Chapter 9

2566 Kata
Sudah tiga hari berlalu, aku masih memikirkan kelakuan b***t Sarah dan tentu saja Mas Bagas juga. Walau aku sudah mendapatkan lebih, tetapi memang pada dasarnya otakku ini sekeras batu, membuatku terus-menerus memikirkannya. Mas Bagas sampai harus membujukku makan, dan aku tidak begitu menghiraukan. Seperti saat ini, aku terduduk lemas dikursi malas yang ada dibalkon kamar kami, sudah tiga hari juga aku tidak masuk kerja, untung saja bos-nya itu suamiku sendiri jadi ada rasa sedikit tidak perduli, mau aku masuk, mau tidak, tetap saja tidak akan membuatnya rugi. Aku menatapi langit-langit jingga yang sudah hampir lenyap ditelan sang bumi, menghirup dalam-dalam udara demi memenuhi kebutuan pernapasanku. Setelahnya mataku terpejam dengan tangan memijat sisi-sisi kepala yang rasa nyerinya tidak habis-habis, sampai aku sedikit terkejut saat merasa ada tangan meyentuh puncak kepalaku sambil menepuk-nepuknya pelan. Aku mendongak, mendapati suami gantengku sudah berdiri tegap disampingku. Walaupun sudah seharian berkerja dan sibuk sana-sini, kegantengan serta harum tubuhnya tidak sedikitpun berkurang. "Al, jangan diem terus, aku bingung nih. Aku bukan seorang mind reader, aku gak tau maunya kamu apa. Kamu bicara dong, kalau bisa, pasti aku turutin. Masa sudah kukasih kepuasan, bukannya senang kamu malah semakin menjauh dari aku. Sakit ya? Apa aku mainnya terlalu kasar? Tapi kan sudah tiga hari. Masa masih terasa sih?" "Berisik, Mas Bagas." "Beneran masih sakit? Buktinya kamu gak kerja-kerja. Aku minta maaf ya." "Jangan minta maaf terus, aku bosen." "Okei, sorry..." "Sama aja, ganteng..." Aku berpaling, menatap gemas wajahnya. "Awalnya emang sakit, tapi sekarang uda gak lagi kok. Kamu tenang aja. Aku cuma masih teringat kamu dan Sarah... emm... maksud aku Sarah yang..." Ujarku bingung. Bingung memilih kata yang tepat untuk mengucapkannya. "Sarah yang mencumbu milikku?" Aku berdehem. Laki-laki dewasa itu mundur selangkah, bergeser kebelakangku. Lantas maju, memeluk perutku dari belakang. Dagunya terjatuh diatas kepalaku. "Pendek banget. Dagu ku aja gak butuh effort buat bertumpu dikepala kamu." Mas Bagas tertawa. Mencium pipiku dari samping, lama dan dalam, sampai menimbulkan suara mwahhh.... Ikut merasa geli, aku tertawa. "Mas, geli ih..." "Aku baru sadar kalau kamu sebantet ini. Kok bisa ya, dulu aku mau-mau aja dijodohin sama kamu. Padahal tipe idealku itu, perempuan yang tubuhnya tinggi, bodynya juga bagus. Gak kayak kamu, pendek, rata, kaya triplek. Tapi-" Aku mendongak, menggigit rahangnya. "Tapi aku bisa bikin kamu menggila. Jangan lupakan itu." Mas Bagas tertawa. "Iya, tapinya itu. Kamu bisa bikin aku menggila, kalang kabut sendiri, gak bisa kontrol diri sendiri. Aku gak nyangka kamu sehebat itu. Mana d**a kamu enak banget lagi, like a squishy, kenyal tapi padet. Pantatmu juga. Aku aja sampek kebayang terus." Ucapnya gamblang. Mendengar pujiannya, pipiku bersemu merah. Tidak pernah ku bayangkan kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut manisnya. "Kamu belajar dari mana, Al?" "Makasih atas pujiannya. Tapi aku gak belajar dari mana-mana. Aku cuma beberapa kali nonton film yang ada adegan anu-nya. Aku gak berfikir untuk mempraktekkan, makanya aku anggap angin lalu, karena aku yakin, Mas gak akan pernah mau. Eh... taunya malah diajakin. Yasudah, aku gas aja. Mas juga hebat. Gak lupa sama aku walaupun Mas duluan yang dapat pelepasannya." Kembali aku menggigit rahangnya, kalau tadi memang berniat membalas delam, yang ini tidak. Aku menggodanya. Gigitan kecil kuserangkan padanya. "Pinter banget, Al. Lain kali kita bercintanya berdiri, ya. Atau didapur, katanya kalau didapur itu kesan romantisnya lebih dapat." Aku mendengus geli. "Aku nurut mau, Mas, aja." "Sekarang, mau?" "Gak sekarang juga dong. Gak capek apa?" Kedua tangannya mengelus-ngelus perutku, aku tersenyum dibuatnya. "Tadi Ara dan Anin nyariin kamu, katanya kamu beberapa hari ini gak ada kabar. Ditelfon juga gak diangkat." Biasanya, aku akan meminta restu terlebih dahulu kepada Ara dan Anin kalau ingin absen. Ara dan Anin akan mencecarku dengan puluhan pertanyaan, sampai alasanku tersampaikn baik. Kali ini enggak, aku mendiaminya. Bahkan Beni dan Rio ikut terkena imbasnya. Rio, aku masih mendengar kabarnya. Kami masih saling bertukar kabar lewat pesan. Rio juga masih rajin mengirimiku makanan yang berakhir dihibahin ke satpam oleh Mas Bagas. Mas Bagas sedikit kesal, merasa egonya terusik, sebab Rio sudah hampir berhasil mencuri seluruh perhatian. "Emang sengaja, Mas." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil membayangkan betapa ribut dan hebohnya duo gadis itu kalau rasa penasaran atau ketidaktahuannya tidak terpenuhi secara cepat. "Mas jawab apa?" "Mana saya tau. Emang saya siapa nya? Kubilang aja begitu." "Seriusan?" Mas Bagas berdehem. Skakmat. Lagian kepo banget sih. "Sarah juga kekantor, nanya-" refleks tubuhku menegang sambil tanganku menutup kedua telinga ku, nafasku yang tadinya sudah berderu santai kini diganti dengan tersengal-sengal. Tangannya berpindah haluan kelenganku, mengusapnya pelan, seperti memberi ketenangan atas ketakutan yang kurasa. Aku tertunduk malu, seperti orang lemah. Usapannya berhenti sesaat tubuhku kembali rileks, setelah itu Mas Bagas berjalan masuk kembali kekamar tanpa mengajakku, tetapi tidak lama, pertanyaannnya membuat bibirku sedikit tertarik keatas, menoleh padanya yang sudah tak menatapku lagi. "Kamu dekat dengan Rio?" Iya. Balasku dalam hati. Cemburu kan, Mas? Selesai makan malam, kami berdua duduk diruang TV. Kedua kaki kami saling membelit. "Aku males ngapa-ngapain, Mas." "Emangnya aku nyuruh kamu ngapain?" "Ya gak ada sih, cuma pengen ngasih tau aja. Aku males gerak, males makan, males mandi, males keluar rumah, males nyetrika dasi kamu, untung aja aku gak males lihat muka kamu." Ucapku, sambil menatapnya dengan enggan. Mas Bagas yang sedang asik menonton televisi tidak merasa terganggu dengan celotehanku, dia hanya sesekali menanggapinya dengan jawaban-jawaban acuh yang sudah biasa ku dengar. "Mas, kemarin aku mimpi, digigit ular, sakit polllll. Aku uda teriakin nama kamu, minta tolong kekamu juga, tapi kamu gak perduli. Ihhh... Jahat ya kamu Mas, padahal istrinya sendiri lagi dalam bahaya, masih aja sok cuek." Tak ada respon darinya, aku beringsut duduk keatas pahanya. Menghembuskan napas ku dengan berat dan kuat, sengaja emang, supaya kedengaran. "Cuma kimpi, ngapain ditolongin." Nah loh, akhirnya ditanggepi kan. "Mimpi bisa jadi kenyataan, Mas. Buktinya nih ya, kemarin aku mimpi kehujanan karena lupa bawa payung, ehhh besoknya beneran kejadian loh Mas. Ajaib kan." Mas Bagas mengangkat, mengembalikan tubuhku ketempat semula. Lalu berjalan untuk mematikan televisi. Masih dalam diam, Mas Bagas kembali mengangkatku. Menyelipkan tangannya kedalam ketiaku dan membawa kakiku untuk mengalung diperutnya. Mas Bagas tidak terlihat lelah, mungkin karena aku ringan. Buktinya, walau harus melewati tangga aja, deru nafasnya tidak ngos-ngosan sama sekali. Gak sia-sia berarti selama ini Mas Bagas nge-gym-nya. Ngangkat aku aja kayak ngangkat angin. "Kalau itu kamu yang teledor, sudah kuingatkan berulang kali, masih saja kelupaan." Ucapnya setelah merebahkan tubuhku keatas ranjang. Hehehe, Mas Bagas tau aja. "Cengengesan aja tau nya." Aku menata bantal ku dan bantalnya, merapikannya sebentar lalu merebahkan tubuhku sambil memejamkan mata. Mas Bagas kembali kepada rutinitasnya sebelum tidur yaitu mematikan lampu tidur yang ada diatas nakas sampingku. Bisa sih aku melakukannya sendiri, tapi males banget, jadinya Mas Bagas deh yang melakukannya. Setelah itu Mas Bagas ikut merebahkan tubuhnya disampingku, lalu menghadap kearahku dengan tangan kanan yang sengaja ditekukkan sebagai penopang kepalanya. "Besok aku kerja, anterin ya mas..." Mustahil kalau Mas Bagas mau. "Oke." Kok mau? Aku mengernyitkan dahi, alis mataku terangkat saling berdekatan sambil menatapnya dengan kebingungan. "Kenapa?" "Seriusan?" "Hm." Tangannya yang bebas terulur mengusap dahiku yang berkerut, bukannya kembali keseperti semula, aku malah semakin mengkerutkannya, sampai rasanya semua kulit-kulit yang ada diwajahku tertarik keatas. Mas Bagas tertawa juga menarikku supaya lebih mendekat kedada bidangnya. "Semoga aja gak berubah fikiran kamu, Mas." "Tapi lihat cuaca besok" "Tuh kan... Mas... gak seru ih..." Aku berdecak didalam dekapannya, tanganku juga memukul-mukul punggung lebarnya dengan lumayan kuat. Bodo amat kalau sakit. Mas Bagas menepuk-nepuk punggungku, sesekali mengelusnya. "Mas Bagas kayak lagi nidurin anak kecil." Suaraku teredam didalam dekapannya/ "Cerewet kamu." Katanya singkat, yang lama-kelamaan membuatku semakin merasa kantuk menerjangku dengan kuat dan langsung saja aku jatuh kealam mimpi. Paginya, demi apapun, masih jam tujuh. Rumah mendadak heboh saat mendengar suara dua orang yang saling bersebat. Aku yang masih sibuk membuat sarapan untuk Mas Bagas, buru-buru meminta Ibu-Ibu yang biasanya sudah siap sedia menemani untuk menggantikanku. Dengan langkah cepat aku keluar rumah, melihat Mas Bagas sudah saling berseturu dengan Rio. "Ini rumah saya, ngapain kamu kesini? Saya sedang tidak menerima tamu." Ucap Mas Bagas. "Ini rumahnya Alena. Jangan mimpi, Pak. Saya mau ketemu Alena." Kemudian Rio menatap menuntut seorang satpam yang berdiri disamping Mas Bagas. "Pak, tolong, panggilin Alena. Bilang, ada saya, Rio." Pak Satpam menggaruk kepalanya. "Maaf, Pak. Tetapi-" "Rio. Tolong, jangan membuat keributan disini. Silahkan pergi dari sini." Usir Mas Bagas. "Apa sih, Pak? Saya cuma mau ketemu pacar saya. Apa saya salah? Bapak yang seharusnya pergi dari sini. Ini rumah Alena, bukan Bapak." Aku memukul kepalaku. Dalam hati mengutuk Rio yang sudah berani asal bicara. Aku berjalan cepat, menghampiri keduanya. "Mas, ada apa?" "Mas?" Tanya Rio. "Iya, Mas-ku." Ucapku. "Kamu ada hubungan apa dengan Pak Bagas?" Rio menunjuk Mas Bagas dengan dagunya. "Aku gak pernah tau kalau dia itu Mas-mu." "Saya itu sua-" "Pak Bagas itu Mas-ku. Kakak sepupu yang beberapa hari lalu menelfonku saat aku sedang bersama kamu. Masa kamu lupa?" Saat Rio terdiam, Mas Bagas melotot kearahku. Dan aku membalasnya melotot juga. "Kok kamu gak pernah cerita?" "Kamu gak pernah tanya." "Astaghfirullah." Lantas Rio tersenyum, lalu memeluk Mas Bagas. "Maaf, Pak. Saya gak tau kalau Bapak itu Mas-nya Alena. Alena juga gak pernah cerita. Apalagi saya lihatnya Bapak sama Alena tidak saling akrab dikantor. Saya minta maaf sekali lagi." Rio melepas pelukannya. Memberi bungkusan plastik yang ada ditangannya. "Ini untuk Bapak aja. Saya tadi belinya cuma satu, saya gak tau kalau Bapak lagi disini. Maaf, kalau saya sudah menganggu pagi Bapak." "Sudah?!" Hentak Mas Bagas. "Sudah, Pak." "Pulang sana." Aku kembali melotot. Kurang asem. "Tentu saja, saya juga gak akan lama-lama disini. Tapi saya mau ngajak pacar saya sarapan dulu. Deket kok, didepan sana." "Siapa pacarmu?" "Alena." "Alena itu-" Sebelum Mas Bagas menyelesaikan ucapannya, aku menggeret Rio, menjauh dari Mas Bagas. "Mas, sarapannya aku titip Bu Surti. Aku pergi bentar ya." Suamiku itu paling gak bisa makan bubur, enek katanya. Setiap kali aku memakan bubur, pasti Mas Bagas memasang wajah jijik. Mas Bagas menggelengkan kepalanya dan aku tersenyum. Ya Tuhan, rumit sekali. Semoga saja Mas Bagas gak marah atau setidaknya mendiamkan aku. Kalau sempat itu terjadi, alamat aku yang gila sendiri. Aku berbalik badan, masih melihatnya berdiri. "f**k, Alena." Ucapnya tanpa suara. Aku yang bisa membaca gerakan bibirnya hanya bisa mengatakan, "Sorry." Beberapa hari tidak melihatnya, beberapa kali pula mengabaikan pesannya. Aku masih larut dalam hubunganku dengan Mas Bagas yang tampak semakin harmonis. Melupakan Rio. Hingga tidak sadar, aku telah banyak melewatkan pesannya, sehabis subuh, Rio sudah memberi kabar akan mengantar sarapan kerumah, seperti biasanya. Aku melihat notifikasinya, namun tidak membalasnya. Lebih memilih kedapur, menyibukkan diri untuk memasak. Dan parahnya, melewatkan Mas Bagas yang entah mengapa pagi ini bangun lebih cepat dari biasanya. Rio tidak berbohong, laki-laki itu membawaku ketempat biasa jualan sarapan pagi didepan komplek. "Kenapa mesti disini? Kenapa kita gak lebih jauhan aja?" "Kamu gak suka?" "Suka-suka aja sih. Aku kira, karena kamu uda disemprot sama Mas-ku, kamu bakal bawa aku ketempat yang lebih jauh. Ternyata enggak." Aku sih fine-fine aja. Apalagi orang-orang yang ada didaerah komplek ini belum begitu mengenalku. Jadi aku bisa lebih bebas, gak perlu bersembunyi. "Aku sudah janji sama Mas-mu untuk bawa kamu sampai disini aja. dan gak mau ingkar." Aku cukup terkesima mendengar jawabannya. Setelah mendapatkan tempat duduk, Rio langsung izin untuk memesankan makanannya. Aku hendak mengatakan sesuatu, tetapi Rio hanya menyuruhku diam. "Pak, saya pesen bubur ayamnya satu mangkok. Tolong kacang, bawang goreng, daun bawang dan kerupuknya dibanyakin. Ayamnya sedikit, kalau bisa jangan pakai kulit. Kecap asinnya jangan lupa ya, Pak. Sambelnya dipisah aja, jangan disatuin. Minumnya, teh pahit. Tapi jangan yang dingin. Satunya lagi soto, pakai nasi. Minumnya air putih aja. Makasih, Pak." Bapaknya terdiam, kemudian mengangguk. "Hafal banget." "Untuk pacar saya, Pak." Astaga Rio, kenapa sih bisa banget? Bikin aku baper aja. Bisa-bisanya Rio tau sedetail itu, dan lagi-lagi, tanpa pernah kuberi tahu. Sweet sekali. "Kenapa senyum-senyum?" Aku terperanjat, langsung bangkit membantu Rio membawa pesan kami. "Uda, biar gue aja." Rio terlebih dahulu mengulurkan satu mangkok bubur ayam untukku, diikuti satu gelas teh pahit kesukaanku. "Kenapa senyum-seyum?" "Seneng aja." "Seneng kenapa?" "Seneng lo selalu inget apa yang gue suka. Makasih ya, Yo." Jawabku penuh binar. "Tugas gue menjadi pacar lo. Lo boleh kasih tau semua kesukaan lo ke gue. Gue tugasnya cuma untuk mengingat." Aku menyuapkan satu sendok bubur, dan berkata, "Padahal lo gak ada nembak gue, tapi lo uda main ngaku-ngaku." "Alasan lo klasik." Rio mengelap ujur bibirku yang terkena bubur dengan tisu. "Gue uda tua, Al. Umur gue uda 24 tahun. Gak perlu pakek tembak-tembakan segala. Lagian gue uda izin buat deketin lo, dan lo uda iyain. Lo juga gak pernah keberatan kalau gue kirimin makanan atau gue perhatian. Jadi secara gak langsung, lo uda nerima gue." Jelasnya. Rio sadar gak sih, kalau dia seganteng itu? Setiap ngomong, bawaannya pengen disenyumin aja. Orangtuanya waktu ngebikin Rio kira-kira pakai gaya apa ya? Kali aja aku dan Mas Bagas mempraktekkan, lumayan kalau hasilnya seganteng Rio. Bubur ayam dengan bertabur kacang, bawang goreng, daun bawang dan kerupuk diatasnya. Ayamnya hanya sedikit, sehingga Rio mengatakan bahwa ini bukan lagi bubur ayam, melainkan bubur kacang. Aku tertawa. Bersama Rio aku akan selalu tertawa, sedangkan bersama Mas Bagas aku akan selalu tersenyum. Mereka berdua selalu punya ide tersendiri untuk membuatku tersenyum dan tertawa. "Kalau Pak Bagas itu Mas-mu, berarti Bu Sarah itu Mbak-mu." "Kok gitu?" "Bu Sarah kan pacarnya Pak Bagas. Masa kamu lupa." "Tapi aku gak setuju." "Kenapa?" "Ya gak setuju aja." "Kamu harus punya alasan yang jelas. Kalau hanya segedar tidak setuju, pendapatmu gak akan pernah didengar." "Harus. Pak Bagas itu kan Mas-ku." "Emangnya yang mau nikah sama Pak Bagas itu kamu?" Iya juga ya. Emang yang mau nikah sama Pak Bagas itu kamu? Bener sih. Tapikan aku itu... "Eh Bu Sarah... sarapan disini juga, Bu?" "Iya." Balas Sarah. Aku berusaha mengembalikan kesadaranku. Memberi tau kepada diriku sendiri bahwa yang ada dihadapanku ini Sarah, bukan yang lainnya. "Iya, kebetulan lewat. Mau kerumah Bagas juga." Tambahnya. Rio berseru, "Wah... kebetulan dong." Rio menatapku. "Alena, calon kakak ipar kamu, nih. Sapa dong, jangan diem terus." Aku tergugup. "Calon kakak ipar? Siapa? Saya?" "Iyalah, siapa lagi. Alena ini kan adik spupunya Pak Bagas. Masa Bu Sarah gak tau sih." Aku menunduk, menatap nanar mangkok bubur yang isinya tinggal setengah. "Saya baru tau. Bagas gak pernah cerita tentang Alena." Sarah tersenyum miring, mengulurkan tangannya kearahku. "Salam kenal, Alena. Senang bertemu kamu. Kembali." Ingin menolak, tapi akan terlihat tidak sopan. Maka yang ku lakukan adalah membalas tatapan remehnya, membalas uluran tangannya. "Salam kenal juga, Bu Sarah." Sialan. Sarah sudah tersenyum menang kearahku. Membuat aku gak punya alasan lain selain pergi dari- "Dan kalian?" "Oh... saya dan Alena pacaran, Bu. Baru beberapa hari. Kebetulan Alena rumahnya sama dengan Pak Bagas. Jadi saya ajakin aja sebelum ngantor." Jelas Rio. "Malahan saya kira kamu sama Ara atau gak sama Anin. Senang dengar kabar baik dari kalian. Semoga hubungannya awet ya, kalau bisa naik pelaminan. Pasti seru deh, dari yang awalnya cuma segedar berteman, sekarang pacaran. Semoga gak ada orang ketiga, karena kalian itu uda cocok banget. Kamu ganteng, Alena cantik. Pas banget. Keknya aku harus kasih tau Bagas deh nanti." Serunya senang. "Pak Bagas sudah tau, Bu. Amin. Semoga hubungan Bu Sarah dan Pak Bagas juga langgeng. Harus naik pelaminan loh, Bu. Soalnya banyak yang dukung. Ya, kan, sayang..." Aku mengangguk saja. Supaya cepat. "Ah iya, pesenan saya sudah selesai. Saya duluan ya. Selamat menikmati sarapannya." Sarah melambaikan tangannya. Kulihat senyuman remehnya tidak hilang sama sekali. Lalu mengedipkan sebelah matanya. Mati aku. Mampus aku. Tamat riwayatku kalau berita ini sampai ketelinga Mama dan Papanya Mas Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN