Chapter 12

2093 Kata
"Mama, Bagas gak mau ya kalau Bagas cerai sama Alena." "Bilang Alena lah, jangan gangguin Mama terus. Mama cuma ikutin maunya Alena." "Mama, please..." Mas Bagas memohon, atau lebih tepatnya mengganggu Mama yang masih sibuk dengan urusan dapurnya. Raga yang ngasih ide, supaya Mas-Nya kapok. Aku sama dengan Mama, cuma ikut-ikut aja. "Kamu kalau mau nego ke Alena dong, jangan Mama. Papa juga uda setuju, dari pada kamu nyakitin dia terus, lebih baik kalian berpisah. Mama ngasih Alena kekamu itu bukan untuk kamu sakitin. Mboknya dari awal sudah mengerti, kamu itu sudah menikah, sudah punya istri. Tidak seperti bujangan lagi. Kalau pulang kerja itu, pulang, kerumah, bukannya kelayapan kesana-kemari. Kamu gak kasian sama Alena yang tiap hari menunggu kamu? Heran Mama, punya istri, baik, cantik, bukannya disayang malah ditinggalin. Sakit kepala Mama mikirin kamu." Bibirku mengulum menahan senyum. Pipiku rasanya panas, mungkin rona kemerahan sudah menjalari pipi hingga telingaku. Dari ruang keluarga, dapat ku lihat Mas Bagas memeluk Mamanya dari belakang. Sibuk merengek agar permintaannya dikabulkan. "Kalau Bagas cerai, terus siapa yang ngurus Bagas? Mama mau?" "Tentu saja tidak." "Tuh kan. Mama aja gak mau. Apalagi orang lain." Mama mundur, mendorong tubuh besar Mas Bagas. "Ck! Sana, Gas, Mama lagi masak. Kalau begini terus, kapan selesainya? Bisa-bisa Papa kelaparan, terus ngamuk. Kamu mau kena semprot?" "Mau, kalau Papa juga ikut gak setuju aku dan Alena bercerai. Bagas yakin, Alena gak bakal mau. Mungkin Mama dan Papa yang ikut campur, atau Raga yang ngasih ide. Leluconnya gak lucu, Ma. Seriusan." Mama memukul-mukul tangannya, sesekali kepalanya juga dapat bagian jatahnya. "Mas, beneran deh, boleh lepas dulu gak?" "Oke." Berakhir dengan Mas Bagas yang mengecup pipi Mama. Mas Bagas itu lagaknya aja sok keras, sok cuek. Padahal manja. Ibarat gayanya seperti preman tetapi hatinya hello kitty. Aku menggelengkan kepala. Saat langkahnya mengarah padaku, tubuhku langsung menegak. Mengalihkan pandangan. Kepala ku tertunduk membaca satu demi satu kata yang ada di novel. Berusaha sekuat mungkin tidak terdistrak oleh kedatangannya. "Kok gak bantu, Mama?" Aku mengedikkan bahu. "Mama kok gak di bantu?" Lagi, aku mengedikkan bahu. Jawabannya akan tetap sama. Gak perlu mengubah-ngubah posisi katanya. Bukannya gak mau, tapi Mamanya yang gak ngebolehin. Ketika kedua kakinya sudah dihadapanku, aku menghembuskan nafas kesal. Mas Bagas berjongkok, kepalanya menengadah ingin melihat wajahku. Tangan kanannya terulur tanpa permisi menyentuh perutku, lalu mengusap-ngusapnya. "Nak, bantuin Papa dong, bujuk Mama supaya membatalkan keinginannya bercerai dengan Mama. Kamu tau sendiri, Papa itu gak bisa kalau tanpa Mama. Makan aja, disuapin Mama. Mandi juga, dimandiin Mama. Memproduksi kamu, Mama juga ikut turun tangan. Terus kalau Mama uda gak sama Papa lagi, Papa sama siapa dong? Kamu mau lihat Papa sedih?" Mas Bagas menarik novelku, melemparkan ke sofa sebelah. Merebahkan kepalanya diatas pahaku. "Jawab dong, Nak. Masa diem aja. Kamu lagi ngapain sih? Main bola? Main boneka? Atau ikut Mama buat musuhin Papa?" Mas Bagas menyingkap kaosku, hingga perut ku terekspos dihadapannya. Perlakuannya yang sangat tiba-tiba itu membuatku menegang. Apalagi ketika pipinya langsung bertemu dengan kulitku. Bulu-bulu halus dari rahangnya menempel. Memberi sensali geli bercampur nikmat. "Mas, apa sih?!" Hentakku. "Mau join sama anakku. Katanya lagi main bola." "Gak ada anakmu disana." Balasku. "Ada, cuma belum kelihatan aja. Ini lagi kulihat. Kamu diem sebentar." Baru dua kali, gak mungkin langsung jadi. Lagian sok ngide banget pake acara beginian. Suamiku ini memang selalu punya seribu cara yang membuatku gemas ketika melihat tingkah anehnya. Ingin sekali ku gigit pipinya sampai berdarah. Bila perlu sampai lepas sekalin. Biar tau rasa. "Al, kamu tau gak-" "Gak." "Yaudah denger dulu supaya tau." Posisinya berubah menjadi duduk. Tetapi tangannya masih setia diperutku. "Semalam Sarah bilang ke aku kalau kamu itu perempuan gak baik. Kamu pacaran sama Rio cuma sebagai pelampiasan karena aku gak bisa kasih kamu perhatian. Sarah juga bilang, kamu sama Rio uda making love. Saat ku tanya Sarah tau dari mana, katanya dari Anin sendiri. Aku gak tau itu benar apa gak, tapi sialnya aku percaya. Aku gak berusaha mencoba memastikan kebenarannya, aku langsung kesetanan dan berakhir menggempur kamu dengan cara yang kasar. Aku mengaku salah. Aku siap dihukum sama kamu. Apalagi saat nama Sarah tersebut dari ku. Aku benar-benar minta maaf." Kedua tanganku terjatuh disisi sofa, enggan menyentuhnya bahkan satu titik pun. Mas Bagas tersenyum, sambil mengusap air matanya yang sudah berjatuhan. Nangis. Cengeng banget. "Aku memang laki-laki paling gak bisa diandalkan, bisanya cuma mengandalkan orang lain. Dulu, aku kira menyikiti kamu adalah satu-satunya jalan untuk kita mencapai kata berpisah. Sayangnya enggak, kamu bertahan. Menerima apapun yang ku lakukan padamu. Kamu gak komplain, gak marah. Hanya sesekali kesal, dan itu sangat menggemaskan untukmu. Aku memprioritaskan Sarah, menjadikan Sarah pusat duniaku, padahal ada kamu yang selalu setia menemani langkahku. Aku sudah terbiasa sama kamu. Kamu selalu menjadi candu untukku. Dan ketika suatu hari nanti, yang kulihat dipagi hingga malamku itu bukan kamu lagi, aku gak tau masih mampu bertahan apa gak." Kembali Mas Bagas mengusap airmatanya. Kali ini wajahnya bersembunyi keperutku. "Aku minta maaf dan akan selalu meminta maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu. Aku memang belum mencintai kamu, tetapi aku berani bersumpah kalau aku sudah sangat menyayangi kamu. Apa kamu percaya?" Aku mengangguk, walaupun Mas Bagas tidak akan melihatnya. Kalau Mas Bagas tidak sayang aku, dia tidak akan mempercayakan seluruh hari-harinya untukku. Berani memberi semua kepemilikannya untukku. Uang, aset, surat tanah, mobil, motor, apartment, semua dipindah nama menjadi milikku. Aku seperti dapat uang kaget. "Sebenarnya aku kesal setiap kali Mas minta maaf padaku, karena apa ya... Mas bakal mengulanginya. Jadi percuma. Tapi aku selalu ingat, Tuhan saja pemaaf, kenapa aku enggak." Akhirnya aku berbicara membuatnya bangkit dan tersenyum. "Alhamdulillah." Ucapnya. "Kenapa Alhamdulillah?" "Aku bingung menghadapi kamu kalau lagi masang mode diem. Lebih baik kamu ngoceh. Aku jabanin sampe pagi." "Hari ini menjadi hari terakhir kamu mendengar aku ngoceh. Besok-besok uda enggak lagi." Ku colek hidungnya. "Raga uda aku suruh pindahin semua barang-barang aku dari rumah kamu. Tenang aja, makan, minum, cemilan kamu tetap aman kok. Kemarin aku belanja. Sudah kususun dikulkas. Cemilannya juga ditempat biasa. Buah dan sayurnya sudah kucuci. Sudah ku potong juga. Kamu tinggal makan. Jangan males. Aku gak mau penyakit lambungmu kumat lagi." "Kalau tidak mau melihat penyakit lambungku kumat, yasudah, jangan berpisah." Jawabnya cepat. "Bisa gak sih satu hari... aja gak usah berubah jadi batu? Aku uda gak mau lihat wajah kamu lagi. Aku muak sama kamu. Aku kayak uda gak punya alasan lagi untuk tetap bertahan sama kamu. Jadi lebih baik kamu gak usah dekat-dekat sama aku lagi." "Kamu hamil ya?" Gak nyambung. Yang dibicarain apa yang dijawab juga apa. Uda mereng ih otaknya. "Gak. Dan gak akan pernah mau. Jadi jangan berharap. Geser. Aku mau tidur, ngntuk." "Tuhkan bener. Makan dulu lah, nanti sakit." Aku berdecak kesal. Gak tau kenapa semenjak tadi, ngelihat wajah Mas Bagas itu kayak benci banget, dicampur muak ditambah kesal. Gak bisa lama-lama gitu. Dekat dengannya juga, aroma badannya bikin mual. Biasanya enggak, mau belum mandi, sudah mandi, berkeringat, pakai parfume sekalipun aku tetap suka. Beda banget sama kali ini. "Iya udah, awas. Kamu jangan deket-deket sama aku lagi, aku gak suka." Mas Bagas mencebikkan bibirnya, bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan aku. Seperti anak kecil. Kakinya sengaja dihentak-hentakkan ke lantai, supaya kelihatan kalau dia itu lagi kesal. Sungguh menggemaskan. Pengen peluk deh. Tapi lagi marah! Gak boleh ke goda! "Alena... sayang... cintaku... istriku..." Aku yang masih seperti diawang-awang, berusaha menyesuaikan pandanganku dengan arwahku yang masih beterbangan entah kemana. Apa aku mimpi yah? Gak mungkin Mas Bagas memanggilku seperti ini. Aku kembali menutup mataku, menarik selimut dan menyurukkan kepala semakin dalam. Tetapi gagal, karena setelah itu Mas Bagas menahanku. Aku melawannya, sehingga yang berhasil lolos dari selimut tebal tersebut hanya kepala ku saja. Dengan cepat mengecup lembut bibirku, menempelnya lama, sambil memberj sedikit hisapan manja darinya. "Selamat pagi, Alena, perempuan paling cantik dimuka bumi." Sontak mataku membulat, begitu pula bibirku menganga. Sosoknya sudah mengukung tubuhku dengan tubuhnya yang sangat besar. Hingga dibawahnya aku terlihat rapuh dan kecil. Masalahnya bukan itu, melainkan Mas Bagas lagi gak pakai baju, gak pakai celana, gak pakai dalaman juga. Telanjang. Bayangin saja. Cup! "Special morning kiss, for you, Alena." Berulang kali Mas Bagas melakukannya, membuat jantung ku bertalu lebih kencang. Benar-benar kurang ajar. Apa Mas Bagas gak mikirin perasaanku? Bisa saja aku terkena serangan jantung sekarang juga akibat perlakuan manisnya yang super tiba-tiba padaku. "Kok diem? Pipimu juga merah, kenapa? Ada yang salah? Ada yang sakit?" Fix, untuk pertama kalinya, dapat kurasakan tubuhku ingin melebur seketika. Juga saat merasakan kulit-kulit polosnya menyentuhku, membuatku menggelengkan kepala agar pikiran-pikiran kotor diotakku dapat pergi jauh. "Mas, coba deh, kamu berdiri, tapak kakimu nyentuh lantai gak? Aku ragu kalau ini bukan kamu. Bentar---Eh!!! MAS! GAK GITU JUGA DONG!" Demi apapun, tanpa membalas omonganku, Mas Bagas langsung berdiri tegak menghadapku, kutangkap tubuh telanjangnya dengan penuh kaget. Oh, tidak, miliknya juga tiba-tiba seakan menarikku untuk melihatnya. Buru-buru aku membalikkan badan, menjauhkan jangkauan pandanganku dari dirinya. Aku membutuhkan selimut, agar bisa menyembunyikan rasa nyeri dibagian pangkal paha ku. "Gak ada akhlak kamu emang, Mas!" teriakku, kesel sekali aku. Walaupun tubuhnya enak dipandang, tapi gak gini konsepnya. "Malah balik! Lihat dulu, ini beneran aku apa gak? Nanti nyesel loh..." Apaan sih, kenapa tiba-tiba suaranya jadi manja coba! Gak bisa, aku harus pergi, kalau disini terus, bisa-bisa aku terlena dengan melihatnya lagi dan lagi. Mas Bagas menarik ku kuat, seketika malah tubuhku yang menjadi polos, hasil dari keusilannya. "Gak pakai baju juga ternyata. Ayo, kita buat baby yang banyak." Serunya girang. Tolong sadarkan suami gantengku ini. Betapa malunya aku ketika dia menatapku lapar sambil kedua tangannya naik keudara, bergerak mengikuti lengkungan tubuhku. "So sexy." "Orang aku masih pakai dalaman. Siniin selimutnya, Mas!!!" Diatas tempat tidur, aku mencak-mencak kesal. Kedua tanganku menutup tubuhku dengan dua bantal sebagai peyangganya. Dia sama sekali tidak perduli. Aku menatapnya sinis, dan kuputuskan untuk turun kekamar mandi, tetapi dengan sigap Mas Bagasblangsung mengangkat tubuh polosku. Senyuman puas terpampang diwajahnya. "Aku uda pernah lihat kamu lebih polos dari ini. Ngapain malu?" Bisiknya sensual sambil menjilati telingaku. "Kamu ngapain masuk sih?" "Ini kamar ku. Kamu yang ngapain disini? Mas Bagas membawa kedua kakiku mengalung diperutnya. Rasanya sangat menggelikkan, apalagi miliknya yang sudah membesar dan tegang menyentuh pangkal pahaku. Kedua tangannya menepuk-nepuk pelan pantatku. Aku tersenyum, tapi sekuat mungkin menyembunyikannya saat lirikan-lirikan matanya melihatku dengan binar jahil. "Mas itu, sudah digebukin gini, bukannya istirahat malah gangguin aku. Tenaganya kok bisa masih ada sih?" Mas Bagas mengecup ujung bibirku. "Aku sebenarnya bisa membalas apa yang dilakukan Papa. Tapi aku gak mau dan gak mungkin. Tetap saja, aku pasti kalah walaupun aku bisa melakukannya. Sebenarnya tenaga ku benar-benar terkuras habis. Berhubung kamu lemah gemulai gini, kenapa disia-siain? Lumaya sekalian charge." Sebenarnya saat ini rasa ingin menyiksanya lebih besar dari pada memaafkannya. Aku ingin dia tau bahwa aku gak mau diperlakukan semena-mena lagi. Aku ingin dia tau bahwa diposisi ini kami harus saling belajar menerima, baik masa lalu juga masa depan. Gak ada yang perlu disesali tentang kejadian kemarin. Hanya saja kita tidak perlu mengulangnya, menjadikannya pelajaran agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ara dan Anin masih mengirimi aku pesan, dari semalam, tanpa henti. Aku baru tau bahwa Anin sebenarnya naksir Rio. Anin gak suka aku dekat sama Rio, makanya dia terpancing sama omong kosong Sarah. Ara sebagai team heboh, ikut-ikut saja. Ara kira apa yang dikatakan Sarah itu benar, ternyata tidak. Ara dan Anin sudah menyesal. Mereka menjelaskan semuanya dengn detail, aku gak tau mereka jujur apa tidak, dan aku memilih mengabaikannua. Setidaknya untuk saat ini. Beni yang gak tau masalah apapun ikut melontarkan maaf atas tindakan dan perkataan tidak enak dari Ara dan Anin. Aku mengiyakan, tetapi tergantung cuaca membuat Beni ketar ketir sendiri. Dan Rio, laki-laki itu masih belum terlihat. Pesan yang biasanya datang darinya kini tidak ada satupun menyapa. Telfon juga begitu. Aku tidak begitu perduli, hanya saja ada perasaan tidak enak dan bersalah karena suda membohonginya. Membayangkannya membuat aku lelah. Aku menunduk, menjatuhkan dahiku ke bahu lebarnya. Memasrahkan diri atas apa yang sudah sudah terjadi kepada Tuhan. "Kenapa, hm?" Aku menggeleng. Sudahlah, memberontakpun aku sudah tidak sanggup lagi. Kulit dinginnya terasa menenangkan perasaanku. Kedua tanganku langsung mengalung dilehernya, ku kecupi d**a bidangnya. Dan dia tertawa geli. "Gini katanya mau cerai? Manja banget." Mas Bagas mengeratkan pegangannya di pantatku. Kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri. "Manja banget, sayang." Ucapnya. Untuk pagi ini, kembali aku mengucapkan ribuan terimakasih kepada sang pencipta, juga memohon untuk hari-hari selanjutnya, agar Mas Bagas masih mau menyambut ku, memeluk ku, mencium ku serta membawaku kepusaran dunia yang lebih menyenangkan dari sebelumnya, ketika saat itu tiba, aku siap mengikutinya, gimanapun dan apapun kondisinya. Masalah cerai, biarkan Raga yang memberitahunya sendiri. Semoga saja tidak berakhir adu jotos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN