"Kamu apa-apaan sih, Rah? Jangan kayak anak kecil. Aku janji bakal menceraikan Alena dan langsung menikahi kamu. Tapi gak sekarang. Aku mohon sama kamu untuk lebih bersabar. Banyak yang harus dipikirkan kembali, sebelum aku mengambil langkah itu. Kamu tau sendiri, Mama dan Papaku itu sayang banget sama Alena. Raga juga, uda pande ngebelain Alena. Perannya Alena sudah tidak sesederhana itu, Rah. Apalagi perusahaan yang sedang kupegang ini punya orangtuanya, aku gak mungkin main lepas gitu aja."
"Hell... kamu yang apa-apaan? Kamu itu abu-abu banget, Gas. Rasanya aku gak kenal kamu lagi. Bagas Dirgantara, pacarku, yang selalu menjadikan aku perempuan kesayangannya, sekarang hilang entah kemana. Kamu uda janji, dan kamu gak pernah sekalipun menepatinya. Aku kurang apa? Juga, tanpa perusahaan itu kamu masih tetap kaya raya, Gas. Jangan kemaruk gitu dong, main embat dua-duanya. Aku uda cukup sabar ini nungguin kamu." Sungut Sarah tak sabaran.
Mas Bagas berdiri, duduk disamping Sarah. "Please... ngomongnya jangan kayak gitu. Aku gak suka."
"Kamu selalu bilang kalau kamu gak cinta sama dia. Kamu selalu bilang kalau keberadaan dia bikin kamu gak nyaman. Tapi apa? Kamu kelihatannya betah-betah aja. Dapat apa kamu dari dia? Dia service kamu? Sehebat apa servisan dia? Katanya gak bakal sentuh Alena."
"Kami gak ngapa-ngapain."
"Mana aku tau. Bisa aja kamu ngomongnya A tapi perlakuannya B. Laki-laki dewasa kayak kamu ini, gak mungkin cuma tinggal berdua gitu aja, gak ngapa-ngapain. Basi. Kamu kira aku bakal percaya gitu aja?"
Mas Bagas menggenggam tangan Sarah, membawanya keatas pahanya. "Aku berani bersumpah. Kami berdua belum sejauh itu. Fine, kami memang tidur bersama, tapi cuma tidur, sayang, gak lebih. Bahkan untuk menyentuhnya saja aku tidak mau. Kamu tau sendiri, aku itu paling anti sama Alena. Ngelihat mukanya aja aku gak suka, apalagi menyentuhnya... kamu pikir aja sendiri."
Dibalik pintu, aku tersenyum miris. Mendengar perkataannya menghancurkan hatiku. Jadi maksud ucapannya semalam apa? Apa selama ini pelukan dan kecupannya hanya sebagai prioritas saja? Mas Bagas menyentuhku, walaupun tidak menggauliku, tetapi tetap saja, dia menyentuhku. Apa sesusah itu untuk mengakui keberadaanku dihidupnya?
"Aku gak percaya." Sangkal Sarah. Perempuan itu berusaha kuat menarik tangannya. "Lepas, aku gak mau ketemu kamu lagi."
Mas Bagas menarik tangan Sarah, merengkuh bahunya yang masih menolak untuk disentuh oleh Mas Bagas.
"Hei, baby girl, stop it." Kata Mas Bagas berusaha menenangkan Sarah. "I love you, i love you so much. Aku cinta kamu, aku sayang kamu. Lebih dari apapun. Aku gak pernah kepikiran buat mengganti kamu dengan Alena karena aku maunya cuma kamu. Sama kamu. Aku berjanji, secepatnya aku bicarin masalah ini ke Mama dan Papa. Aku tau bakal butuh waktu yang gak sedikit, tapi demi kamu, aku bakal lakuin apapun. Kamu harus sabar. Kasih aku waktu." Mas Bagas mengecupi puncak kepala Sarah dengan penuh sayang.
Perempuan yang berhasil merebut seluruh hati dan perhatian Mas Bagas itu menarik dirinya. "Kamu janji sama aku? Aku gak mau lihat kamu sama dia lagi. Aku takut kamu gak cinta aku lagi. Aku takut posisi aku digantiin sama dia. Kamu ngerti kan?"
"Ngerti, sayang."
"So please... jangan buat aku semakin lama menunggu, apalagi yang gak pasti begini."
Mas Bagas tersenyum, menangkup pipi Sarah. "I love you, my baby girl." Ucapnya. Kemudian wajahnya maju mencium Sarah. Sarah langsung mengalungkan kedua lengannya keleher Mas Bagas, memperdalam ciumannya lewat berpindah tempat duduk menjadi diatas paha Mas Bagas.
Ketika melihat Mas Bagas mulai membuka bagian atas kancing kemeja Sarah, aku masuk. Tanpa permisi.
"f**k!" Umpat Sarah. "What are you doing?"
"Eng... a-anu, aku mau-" Balasku gugup.
"Go away." Usir Sarah. "Jangan ganggun kami."
"Tapi aku-"
"Shup up the f**k up."
"Hei, dont say like that." Mas Bagas berkata. "Kamu gak boleh gitu sama Alena."
"Are you sure?"
Mas Bagas mengangguk mantap.
Tanpa berkata apapun lagi, Sarah turun dari pangkuan Mas Bagas. Kemudian berjongkok. Membuka sabuk, diikuti resleting celana Mas Bagas. "Im just trying to be yours. Dan perempuan sialan itu selalu menggagalkannya. Tetapi tidak untuk kali ini."
Jemari lentiknya bergerak meraih milik Mas Bagas dari dalam celananya. Sebelum melakukan aksinya, Sarah menatapku, memperlihatkan bahwa dia pemenangkan. "And im the winner, Alena."
Mas Bagas kaget saat Sarah tanpa izin memasukkan milik Mas Bagas kedalam mulutnya. Menggenggam setengahnya yang tidak bisa masuk sepenuhnya. Aku menahan nafas, aksi Sarah cukup membuatku tercengang.
"Mas..." Lirihku.
"Please, go..." Ucapnya tanpa suara.
Kukira suamiku akan menentang, kukira suamiku akan menjauh. Sayangnya tidak, Mas Bagas terlena. Bahkan dia menyuruhku pergi. b******n.
Dengan perasaan marah dan kecewa aku harus merelakannya. Aku pergi tanpa bisa melakukan apapun. Aku pergi membiarkannya dinikmati oleh perempuan selain aku. Aku berlari keluar dengan kaki sempoyongan. Ntah kemana, akupun gak tau. Sudah terlalu pasrah.
Tubuh ku rasanya sudah tidak bertulang lagi, pikiran ku kosong dan kaki ku berjalan dengan arah tidak karuan. Genangan air sudah menumpuk dipelupuk mataku kala mengingatnya. Tidak ada rasa bersalah atau setidaknya kasihan diantara keduanya.
Tanganku mengepal kuat, hendak melayangkan satu pukulan pada siapa pun yang menyentuhku. Harus terhenti, saat pesan tidak bermutu itu datang darinya.
"Saya gak bakal minta maaf sama kamu. Berulang kali sudah saya ingatkan, jangan memakai perasaan dengan saya. Dan sekarang terserah kamu mau gimana. Apapun yang terjadi, baik-buruknya, suka atau tidaknya, saya tetap memilih Sarah."
Hanya sebuah pesan yang mampu Mas Bagas kirim.
Akhirnya aku menangis, meggenggam benda pipih itu dengan kuat dan gemetar. Air mataku terjatuh tanpa henti, kaki ku lemas hingga terjongkok dipertengahan jalanan yang ramai. Semua orang melihat ku dengan menuntut, mempertanyakan ada apa dengan ku?
Beberapa dari mereka mendekat padaku, mencoba untuk membawa dan menenangkanku, langsung ku tepis dengan kasar. Karena aku gak mau mereka tau, penyebab dari kesedihanku adalah suamiku sendiri.
Kenapa aku lebih memilih bertahan ketika aku tau dia tak pernah ada hati pada ku?
Kenapa aku lebih memilih terbuai dengan kenyamanan darinya ketika aku tau dia tak pernah memberiku aman?
Kenapa aku lebih memilih berdiam diri melawan semua rasa sakit hati dengan hanya melihat satu senyuman simpul yang selalu Mas Bagas tunjukan padaku saat lelah menerpaku dengan gusar?
Rasanya aku terlalu bodoh, aku tidak becus sebagai istri.
Hampir tujuh bulan kami bersama, seharusnya itu sudah cukup menjadi saksi bahwa sudah banyak rasa sayang dan cinta yang tumbuh. Kami dapat melewati hari bersama sebagai pasangan suami istri. Tetapi ternyata tidak, karena hanya akulah yang menikmatinya. Bahkan aku belum pernah mencicipi bibir merahnya, lalu dipaksa melihat canduku itu sedang berperang dengan pemilik bibir yang bukan aku. Sungguh keterlaluan.
Aku mencoba bangkit dengan kaki yang rasanya sudah hampir terlepas, senyuman getir mengembang diikuti isakan tangisku.
Apa yang harus kulakukan? Bukannya ini kemauanku untuk menjadikannya rumah disetiap hariku? Kalaupun aku meminta untuk berpisah, harus dengan siapa lagi aku menetap kecuali dirinya?
Malamnya aku baru pulang, dengan keadaan kacau. Mataku merah dan sembab, rambutku acak-acakan serta kemeja putih ku kini berubah menjadi sangat kusut. Bahkan tadi satpam yang sedang berjaga terkejut ketika melihat penampilan ku.
Tidak ada satupun kekhawatiran dari Mas Bagas saat aku melihatnya tidur dengan tenang. Aku mendongakkan kepala demi menahan tangis, lalu berjalan melewatinya. Tubuhku sangat menolak untuk tidur dengannya, tetapi hatiku berkata lain. Jadilah aku merebahkan tubuhku disampingnya, merapikan selimutnya dengan pelan.
Dalam diam aku menyentuh rahang tajam nya, mengelus lembut sampai pada bibir merahnya. Memori tentang kejadian tadi pagi terulang kembali dipikiranku.
Lagi... aku menangis.
Mungkin Mas Bagas merasa terganggu dengan tangisku, perlahan dia membuka matanya, mencoba menyesuaikannya dengan pencahayaan yang masih terang, karena aku masih ingin memujanya.
"Mas Bagas... sakit..." Ucap ku lirih. "Kamu jahat banget..." Bibirku bergetar serta nafasku sudah terengah-engah.
Perlahan dia menggerakkan tangannya, mengusap air mataku, lalu mengelus surai hitamku dengan lembut. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Setelah itu dia memelukku, menenggelamkan wajahku pada d**a bidangnya.
Inilah kenyaman yang ku maksud, tetapi setelah keluar dari rumah ini, semua akan berubah. Kami akan kembali seperti dua orang yang tidak lagi saling kenal.
Oh iya, satu hari ini aku belum bertemu Rio. Ada rasa rindu terbesit dihatiku saat tidak melihat juga mendengarnya. Aku merindukannya. Rindu senyumnya. Rindu tawanya. Aku rindu perhatian-perhatian kecil darinya. Bolehkan aku egois dengan memiliki Rio tetapi tidak melepas Mas Bagas? Aku tau akan terkesan jahat, tetapi sungguh, keberadaan Rio disamping ku sudah hampir mengimbangi Mas Bagas.
"Mas."
"Nangisnya dipuasin dulu."
"Capek. Dari tadi uda nangis."
Mas Bagas melepasku, terlebih dahulu mengelap pipiku yang masih basah.
"Maaf."
"Mas sudah mengatakan maaf berulang kali dan aku akan selalu memaafkannya. Aku gak mengerti kenapa hatiku selalu bisa luluh ke Mas. Hatiku selalu menerima apapun yang Mas lalukan kepadaku, sekalipun itu menghancurkanku. Mas, kamu mau tau sesuatu gak? Dalam Islam, menikah itu mempunyai beberapa tujuan, diantaranya, melaksakan sunnah rasul, pelengkap ibadah, penyempurna agama dan mempunyai keturunan. Menikah juga mempunyai banyak keuntungan, bisa saling bersentuhan, bukannya berdosa, malah semakin memperbanyak pahala. Bisa saling b******u tanpa ada takut. Memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan, yang bisa membuat hari-hari kita semakin menyenangkan. Apa kamu gak mau mendapatkan kenikmatan itu semua?" Tanyaku dengan suara seraknya akibat menangis.
"Aku pengen, Mas. Aku mau. Sayangnya, aku gak bisa. Sebagai istri aku cuma bisa mengikuti kemauan kamu, aku tidak boleh membantah walau sedikitpun. Kalau kamu berkata tidak, maka tidak akan kulakukan. Kalau kamu berkata iya, maka akan aku lakukan. Aku menghormati kamu, aku gak berani menentang kamu. Kita sudah bersama, hampir tujuh bulan. Hidup bersama kamu, mempunyai arti tersendiri untukku. Aku banyak belajar dari kamu dan aku berterimakasih atas hal itu. Aku cuma pengen mengusahakan yang terbaik untuk kamu, terutama kita. Kalau nyatanya yang terbaik itu tidak ada aku didalamnya, maka aku akan memilih mundur."
Gerakan tangannya yang sedari tadi mengelus punggungku seketika terhenti. Mas Bagas menunduk, melihat wajahku. "Maksudmu?"
"Ayo berpisah, sudah saatnya kita saling melepas." Ucapku mantap.
"Kenapa? Apa kamu sudah capek?"
Aku menggeleng, tersenyum kearahnya. "Kata capek tidak akan pernah ada didalam kamusku. Sama kamu, melewati hari dengan kamu adalah kecintaan yang selalu ingin kuulang."
"Lantas kenapa meminta berpisah?"
"Karena aku sudah tidak bisa lagi menggenggam tanganmu."
"Kata siapa? Kamu masih bisa?" Mas Bagas menggenggam tanganku, setelah itu menunjukkannya, "Ini buktinya. Bisakan."
Beberapa detik kemudian aku hanya terdiam menikmati tatapannya. Mama pernah berkata, ketika kamu mencintai seseorang kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Kamu bisa saja tidak lagi menjadi dirimu sendiri, sebab kamu sudah dibutakan oleh cinta. Kamu mengusahakan apapun agar cintamu bisa merasa bahagia. Kamu memberikan kepercayaan lebih untuknya, kamu selalu menghargai keputusannya juga menjadikannya prioritas utama dalam hidupmu. Meski sakit, kamu akan terus mencintainya tanpa rasa lelah sedikitpun, sebab cintamu tidak pernah habis atau bahkan berhenti sekalipun dia telah menyakatimu.
Tetapi ada kalanya, ketika jatuh cinta, kamu akan menuntut untuk dicintai kembali. Padahal rasa cinta itu terjadi begitu saja, tanpa alasan. Kamu tidak akan pernah bisa memaksakan apapun, apalagi tentang perasaan seseorang untukmu.
Persis seperti saat ini, aku yang cinta, ternyata Mas Bagas tidak. Boleh aku memaksa? Tentu saja tidak. Apapun yang terjadi karena terpaksa pasti akan berakhir tragis.
"Tadi aku denger, Mas Bagas bakal menceraikan aku dan menikahi Sarah. Aku tau hidup sama aku, pasti bikin kamu gak nyaman. Kamu jangan bohong lagi, Mas. Aku capek dibohongin kamu terus."
Mas Bagas menghembuskan nafasnya dalam. "Maksud aku gak kek gitu, Al. Aku cuma pengen Sarah tenang, gak usah sibuk mintak aku nikahi padahal dia sendiri tau, aku sudah punya kamu."
"Mulutmu memang berkata seperti itu, tetapi hatimu tidak. Sepenuhnya kami masih hak mikik Sarah." Sanggahku.
"Aku berani bersumpah, aku cuma mau kamu. Untuk saat ini. Kamu selalu mampu mengimbangiku, Al. Kamu gak pernah ngeluh kalau kusuruh ini-itu. Kamu juga selalu baik sama aku. Ngurusin segala keperluanku. Kamu rela bangun pagi-pagi buta cuma karena nyiapin sarapan untukku, kamu rela tidurnya larut cuma karena membereskan pakaianku kalau aku ada perjalanan ke keluar kota. Kamu baik sama Mama dan Papa, kamu sayang sama Raga. Kamu gak pernah absen untuk ngingetin aku supaya selalu berkunjung kerumah Mama. Kamu baik, Al. Baik banget. Aku sampai gak punya alasan untuk menceraikan kamu. Makanya aku harus mengatakan seperti. Aku capek denger Sarah mengeluh setiap dia tau kalau aku lagi sama kamu. Sarah gak pernah mau mikirin perasaan aku. Katanya dia cinta, katanya dia sayang, tapi selalu berpikir buruk tentangku. Aku gak bisa tahan lagi. Kamu tau kan aku paling gak suka dipaksa? Aku gak bisa, Al. Aku gak bisa cerai dari kamu. Aku memang belum sepenuhnya cinta kamu, aku memang belum sepenuhnya bisa melepas Sarah. Tapi tolong, setidaknya jangan menjauh dariku. I need you, selalu."
Aku mendengus geli, "I need you? Omong kosong. Aku tau, kamu uda seperti itu karena kamu merasa berkegantungan sama aku. Karena selama ini cuma aku yang bisa nurutin semua kemuan kamu tanpa pernah membantah. Kamu menjadi keenakan. Kamu gak pikirin perasaan aku lagi. Setiap kali kamu tanya, apa aku capek? Tentu saja aku gak pernah capek. Aku cuma kecewa setiap kali melihat kamu. Aku kecewa setiap kali membayangkan kamu lagi ngapain, uda makan belum, lagi dimana. Sedangkan kamu gak pernah kepikiran buat ngabarin aku. Telfon dariku gak pernah kamu angkat, pesan dariku gak pernah kamu balas. Gunanya kamu beli hp mahal-mahal itu apa? Cuma jadi pajangan aja? Mending kamu buang aja." Cerocos ku panjang.
Mas Bagas diam aja. Menatap ku datar.
"Denger gak sih, Mas. Bahkan hari ini aku kecolongan dan kamu gak ada usaha untuk menahannya." Aku memberenggut. Sungguh membingungkan saat menghadapinya yang hanya bisa diam.
"Okei, aku minta maaf. Kali ini aku serius. Aku juga gak tau kalau Sarah bisa senekat itu. Sebelumnya, aku belum pernah melakukan itu semua. Kamu percaya kan? Aku bersumpah." Mas Bagas lantas duduk. Jari telunjuk dan tengahnya terangkat membentuk peace, atau lambang perdamaian.
"Aku gak tau kamu diluar sana gimana, karena aku gak bisa dua puluh empat jam sama kamu terus. Aku gak bisa selalu pantau kamu. Tetapi sayangnya, setiap kali kamu melakukan kesalahan dan meminta maaf, aku akan selalu memaafkan. Kamu seberuntung itu punya istri kayak aku, Mas. Seharusnya kamu bersyukur."
Rasanya, kalau bisa aku membanggakan diri. Gak ada yang bisa selalu memaafkan Mas Bagas secara cepat dan tepat selain aku. Bahkan Mama saja selalu berat hari memaafkannya. Yang berakhir enggan bertemu dengan Mas Bagas. Aku harus berulang kali membujuknya agar lebih serius ketika meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
"Aku bersyukur, buktinya aku masih bisa bertahan sama kamu sampai sekarang. Dan aku akan selalu berterimakasih karena kamu sudah memaafkanku. Aku janji, Al. Kamu gak akan kecolongan kayak tadi lagi. Aku janji agar Sarah tidak lagi senekat itu sama aku. Aku cuma butuh kamu untuk bersabar."
Sabar, sabar dan sabar. Adalah kata yang selalu ada didalam hatiku.
"Apa keuntungan yang bakal aku dapatin kalau aku bisa tetap terus bersabar untuk kamu?" Tanyaku pelan. Menimbulkan senyum miringnya. Aku mengernyit heran.
"Kamu bisa dapatin hatiku. Gak cuma itu aja, kamu bisa menggenggam seluruh tubuhku, hidupku juga masa depanku." Mas Bagas membawa tanganku untuk menangkup pipinya, menuntunku untuk mengurutnya perlahan. "Apalagi ini, kamu bebas menggunakannya. Seperti katamu, supaya tidak karatan lagi."
Mataku melotot, "Mas! Jangan bercaran?"
"Emangnya aku terlihat suka bercanda sama kamu?"
Setelah mengatakan itu, Mas Bagas melepas selimutnya, kemudian merangkak naik menaungi tubuhku. Kedua kakiku dibuat terbuka, lalu dengan mudahnya kakinya berada dipertengahan kakiku. Kedua tangannya bertumpu disetiap sisiku, mengunci tatapanku yang penuh tanya.
"Kamu siap?"
"Siap apa?"
"Make a baby. Kasih Mama cucu yang banyak. Kasih Raga keponakan. Supaya kamu ada temannya dan rumah kita menjadi ramai. Aku memang belum bisa mencintaimu seutuhnya, tetapi bukan berarti aku tidak bisa. Hanya saja belum. Aku ingin dan berharap, kamu bisa mengajarkanku dengan sabar agar aku mencintaimu. Aku selalu berdoa, aku juga selalu berterimakasih karena sudah disanding oleh perempuan secantik dan se-sexy kamu."
Wajahnya mendekat, Mas Bagas berbicara tempat diujung hidungmu, membuat nafas segar yang beraroma mint menyapaku. "Lets make a baby, Alena, sayang..."
Jantungku berdetak tak karuan, kala bibirnya turun menjamah payudaraku yang sudah terlepas dari persembunyiannya. Tak lupa Mas Baga mematikan lampu, memadamkan seluruh penerangan.
Aku tidak lagi mampu memikirkan apapun, bahkan untuk kesalahannya tadi pagi, aku melupakannya. Aku terbuai, terlena dan tergoda oleh sentuhannya. Ditambah miliknya yang besar dan gagah masuk memenuhi milikku. Aku sempat meringis membuat Mas Bagas menghentikannya sesaat. Setelahnya aku menyuruhnya untuk bergerak pelan, namun lama-kelamaan aku merasa kenikmatannya yang sebelumnya tidak pernah kurasakan.
Mas Bagas mengerang dan aku mendesah. Mas Bagas melenguh dan aku menjerit. Suara apapun, baik itu erangan atau lenguhan darinya, membuat ku semakin tersiksa, meminta untuknya untuk lebih dalam dan lama menghujam milikku.
Ketika pelepasan itu datang, baik aku dan Mas Bagas saling bertatapan. Aku terseny begitu pula Mas Bagas. Aku sampai tidak bisa melakukan apapun lagi selain memeluknya, mencium dahinya dan merapikan rambutnya yang sedari awal pergulatan itu terjadi aku terus-terusan menariknya.
I like you so much, and you'll know it.
I like Mas Bagas so much, and Mas Bagas know it.
Segalanya tentang Mas Bagas, aku akan selalu menyukainya. Segalanya tentang Mas Bagas, aku akan selalu mencintainya. Semoga saja selamanya akan seperti itu.