Chapter 14

1920 Kata
Seharian ini aku sibuk mengurusi barang-barang apa saja yang akan kami bawa besok. Senang sekali rasanya ketika Mas Bagas mempercayakan semuanya padaku. Tetapi gak senang juga rasanya ketika sosoknya hanya duduk berdiam diri sambil memandangi ku mondar-mandir di hadapannya. "Mas, jangan diliatin terus dong!" Aku berucap tanpa melihatnya sedikitpun, "Kalau gak mau bantu, mending Mas mandi, bau asem kamu tuh. Aku gak mau ya di peluk-peluk kamu, kalau kamu masih belum mau mandi juga." "Males." Jawabnya acuh. Aku mendengus kesal, memicingkan mataku sambil manaik-naikkan kedua alis ku seperti menantangnya. "Kenapa?" "Mau ngajak Mas berantem." "Yaudah yuk." Lah, mau-mau aja dia, padahal aku cuma bercanda. "Tapi berantemnya diranjang, kalau dilantai gak seru, keras. Diranjang kan enak, empuk." Sambungnya lagi. Dapat terdeteksi pipi ku berubah warna menjadi merah dan sialnya itu menjalar ke telingat , aku menangkup pipi, lalu memukul-mukulnya pelan. Bisa-bisanya aku mengingat kejadian kemarin sewaktu dikantor, bagaimana Mas Bagas menggagahi ku tanpa henti dengan suara yang tak habis-habisnya mendesah menyebut namanya dengan lantang. Oke, jangan lupakan, bekas gigitannya masih terpampang rapi didaerah d**a ku. Tanpa sengaja aku menyentuhnya dan tersenyum, dihadapan cermin ini dapat ku lihat wajah ku penuh kebahagiaan. Tak berapa lama aku merasakan ada dua lengan besar memeluk ku dari belakang, ketika aku membuka mata, mendapati Mas Bagas yang menyembunyikan wajahnya dibalik leher ku. Senyuman ku tambah mengembang, saat Mas Bagas menjatuhkan dagunya pada bahu ku, hingga kini tatapan kami saling mengunci satu sama lain. "Gak konsisten. Katanya tadi gak bakal mau aku peluk-peluk, buktinya ini apa?" Mas Bagas tersenyum miring, setelah itu menghadiahi tengkuk ku beberapa kali dengan kecupan-kecupan seringan bulu, membalikkan tubuh ku lalu mecium bibir ku pelan. Mas Bagas benar-benar ahli dalam membuat ku mabuk, hanya beberapa menit saja, Mas Bagas mampu membuat ku merasa mabuk kepayang, bawaanya seperti ingin disentuhnya lebih dari ini. Mas Bagas menarik bibirnya tanpa persetujuan dari ku lalu memandang wajah ku tanpa henti, sampai membuat ku saling tingkah sendiri. Terapi setelah itu bisikan dan perlakuannya membuat sekujur bulu roma ku merinding. "Lets play, Alena." Mas Bagas meniup telinga ku, kemudian menjilatnya secara sensual. Aku mematung, kedua tangan ku mengepal kuat menahan gejolak yang diberinya. Akhirnya Mas Bagas benar-benar menerima tantangan ku, berantem diatas ranjang ternyata pilihan yang tidak terlalu buruk. Sensasinya sangat luar biasa, apalagi saat ku lihat Mas Bagas kembali menikmati tubuh ku dengan lahap dan penuh kegairahan. Aku terbangun setelah ku rasa ada satu telapak tangan mengusap-ngusap wajah ku dengan agak kasar, aku berlenguh sambil mencoba mencari cara untuk menjauhkan sentuhan tersebut, tetapi yang ada usapannya malah semakin menjadi-jadi. "Astaghfirullah, Alena." Suaranya seperti tidak asing, tapi aku masih mencoba tidur kembali, mengabaikan keadaan yang menganggu tidur lelap ku. Capek. Mas Bagas mainnya gak pakek mikir. Di gas terus sampai capek sendiri. "Alena." Panggilnya lagi. "Kok bisa sih Mama punya menantu kebo kayak kamu." Akhirnya usapan itu berhenti, disusul dengan suara berat yang selalu menjadi penyejuk hati ku. "Jangan digangguin, Ma, kecapean dia." Ma? Mama? MAMA? Aku langsung terduduk dan mata ku langsung terbuka sempurna, gimana bisa aku melupakan suara Mama. "Ma..." Mama membalikkan badannya menghadap ku, dapat ku lihat perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Ckckckck, kamu habis ngapain sih, Alena? Barusan itu kamu tidur kayak orang mati." Ucap Mama gemas. Aku memandang Mas Bagas yang juga menggelengkan kepalanya, seperti mengikuti Mamanya. "Lihat ini..." Mama menunjuk semua baju yang berserakan dilantai kamar kami. Astaga, baju-baju yang tadinya sudah ku susun menjadi beberapa bagian kini tinggal kenangan. Padahal tadi aku sudah mengingatkan Mas Bagas agar tidak menjatuhkannya ke lantai, tetapi tetap saja lelaki ganteng itu ngeyel. "Besok kalian flightnya pagi. Sekarang sudah mau maghrib, dan belum beres juga?" "Tadi uda Alena susun, Ma, untuk dimasukin ke koper, Mas Bagasnya aja yang gak sabaran." Jelas ku. "Dih, ngeles aja." Mas Bagas berucap, sambil memasukkan satu potong roti kedalam mulutnya. "Mas..." "Marahin aja, Ma." Dan Mas Bagas ikut memanaskan suasana. "Kok aku? Kan kamu yang tendang." Sungutku tidak terima. Apaan sih dia. Gak jelas banget. "Udah tau salah, gak mau minta maaf." Bener-bener minta di hajar. "Salah dari mana coba? Kalau Mas tadi turutin aku untuk nyusunin baju itu ke dalam koper, kejadiannya gak akan seperti ini." Emosiku mulai memuncak dituduh seperti itu. "Tuh, Ma, cengeng dia, digituin aja uda nangis." Aku mencebikkan mulut, membalikkan tubuh agar memunggunginya. Andai sekarang aku melupakan tentang kami yang baru saja melakukan proses pembuatan Bagas Junior-katanya-, pasti aku bakal menimpuk kepalanya pakai bantal sampai Mas Bagas sendiri yang meminta ampun. Mama hanya terdiam, memandangi kami secara bergantian. Tiba-tiba, "Emangnya kalian baru selesai ngapain? Kok main tenda- Alena!! Alenanya gak pakai baju, Gas? Kamu apain dia?" Teriak Mama heboh. Mama berjalan kearah ku, kemudian menyentuh dahi ku, "Kamu apa yang sakit, Nak? Diapain sama Mas Bagas? kok kamu ditendang?" Mas Bagas memukul dahinya, mendengus kesal melihat tingkah berlebihan Mamanya. "Bagas sama Alena baru selesai memproduksi cucu untuk Mama, ya jelas lah hasilnya jadi berantakan begini." Mama langsung menjauhkan tubuhnya, kemudian dengan santainya meninggalkan ku dan Mas Bagas yang masih saling berselisih tatapan. "Oohh.... kalau itu sih gapapa, sering-sering ya. Ntar Bibi aja yang Mama suruh ngeberesinya. Lanjut-lanjut. Anggap aja Mama gak ada dirumah ini. Yang banyak, lima, sepuluh, dua puluh... pokoknya yang banyak." Buset, ini Mama pengen punya cucu atau pengen buat team kesebelasan sekaligus cadangan-cadangannya? Banyak bener, Mas. Mas Bagas berjalan menghampiri ku, lalu memeluk ku, menenggelamkan tubuh mungil ku kedalam tubuh besarnya. Aku diem aja, males banget mau peluk balik. Setelah melepasnya, Mas Bagas mengangkat ku menuju kamar mandi, masih kondisi tubuh tanpa memakai satu helai benang apapun, lalu meletakkan ku kedalam bathub yang masih kosong. Mas Bagas bangkit untuk mengisi airnya dan meletakkan dua bath boom kedalamnya, kemudian duduk diatas kloset demi menunggu air hangat tersebut menenggelamkan seluruh tubuh ku. Aku menengadahkan kepala ke atas sambil menutup mata. Nikmat sekali rasanya ketika tubuh letih begini, dimanjakan oleh hal-hal seperti ini. Air hangatnya semakin lama semakin menyembunyikan tubuh telanjang ku, Mas Bagas kembali bangkit dari duduknya lalu berhenti disamping ku dan mengecup dahi ku singkat. Membuat ku refleks membuka mata, manis sekali. "Terimakasih, Mas Bagas." Mas Bagas tersenyum tipis kemudian meninggalkan ku dengan hati yang berbunga. Benar saja, setelah menghabiskan hampir satu jam di kamar mandi, ketika aku keluar, kamar sudar tertata rapi. Baju-baju yang tadinya berserakan dilantai, sudah masuk kedalam koper. Tinggal pakaian dalam saja, lumayan lah, gak bikin capek lagi. Tidak ingin membuang-buang waktu dan membuat Mama menunggu, buru-buru aku memakai baju, memakai bedak dan mencepol rambut asal-asalan. Dan ketika keluar kamar, aku langsung di sambut dengan suara berisik dari Raga dan seorang perempuan yang ku yakini itu bukan Mama. "Pacar baru Raga, Al." Ucap Mas Bagas kuat, membuat Raga dan wanita itu terkejut. "Enak aja Mas ini, mana mau aku sama dia, menang ganteng doang. Otaknya separuh." Sangkalnya. Raga memutarkan bola matanya malas, menatap jijik wanita yang belum ku ketahui namanya itu. Mas Bagas berdiri dari duduknya, merentangkan ke dua tangannya, menyambut tubuh ku dalam satu pelukan singkat. Lalu mengecup dahi ku. "Namanya siapa?" Tanyaku yang kini sudah duduk di samping Mas Bagas sambil mencomot satu potong kue lapis dari temennya Raga. "Hm, enak..." Seru ku. "Jane, Mbak." Wanita itu lebih dulu membersihkan tangannya, lalu mengulurkannya kearah ku. "Alena, istrinya si ganteng ini." Tunjuk ku pada Mas Bagas, Jane mengulas senyumnya. "Ini enak... kamu buat sendiri ya?" "Iya, Mbak. Lumayan ngilangin gabut." "Berarti gak jadi sama Ayyik, Ga." Ujar Mas Bagas. "Wesss... tentu saja jadi. Ayyik satu-satunya di hati ku. Aku harus bilang berapa kali sih, Mas, ini temen ku bukan pacar ku. Ogah banget aku pacaran sama dia. Lagian dia uda pacar. Ya kan, Jane?" Jelas Raga. "Jane sudah punya pacar?" Tanya Mama. "Sudah Tante, tahun depan uda mau naik pelaminan." "Yah... Tante kira belum. Kalian berdua cocok kok. Tante belum pernah lihat si Ayyik-Ayyik ini. Kalau Tante suruh bawa ke rumah, gak pernah mau. Gak tau Raganya yang gak ngajak, atau Ayyiknya yang gak pernah mau." Dimanapun dan kapanpun Mama selalu sibuk di dapur. Ada aja gitu yang mau diolah. Untung aku selalu stock bahan-bahan makanan, jadi Mama gak perlu sibuk-sibuk belanja dulu. "Ayyiknya gak mau, Ma. Ketemu aku aja bawaannya kabur, apalagi aku ajak ketemu Mama. Susah, Ma, dapetinnya. Aku masih usaha ni, Mama doakan dong." "Mama bakal selalu mendoakan anak-anak Mama. Tanpa kamu minta juga bakal doakan, selalu. Makanya kamu itu jangan usil kalau ketemu dia. Disayangin adeknya, jangan bikin dia risih. Adekan kamu kan?" Raga mengangguk. "Adek-adekan, Tante." Ledek Jane. Aku, Mas Bagas dan Mama tertawa sedangkan Raga sudah memperlihatkan wajah masamnya. "Dah ah, dari tadi kena terus. Tau gitu tadi aku langsung pulang ke rumah, gak singgah ke sini dulu. Besok aku anter ke Bandaranya. Jam delapan, kan?" "Pundung dia, Al." Ucap Mas Bagas kepadaku. Aku hanya menggeleng, takut beneran terjadi. "Gak pundung, Mas. Aku cuma lagi nyusun strategi ni. Mudah-mudahnan Ayyiknya beneran mau. Karena laki-laki itu gak boleh omong doang, apalagi omong kosong tanpa bisa membuktikan. Awas aja, kalau beneran Ayyik mau sama aku, gak bakal ku lepas. Kalian jadi saksinya." Lantas Raga bangkit, menyambar kunci dan dompetnya dari atas meja. "Mau kemana lo?" Tanya Jane cepat. "Pulang." "Anterin gue dulu lah. Enak aja." Dengan setengah berlari Jane menyusul langkah cepat Raga. "Tante, Mbak Alena, Mas Bagas, kita pulang dulu ya. Bantu doain, semoga Ayyik beneran mau sama Raga. "AMIN." Seru kami bersama-sama. Setelah shalat subuh, kami masih mempunyai banyak waktu luang, tak ingin menyia-nyiakannya, aku dan Mas Bagas menyempatkan diri untuk sentuh-senyuhan, kelon-kelonan, peluk-pelukan, cium-ciuman. Kami berdua seperti anak remaja yang pertama kali merasakan jatuh cinta. Mulai saling memperhatikan, saling bercerita, kamu yang salah, aku yang minta maaf, sedikit posesif dan saling bucin satu sama lain. Kebayang gak sih nikmatnya gimana? Mungkin dulu aku sangat membenci orang-orang seperti itu, tapi ternyata rasanya tidak seburuk itu, malah semakin menyenangkan. Bagi kalian yang belum merasakannya, ayo coba. Aku jamin, tidak akan menyesal sama sekali, dan tentu sana pasti bikin nagih. Seriusan deh. Seperti tidak ada habis-habisnya, buktinya saat ini tangan Mas Bagas mulai bergerak nakal masuk kedalam celana ku, memukul-mukul kecil p****t ku lalu meremasnya. "Al, kenyel banget. Sedep. Gak beda jauh sama yang diatas." Ucapnya gamblang. Aku mendengus geli. "Semua aja Mas bilang sedep. Aku bukan makanan tau." "Kamu kan makanan ku, harus dilahap setiap hari. Supaya apa?" Sebelum melanjutkan ucapannya Mas Bagas menggigit telinga ku. "Membakar kalori, karena berkeringat. Mengurangi stres, tidur jadi lebih nyenyak, meningkatkan hormon. Dan yang paling utama, mengurangi risiko kanker prostat bagi laki-laki. Makanya aku mau makan kamu setiap hari. Supaya semakin mesra dan sehat." Balasnya jumawa. Uh gemes. "Itu mah maunya kamu." "Kamu gak mau, Al?" "Emangnya aku bisa nolak?" Ku kecupi seluruh permukaan kulitnya yang terlihat maskulin. Tak lupa menggoda jakunnya lewat lidah ku. "Kayaknya jakun mu bakal jadi fetish ku deh, Mas. Suka banget. Apa lagi kalau kamu lagi minum, pasti naik turun, kesem-sem sendiri aku lihatnya." "Wah, berarti kamu gak suka punya ku? Sedih..." "Punya mu? Emangnya ada yang lain?" Tanya ku tak mengerti. Dan setelah mengatakan itu, Mas Bagas membawa tangan ku, membimbingnya untuk menangkup miliknya yang tersembunyi oleh celana. "Yah... cemburu dianya, Al." Aku tertawa. "Apa sih, Mas. Receh banget." Tawa ku reda saat tangannya mulai menyelinap masuk, menyentuh milik ku lalu mengelusnya. "Jangan, Mas. Kita gak punya banyak waktu. Raga sudah mau otw. Aku gak mau dia menunggu. Kasihan." Mas Bagas menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah. Tapi di Bali kamu gak boleh larang-larang aku. Aku bebas main sama kamu, pagi siang sore malam. Kita cetak cucu yang banyak buat Mama, supaya Mama senang, dan kamu juga ada temennya dirumah." Aku mengangguk setuju. Gak mungkin aku menolaknya, sedangkan selama ini aku sangat menginginkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN