa suami gantengku itu belum menunjukkan batang hidungnya?
Semenjak kejadian kemarin, hubungan kami mulai merenggang. Walaupun pada dasarnya masih ada tembok kokoh sebagai pembatasnya, tetapi kali ini terlihat lebih kokoh lagi. Jangankan berbicara, melihat wajahku saja Mas Bagas enggan. Kerap sekali aku mencoba meluruhkan segala rasa emosi yang masih tertahan dihatinya, sayangnya Mas Bagas memilih menghindar dan menjauh.
"Kenapa sih, Al?" tanya Ara, saat melihat kepalaku tak henti-hentinya bergerak kesana-kemari demi mencari keberadaannya.
"Nungguin sua--, eh bukan bukan, maksudnya pak Bagas. Mana ya, tumben banget jam segini belum kelihatan." Hampir saja aku keceplosan. "Lo kan tau sendiri, si bos paling gak bisa yang namanya telat. Gue heran aja, kenapa kali ini dia belum muncul juga. Apa sakit ya, Ra? Tapi gak mungkin lah."
"Mabok lo? Ya gak mungkin sakit lah. Hidupnya sedep, makannya teratur, ada yang ingetin ada juga yang ngantarin. Jangan samain sama hidup lo. Lagian mau ngapain lo ketemu sigalak? Nyari mati? Mending lo duduk, kerja. Kasian ntar jantung lo kalau ketemu sama dia." Ucap Ara dramatis.
Please Raaa, aku gak mungkin mati. Jangankan ketemu, tidur berdua saja, sudah kulakuin bersamanya. Batinku. Gak mungkin kukatakan secara gamblang. Bisa habis aku diteror sama fans-fans fanatik Mas Bagas dan Sarah yang bertebaran dikantor ini. Mereka gak akan segan-segan melayangkan protes berupa tatapan sinis dan saling menertawakan jika ada seseorang yang berniat menjadi orang ketiga ditengah-tengah hubunga mereka.
"Tuh pak Bagas." tunjuk Beni, "Everytime i see, everytime i go. Setiap ketemu Pak Bagas, pasti ada Bu Sarah. Mereka sudah seperti perangko dan amplop, tidak terpisahkan sedikitpun. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Yang satu kalem, yang satu anggun. Yang satu cuek, yang satu manja. God, Perfecto!" Beni bertepuk tangan menatap kagum dua manusia yang sekarang lagi saling bergenggaman tangan.
"Gue bakal kecewa sih kalau mereka sampek gak jadi naik pelaminan. Apalagi gak sampeknya karena salah satu dari mereka mendua." Tiba-tiba Anin muncul di antara kami.
Aku langsung berbalik badan, tersenyum ketika tatapan kami bertemu, tetapi Mas Bagas buang muka seperti tidak mengenal aku. Aku mendengus kesal, kembali berbalik badan, menghempaskan tubuhku pada kursiku.
Aku gak suka melihat tatapan binar yang dilayangkannya pada Sarah. Aku gak suka melihat senyumnya yang diberinya pada Sarah. Aku gak suka melihat tawanya yang diperlihatkannya pada Sarah. Juga aku gak suka saat melihat telapak tangan yang selalu memberiku aman, kini terjamah oleh tangan Sarah.
Pokoknya aku gak suka.
"Gak jadi lo ketemu dia?" Tanya Ara mengingatkanku.
"Tau ah, males."
"Lah, beneran mabok lo?"
"Diem, Ra." Aku membaringkan kepalaku diatas meja, dengan kedua tangan sebagai alasnya. Capek sekali rasanya. Saat aku mulai terjatuh dalam tidurku, sebuah tangan lebar mendarat dipuncak kepalaku. Memberi gerakan menepuk. Refleks aku mendongak, membalas tatapan sendu Rio.
"Laper ya, Al?"
Aku menggeleng.
"Kok lesu?"
"Pengen aja."
Rio mengulas senyum. "Gue traktir boba yuk?" Ajaknya. Tuh kan, Rio selalu tau kesukaanku. Padahal kayaknya aku gak pernah bilang deh. Cuma emang beberapa kali ketika sedang bersamanya, aku akan lebih memilih membeli boba dari pada kopi-kopian.
"Gak ah. Maunya gelato aja." Tawarku. Aku tersenyum malu-malu. Kukira Rio akan mencecarku, mengatakan tidak tau diri. Seperti sudah dikasih hati malah minta jantung. Eh taunya...
"Deal. Special gelato yang rasa tiramisu buat sicantik Alena. Supaya gak lesu lagi. Mau beli langsung? Kebetulan uda mau jam makan siang." Bisiknya pelan, takut Ara, Anin dan Beni mendengarnya.
Terberkatilah laki-laki seperti seperti Rio ini yang ketika ingin mendekati perempuan akan melakukan yang terbaik. Eh... maksudnya bukan ingin mendekati, tetapi kalau punya teman perempuan.
"Pengen beli langsung. Tapi nanti pasti trio kampret itu ngikut. Males aaaa...."
Rio mendengus geli, telapak tangannya kini sudah berpindah tempat dipipiku. Mecubit dan menarik-nariknya. "Kunci mobil gue di loker biasa. Lokernya gak gue kunci. Lo ambil aja, lo masuk duluan. Ntar gue nyusul. Lo tau kan tempat biasa gue parkir?"
Aku mengangguk antusias yang dibalas dengan senyuman lebar darinya.
"Pak Bagas tuh kalau nikah gimana yah? Apa tetep segalak itu, atau bakal berubah menjadi suami yang manis serta romantis?" Tanya Beni selanjutnya.
"Mungkin bucin sih, soalnya dia kayak suamiable gitu. Apalagi punggungnya, lebar banget. Pasti sedep kalau dipelukin, disandarin apalagi dinaikin. Gak kebayang nikmatnya jadi Bu Sarah. Bawaannya pengen main kuda-kudaan terus." sambung Ara.
"Atau gak perdulian sama istri?" Ujar Rio yang tangannya masih setia dikepalaku.
Nah itu, aku ingin membenarkan ucapan Rio. Pengen berbicara dengan berteriak sekencang mungkin, kalau Mas Bagas itu gak perduli, walaupun istrinya sudah berusaha membangun suasana romantis, tetep aja mukanya lempeng kayak jalan tol.
Inget banget, kemarin aku iseng pakai lingrie yang diberikan adiknya Mas Bagas. Awalnya sih coba-coba, tetapi tubuhku seakan menolak untuk melepasnya. Jadilah aku memakai itu sambil menunggu Mas Bagas pulang dari kantor, mana tau setelah melihatku hatinya sedikit tersentuh, supaya kami bisa bercinta, saling memberi kenikmatakan diatas ranjang sampai menjelang pagi. Seperti apa yang dilakukan pasangan suami istri pada umumnya.
Aku juga sedikit memoles wajah ku dengan makeup, rambut ku cepol supaya memperlihatkan leher jenjang ku, anak-anak rambut sengaja kubiarkan berserakan agar terkesan sexy. Lalu berbaring dengan miring menghadap pintu, supaya ketika Mas Bagas masuk, aku lah yang pertama yang dilihatnya.
Namun semua itu hanya imajinasi semata. Ketika Mas Bagas masuk, suamiku itu memang sedikit terkejut. Sebentar. Tetapi setelah itu, malah melempar jas hitamnya kearahku.
Dengan kesal aku membuang jasnya kelantai, "Mas, kamu gak takut apa milikmu karatan kalau gak digunakan? Lagi enak nih, yuk kita coba. Aku juga uda pengen. Kayaknya seru deh."
"Aku capek, Al. Lagi gak nafsu. Kamu jangan mancing-mancing."
"Justru aku mau coba mancing kamu supaya kamu bernafsu. Aku uda pakai lingrie nih, kesukaan kamu. Warnanya merah. Masa mau kamu anggurin gitu aja?"
"Gak bakal aku tertarik, Al." Dengan seenaknya suamiku itu melepas seluruh pakaiannya di hadapanku. "Sekeras apapun kamu mencoba, ga akan berhasil. Jangan berharap. Mending kamu tidur. Jangan aneh-aneh." Setelah mengatakannya, Mas Bagas langsung masuk kekamar mandi. Tanpa memperdulikanku sama sekali.
Apa aku sebegitu gak menggairahkannya bagi Mas Bagas? Sampai dia aja gak perduli kalau aku itu sedang berusaha meggodanya. Tubuhku gak mengecewakan kok. Kulitku putih, payudaraku montok, pantatku juga. Perutku masih rata, tidak buncit sama sekali. Walaupun pendek, tetap saja aku sexy.
Aku memukul kepalaku, sedikit agak keras. "Aw! Maunya apa sih? Susah banget ngajaknya." Ucapku kuat. Kepala ku terangkat, menatap bingung teman-temanku yang tadinya berisik kini menjadi diam.
"Kok diem sih?" Aku berkata santai, atau lebih tepatnya pura-pura santai.
Ara menggerak-gerakkan dagunya, seperti memberi isyarat bahwa ada seseuatu yang harus kulihat. Tepat setelah aku membalikkan tubuhku, ada Mas Bagas sedang menatapku tajam. Tangannya yang memegang bolpoin, kini terangkat mengetuk kepalaku berulang kali, dan terhenti saat ada suara yang sangat kukenali memanggil namanya.
"Bagas." suaranya lembut, beda dengan suaraku yang berat seperti laki-laki.
Mas Bagas tersenyum, padahal aku loh istrinya bukan dia.
"Papa uda nungguin kamu."
"Sebentar, sayang. Aku harus-"
"Gak enak kalau beliau yang nunggu kita. Takutnya macet juga."
Dia yang kumasud itu Sarah, senyuman yang dia berikan pada suamiku sangatlah indah, mungkin saja kalau aku jadi laki-laki bakal jatuh hati padanya. Pandangannya beralih menatap ku, tanpa senyuman itu luntur, lalu menunduk seperti memberi hormat dan berjalan masuk keruangan mas Bagas.
Saat mas Bagas hendak menyusulnya, aku menarik ujung jas Mas Bagas.
"Mas." ucapku dengan berbisik, tapi Mas Bagas menepis tanganku. "Aku kangen, pengen ngomong."
Mas Bagas menggeleng, lantas masuk keruangannya mengikuti Sarah. Walaupun sudah biasa terjadi, tetap aja hatiku sakit. Melihat suamiku lebih menuruti wanita lain dari pada istrinya sendiri.
"Tadi gue bilang Anin buat gak nungguin kita berdua. Gapapa kan?"
Aku mengangguk.
"Mau makan siang apa? Ada pengen sesuatu gak?"
"Ikut lo aja."
"Pecel lele, mau?"
"Ayam bakar, boleh?"
Rio menaikkan sebelah alisnya. Berusaha membagi fokus antara jalan dan aku. "Katanya ikut gue aja."
"Lagi gak doyan bebek. Maunya ayam bakar aja, dua porsi. Boleh kan, Yo?"
Astaga, aku tiba-tiba berubah manja begini. Biasanya sisi manjaku akan terlihat ketika bersama Mas Bagas. Kenapa ini malah ke Rio sih.
"Everything for you, Al."
Apakah memang benar bahwa Rio menyukaiku? Apakah memang benar bahwa Rio mencintaiku? Aku gak mengerti mengapa ini semua harus terjadi. I mean, Rio itu temanku. Hampir segala tentangku, laki-laki itu tau. Aku yang cuek, aku yang gak perduli, aku yang males ngapa-ngapain, Rio tau. Dan Rio merimanya.
Kalau dipikir-pikir, Rio gak terlalu buruk juga. Tidak ada yang perlu ditakutkan dan diragukan jika bersamanya. Rio itu baik, penyayang, perhatian, apalagi kepadaku.
"Ada yang mengganggu kamu, Al? Boleh aku tau?".
Aku menggeleng, menatap lurus-lurus jalanan yang terlihat ramai kalau sudah memasuki jam makan siang.
Haruskah kukatakan bahwa aku sudah menikah? Haruskah kukatakan untuk tidak perlu repot-repot mencintaiku? Sebab, sekeras apapun Rio berusaha, sekuat apapun Rio mengejar, aku gak akan pernah menjadi miliknya. Kecuali... kalau memang sebuah perceraian akhirnya terjadi dari pernikahan kami. Lepas dari Mas Bagas, lalu berjalan bersama Rio.
Atau beriringan? Seperti yang dilakukan Mas Bagas, menikah tetapi masih memiliki pacar. Apa boleh aku sepicik itu, menikmati indahnya pacaran. Disayang, dicinta dan dijaga. Pasti seru.
Mas Bagas cinta pertamaku. Sudah 22 tahun aku hidup, aku belum pernah merasakan pacaran. Diumurku yang baru 20 tahun, aku harus dihadapin pilihan, antara menikah dengan Mas Bagas atau hidup sebatang kara, mengurus segalanya sendirian. Mulai dari diriku, hidupku juga perusaan orangtua ku. Tidak sekalipun aku diberi kenikmatan dari kata pacaran. Lantas sekarang bolehkan aku sedikit mencobanya?
Memikirkannya membuat kepalaku kembali pusing. Seperti ditimpa oleh puluhan batu besar yang beratnya bisa ratusan kilogram. Terlalu rumit.
Deringan telfon dari dalam tas mengalihkan pikiranku. Mas Bagas. Sebelum menerimanya, aku menghembuskan nafas dalam.
"Gue terima telfon dulu ya." Izinku pada Rio yang dibalas dengan anggukannya.
"Ya, Mas?"
"Salam, Al. Jangan kebiasaan."
Aku tersenyum masam, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Pulang sekarang."
"Ada apa?"
"Ada Mama."
"Terus Mas?"
"Aku sudah dirumah. Buru."
Lalu Mas Bagas memutuskannya secara sepihak. Demi apapun, kebiasaan banget. Pengen ku tonjok aja.
"Gue baru tau kalau lo punya Mas."
"Hng?" Aku mengerjap, mencerna ucapan Rio.
"Gue baru tau kalau lo punya Mas. Setau gue lo anak tunggal. Apa gue salah?"
Aku menggeleng. "Gak. Lo gak salah, gue emanh anak tunggal. Itu tadi engh... a-nu... kakak spupu gue. Makanya gue panggilnya Mas."
"I see..."
Aku menggigit bibir, mencari alasan agar Rio mau mengantarku pulang.
"Yo, ke gelatonya boleh besok-besok aja gak? Gue disuruh pulang. Ada urusan mendadak."
"Bentar lagi nyampe kok, Al."
"Gak bisa. Gue harus pulang sekarang juga, Yo. Gue takut kena marah. Bolehkan?"
Mobilnya terhenti dilampu merah. Rio mangalihkan pandangannya kearahku. "Lo lagi nyembuin sesuatu dari gue ya, Al?"
"Enggak kok."
"Balas tatapan gue."
Ragu aku membalas tatapannya. Melihat matanya yang teduh, aku seperti tersihir oleh pesonanya. Tanganku tergepal kuat menahan letupan rasa suka yang entah mengapa tiba-tiba datang menyapaku.
Terlalu terlarut memandangnya, tanpa ku tau, Rio sudah mengikis jarak diantara kami berdua. Wajahnya maju semakin mendekat, membuatku refleks menutup mataku. Kukira laki-laki itu akan mencium bibirku, ternyata tidak. Rio malah mendaratkan satu kecupan manis dipelipisku. Turun ke ujung hidungku dan berakhir dipipiku.
Suara klakcson yang seling bersautan membuatku tersadar. Begitu pula Rio, dengan buru-buru menaikkan gas agar tidak menimbulkan macet.
Saat ini, aku gak tau mendefenisikannya apa. Nyaman dan aman yang biasanya kuberikan pada Mas Bagas, perlahan-lahan mulai direnggut oleh Rio. Rio mematahkan spekulasiku yang selalu hanya bisa memasrahkan diriku pada Mas Bagas. Tanpa tau, bahwa nyaman dan amannya bukanlah aku.
"Aku anter kamu pulang."
"Yo..."
Rio berdehem.
"Kenapa lo baik? Kenapa lo selalu perduli sama gue? Kenapa juga lo selalu mengusahakan yang terbaik ke gue? Dan... kenapa lo cium gue? I mean, kita itu berteman. Just that. Tapi semua yang lo lakuin itu rasanya uda berlebih."
"Gue uda bilang, Al. Gue ingin dekat dengan lo, lebih dari teman. Gue suka sama lo, gue sayang sama lo dan gue cinta sama lo. Gue rela melakukan apapun demi lo. Asal berakhir dengan lo jadi milik gue."
Aku terdiam.
"Cewek yang lagi gue deketin itu lo. Cewek yang mau gue ajak nikah itu lo. Gue cuma maunya lo. Apa gue salah?"
"Lo gak salah. Tapi-"
"Tapi apa? Emangnya gue bisa milih, gue mau jatuh cinta sama siapa? Emangnya gue bisa berkehendak kalau gue maunya sama siapa? Gue cuma bisa mengikuti alur dihati gue. Dan didalam alurnya itu berujung di lo."
"Lo gak boleh suka sama gue, Yo."
"Kenapa? Kasih gue alasan, supaya gue tau kalau lo itu gak berhak gue perjuangin."
"Pokoknya gak boleh." Aku melihat sekitar, sudah memasuki area komplek. "Berhenti. Gue turun disini."
"Gak bisa. Gue antar lo sampe rumah."
"Turunin gue disini, Yo."
"Gak."
"Yo..." Aku memelas, "Please, turunin gue disini. Gue gak ada waktu lagi buat berdebat sama lo."
Aku langsung melepas seal belt saat mobil sudah menepi. Tanpa memperdulikannya, aku langsung membuka pintu mobil dan turun. Sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkannya, aku berdiri diambang pintu. Menatap sosoknya yang masih menatapku memohon.
Miris sekali. Kalau saja saat ini aku belum mempunyai ikatan dengan Mas Bagas. Aku akan langsung mengatakan bahwa aku mau bersamanya. Sayangnya semua telah terlanjur terjadi. Aku sudah menikah. Menjadi seorang istri dan Mas Bagas itu adalah suamiku.
"Rio, berhenti cinta sama gue. Gue tau lo gak bisa berkehendak kemana perasaan lo memilih. Tetapi tolong, jangan masukin gue kesalah satu pilihan hati lo."
Saat Rio hendak turun, aku melarangnya. "Jangan turun. Kita berhenti sampai disini."
"Tapi, Al..."
"Jangan cintai gue, karena gue rumit."
Dengan perasaan sesak, aku menutup pintu mobilnya. Aku tidak boleh melangkah terlalu jauh, yang bisa membuatnya semakin terjerumus dengan rasa cintanya. Aku harus berhenti sampai disini saja. Apapun yang terjadi dihari esok, Rio hanya segedar sahabatku. Tidak lebih juga tidak kurang. Semoga saja perasaan itu masih tetap sama untuk seterusnya.