Chapter 11

2963 Kata
"Gawat, Al, gawat. Bisa-bisanya selama ini lo nyembunyiin ke kita semua kalau lo itu orang ketiga dalam hubungan Pak Bagas dan Bu Sarah. Gue terkejut Al. Gak habis pikir. Ternyata temen gue pemain." Ara bertepuk tangan. Membuatku semakin bingung atas perkataannya. "Dan lo juga pacaran sama Rio?" Anin berdecak. "Itu juga lo sembunyiin dari gue, Ara, Beni, juga Rio sendiri yang notabenenya adalah pacar lo? Cakep lo sampek segitunya? Lo budek atau pura-pura budek? Gue uda bilang, gue tim Pak Bagas dan Bu Sarah garis keras, siapapun yang mencoba menganggu hubungan mereka, gue gak akan segan-segan menghabisinya." Cecar Anin. Perempuan manis yang selama ini hampir tidak pernah mencecarku atau melontarkan kata-kata kasar untukku, kali ini keterbalikannya. Aku gak mengerti. Langkah kakiku terhenti saat mendengar bisikan-bisikan tidak mengenakkan. Tidak sekalipun aku berniat untuk menjadi perusak dihubungan mereka. Bahkan aku cenderung tidak perduli. Kenapa aku dituduh? Bukannya yang seharusnya sebagai orang ketiga atau penganggu itu Sarah sendiri? Minuman kemasan yang sudah diberi pewarna tersebut berhasil membanjiriku. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Disusul tepung dan telur. Bau sekali. "Dasar pelakor. Tidak tau diri. Sudah tau Pak Bagas itu pacarnya Bu Sarah, masih diembat saja, kayak gak ada yang lain aja." Ujar Veny, teman satu devisiku. "Halah, Al. Pendiem begini ternyata sifat lo b*****t juga ya? Gue kira lo sebaik itu makanya Rio mau sama lo. Ternyata enggak. Lo cuma mempergunakan tubuh lo supaya menarik perhatian banyak lelaki. Gak nyangka gue. Dasar murahan." Kali ini Anya. Anya memang selalu tidak sependapat denganku. Apalagi semenjak Anya tau bahwa aku dan Rio saling berdekatan, membuatnya semakin murka padaku. Aku juga tidak mengerti, Anya katanya suka Rio. Tetapi Anya juga suka kepada Laki-laki lain. Anya memang pernah terang-terangan mengajak Rio berkencan dan Rio menolaknya. Sebab Rio tau, Anya hanya mau hartanya saja. Juga ketika Anya tau Rio menolaknya, Anya tidak terlihat sedih. Bahkan sibuk menebar pesona pada laki-laki lainnya. Sebenarnya yang murahan itu siapa, aku atau Anya? "Ra, Nin, gue gak ngerti maksud kalian itu apa. Gue bukan seorang pelakor, gue juga gak ngerusak hubungan Pak Bagas dan Bu Sarah. Kenapa kalian nuduh gue?" Aku membalas tatapan tidak suka dari mereka. Sedikit membersihkan beberapa kuning telur tang bertempelan dikemejaku. "Diem lo. Gue gak nyangka, Al. Katanya lo trauma sama masa lalu lo, katanya lo lagi males pacaran. Tapi kenapa pas ketahuan pacaran, yang lo pacarin itu pacar orang? Terus Rio itu artinya buat lo apa? Pajangan doang? Lo pikir dong." Ara melemparkan dua butir telur lagi tepat didahiku membuat ku meringis karena lemparannya ternyata kuat juga. "Gue bukan pelakor, Ra. Demi Tuhan. Bahkan niatnya aja belum ada diotak gue. Gue cuma-" Ara membuang ludahnya sembarang, melihatku penuh dengan jijik. "Cuma apa? Cuma segini harga diri lo? Atau emang uda gak ada? Jangan banyak omong, Al." Anin tertawa sinis. Aku berdiri ditengah ramainya orang. Para staf kantor berdiri mengitariku, melempariku, menghujatku dengan kata-kata yang sebenarnya tidak pernah ku lakukan. Aku tidak takut, hanya saja aku bingung, kenapa aku diperlakukan seperti ini? Aku salah apa? Aku tidak melakukan apapun yang bahkan bisa merugikan banyak orang. Aku hanya Alena, perempuan biasa yang menyimpan banyak luka. Aku hanya Alena, perempuan menyedihkan yang selalu ditinggalkan oleh orang yang ku sayang. Aku hanya Alena, jauh dari kata sempurna. Aku tidak cantik, menarik juga pintar, aku hanya berusaha menjadi diriku sendiri tanpa paksaan orang lain. Dari kecil aku sudah terbiasa sendiri. Hidup dengan harta berlimpah tetapi minim kasih sayang. Yatim piatu, tidak mempunyai keluarga. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari diriku hingga semua orang menyebutkan sebagai pelakor, apalagi dengan Sarah, yang jelas-jelas posisinya jauh diatasku. Dari pada sibuk mengurusi urusan orang lain, lebih baik aku berdiam diri dirumah. Entah itu belajar menanam, ngasih makan ikan, memasak, membersihkan rumah, membaca novel ataupun tidur. Sangat capek rasanya ketika memikirkan hal-hal buruk seperti itu. Tidak ada gunanya. "Kalian apa-apaan sih? Jangan memojokkan gue. Gue itu bukan pelakor. Tau dari mana kalian? Mana buktinya? Sini kasih lihat gue?" Salah kalau mereka pikir aku tidak takut sebab membalas ucapan mereka, jantungku dibuat berdetak tak karuan. Tanganku juga bergetar. Aku hanya berusaha tegar agar tidak terlihat lemah dibawah tatapan remeh mereka. "Gak perlu bukti, tapi kita semua tau kalau lo itu pelakunya." Kali ini Tio, senior ku. Anya mendekat kearah Ara dan Anin, kemudian menyodorkan benda pipih yang dibelakangnya dihiasi tiga boba. "Awalnya gue gak ngeh, tapi lama-kelaman gelagat lo bikin gue curiga. Ke Rio, lo ngakunya sepupu Pak Bagas, padahal lo simpenannya Pak Bagas. Dan kepada Pak Bagas, lo gak ngaku kalau Rio itu pacar lo? Lo itu maunya apa sih? Gue gak ngerti. Gak ada puas-puasnya." Cecar Anya. Ara memperlihatkan sebuah gambar yang isinya ada aku dan Rio yang sedang bergandengan tangan disebuah warung bakso. "Ini lo dan Rio, kan?" Tanya Ara. Kemudian memperlihatkan gambar yang lain. "Dan ini, lo dengan Pak Bagas." Ada aku dan Bagas yang jalan bersisian. Tangan Mas Bagas merangkal bahuku, sisi kepalanya terjatuh didahiku. "Munafik!" "Emang gitu, Ra. Orang-orang yang kayak dia ini, pendiem, irit bicara, gak suka dikeramaian, selalu merasa sendiri lebih jahat dan licik, dari pada orang-orang kayak kita." Ujar Anya. Satu kantong plastik yang isinya air got akhirnya menyapaku. Tanpa rasa kasihan, Sarah berdiri dihadapanku. Senyum miringnya terlihat seperti setan. Setelah ait got itu habis, lantas Sarah mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasku, kemudian melemparinya kearahku. "Mau lo ini kan? Nih gue kasih, sebanyak-banyaknya. Jadi tolong, setelah ini jauhin pacar gue. Lo gak ada lagi hubungannya sama dia. Kalau lo masih ingin hidup tenang tanpa gangguan sama siapapun, JAUHIN BAGAS." Teriaknya ditelingaku. Refleks aku mundur. Lebih menunduk lagi. Kepalaku rasanya hampir pecah akibat dilempari telur. Mataku juga rasanya sudah tidak bisa terbuka lagi. Tepung tersebut berhasil mengusai penglihatanku. Ingin sekali rasanya aku pingsan. Aku gak bisa diperlakukan seperti ini, rasanya sangat melelehkan. Dulu, aku pernah berada diposisi ini. Saat itu aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dijauhkan, diasingkan. Tidak ada satupun orang yang ingin berdekatan denganmu. Selalu saja kesialan datang padaku. Seperti aku yang tiba-tiba saja kehilang tas, ditolak dari belakang, selalu disuruh kekantin hanya demi membeli beberapa bungkus roti. Aku dibully habis-habisan. Tidak mengenal lelah dan capek, mereka melakukannya tanpa henti. Sampai ada seorang perempuan cantik yang akhirnya datang membelaku. Namanya Keira. Kami sedang dipisahkan jarak. Keira yang berprofesi sebagai dokter, membuatnya hanya bisa terus menerus menetap dirumah sakit. Persis seperti saat ini, ada sepasang lengan kekar merengkuh bahuku dari belakang. Tanpa berucap satu kata pun, dia membersihkan bekas-bekas kulit telur yang berserakan dipuncak kepalaku. Ketika aku mengalihkan pandanganku, ada Raga. Laki-laki itu berdiri tepat disampingku. "Raga." Aku tersenyum perih. "Kok malah diam aja sih, Mbak? Dilawan dong, masa kamu mau disakitin terus begini. Kamu gak berani? Bilang sama mereka, kalau tanpa kamu, mereka gak bakal bisa seperti ini. Bilang sama mereka juga bahwa perusahaan ini bukan milik Mas Bagas, tetapi milikmu. Supaya mereka gak seberani ini sama kamu." "Raga, kamu ngapain disini?" Ujar Sarah. "Lo ngapain sih, Sarah? Gak ada kerjaan? Kurang kerjaan? Gabut? Lo ngapain? Dari kemarin gue uda ingetin buat gak usah dekat-dekat lagi sama Mas Bagas, tapi kenapa malah ngeyel? Lo budek?" Raga menepis tangan Sarah yang hendak menyentuh pundaknya. "Jauhin tangan kotor lo itu dari gue. Sialan." Raga mengambil sapu tangan dari kantongnya, kemudian mengelapnya. "Gue cuma melakukan apa yang seharusnya gue lakukan. Lo tau sendiri, gue cinta banget dama Mas lo." "Cinta? Makan itu cinta. Gue gak habis pikir, lo sengaja nyebarin gosip yang enggak-enggak tentang Mbak Alena ke semua orang. Supaya apa? Supaya terlihat keren? Keren enggak, enek gue lihat lo." Satu hal yang harus kalian tau, bahwa aku sangat mengagumi Raga. Bukan sebagai laki-laki yang ingin kudapatkan hatinya, melainkan sebagai seorang kakak yang mengagumi adiknya sendiri. Raga akan selalu memanggilku dengan sebutan Mbak, walau umur ku berada dibawahnya. Raga tidak pernah melewatkanku begitu saja. Raga bahkan selalu menghibungiku, entah itu bertany kabarku, bertanya tentang apa yang disuka perempuan atau meminta tolong untuk membantu hubungannya dengan Ayyik. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehnya. Aku selalu ingin dilibatkan olehnya, karena Raga sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Raga maju satu langkah dihadapanku, mengedarkan pandangannya kepada semua orang. "Saya gak mengerti, kalian itu sebenarnya kenapa? Kenapa kalian mau-mau saja di monopoli oleh Sarah? Kalian gak tau Alena ini siapa?" Raga menunjukku menggunakan dagunya. "Alena Khandra, putri tunggal dari Tuan Khandra, pemilik perusahaan ini. Bukan hanya itu, Alena adalah istri seorang dari Bagas dirgantara. Seseorang yang selalu kalian agung-agungkan atas keharmonisan hubungannya dengan Sarah." Mendengarnya aku mendongak, tidak seharusnya Raga berbicara seperti itu. "Justru Sarah adalah seorang pelakor, perusak, penganggu seperti yang kalian katakan ke Mbak Alena. Sarah berusaha merebut Bagas dari Mbak Alena. Sarah mengusahakan apapun, sampai pada titik ini, membuat semua orang bodoh, menganggap bahwa di posisi ini Mbak Alena-lah tersangka, padahal korbannya." Mereka semua mendadak heboh. Ara dan Anin menutup mulutnya. Tidak percaya atas apa yang didengarnya. Anya mundur satu langkah, bersembunyi dibalik punggung Tio. "Raga, lo apa-apan sih? Cukup sudah omong kosong lo. Gue pacarnya Bagas Dirgantara. Jangan main-main. Gue bakal laporin ke dia atas perlakuan lo hari ini." "Tante kira kamu akan menyerah, Sarah. Sayangnya tidak. Padahal Tante sudah berbaik hati dengan kamu, untuk tetap bisa menikmati indahnya dunia. Dari awal Tante tau kalau kamu masih berhubungan dengan Bagas, Tante masih bisa biasa saja. Tante kira itu akan berjalan dengan singkat, ternyata tidak. Bahkan kamu sudah melukai harga diri menantu kesayangan Tante." "Tante-" Sarah maju. "Sarah gak bermaksud-" "Diam ditempatmu, jangan mendekat. Kamu sudah keterlaluan Sarah." "Dengerin penjelasan Sarah, Tante." "Papamu sudah ditangkap, karena terbukti korupsi diperusahaan keluarga Tante. Mamamu juga, ikut tertangkap karena ketahuan menculik seorang perempuan yang diyakini adalah pacar Papamu. Keluargamu berantakan, begitu pula dirimu. Bukannya berdoa, kenapa kamu malah nyari masalah lain? Apa itu tidak cukup?" "Saya minta maaf, Tante. Saya ngaku kalau dulu saya khilaf. Saya juga gak tau kenapa saya mencari pelarian disaat Bagas sedang mati-matian mengusahakan kepercayaan orangtua saya. Saya juga minta maaf soal Papa saya yang sudah seenaknya kepada orang lain. Itu semua diluar kendali saya, Tante. Saya gak bermaksud." Mama tersenyum lebar, merengkuh bahuku yang sudah seperti adonan tepung. "Alena kotor, Ma." "Sekotor apapun, Alena tetap menantu kesayangannya Mama." Kemudian Mama beralih kepada Sarah. "Sarah, Tante gak tau otak kamu ada dimana saat itu, sampai kamu tega-teganya menyakiti anak Tante. Bagas sampai diopname gara-gara tingkah konyolmu. Haduh... jauh-jauh deh dari keluarga Tante. Tante gak mau lihat kamu lagi." "A-aku minta maaf, Alena. Aku gak bermaksud. Tapi aku cinta sama Bagas, tolong izinin aku sama dia." Mohon Sarah. Sarah sudah memasang raut paling sedih diwajahnya. "Gue janji, gue gak akan ganggu lo lagi, kalau lo kasih Bagas ke gue." Raga bergerak, menjadi penghalang saat Sarah ingin meraih tanganku. "Gila ya lo. Lo sadar gak sih, disini yang gak tau diri itu lo. Gak ada harga diri juga lo. Mending lo pulang, dari pada lo makin dicap gila. Lihat, mereka semua uda nganggap lo gila." Ara, Anin dan Anya maju paling depan. Tatapan jijik yang tadinya mereka layangkan ke aku, kini berpindah ke Sarah. Ricky, orang yang selalu setia mengucapkan pujian dan syukur atas kehadiran Sarah, kini berlagak memuntahkan isi perutnya. Sungguh perubahan yang sangat drastis. Ketika melihat Sarah yang tadinya merasa menang, berakhir kalah, seakan berada dititik yang paling rendah. "Ayo, sayang, pulang. Kamu gak usah dekat-dekat dia lagi. Ntar kamu ketularan sial." Ajak Mama, membawaku pergi menjauh dari semuanya. Raga ikut dibelakangku, menghalangi siapapun yang masih berani menyerangkan. Seruan, teriakan, jeritan bersatu menjadi satu kala langkahku semakin jauh. Dibelakang sana, Sarah dipojokkan, memang tidak diperlakukan seperti aku, tetapi kata-kata kasar dari mereka mungkin bisa menjadi pembunuh bagi Sarah. "Bodoh. Kenapa kalian malah menyalahkan saya? Kalian yang mau. Dasar orang-orang bodoh." Ucap Sarah kuat. "Halah, perempuan sialan. Banyak bacot. Gara-gara lo kita semua jadi seperti ini. Lo harus tanggung jawab." "Nyesel banget gue pernah berada dipihak lo. Dasar nenek lampir." "Huuuuu... mati aja sana lo. Kerjaannya cuma bisa bikin malu." "Gak tau diri huu..." "b*****t ya lo semua!" Itu kata-kata terkahir yang kudengar dari Sarah. Setelah mobil mewah yang sedang kutampangi ini membawaku pergi dari tempat yang selalu aku rindukan. "Mobil Mama pasti bau amis deh. Tau gitu tadi Alena naik taxi aja, Ma. Kasihan Mama sana Raganya." Mama yang berada dikursi penumpang, membalikkan tubuhnya. "Biarin nanti suamimu yang cuci, tau rasa dia. Bisa-bisanya berlaku seperti ini kekamu." "Dimana Mas Bagasnya, Ma?" "'Mama kurung. Semalam Mama dapat laporan, dia pulang-pulang marahin kamu, bentak kamu. Ya marah lah Mama. Apalagi sebelumnya dia kerumah Sarah. Ngapain coba? Main ludo? Monopoli? Kurang kerjaan. Sudah dewasa, tapi otaknya masih kayak anak kecil." "Buat anak lah." Sambung Raga. "Heh!" "Siapa suruh mau cepat-cepat punya cucu? Syukur-syukur Sarah gak hamil. Kalau hamil, Mama harus tanggung jawab." "Mulutnya, Raga. Amit-amit. Gak akan." Mama mengusap perutnya yang datar. Padahal usia Mama itu sudah hampir lima puluhan, tetapi masih terlihat awet muda. Keriput-keriput yang ada dimatanya tidak terlihat, kulit-kulitnya juga masih sangat padat. Aku sampai bingung, Mama ini sebenarnya manusia apa bukan, cantik sekali. "Maaf, Mbak Alena, adekmu ini sudah ada gila-gilanya, persis seperti Sarah." Bukannya merasa sakit hati, aku malah tertawa. Mama memang sebenci itu sama Sarah. Jadi aku tidak heran lagi. "Masyaallah anak Papa, cantiknya gak hilang-hilang walaupun uda gak kelihatan lagi bentukannya kayak gimana." "Papa tau?" "Tau. Mama tadi kirim fotonya kamu. Kok gak dilawan sih, Nak? Sayang tepung dan telurnya. Mending kasih Papa." Papa berjalan, merangkul pundakku. Aku tersenyum. "Masih sempat senyum?" Satu hal yang gak kan pernah habis-habisnya aku bersyukur adalah ini. Mama, Papa dan Raga selalu menganggap kehadiranku seakan-seakan berarga dihidup mereka. Mereka seperti menggatikan sosok orangtua kandungku. Selalu mengerti perasaan ku. Walaupun sesekali Mama berkata mengesalkan, tetapi aku gak ambil hati. Karena, jikalau memang Mama kandungku masih hidup, pasti aku akan merasakan hal serupa. "Mandi dulu, Nak. Bersihin badannya. Papa yakin, pasti ada yang memar. Jangan lama-lama ya, nanti masuk angin. Habis itu turun, makan bareng Mama dan Papa." Aku mengangguk. Sebelum berlalu meninggalakan mereka, aku memeluk Mama dan Papa secara bergantian. "Alena gak tau mau bilang apa lagi selain terimakasih. Terimakasih banyak sudah menerima Alena. Menjadikan Alena bagian dari keluarga Mama dan Papa. Mempercayakan Alena untuk menjadi istrinya Mas Bagas. Alena janji akan selalu menjaga Mas Bagas. Alena janji juga, kejadian serupa tidak akan berulang kembali. Mama dan Papa percaya kan sama Alena?" "Janji itu utang. Al." "Iya, Papa. Alena tau. Tapi Alena akan mengusahakan yang terbaik untuk anak sulung Papa yang kepalanya terkadang bisa sekeras batu." Gurauku membuat Mama dan Papa tertawa. "Makasih juga, Mas Raga-" "Raga." "Makasih juga, Mas. Makasih uda bela aku. Ayyik harus tau kalau ternyata kamu tidak sejahil itu." "Belum juga Mbak kasih tau, anaknya uda keburu kabur." Aku baru baru tau kalau namanya itu Kayyisa, panggilannya Ayyik. Perempuan berwajah manis dan tubuh mungil. Pantesan saja Raga suka. Tipe idealnya banget. Anak smester akhir, sedang pusing-pusingnya sama skripsi. Mempunyai pacar bernama Galen. Denger-denger sih beda kepercayaan. Alamat gak bakal menyatu. Berdoa saja, semoga Raga bisa membuatnya berpaling. "Kalau Ayyiknya beneran gak mau lagi sama kamu gimana?" "Harus mau." "Jangan dipaksa." Ucap Mama. Kini kami sudah berada dimeja makan, minus Mas Bagas yang masih diasingkan. "Kenalnya dimana, Ga?" "Adik kelas ku dulu, Pa. Anaknya gemesin. Cuek-cuek gitu. Kalau uda jumpa, pengen banget ku cubitin pipinya. Tapi sayangnya, setiap jumpa, Ayyik bawaannya kabur terus. Gak tau kenapa." Mama menaruh satu potong ikan sambel kepiringku. "Makasih, Ma." Lalu kepiring Raga. "Mama kalau jadi Kayyisa juga kabur. Mana mau Mama sama laki-laki yang gak bertanggung jawab kayak kamu. Sakit, Ga, ditinggalin kalau lagi sayang-sayangnya." "Aku gak ninggalin, Ma. Emang pada saat itu, aku dan Ayyik gak mempunyai hubungan apapun, jadi kenapa aku harus memperjelasnya? Ayyik yang duluan naksir Aku. Aku biasa-biasa aja. Tapi ntah kenapa, susadah aku pindah dan sosok Ayyik tidak terlihat lagi, aku seperti merasa kehilangan." "Berarti Raga itu suka Ayyik." "Nggak, Pa. Aku cuma terbiasa sama perhatian yang dia kasih." "Karma. Rasain." Sanggah Mama cepat. Raga tersenyum kecut, merasa kalah. Karma dan penyesalan memang selalu datang beriringan. Dan kita, sebagai tersangka, hanya bisa menerima dan terus bertabah. Rumah orangtua Mas Bagas sangatlah mewah. Bernuansa klasik modern. Seperti enggan meperlihatkan kemewahannya, rumah ini disembunyikan oleh pagar kokoh yang terbuat dari besi, menjulang tinggi hingga siapapun tidak bisa menjangkaunya. Disetiap sudut rumah dan ruangannya diisi dengan pilar-pilar besar berbentuk bulat. Diteras juga dibelakang rumah terdapat tanaman-tanaman yang ditata rapi. Lahannya yang besar dimanfaatkan untuk membuat area foyer atau area peralihan yang membatasi antara teras dan ruang tamu atau bagian dalam rumah lainnya yang dibuat cukup luas. Lantainya terbuat dari marmer. Ada kolam renangnya juga. Jangan lupakan, garasi. Super duper besar. Bisa diisi sepuluh sampai lima belas mobil. Subhanallah, sungguh luar biasanya kekayaan orangtua Mas Bagas. Desainnya hampir sama dengan Rumah kami atau lebih tepatnya rumah Mas Bagas, hanya saja rumah Mas Bagas tidak seluas rumah orangtuanya. Tetapi tentu saja, tidak kalah mewahnya. Masih sore. Aku berjalan-jalan santai mengelilingi rumah tersebut. Sesekali terkagum-kagum pada setiap sisi rumahnya. "Sore, Nyonya, mau saya bawain cemilan?" Tanya seorang pekerja yang usianya tidak terlalu jauh diatas ku. "Gak usah, Mbak. Saya cuma pengen lihat bunga sebentar. Habis itu mau keliling lagi." Setelah mengucapkan terimakasih, aku lanjut berjalan. Menikmati udara sore yang terasa begitu menyegarkan. Saat aku hendak mengambil sebuah bangku, tanganku mendadak tidak bisa digerakkan. Dan ketika melihatnya, tentu saja, ada lebam disana. Bukan disitu saja, hampir seluruh tubuhku dihiasa oleh lebam. Tadi tidak begitu sakit, tetapi kenapa sekarang jadi terasa? "Alena." Panggilnya dengan suara berat. Aku mendongak. Sosoknya sudah berdiri tak jauh dariku. "Apa aku masih boleh bertemu denganmu?" Tanyanya. Ternyata disini bukan aku saja yang lebam, Mas Bagas juga. Tulang hidungnya diplaster, sudut bibirnya robek, pipinya lebam dan kakinya diperban. Ternyata nasibnya lebih parah dari aku. Rasain. "Aku sudah mengajukan percerian, Mama dan Papa juga sudah tau. Mas tenang aja, setelah ini, aku gak akan ganggu Mas lagi. Mas Bebas pergi kemanapun tanpa perduli keberadaanku." "Jangan. Aku gak mau." "Tapi sayangnya aku mau. Aku gak mau lihat muka kamu lagi." Good bye, Mas Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN