Chapter 10

2717 Kata
"Gak usah diambilin, aku bisa ambil sendiri." Mas Bagas memberenggut tak urung membuatku tersenyum, sungguh menggemaskan. "Diem deh." Aku mengangsur satu piring nasi beserta lauk pauknya. "Nih, aku uda masakin ayam goreng kesukaan Mas. Kalau kurang, ditambah. Jangan malu-malu." "Dua potong." "Siap ganteng."Lagaknya aja sok-sokan ngambil sendiri. Disodorin tetap mau-mau aja. "Mau s**u? Cokelat, strawberry, vanila, atau s**u ku? Lebih murni, bisa diperas secara langsung." Godaku sambil mengedipkan sebelah mataku. "Aku lagi kesel, Al." "Makanya aku tawarin s**u, supaya gak kesel lagi." Mas Bagas menatapku horor. "Ups... sorry. Kenapa sih? Aku ada salah." "Masih nanya kamu ada salah apa gak? Ck! Gila ya kamu. Bisa-bisanya kamu pacaran sama Rio tanpa seizin aku. Kamu selingkuh, Al, dan Kamu gak hormatin aku lagi." "Terus Mas Bagas dan Sarah itu, apa? Teman masa kecil?" "Gak begitu, Alena. Maksudku itu," Aku menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutku dengan santai. Tidak terditraksi sama perkataannya. Sebelum berkata kembali, Mas Bagas meneguk air putih yang ada digelasnya hingga tandas. "Kamu denger gak sih? Aku lagi ngomong sama kamu." Tambahnya. "Denger, Mas. Denger banget malahan. Tapi apa bedanya sama kamu? Kamu sama Sarah juga begitu. Buktinya aku gak pernah komentar atau ganggu hubungan kalian." Balasku. Mencomot satu tahu goreng yang hampir diambil Mas Bagas. "Itu punyaku, Al..." ucapnya. "Satu aja, masa gak boleh?" "Jadi ceritanya kamu lagi mau balas dendam? Kalau iya, gak gini dong caranya. Kamu harusnya tanya aku dulu, aku loh suamimu. Aku gak suka lihat Rio. Banyak gaya. Sok pula. Pokoknya kamu jangan deket-deket lagi sama dia. Kalau bisa putusin. Sekarang juga." Aku mengernyitkan dahi. "Harus banget kita bahas ini?" "Harus." Tiba-tiba rasa laparku menguap begitu saja. Meletakkan sendok beserta garpu, mengelap mulut dengan tisu serta menenggak s**u putih yang sedari tadi masih kuanggurkan. "Pertama, aku itu gak pacaran sama Rio. Kedua, aku gak perlu minta izin ke Mas karena aku emang gak pacaran sama Rio. Ketiga, kenapa Mas mesti sewot? Bukannya dari awal Mas yang bilang kalau kita tidak perlu saling mencampuri urusan masing-masing?" "Tapi itu dulu, jauh sebelum kita sampai dititik ini. Kita sudah saling berdamai, Al." "Belum. Kalau Mas mau kita untuk saling berdamai, Mas putusin Sarah dan aku akan menjauh dari Rio. Supaya kita sama-sama impas." "Ya gak gitu juga. Aku kan sudah bilang-" "Sama. Aku juga sudah bilang kalau aku dan Rio itu hanya berteman. Kalau Mas maunya aku berjauhan dengan Rio, yasudah, Mas juga harus melakukan hal yang sama. Jangan bikin ribet. Aku pusing." Mas Bagas menggelengkan kepala. "Egois." Lalu bangkit. "Teserah kamu mau pacaran atau nikah sekalipun sama dia. Aku gak perduli. Kita memang seharusnya gak saling berdekatan." Mas Bagas menyambar tasnya yang ada dikursi. Tanpa memperdulikanku, Mas Bagas pergi begitu saja. Mataku masih terpejam, tanganku beralih meraba-raba bagian tempat tidur yang biasanya Mas Bagas tempati, aku sibuk memikirkan sejak kapan tubuhnya jadi serata ini. Kepalanya juga gak ada, dengan cepat aku membuka mataku, orangnya menghilang. Aku mengerjapkan mataku, menyesuaikan dengan kondisi kamar kami yang sudah kembali terang padahal seingatku tadi malam aku sudah mematikan lampunya. Dimana Mas Bagas? jangan bilang masih belum pulang juga. Terlalu larut dalam kesendirian, aku sampai gak sadar kalau Mas Bagas belum juga pulang. Sudah larut banget. Aku mencoba menghubunginya juga mengirimi beberapa pesan untuknya, namun tak kunjung juga mendapat balasan darinya. Kakiku turun menginjak lantai kamar yang terasa begutu dingin. Mencoba mencarinya dikamar mandi juga diruangan khusus tempat pakaian kami berada, hasilnya nihil. Beneran marah ini mah, tapi kenapa pakai acara gak pulang segala sih? Setengah berlari aku menyusuri setiap sudut rumah, berakhir bertanya kepada Pak Satpam dan anaknya yang saat ini sedang berjaga, tetapi mereka tidak ada yang tau. Apasih maunya dia, kemarin kayak ngeyakinin banget eh sekarang malah main ninggalin. Kurang kerjaan. Tubuhku berhenti secara otomatis saat melihat mobilnya masih terparkir rapi digarasi rumah kami. Tumben banget Mas Bagas pergi gak bawa mobil, biasanya suami ganteng ku itu paling risih naik mobil orang. "Pak Jum, kok mobilnya disini tapi orangnya gak ada?" Tanyaku pada Pak Jum. "Bapak memang ndak membawa mobil, Bu. Semalam dari sini langsung dijemput, katanya temennya." Jawab Pak Jum. "Perempuan, Pak?" "Saya ndak tau." Coba sebentar saya tanya anak saya dulu. "Le, kamu tau ndak Pak Bagas tadi malam dijemput siapa?" Tanyanya pada Rudi. Rudi, nama anaknya. "Saya gak tau siapa, tapi perempuan, Bu. Saya sempat lihat, soalnya waktu Pak Bagas naik, saya ikut bantu bawain barangnya." Pak Jum sedikit terkejut, "Loh, memangnya ibu ndak tau kalau Pak Bagas semalam pergi?" Aku menggleng. "Enggak, Pak." Entah inisiatif dari mana, aku menunjukkan foto seorang perempuan cantik kepada Pak Jum dan Rudi. "Sama Mbak ini gak?" Rudi berseru. "Bukan Bu Rara, Bu." "Kalau Bu Rara pasti turun dulu, Bu, ketemu Ibu. Tapi tadi saya lihatnya enggak kok." Ucap Pak Jum. Mbak Rara itu sisten pribadinya Mas Bagas. Perempuan pertama sekaligus terakhir yang tau kalau kami sudah menikah. Mbak Rara cukup handal dalam menyimpan rahasian. Buktinya sampai saat ini, rahasia kami disimpan rapat olehnya. Tidak pernah sekalipun terucap atau sengaja menyenggolnya. Dan terkadang aku harus memberinya ucapan terimakasih berulang kali, sebab tanpanya mungkin Mas Bagas tidak akan bisa sampai seperti ini. Aku tersenyum kecut, mengingat cuma ada seorang perempuan lain yang mobilnya bisa ditumpangi Mas Bagas kecuali mobil ku dan mobil Mbak Rara. Siapa lagi kalau bukan kekasih gelapnya itu. Kutu kupret! Kalah telak aku jadinya. Dengan cepat aku masuk kembali kedalam rumah, menyambar handphone ku dengan kasar lalu menghubungi suamiku yang tidak tau diri itu. Masku? Panggilan pertama.... Lewat. Panggilan kedua.... Lewat. Panggilan ketiga, awas aja kalau masih gak diangkat, bakal- "Assala-" "MAS BAGAS!!!" "Assala-" "Uda bosan hidup?" Mas Bagas diem, gak bersuara lagi, kulirik handphone ku, panggilannya belum terputus. Eh... Aku langsung teringat sesuatu. "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." "Waalaikum Salam." "Kok diem sih?" "Ada apa?" "Kamu dimana sih, Massssss?" "Dirumah Sarah, lagi nemenin pacarku tidur. Ngapain telfon?" Ringan sekali mulutnya berbicara seperti itu. "Kamu apa-apaan sih?!" "Sudah malam. Jangan berisik. Suaramu bisa membangunkan pacar ku." "Mas kamu mabok ya? Atau otakmu sudah gak berfungsi lagi? Kamu lupa kalau kamu sudah punya istri? Astaga... Mas." Ucapku gemas. Mungkin kalau sosoknya ada dihadapanku, aku akan menggerauk seluruh kulit yang ada ditubuhnya. "Mending kamu telfon Rio aja, jangan aku. Aku sibuk." "Mas, pulang." "Besok." Balasnya singkat. "Mas." Ucap ku tegas. "Gak." "Baik. Gak usah pulang sekalian." "Terserah." Setelah panggilannya ku putuskan secara sepihak, aku berdiam diri memandang walpaper handphone ku. Ada gambar ku dan Mas Bagas sewaktu resepsi pernikahan kami. Wajah gantengnya terlihat kaku, tidak ada raut kebahagiaan terpancar darinya. Malam ini seharusnya dimulai dengan sangat menyenangkan. Tidur dengannya, memeluk tubuhnya, mencium bibirnya, menggigit rahangnya. Sayang sekali harus gagal. Tergantikan oleh satu tetes air bening yang jatuh dari pelupuk mataku. Hatiku rasanya sakit, disaat aku tau, suamiku lebih memilih pergi untuk menemani kekasih gelapnya dari pada aku. Poor, Alena. Mas Bagas adalah pelengkapku, jiwaku, pujaan hatiku. Rasa cinta dan sayang yang kumiliki semuanya terasa buta dimata ku. Mas Bagas yang selalu berlaku sesuka hatinya, membuat diriku selalu menuntut untuk berusaha tegar. Kesalahan serta kekecewaan yang dibuat olehnya sering sekali tergantikan dengan rasa cinta dan sayang ku yang seakan meluap-luap untuknya. Mas Bagaa mampu membuat jantungku berdetak kencang, nafasku tersengal-sengal dan tubuhku terasa terporak-porandakan oleh setiap lantunan merdu dari mulutnya. Ternyata Mas Bagas tidak berubah sama sekali. Masih saja datar kapanpun dimanapun, membuatku lebih memilih diam. Perasaan ku terasa sudah menjadi sekeras batu untuk menghadapinya, banyak kata kekesalan dan amarah yang ingin ku lontarkan untuknya, harus lenyap saat sudah menatap mata tajamnya. Bodoh mungkin adalah kata yang paling tepat untukku. Melihatnya dengan Sarah selalu membuat mata ku memanas dan kaki ku melemas. Sesak terasa kala keduanya saling bergenggaman tangan, bercanda ria juga tertawa, seakan menampilkan bahwa mereka lah pemilik dunia ini. Jika begitu, maka sudah pasti, lainnya hanya singgah. Senyumanannya tidak pernah pudar jika bersama Sarah, lembut dan manis. Aku semakin menggilainya walaupun aku tau, hatiku memberontak untuk pergi darinya tetapi tubuhku seakan menentang keras permintaannya. Aku tidak pernah meminta untuk memiliki harta belimpah, kenaikan jabatan serta kehidupan suami-istri yang indah, tetapi aku meminta, dia, Mas Bagas, suamiku untuk mencintaiku, menerimaku apa adanya, bukan ada apanya. Malam ini aku duduk menatap jenuh sang rembulan, terangnya seperti mengejek suasana hatiku yang selalu saja gelap dan ditutupi oleh ke kecewaan. Taburan bintang juga terasa sangat menjengkelkan, ramai, juga seperti mengejek suasana hatiku yang sepi, sunyi dan usang. Aku rindu, serindu-rindunya pada Mas Bagas. Mataku memanas, akhirnya aku kembali menangis didalam kukungan alam. Semuanya seakan memusuhiku, tidak ada letak keadilan yang selama ini kudambakan. Aku selalu saja terpuruk dan terjatuh dilubang sekaligus pada orang yang sama. Mas Bagas pergi tanpa jejak, meninggalkan ku seperti sesosok perempuan lemah, tanpa dicintai dan disayangi. Aku malu pada semuanya, dahulu saat pertama kali Mas Bagas mengucapkan janji setianya padaku, aku memamerkan seluruh kebahagiaaku, memperlihatkan cincin berliah indah yang lengket dijari manisku kepada semua orang, berucap ribuan terimakasih pada semuanya atas kesempurnaanku yang sesaat. Mas Bagas, apa sebegitu susahnya kah memahami perasaan ku? Membalas kasihku? Juga menerimaku? Aku ingin mengeluh dihadapanmu, menyentuh wajah gantengmy, bersandar didadamu juga mengecup dahimu. Sebentar saja, tolong aku, selamatkan hatiku yang mulai hancur berkeping-keping karena mu. Aku tidak berdaya lagi, tembok yang sudah kubangun dengan kokoh kini mulai retak. Kepercayaan ku hampir hilang untukmu, tetapi sialnya, lagi, lagi dan lagi, aku kalah prihal mencintaimu. Aku gagal prihal menyayangimu. Mas Bagasku, berikan aku waktu untuk bersamamu sebentar saja, kasihi aku, lindungi aku, sayangi aku. Setelah semua itu kudadapi, kamu boleh pergi sejauh mungkin, meninggalkanku sebagai kenangan pahitmu. Sebab level tertinggi mencintaimu adalah menghikhlaskanku. Mas Bagasku, aku mencintaimu demi apapun, biarkan begini saja, aku yang merasa dan aku yang terasa. Mas Bagasku, aku menyayangimu sampai nanti. Ku titipkan permohonan pada rembulan untuk menyampaikan salam rinduku untukmu yang sedang disana. Astaga, mengapa aku semenyedihkan ini? Ketukan pintu yang sangat tidak beraturan membuatku terbangun. Aku melangkah membukanya dengan nyawa yang masih setengah melayang. Ah sial sekali, kenapa sih ada saja penganggu disaat aku mulai mengistirahatkan mata serta kepalaku yang terasa sangat tidak bersahabat lagi dengan tubuhku. Setelah terbuka, aroma alkohol dan wewangian tidak menyedapkan langsung menyerbu indra penciumanku. Penampilannya berantakan, wajahnya gusar, nafasnya juga ngos-ngosan. Tapi kenapa Mas Bagas malah kekamar tamu? Padahal aku sudah sengaja tidur disini supaya tidak bertemu dengannya. "Keluar, Alena" ucapnya degan suara tegas dan lancang. Kedua tangannya mengepal kuat, pandangannya juga tidak mengarah padaku. Aku takut Mas Bagas kenapa-kenapa, ku sentuh tangannya, mencoba memberinya ketenangan, tetapi aku malah dibentaknya. "Keluar!!!" Mas Bagas menepisnya, serta bentakannya membuat jantungku seperti ditusuk oleh ratusan belati tajam. "Mas-" belum sempat aku menyelesaikan omongan ku, Mas Bagas manarikku keluar lalu masuk kekamar tamu dengan membantingkan pintunya dan meguncinya dari dalam. Lucu sekali, setelah aku menunggu satu malaman untuk kepulangannya, aku malah diperlakukan seperti bukan istrinya. Tubuhku bergetar menahan takut. Kata bahagia sangat sulit rasanya untuk ku gapai, setelah banyak lika-liku kehidupan baik senang atau pun susah, baru kali ini rasanya kata menyerah menghantuiku. Sekarang mataku terasa memberat, tubuhku juga sangat lemas. Aku berjalan lunglai kearah kamar kami. Entah sudah berapa lama aku hanya menangis dan parahnya tanpa airmata yang meninggalkan isakan. Saat aku yakin bahwa tidur adalah cara melupakannya, tiba-tiba lengan berototnya yang dingin menyentuh kulitku, aku membuka mataku, menangkap sosok Mas Bagas yang sudah lebih wangi dan menyegarkan. "Alena, apa yang sudah kamu perbuat sampai Sarah terbangun dari tidurnya dengan kemarahan?" Tanyanya. Aura seramnya seakan hilang. Tidak lagi lengannya, telapak tangannya yang besar dan kasar menggenggam erat lenganku. "Sudah pernah kukatakan, jangan pernah menyentuh Sarah. Dan kamu mengbakainnya." Aku menggeleng, hendak merubah posisi. "Mas, sakit..." Ringisku saat genggamannya semakin menguat. "Aku gak ada ngapa-ngapain Sarah. Bahkan bertemu dengannya saja aku gak mau." "Lantas kenapa dia marah?" Kecupan ringan yang Mas Bagas lakuka! secara berulang-ulang telingaku seperti alarm, memberiku tanda siap siaga. "Kali ini kamu sudah terlalu jauh melangkah. Aku gak suka. Seperti yang kukatakan kemarin, seharusnya kamu diam dan bersabar. Kalau seperti ini, bukannya cinta, aku menjadi muak padamu." Ucapannga mengalir cepat ditelingaku." "Mas, aku bersumpah." "Siap gak siap, kamu harus siap, Alena." Setelah mengatakan itu, Mas bagas mengurai genggamannya. Membuka kaus oblong dan celana pendeknya dengan paksa lalu melemparnya kesembarang tempat. Aku tergugup, hendak melepaskan diri, tertahan oleh Mas Bagas. "Jangan kabur." Mas Bagas menarikku, merobek dasterku. Membuka kasar dalamanku yang kini ikut teronggok bergabung dengan pakaiannya. Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya, rasanya mulutku terlalu keluh hingga tak mampu mengeluarkan kata demi kata lagi. Mas Bagas mendekat, mengangkat tubuhku keatas perutnya. Telapak tangan kasarnya terasa kontras dikulit lembutku sehingga ada gelanyar aneh timbul padaku. Aku menggigit bibir bawah, berusaha agar tak berlenguh atau mengerang. Mas Bagas juga mengecupi leher dan bahu telanjangku, sial, dibagian situ aku tak tahan lagi. "Mas..." Tangannya turun, mendorong pinggulku. Tanpa pikir panjang memasukkan miliknya kedalam milikku. "Mas, masih sakit. Pelan-pelan." Kecupannya diganti menjadi hisapan serta gigitan, sedikit perih namun disisi lain terasa menggoda untukku. "Aku gak ngerti lagi gimana cara menghadapimu yang semakin hari semakin merasa sok hebat. Jangan mentang-mentang Mama dan Papaku sayang padamu, kamu jadi merasa seenaknya. Damn it, Alena. Aku gak suka melihat Sarah marah, apalagi menangis. Dan semalam kamu telah melakukannya." "Aku gak ngerti maksud dari ucapanmu, Mas. Aku gak ngapa-ngapain. Hari ini saja,- MAS!" Teriakku. Mas Bagas menggigit putingku dengan sangat kuat. "Mas, pelan." Lalu memukul paha dan pantatku. "Jangan kasar, Mas." "Kalau tidak dikasarin, kamu gak akan mengerti." Mas Bagas meresapi setiap hentakan serta genjotan dari tubuhku. Tidak sedikitpun Mas Bagas melewatkan kekasarannya entah itu memukul dadaku, menggigit bibirku juga menampar pantaku. Mas Bagas menghukum diriku, membuat gerakanku sama gusarnya dengannya. Jari-jarinya bergerak lihai menggeranyangi punggungku, mengelus dan menggaruk. Godaan yang diberikannya semakin melonjak kala Mas Bagas mulai memasukkan satu persatu jarinya kedalam milikku, membawa ku seperti melayang jauh keatas sana. Miliknya yang besar juga jemarinya yang panjang memainkan milikku. Disela rasa sakit, aku melenguh. "Mas, jangan lagi,- AW! Jangan pukul." Mas Bagas memukul dadaku secara bergantian. Menghisal tulang selangkaku dan menarik putingku yang kini sudah menjulang ingin dikuasi olehnya. Rasanya tubuhku seperti dibakar oleh kobaran api yang sangat membara, bagai satu ton minyak dilempar begitu saja ketubuhku ketika ibu jari dan jari telunjuknya menarik sebuah daging kecil yang sudah memerah dan membengkak dibalik sana. Sungguh kewarasaku telah menghilang. Dengan berani dan percaya diri aku membawa miliknya kepuncak kenikmatan. Demi apapun, Mas Bagas, suara purau dan beratnya, dilengkapi rambut acak-acakannya serta ditambah tubuh telanjangnya membuatku kehilangan arah didalam kuasanya. Tidak bisa ku hindari lagi, betapa sempurnanya suamiku itu. Aku menutup wajahku, merah merona, seperti kepiting rebus. "Ah, Sarah. Lebih kencang." Sontak tanganku turun. "Please, sayang..." Aku bergetar. "Mas, aku Alena bukan Sarah." Mas Bagas menggeleng. "Aku Alena, Mas." "Sarah... nikmat sekali." Gerakanku terhenti. Kedua tanganku menjauh dari perutnya. Diatasnya, aku terdiam, gak tau mau melakukan apa. "Kenapa berhenti, Rah?" Tanya Mas Bagas sambil membuka matanya. "Aku bukan Sarah, Mas Bagas." Seketika matanya terbuka lebar, Mas Bagas mendorong tubuh hingga terjatuh kelantai. Lalu mengedarkan pandangannya. Tangannya tergepal memukul-mukul kepalanya. "t***l BAGAS! t***l!" Matanya yang merah serta wajahnya yang berubah marah menyambutku. "Sialan, Alena. Kamu maksa aku?" "Mas, a-aku gak ada maksud kamu. Kamu yang mulai duluan." "Gak mungkin." Mas Bagas melempar sebuah bantal kewajahku. "Sudah tidak tau diri, gak ada harga diri. Gini caramu yang ingin mencuri hati? Murahan." "Mas, aku-" "Jangan mendekat. Aku gak sudi dekat-dekat kamu lagi." Susah payah aku bangkit. Menahan perih dari pangkal pahaku. p****t dan dadaku juga terlihat menyedihkan, bekas pukulan tangannya terlihat membekas. Aku berdiri, tanpa sehelai benang pun. "Aku telfon kamu, gak kamu angkat. Aku kirim kamu pesan, gak kamu balas. Kamu gak pulang, dan ketika pulang, kamu malah menuduhku yang enggak-enggak? Apa kamu lupa, aku bukan tipikal perempuan yang tidak tau diri. Aku memang lemah, menyedihkan, pengemis perhatian. Bukan berarti aku harus melakukan hal-hal yang bisa bikin Sarah berpaling dari kamu. Tidak ada sedikitpun didalam benakku untuk mengatakan apapun yang bikin kamu semarah ini, karena memang aku gak berniat. Aku hanya berusaha dan berdoa, gak ada yang lain. Sarah memang melukaiku sebagai istrimu, tapi bukan berarti aku harus membuatnya juga terluka. Aku kira setelah apa yang telah kita lewati dan apa yang telah kita lakukan, kita bisa saling mengerti, saling mendukung. Ternyata tidak, kamu bahkan samakin membuatku kecewa. Memang lebih baik kita berpisah. Supaya kita bisa saling terlepas tanpa adanya sebuah ikatan yang membelunggu kita." Mas Bagas tersenyum remeh, melilit tubuhnya dengan selimut. "Banyak omong." Sebelum membuka pintu kamar, Mas Bagas berkata, "Kamu adalah kesialan yang selalu aku dapatkan. Kamu tau, aku sudah sangat menyesal karena mau menikah dengan kamu." Kemudian sosoknya hilang dibalik pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN