"Gak jadi cerai nih ceritanya? Padahal aku uda semangat banget mau ngenalin temen-temen ku yang lebih ganteng, lebih baik, lebih penyayang ke Mbak Alena. Lumayan tau, Mas, bibit bobot bebetnya sama kayak kita. Sudah teruji klinis."
Mas Bagas melemparkan satu gumpalan tisu kewajah Raga, membuat Raga terbahak-bahak dibawah tatapan tajam Mas Bagas. Akhirnya Mama lebih dulu menyerah, merasa kasihan melihat anak sulungnya yang sibuk memohon agar perceraiannya segera dibatalkan. Padahal Papa uda gemes banget, pengen Mas Bagas mohon-mohon dulu, nangis dulu, bila perlu sekalian bersujud, agar Mas Bagas tau bahwa pernikahan tiba seremeh itu.
"Ku tonjok beneran ya, Ga."
"Nih, mau tonjok yang mana?" Raga menepuk-nepuk pipinya. "Mau kanan atau kiri? Aku jabanin sekarang juga, Mas. Lagian, orang itu kalau uda nikah, di nikmatin, di syukurin. Kan enak, tidur ada yang nemenin, makan ada yang masakin, punya partner susah senang, apalagi kalau pulang kerja, kitanya capek tuh, eh... doi nungguin, behhh sadis. Langsung lenyap gitu capeknya."
"Dih, belajar dari siapa kamu? Kalau tau enak, yasudah, nikah. Jangan taunya ngerusuhin Mama terus." Mas Bagas menarikku, mengecupi pipiku. Membuatku kerisihan, ya kalau mau manja-manjaan jangan disini lah. Kasihan Raganya.
"Lagian siapa yang mau aku rusuhin lagi selain Mama?"
"Gebetanmu, pacarmu, pdkt-anmu. terserah. Biasanya juga banyak yang ngantri tuh."
"Aku sudah insaf, gak mau main begituan lagi. Cukup satu aja, itu pun sering buat modar. Untung cakep." Ucapannya terhenti ketika melihat Mas Bagas mencubit-cubit pipiku. "Bisa gak sih kalian itu kalau mau mesra-mesraan jangan disini, jangan di depan aku. Kan aku jadi pengen. Mana jomblo lagi. Males ah, dari pada disini, mending cabut. Ayyik lebih enak dipandang dari pada manusia-manusia tidak berhati nurani seperti kalian." Tuh kan.
Sebelum Raga pergi, Raga berkata. "Temen gue pada cerita, hal yang paling mereka sesali selama ini adalah, kenapa tidak menikah dari dulu. Menikah itu enak, katanya. Gue juga belum tau pastinya, karena gue pun belum menikah. Tapi temen-temen gue yang uda pada menikah mengatakan kesan pertama yang mereka rasain itu, enak dan menyenangkan. Makanya gue bingung, lo itu kenapa keterbalikannya? Lo seakan gak mau menimatinya. Kasarnya lo itu cuma harus duduk, diem, kerja. Istri lo yang ngelayanin lo. Dua puluh empat jam. Apa sesusah itu, Mas? Apa sesusah itu menyadari kalau lo sudah menikah, sudah punya istri. Bukannya kayak anak ABG yang doyan main sana-sini. Itu mah gue juga bisa. Gue harap kedepannya lo bisa berubah, jadiin pelajaran, tapi jangan diulang lagi." Setelahnya Raga memukul ringan bahu Mas Bagas, kemudian melenggang pergi tanpa mendengar perkataan Mas Bagas lagi.
"Alena." Mengalihkan pandanganku, aku tersenyum lebar. Mas Bagas sesekali mengelus punggung tanganku.
"Ya?" Aku membalas genggaman tangannya.
"Kamu beneran gak buat surat cerainya kan? Aku gak mau."
"Aku juga gak mau, tadi akal-akalan Raga aja. Sarah gimana? Kamu jangan tinggalin gitu aja, Mas. Kalian bersama dengan cara yang baik, begitu pula berpisahnya. Harus baik juga. Jelasin, Mas. Kasih alasan terbaik kenapa kamu pilih aku dari pada dia. Dan sudahi. Aku gak mau melihat kalian saling beriringan lagi. Aku istrimu, kamu suami ku. Kita harus pulang dirumah yang sama. Menetap, bukan hanya singgah." Mas Bagas menatapku teduh, menyingkirkan beberapa anak rambut yang berserakan dipipi juga dahiku. Sama sepertinya, aku pun gak tau bagaimana cara melanjutkan hidup bila tidak lagi dengannya. Aku rela memberi segalanya, asal dengannya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Kalau ditanya seperti itu, tentu saja aku tidak baik-baik saja. Perbuatan dan perkataan mereka meninggalkan luka, bukan hanya fisik tetapi batin ku juga. Sudah terekam, dan akan terulang kembali. Gak mudah, Mas. Kamu lihat aja, badanku lebam semua." Aku menunjukkan tangan dan kakiku. Meringis samar saat disentuh olehnya.
"Nanti coba aku hubungi. Kalau Sarahnya gak mau, yasudah, aku gak bakal maksa."
"Tapi Mas, jangan melontarkan kata-kata yang membuatnya merasa masih bisa mengharapakanmu ya. Aku minta tolong." Mas Bagas mengangguk.
Hari demi hari rasanya semakin menyenangkan, kurasakan semuanya berbalik terbalik dari satu minggu yang lalu. Kali ini aku sungguh bersyukur kepada sang pencipta, akhirnya aku diberi kebebasan untuk menikmati kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
Seperti biasanya, aku menyiapkan seluruh keperluan kerjanya. Mas Bagas tak ragu lagi menyuruhku untuk memasuki hal-hal pribadinya. Lihat saja sekarang, aku sedang memilih dalamannya, banyak sekali, hingga aku bingung mau pilih yang mana.
Tiba-tiba saja pipiku merona, ntah apa yang terjadi, semuanya terjadi begitu saja.
"Sudah, Alena?"
"Engg... Mas, hehehe, bingung. Kamu biasanya pakai yang mana?"
Mas Bagas tertawa, surai hitam dan lebatnya menitihkan tetesan-tetesan air, mengakibatkan bahu kokohnya kembali basah. Gagah sekali, separuh tubuhnya yang hanya ditutupi oleh handuk putih selutut mampu membuat tubuhku merasa panas.
Mas Bagas berjalan kearah ku, berdiri tepat disamping ku. Tangan kanannya dijadikan penyangga tubuhnya serta tangan kirinya ikut memilih dalamannya. Aku kembali memasuki kukungan posesifnya, sepertinya sengaja, karena Mas Baga memiringkan kepalanya berlawanan dari jangkauan ku, membuat lehernya menyentuh ujung bibirku.
"Kamu sukanya warna apa?"
Aku masih diam.
"Alena, kamu sukanya warna apa?"
Tanyanya lagi.
Mungkin karena merasa aku tak kunjung menjawabnya, Mas Bagas menjauhkan wajahnya dariku, memandangku sejenak lalu mengecup bibir.
Cup!
Aku terkejut, ragu-ragu aku menatapnya kembali, "Kamu sukanya warna apa?"
"P-pink" jawabku gugup.
"Yang bener aja, Al, gak mungkin aku make dalaman warnanya alay begitu."
Eh, tunggu, apa ini? Alay gimana maksudnya? Pink itu warna manis, menambah kesan hangat dan nyaman.
Gimana, Mas?" aku mengernyitkan dahiku. Tatapannya sudah berpindah, menelusuri dalamannya, aneh sekali, Mas Bagas yang mau pakai, kenapa jadi nanya warna kesukaanku.
"Hitam atau biru dongker?"
"Dongker." Ucap ku singkat.
Dengan cekatan Mas Bagas mengambil celana dalamnya, tanpa ku sangka Mas Bagas memakainya tepat dihadapanku. Bayangkan saja sekarang suami ganteng ku itu lagi seliweran sana-sini cuma menggunakan dalamannya, tanpa rasa malu.
Oke, kugaris bawahi, tanpa rasa malu.
Ya Tuhan...
"Pakai lagi handuknya, Mas!" sewotku, jujur saja, sekarang sisa-sisa oksigen pada paru-paruku mulai menipis, sesak sedang menerpaku karena ulahnya.
"Mas Bagas."
"Ngapain dipake? Kamu sudah pernah melihatku lebih polos dari ini." ucapnya santai.
Aku berjalan kearahnya, membantunya mengancingkan kemejanya, sedangkan Mas Bagas sibuk memakai celananya.
"Pelan-pelan, Mas. Gak bakal ada yang nyuri celana kamu." sekarang tinggal memakai sabuknya.
"Dasi ku mana?"
"Diatas meja riasku." kini aku beralih mengurus diriku, hendak mandi tetapi-
"Gak ada."
Perasaan emang disitu deh aku menaruhnya. "Cari lagi, Mas. Aku mau mandi dulu."
"Gak ada, Al."
Aku menghembuskan nafas pelan sambil menutup kedua mata ku. Emosi ku semakin memuncak ketika melihat ranjang sudah tak berbentuk lagi.
"Mas Bagas, aku bilangnya dimeja rias, bukan-"
"Dapat! Hehehe"
Hehehehe, nyengir aja taunya.
"Lain kali nyari itu pake mata, bukan mulut."
"Jangan marah-marah, masih pagi."
Dih, apaansih, kan aku gini juga karena dia. "Untung kamu ganteng, kalau gak..." sengaja ku gantung, supaya Mas Bagas penasaran.
"Kalau gak apa?" tuhkan, Mas Bagas mengalihkan atensinya dari dasinya.
"Gak jadi."
"Jadilah, sekarang? Masih ada satu jam lagi kok, lagian kamu juga belum mandi."
Hah? Ini Mas Bagas ngajak melakukan yang iya-iya lagi atau otakku yang uda terlanjur berpikiran jorok?
"Mending kamu keluar, Mas, aku mau mandi dengan tenang dan aman."
"Mau keluarnya didalam atau diluar?"
Heh! Pagi-pagi uda nyari perkara dia.
"Mulutnya bisa diem gak, Mas!" gak niat membentak, tapi uda keburu kesel, jadi terdengar gitu.
"Jangankan diem, untuk yang lain juga bisa. Bagian mana? Atas atau bawah?"
Beneran nanya deh, sejak kapan sih suami gantengku ini banyak bicara? Uda gitu, kata-kata yang keluar pada gak beres semua.
Perkiraan ku tidak meleset sama sekali, Mas Bagas menungguku diruang keluarga. "Kenapa masih disini, Mas? Sudah mau jam sepuluh. Nanti kamu telat."
"Berangkatnya sama kamu aja. Buru. Uda cakep, gak usah ngaca lagi."
Untuk pertama kalinya kami pergi kerja bersama. Rasanya menyenangkan. Dari dulu aku paling suka melihat laki-laki yang kalau lagi bawa mobil itu pembawaan santai, tidak grasak-grusuk apalagi marah karena macet atau yang lainnya. Mas Bagas cenderung tenang. Apalagi saat melihat tangan kanan dan kirinya bergerak cepat memutar stir saat ingin memarkirkan mobil, menambah kesan sexy yang semakin membuatnya menawan.
"Mas, aku, aku gak berani. Aku takut. Aku tunggu disini aja ya."
"Ngapain takut? Perusahaan ini milikmu. Mereka yang seharusnya takut sama kamu. Turun."
Aku mengangguk pasrah. Ketika turun dari mobil, Mas Bagas langsung menggandeng tanganku. Memastikan bahwa aku akan selalu baik-baik saja lewat gandengannya.
Jujur saja, untuk membalas tatapan palsu dari merekapun aku seperti tidak tahan lagi. Bagaimana cara jahat mereka memperlakukan ku terulang kembali. Aku berusaha menepisnha, tetapi semakin aku berusaha, maka semakin sesak yang kurasa.
Siapapun yang kujumpai, akan tersenyum, mamandangku binar. Mereka kira aku bodoh, aku tau itu semua palsu. Mereka hanya sedang berusaha mengambil hatiku kembali.
Aku mengetuk pintu ruangannya, setelah mendengar suaranya, baru aku melangkahkan kaki ku masuk. Mas Bagas sudah duduk dibalik kursi kebesarannya, setelah tadi kutinggal ke toilet sebentar.
Dulu sering sekali aku ke sini, setiap pulang sekolah ataupun ketika merasa bosan dirumah. Setelah menjadi istri Mas Bagas aku mengurangi jangkauan ku terhadap ruangan ini, hingga ini menjadi kunjungan kedua ku setelah tiga tahun belakangan ini.
Tidak banyak yang berubah, mulai dari sofa, tatanan buku serta barang-barangnya. Hanya beberapa foto yang dulunya terpampang gambar-gambar hasil karyanku, digantikan oleh piagam-piagam pernghargaan. Indah sekali, sepertinya aku rindu, rindu dengan sang empunya.
"Kenapa masih ada fotonya Papa, Mas?"
"Mau diganti sama fotomu?"
"Nggak lah, emang aku siapa?"
Aku mengedarkan pandanganku lagi, kemudian berhenti ketika Mas Bagas menyuruhku untuk mendekat padanya.
"Duduk disana." Tunjuknya pada salah satu kursi empuk yang bersebrangan dengan mejanya, "Atau disini?" setelah itu memukul pahanya.
"Disini aja, supaya enak ngobrolnya" Mas Bagas menarik tubuhku, menghempaskan ku atas pahanya.
"Modus banget." cibirku.
Mas Bagas mengunci pintunya melalui remote control. Kedua tangannya sudah memeluk pinggang ku dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher ku. Deru hangat nafasnya sangat teratur membuat ku juga ikut membalas pelukannya, mengusap punggungnya serta mencuri satu kecupan disisi kepalanya.
Sayang sekali aku kepada lelaki bernama Bagas Dirgantara ini.
Cukup lama kami saling berdiam diri, saling menikmati keadaan sekitar sampai Mas Bagas melepas pelukannya lebih dulu. mencium dahiku lalu turun kebibir merahku. Aku yang diperlakukan semanis itu hanya bisa tersenyum, menangkup pipinya lalu menyisir rambut berantakannya.
"Lusa kamu mau ikut aku keluar kota?"
"Ngapain, Mas?"
"Mau survei perusahaan yang disana."
"Dimana emang?" jari-jariku mulai nakal, membuka satu-persatu kancing kemejanya.
"Bali. Sebenarnya hanya tiga hari, tapi lumayan sisanya dijadiin untuk liburan." Mas Bagas memegang kedua tanganku, bibirnya maju menghisap leher jenjangku.
"Engh... jangan kasih tanda, Mas." ucapku. Untung saja Mas Bagas mengerti, hisapannya berubah menjadi kecupan, mengelilingi leherku. Aku membawa tangannya memeluk pinggangku lagi, sedangkan tanganku masuk menelusup kedalam kemejanya, mengelus dadanya hingga berhenti diputing. Katakan saja aku nakal, tak apa, suamiku sendiri kok.
Sama denganku, Mas Bagas mulai membuka kancing kemeja ku, bibirnya mencium bibir ku, sangat pelan dan lembut.
Ku rasakan tidak ada kekasaran ataupun kecepatan yang sampai aku tidak bisa mengimbanginya. Mas Bagas menggigit bibirku, aku berlenguh membuka mulut, mempersilahkan lidahnya masuk membelit lidah ku. Suara cecapan terdengar mengisi kekosongan kami, aku menarik tengkuknya demi memperdalam ciuman kami.
Merasakannya, seperti ada ribuan kupu-kupu sedang bertebangan diperutku, mungkin tubuh ku akan meleleh kelantai apabila tidak duduk dipangkuannya.
Aku membutuhkan oksigen lebih maka ku pukul dadanya, secara tidak rela Mas Bagas harus melepaskannya. Dahi kami saling menyatu begitu pula hembusan nafas kami saling bersahut-sahutan.
"Aku ikut kamu aja, Mas." jawabku, walaupun harus melewati banyak tahap demi memberinya jawaban.
"Atur nafas dulu, baru ngejawab."
Aku mencebikkan bibirku, tadi aja main nyosor duluan, sekarang malah sewot.
"Bibirnya, Alena."
"Sewot banget kamu, Mas."
Ibu jarinya membersihkan lipstikku yang berserakan, melupakan bibirnya yang tidak jauh berbeda dari bibirku. Aku males banget membersihkannya, jadi aku diem aja, menikmati pemandangan paling menawan dimuka bumi ini. Aku mencuri satu kecupan lagi pipinya, setelah itu diem ditempat, merasakan jemarinya menyentuh wajahku penuh sayang.
Mas Bagas tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Ntah aku yang terlalu percaya diri atau itu hanya dibuat-buat, dapat kulihat seperti ada secercak kebahagiaan dibola mata indahnya, membuatku yakin bahwa Mas Bagas-ku beneran sudah berubah.
"Tapi Mas, apa kamu tidak ingin mengatakan yang sejujurnya kepada mereka? Saat aku lewat tadi, beberapa dari mereka, ada yang masih saja memusuhi ku, walaupun masih lebih banyak yang mau tersenyum pada ku. Ketertakutan ku semakin banyak, Mas. Aku cuma gak ingin dipandang remeh lagi. Boleh aku minta tolong buat kamu bantu jelasin kemereka?"
Tatapannya mengunci ku, binar bahagianya seakan meluap begitu saja. "Apa yang harus ku jelaskan pada mereka? Yang menjalaninya kita, yang merasakannya juga kita. Mereka semua gak ada sangkut pautnya sama kita. Biar kan saja. Tetapi untuk membalasnya perlakukan dan perkataan mereka tentu saja aku ingin, bukan berbentuk penjelasan, tetapi hukuman yang akan membuat mereka merasa rugi karena sudah memperlakukan kamu sehina itu."
Aku mengancing kembali kemejanya, kemudian tersenyum. "Memang hubungan ini hanya ada kita, Mas. Tapi bukan berarti suatu saat nanti kita tidak membutuhkan mereka atau orang lain.Tetap saja, kamu harus menjelaskannya. Secara gak langsung kamu juga ikut membersihkan nama Sarah. Kasihan, dari kemarin diserang terus. Instagramnya aja sampai menghilang. Kamu bayangin aja gimana sakitnya jadi dia."
Semalam aku iseng buka i********:, langsung mendapati beberapa dari mereka yang secara terang-terangan memaki Sarah. Melontarkan kata-kata tidak baik juga meng-edit wajah Sarah sejelek mungkin. Sesama perempuan, aku dapat merasakannya. Malu bercampur sedih. Apalagi kini Sarah hidup sendiri, menyaksikan secara langsung Papa dan Mamanya diseret paksa kekantor polisi, betapa merananya hidupnya. Satu jam kemudian, aku kembali berselancar di i********:, dahiku berkerut melihat akun Anya baru saja mengunggah kata-kata makian untuk Sarah, yang berujung menginformasikan bahwa akun i********: Sarah telah menghilang.
"Sepulang dari Bali, aku akan menjelaskannya, kepada Sarah juga. Aku janji akan memperbaikinya kembali. Secepatnya. Tapi kamu harus janji, kamu bakal selalu menamani aku. Kapanpun dan dimanpun. Boleh, sayang?"
Aku mengangguk. "Boleh dong. Aku juga bakal menjelaskannya kepada Rio, supaya Rio tidak salah faham dan sakit hati."
Tanganku yang tadinya sudah sampai pada kerahnya, ingin merapikannya kembali terhenti. Mengurungkan niatku turun dari pangkuannya.
Memilih menggodanya dengan meraba bagian bawahnya yang ternyata sudah siap untuk ku mainkan. Aku tersenyum, Mas Bagas juga. Saling memberi kode lewat tatapan, dan akhirnya kami kembali hanyut dalam pusaran kenikmatan walau harus lebih pelan agar desahan dan lenguhan tidak terdengar oleh yang lainnya.