"Jangan cintai gue, Yo. Gue rumit."
Rio berdiri kaku dihadapanku. Kukira semalam laki-laki itu akan berhenti atau lebih tepatnya membatalkan keinginannya yang ingin mendekatiku, namun ternyata tidak. Pagi ini, laki-laki itu menyatakan perasaannya kembali. Memintaku berjalan beriringan bersamanya bukan lagi segedar teman, melainkan pasangan.
"Gue minta maaf kalau kesannya gue lancang. Gue juga gak tau sejak kapan perasaan ini tumbuh untuk lo. Yang jelas setiap ngelihat lo, perasaan gue rasanya damai. Apalagi senyum lo, bikin gue pengen ngelihatin terus menerus. Kalau disuruh, gue juga gak bakal mau. Gue cuma minta lo jadi pacar gue, temenin gue, ingatin gue. Gak berat, Al. Dan gak macam-macam juga." Rio berusaha menarik tanganku maka dengan cepat aku menepisnya.
Baru sekarang aku mengerti maksud omongan Mas Bagas. Aku memang tidak pernah menyetujui ketika orang-orang mengatakan bahwa hubungan pertemanan lawan jenis akan berujung pada percintaan, sebab aku belum pernah tau dan mengalaminya. Ketika sekarang, aku disuguhi hal seperti itu, aku menjaga kalang kabut sendiri. Sungguh belum siap menghadapi kenyataan bahwa Rio sudah jatuh hati padaku.
"Lo itu temen gue, gak seharusnya lo suka sama gue. Banyak diluar sana perempuan yang lebih baik dari gue, lo bisa tinggal pilih. Apalagi kalau mereka tau lo uda mapan banget, orangtua lo juga tajir melintir, mana ganteng pula, pasti mereka gak pikir dua kali buat nerima lo." Aku berusaha memberi penjelasan padanya, "Pokoknya jangan gue, Yo, please..." Mohonku padanya.
"Tapi kenapa, Al? Apa cuma karena rumit? Gue gak ngerti dan lo gak berusaha untuk memberi pengertian. Lagian kita sedang sama-sama sendiri. Kenapa gak kita coba untuk saling mengisi kekosongan masing-masing."
Aku mengangguk, "Mencintai gue adalah sebuah kesalahan yang lo ciptakan. Gue bakal mendukung siapapun yang akan menjadi pasangan lo, gue siap jadi tim hore kalau lo butuh semangat. Tapi jangan pernah anggap perhatian itu dikarenakan gue juga suka sama lo. Perasaan gue ke lo itu gak lebih dari segedar sahabat. Lo harus inget itu."
Weekend begini biasanya Rio akan pulang kerumah orangtuanya. Segedar melepas rindu atau memakan masakan Mamanya, seperti yang selalu dia katakan pada kami. Tetapi entah mengapa, pagi-pagi begini Rio memilih singgah kerumah Mas Bagas, membawakan satu kotak bubur ayam yang kuyakini sudah dingin sebab sedari tadi dianggurkan.
Baru pukul tuhuh pagi, tentu saja Mas Bagas masih tenggelam dalam tidur nyeyaknya. Selepas shalat subuh tadi, laki-laki gantengku itu baru bisa bertemu kasur setelah berjam-jam enggan bertemu denganku, memilih mendekam diruangan kerjanya atau lebih tepatnya menghindariku.
"Gue kedalam dulu, gue mau ambil uang buat bayar bubur lo ini." Aku menunjuk kantong plastik yang sudah berada ditanganku, "Lo tunggu sebentar, gue gak akan lama."
Aku hendak berbalik, ingin segera berlari agar secepat mungkin Rio meninggalkan rumah ini, tetapi dengan cepat Rio menahan tanganku. Membalikkan tubuhku dengan kasar hingga bertubrukan dengan d**a bidangnya. Tentu saja aku terkejut, Rio menunduk, membawa bibirnya berada tepat dihadapanku. Aroma parfumenya menyapa hidungku, membuatku menyadari ternyata Rio beneran memakai jenis parfume yang sama denganku agar bisa melepas rindunya ketika berjauhan denganku.
"Alena, kali ini aku mau egois. Aku mau kamu, cuma kamu. Gak yang lainnya. Kamu selalu berhasil menarik perhatianku. Jangan pernah berjalan ataupun berlari agar menjauh dariku, sebab semuanya akan sia-sia. Karena sejauh apapun kamu melangkah, aku akan selalu membayangimu." Ucapnya sensual, bibirnya bergerak diatas permukaan bibirku.
Rio menarik tengkukku, sedangkan sebelah tangannya merangkul pinggangku. Ketika jarak sudah semakin terkikis, Rio lebih dulu mengecup ujung hidungku, kemudian turun mencium bibirku, lama dan dalam. Tanpa membiarkan aku memprotes perlakuannya, Rio semakin mendorong tengkukku, memperdalam ciumannya. Aku hanya terdiam, namun sialnya, ketika merasakan tangannya mengelus-ngelus pelan pinggangku, aku menjadi terbuai. Bibirku terbuka, tanpa membuang waktu, Rio memainkan lidahnya, menyapa lidahku agar saling berperang dengannya.
Entah apa yang kurasakan, mataku perlahan-lahan tertutup. Menikmati gerakan lincah bibirnya yang tanpa ragu-ragu mencumbu bibirku. Ini adalah ciuman keduaku setelah Mas Bagas. Sudah lama terakhir kali aku melakukannya, sebab bersama Mas Bagas, kami hanya saling mengecup pipi dan dahi. Setiap aku meminta dibibir, Mas Bagas gak pernah mau. Ada saja alasannya. Dan sekang Rio berhasil mengambil jatahnya.
Ketika ciumannya terlepas, nafasku dibuat ngos-ngosan. Kupikir akan berhenti begitu saja, ternyata tidak. Rio mengecupi pipiku berulang kali, sampai rasa geli menerpaku. Membuatku tertawa, menikmati sentuhan darinya yang tiba-tiba. Membawaku seperti melayang tinggi hingga kelangit ketujuh.
Rio menangkup pipiku, membalas tatapan berbinarku. Kembali mencium bibirku sejenak. Kemudian memelukku erat dan berkata, "Al, jangan minta aku berhenti, karena itu gak akan pernah terjadi. Aku sudah terlalu dalam jatuh pada cintamu. Aku gak mau perasaan ini terbuang sia-sia. Aku gak akan memintamu ataupun memaksaku, tetapi dengan perlahan, aku akan mengajarimu atau lebih tepatnya belajar bersama, saling menerima keadaan, saling mengetahui, bahwa salah satu dari kita harus saling terikat." Sebelum meninggalkanku, Rio mengecup dahiku, lalu tersenyum sendu membuat perasaan tenang menyelimuti hatiku. "Boleh kita mencobanya?"
Senyumku masih tertahan dibibir. Tetapi kepalaku mengganguk. Mencoba katanya. Apakah boleh? Mungkin. Sedikit saja. Biarkan hanya aku dan Rio yang tau. Biarkan proses percobaan ini terjadi. Aku hanya ingin menikmatinya. Mas Bagas tetap laki-laki yang paling kucintai dimuka bumi ini. Tidak akan ada yang bisa menggantiknya. Dengan Rio, mungkin bisa dibicarakan.
"Alena Khandra!" Teriaknya dari dalam kamar kami saat kakiku sudah hendak berbelok kedapur. Suara beratnya terdengar dipenjuru rumah.
"Iya!" Kubalas tak kalah kuat juga. Aku menghembuskan nafas kesal. Suamiku itu selalu saja begini, padahal aku sudah menyiapkan satu stel pakaian kerja maupun hari-harinya secara terpisah, tetapi masih ada aja yang kurang, kayak gak puas aja gitu kalau satu hari gak ngerusuh. Aku berlari ringan, sampai tak sadar aku menendang kaki meja dengan lumayan keras.
"Aw!!" Pekikku. Aku langsung terduduk, memijit kakiku dengan kesal. Sial sekali, mengapa aku selalu bertindak ceroboh sih.
"Bukannya kekamar, malah duduk santai disini." Tiba-tiba Mas Bagas memunculkan batang hidungnya dihadapanku. Melupakan perdebatan yang tadi malam hampir memicu pergelutan.
Mama bersikeras menyuruh kami ikut program hamil agar cepat mendapatkan momongan serta cucu untuknya. Mama berkata bahwa semua teman-teman arisannya sudah sibuk memamerkan cucunya. Ada juga yang beberapa masih menunggu, tetap saja, Mama merasa kalah telak.
"Mama uda pengen gendong cucu, Papa juga. Jangan nolak lagi. Ikut program hamil aja, dokternya baik kok. Temen Mama."
"Ma... yang hamil itu Alena bukan Mama." Ujar Mas Bagas.
"Mama tau. Alena itu gak mau minum obat-obatan yang Mama kasih. Walaupun herbal, tetap aja dibuang sama dia." Aku terkejut, Bagaimana Mama tau?
"Mama tau?" Tanyaku tak percaya.
"Tau. Bibi yang ngasih tau. Kamu itu gimana sih? Niat punya anak gak? Mama capek kalau harus ingetin kamu terus. Kalau memang gak mau, bilang. Supaya Mama gak repot-repot, Al."
"Ma, jangan ngomong gitu ke Alena."
"Kamu juga, taunya cuma kerja kerja dan kerja. Gak pernah ada waktu dirumah. Weekend juga kerja. Udahlah, mending kalian gak usah kerja dulu. Dirumah aja. Bikin cucu yang banyak buat Mama. Mama uda ajarin kamu, Mas. Jangan pura-pura gak tau. Mama tonjok kamu."
Mas Bagas meringis. Tak lama Raga muncul, tersenyum miris melihat kegaduhan yang terjadi.
"Yang nikah Mas Bagas dan Mbak Alena. Yang mau punya anak juga Mas Bagas dan Mbak Alena. Dan kalaupun hamil itu Mbak Alena bukan Mama. Mama cuma nikmatin aja. Kalau hanya segedar ingin menjadi ajang pamer-pameran. Mending gak usah. Norak, Mah. Kayak gak bakal punya cucu aja."
Aku terkadang bingung, Mas Bagas dan Raga itu kakak-adik. Walaupun Raga itu umurnya satu tahun diatasku juga lima tahun dibawah Mas Bagas, pemikirannya selalu terdengar lebih dewasa, lebih terbuka. Tingkat kepekaan Raga terhadap orang sekitar juga bisa diacungi jempol. Kontras dengan Mas Bagas yang cenderung tidak perduli.
"Kamu gak ngerti, Ga. Kamu masih kecil. Diem aja." Kata Mama.
"Ma, punya anak itu gak serta merta cuma dilahirin dan dibesarkan begitu saja. Anak tanggung jawab besar didalamnya. Anak itu titipan, Ma. Amanah yang dikasih Allah. Gak asal gitu aja. Seharusnya Mama lebih tau, karena Mama sudah lebih dulu merasakannya. Bagi para orangtua, untuk mendapatkan anak, mereka berani melakukan apapun. Bahkan bertaruh dengan nyawanya, mereka siap. Bagi mereka, anak itu pelengkap, penyempurna keluarganya. Kalau hanya segedar untuk dibuat ajang pamer, Mama mending gak usah ketemu teman-teman Mama lagi. Gak bagus buat Mama."
Aku tersenyum ke arah Raga. Berkata terimakasih karena perkataannya secara tak langsung membelaku.
"Kalau memang Mas Bagas dan Mbak Alena belum siap. Yasudah. Mama gak bisa memaksa. Lagian mereka nikahnya baru kok. Belum satu tahun. Jadi wajar. Kalaupun lebih dari itu, dan Allah masih belum memberi rezekinya, berarti Mas Bagas dan Mbak Alena disuruh lebih berusaha lagi."
Mas Bagas dan Mama terdiam. Setelahnya, Raga berjalan kearahku, mengulurkan tangannya. "Glad to see you again, Mbak Alena. Terimakasih sudah dengan senang hati mengurus Mas-ku yang super duper ngeselin." Aku ikut mengulurkan tangan, membalas sapaannya lewat saling berjabatan tangan.
"Sok tau, anak kecil. Mending kamu pergi, kejar si Ayyik-Ayyik itu. Siapa suruh dulu pernah meninggalkannya. Kenak karma kan lo." Ujar Mas Bagas.
Terakhir aku bertemu Raga saat acara pernikahan kami. Dan itupun untuk pertama kalinya. Selesai SMA, Raga memilih menetap diluar negeri. Entah apa yang terjadi, beberapa hari yang lalu, Raga meminta pulang. Bukan karena tidak tahan, melainkan karena seseorang.
Namanya Ayyik, adik kelasnya dulu. Biasalah, abang-adik-zone yang terjadi secara sepihak. Raga merasa Ayyik itu sudah seperti adik kandungnya sendiri. Sayangnya Ayyik tidak sependapat. Ayyik mencintainya, menaruh harapan lebih untuknya.
Awalnya Raga biasa saja, sayangnya lama-lama Raga menjauh. Perasaan Ayyik tidak terbalaskan. Tanpa pamit, Raga pergi meninggalkan Ayyik yang saat itu lagi sayang-sayangnya ke Raga.
"Ngelamun terus."
Aku mengerjap.
"Bangkit. Jangan santai-santai."
Mas Bagas itu sebenarnya punya mata gak sih? Aku tuh lagi kesakitan, malah dikira lagi duduk santai.
"Sakit mas, kakinya kepentok itu tadi." Aduku manja, lalu menunjuk kaki meja yang ada dihadapanku.
Bukannya membantu mijet, Mas Bagas malah mengangkat tubuhku ala bridal style. Aku tersentak kaget, badanku menegang dengan tangan otomatis mengalung pada lehernya. Dibalik perasaan kaget, aku menikmati aroma maskulin dari tubuhnya, kenapa ya Mas Bagas itu wangi banget, bikin aku bingung sendiri. Kuhirup dalam-dalam sampai mataku tertutup. Ketika ingin membuka mataku kembali, tubuhku sudah terjun bebas dari gendongannya. Mas Bagas langsung membalikkan tubuhnya tanpa memandang wajahku yang sudah memasang mode kesal untuk memarahinya.
"Dasiku mana?"
"Ngapain pakai dasi? Ini weekend kalau Mas lupa."
Baru aja disemprot Mama. Batu banget.
"Aku harus kekantor. Ada urusan."
"Urusan apa?"
"Gak perlu tau." Balasnya cuek. Seperi biasa, Mas Bagas mengacak-ngacak semua isi lemari.
"Itu kan dasinya, Mas. Kenapa sih susah banget dibilangin. Kalau nyari sesuatu itu pakai mata, bukan pakai mulut. Kebiasaan deh. Lagian weekend begini ngapain kekantor coba? Urusan apa? Ketemu Sarah? Kurang kerjaan banget. Kayak gak ada hari esok aja." Balasku geram, diatas tempat tidur kakiku mencak-mencak keudara, berharap Mas Bagas tau kalau aku sedang kesal padanya.
"Berisik." Mas Bagas kini berpindah tempat, mengacak laci-laci yang isinya sudah kususun rapi oleh dalamannya. "Warna lain, lagi gak mood sama yang itu."
"Warna lain apaan? Dasimu kalau gak hitem, navy ya abu-abu." Sangkalku.
Aku mendengus kasar. Akhirnya turun dari tempat tidur. Dengan jalan yang sedikit pincang, aku mendekat kepadanya. Tanganku tergepal kuat. Pengen sekali aku memukul punggung lebarnya dengan kedua tanganku, sayangnya harus gagal, saat Mas Bagas sudah berbalik dan menggenggam tanganku.
"Mau apa?" Tanyanya dengan tatapan datarnya.
"Mas yang maunya apa? Mas selalu ngeluh capek, badannya lemas. Matanya juga merah, kantung matanya uda kelihatan banget. Apa susah buat istirahat? satu hari... aja. Aku tau Mas Bagas itu doyan banget kerja, tapi jangan gini dong. Kasihan badannya, disuruh kerja terus." Aku memohon padanya. "Boleh ya untuk hari ini... aja, istirahat dulu dirumah. Aku temenin deh, Mas Bagas mau ngapain? Nonton? Masak? Berkebun? Atau... cudle?"
Tatapannya masih datar, tetapi aku dapat melihat perlahan-lahan tatapannya berubah melunak. Aku mencintainya, mencintai apapun yang ada didalam diri juga hidupnya. Mas Bagas itu hartanya uda banyak banget, tujuh turunan sekalipun gak bakal habis. Kalau pun satu hari gak kerja, gak akan membuat Mas Bagas kehilangan pundi-pundi rupiahnya.
Saat ini aku cuma punya Mas Bagas. Aku gak mau suamiku itu sakit cuma gara-gara gila kerja. Aku mau Mas Bagas tetap sehat, bugar dan ceria. Hingga rasanya aku rela kalau aku saja yang sakit. Asalkan dia jangan.
Genggaman tangannya juga menguat, sampai aku sedikit meringis. "Sakit mas."
Mungkin karena melihat wajah cantikku yang menekuk, Mas Bagas melepaskan genggamannya. Tetapi satu detik kemudian, kelakuan anehnya membuat pipiku merona.
Mas Bagas mengecup kedua punggung tanganku.
MAS BAGAS MENGECUP KEDUA PUNGGUNG TANGANKU.
Hal sederhana, tetapi bisa membuat jantungku berdetak tak menentu. Astaga, rasanya aku mau meleleh saja. Ada apa gerangan? Apa kepalanya baru saja terbentur tembok? Atau Mas Bagas baru menyadari bahwa ia beruntung memiliki istri cantik dan sexy seperti aku?
"Maaf." Ucapnya pelan, nyaris berbisik. "Maaf belum bisa membuat kamu bahagia. Maaf belum bisa membuat kamu merasa beruntung mempunyai suami seperti aku. Maaf kamu masih harus melihatku terjebak dalam pahitnya masalalu. Aku minta maaf tadi malam sudah membentak kamu. Aku tau kamu selalu tersiksa jika bersama aku. Kamu capek?"
"Gak. Aku gakpernah capek."
"Tolong ingetin aku terus."
Dadaku berdesir hebat kala mendengar penuturannya. Aku gak tau kenapa Mas Bagas tiba-tiba berubah menjadi mellow begini.
"Boleh minta tolong setrikain yang abu? Aku harus kekantor. Sebentar. Sebelum makan siang aku akan pulang."
"Tapi kakiku masih sakit."
"Sejak kapan orang nyetrika pakai kaki?"
"Tangan ku juga sakit."
"Tapikan sudah kukecup."
"Gak mempan." Aku menyilangkan kedua tanganku kedepan d**a. Memasang ekspresi marah, tetapi Mas Bagas malah tertawa. Menoyor kepala ku kearah kanan. "Ck ah!!! Hobi banget!" bentakku. Walaupun kakiku terasa sakit, aku berusaha sekuat mungkin berjalan, mengambil kasar dasi sialan itu, dan langsung keluar kamar. Gak perduli tawanya menggelegar seakan-akan mengejekku.
Aku bersenandung riang dengan tangan yang bergerak lihai diatas meja setrika, namun terhenti ketika lengan kekarnya memelukku dari belakang.
"Jangan deket-deket, kita masih kemusuhan." Ucapku jutek.
Mas Bagas diem aja.
"Awas..." Aku menggeliat, bukannya melepas, Mas Bagas malah mempererat pelukannya.
Yah sudahlah, demi ketenangan Mas Bagas juga kenyamanan tubuhku maka aku diem saja. Kepalanya bersandar pada bahuku, sesekali mengecup tengkukku sampai aku merasa sedikit kegelian.
"Sudah selesai."
Mas Bagas gak bergerak, apa dia ketiduran?
"Mas Bagas? Dasinya uda Mas."
Masih diem orangnya.
"Sayang..." Tuhkan, langsung bangun. Segitu jijiknya Mas Bagas kalau denger aku manggil dia pakai kata sayang. Aku membalikkan butuhku, melihat wajahnya dengan kepala sedikit menggeleng.
"Sayang." Ulangku. Mas Bagas langsung membekap mulutku.
Aku tertawa senang, menarik tengkuknya. Mas Bagas kira aku mau mencium bibirnya, secepat mungkin dia menghindar.
"Ih, aku mau pakein kamu dasi, bukan mau nyium kamu. m***m banget otaknya." Aku mencolek hidung mancungnya. Jangan harap Mas Bagas akan tergoda atau pipinya berubah jadi merah, gak akan pernah terjadi. Bahkan kini wajanya datar saja, seperti jalan tol.
"Janji ya pulangnya jangan lama-lama?"
"Aku usahain."
"Tuhkan. Gak jelas."
"Iya, Alena."
"Jangan Alena dong. Tapi sayang. Iya, sayang..."
Mas Bagas menggelengkan kepalanya. Tak urung tersenyum saat melihatku selesai memasangkan dasinya. "Terimakasih Alena, sayang..."
Aku menahan senyum. Menahan gejolak cinta yang semakin tumbuh bermekaran dihatiku.
"Mas Bagas mau dimasakin apa?"
"Terserah."
"Oke."
"Kok gak ngomel?"
Banyak bicara salah, sedikit bicara juga salah.
"Males, capek."
"Sebelum makan siang."
"Aku gak nanyak."
Mas Bagas terbungkam, pagi ini aku akan berterimakasih kepada dasi abu-abu tersebut, karena sudah membuat pagiku terasa lebih berwarna. Entah itu karena ciuman manis dari Rio ataupun karena sentuhan lembut dari Mas Bagas.
"Mas, aku menerima segala kekurangan dan kelebihan kamu. Bersama kamu aku rela melewatkan pahit dan manisnya hidup. Aku cuma punya kamu. Aku mau cuma kamu yang aku lihat di bangun hingga tidurku. Aku mau cuma kamu yang selalu jadi imamku. Aku bakal janji buat terus berusaha melewati semuanya dengan rasa sabar yang berlimpah, asal sama kamu, aku rela. Dan semoga saja, kamu juga merasakan hal yang sama, persis seperti apa yang aku rasakan. Jangan sampai capek ya, Mas. Jangan menyerah. Aku sayang kamu." Ucapku. Melupakan Rio yang sudah kuberi harapan lebih.