Untung saja Mas Bagas masih mampu menahan hasratnya, sebab lima menit setelah acara deal-dealan itu terjadi, Raga datang dengan hebohnya. Suaranya yang khas menggema diseluruh penjuru rumah, membuat kami berdua kaget, mau tak mau menyambutnya.
"Good morning, pasutri yang sedari tadi saya panggilin, tapi gak denger-denger juga. Sudah siap bulan madunya? Gue request ponakan-ponakan yang gemes ya, yang banyak. Mau cewek atau cowok, gue siap-siap aja." Ucapnya riang, lantas mengambil tas yang sedang ku pegang, dan membawanya masuk kedalam mobil. "Mbak, jangan lupa, pake kado dari aku kemarin. Itu aku carinya susah payah loh. Apalagi ini bulan madu kalian yang pertama." Raga mengedipkan sebelah mata. Membuat Mas Bagas bergidik ngerti melihatnya. "Supaya ada kenang-kengannya, Mbak." Tambahnya.
"Aku maunya cowok dulu, Ga, supaya bisa jaga adik-adiknya. Tapi kalau Tuhan ngasihnya lain, gak papa kok, yang penting sehat." Jawab ku pelan.
Raga berjalan cepat, kemudian membukakan pintu mobil pada kursi penumpang bagian belakang. "Apa aja sih, Mbak. Yang penting lucu dan gemes. Aduh gak sabar."
Mas Bagas ikut menyusul, dengan sigap menaruh tangannya dipuncak kepala ku agar tidak terkena benturan. Maka setelahnya bibir ku bergerak mengucapkan terimakasih, walau tanpa suara, Mas Bagas masih bisa memahaminya. "Sama-sama, sayang." Gumamnya pada ku.
Perjalanan dari rumah menuju bandara hanya satu jam. Mobil dipenuhi oleh berisiknya suara Raga yang tak henti-hentinya menasehati kami berdua. Banyak sekali. Mulai dari harus saling menjaga, gak boleh saling berpisah, jangan berantem, jangan berdebat, selalu kasih kabar Mama dan Papa supaya gak khawatir. Sebagai pendengar yang baik, aku dan Mas Bagas cuma iya-iya aja. Bersyukur dong masih ada yang mau memperhatikan.
Sebenernya Mas Bagas hanya dikasih jatah waktu tiga hari, tapi yang namanya juga bos punya privillage lebih, jadi bisa-bisa aja harinya dilebihin menjadi satu minggu. Tiga hari kerja, empat hari bersenang-senang, gaya banget.
Dengan perasaan bercampur aduk , aku membuat list untuk daftar destinasi kami. Supaya tidak ada yang terlewat satu pun. Aku memilih tempat-tempat romantis di Bali, yang cocok untuk kencan dengan pasangan. Baik hotel, lunch, dinner, SPA dan yang lainnya berada ditempat yang terpisah. Aku ingin menjalahi semuanya, satu persatu. Maklum, ini yang pertama kalinya untuk ku.
Sayangnya, ketika aku tau apa yang ku inginkan ini harus merogoh kocek tidak sedikit, bikin aku pusing sendiri. Untung Mas Bagas bagian ikut-ikut saja, tidak masalah, berapapun, Mas Bagas rela. Katanya yang penting aku bahagia.
"Ya gapapa. Aku juga cari nafkah untuk kamu. Kalau bukan kamu yang habisin, siapa lagi?"
"O-okei. Berarti uang Mas itu uang aku, tapi uang aku belum tentu uang Mas." Aku mengerling jahil. Aku sering sekali mendengar kata-kata itu dari teman-teman kantor. Ketika melontarkannya ternyata lebih mengharukan dari pada hanya mendengarkannya saja.
"Iya, Nyonya." Balasnya apa adanya, menimbulkan letupan-letupan api asmara yang semakin lama semakin membara untuknya.
Soekarno-Hatta International Airport - Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Jarak tempuh penerbangan memakan waktu selama satu jam sepuluh menit dari Jakarta ke Bali. Sangat tidak terasa. Rasanya seperti baru saja menutup mata, dan ketika membuka mata langsung sudah sampai di Bali. Apalagi kami berdua berada di bagian Business Class, sungguh mengagumkan sekali.
"Finally, thankyou so much Mas Bagas." Atas jerih payahnya, atas kebaikan hatinya, aku menghadiahinya dengan satu kecupan manis dibibrnya. Singkat, namun mampu membuat Mas Bagas tersenyum menang.
Saat hendak terlepas dari tubuhnya, Mas Bagas menahan pinggangku. Di tengah ramainya orang Mas Bagas membisikkan kata-kata yang mampu meluluhkan hati ku.
"Setelah berbulan-bulan aku menahan untuk tidak menyentuhmu, akhirnya saat itu tiba. Untuk pertama kalinya aku melihat keindahan dunia yang nyata, Alena-ku, tubuhmu, dirimu dan kamu selalu berhasil membangkitkan hawa panas ketika berdekatan denganmu, kamu selalu berhasil membangkitkan rasa gairah ku setiap kali melihat rintikan air dari helaian surai hitammu yang lembut dan harum. Dan kamu selalu berhasil membuat ku bersyukur bahwa aku tidak pernah salah memilihmu, menjadikanmu pujaan hati ku, teman setia ku baik hidup dan mati ku. Mungkin terlambat, tetapi aku tidak berhenti mengucapkan terimakasih kepadamu karena sudah mampu bertahan bersama ku. Aku harap, ini bukan menjadi perjalanan terbaik didalam hidup mu, aku juga berharap bahwa ini bukan harapan terbaik didalam hidupmu. Sebab aku ingin, kita, aku dan kamu, akan menjalani perjalanan-perjalan berikutnya, tanpa henti. Walau sudah pasti akan akan ada atau kerikil yang bertebaran ditengah perjalanan kita, semoga kita berdua akan terus bersama. Sampai nanti, sampai Tuhan yang memisahkan kita."
Untaian-untaian kata manis yang terlintar dari bibirnya yang tidak kalah manis membuat mataku tidak tahan untuk tidak menangis.
"Satu lagi, semoga aku dan kamu selalu diberi kesehatan, umur panjang, rezeki yang berlimpah. Semoga saja," Mas Bagas mendaratkan tangannya diperut ku yang masih rata. "Secepatnya, semoga kita diberi amanah untuk menjaga manusia-manusia lainnya. Seperti kata Raga tadi, bayi-bayi lucu dan menggemaskan, yang bakal hadir didalam perut kamu."
"Amin. Semoga saja, Mas."
Aku menangis didalam dekapan hangatnya. Jika dihari-hari sebelumnya tangisan ku disebabkan oleh putusnya sebuah harapan, kali ini tidak. Tangisan yang menyuruh ku untuk memulai suatu harapan baru, bersama Mas Bagas dan tentu saja calon buah hati kami nanti.
Tanpa rasa capek dan tidak ingin buang-buang waktu, setelah dari bandara kami langsung menuju hotel. Hanya segedar ingin check-in dan menaruh koper, aku dan Mas Bagas bergegas pergi ke La Plancha Bali, ingin menikmati bar tapas Spanyol, tepi pantai dengan gaya Bohemia. Dengan dekorasi penuh warna sekaligus tempat paling eksotis untuk melihat matahari tenggelam atau sunset.
Ternyata aku salah, Mas Bagas masih harus bertemu kliennya sebentar, entah dimana, aku pun gak tau. Maka kesempatan itu aku gunakan untuk membongkar koper dan memilih baju apa yang akan aku pakai.
Aku memilih dress hitam yang panjangnya sampai lutut. Dibagian punggung sengaja dibuat terbuka agar memperlihatkan dengan jelas lekukan tubuh ku yang indah, juga didampingi tali spaghetti dikedua bahunya. Sangat cantik. Sangat indah. Aku menyukainya. Juga terlalu malas merapikan rambut, maka aku membiarkanya jatuh tergerai menyentuh kulit-kulit punggung ku. Baru kali ini aku mengagumi diri ku sendiri. Setelah sekian lama hanya bisa memakai pakaian yang tertutup sebab Jakarta tidak mengizinkannya, akhirnya kali ini tercapai. Pantulan diri ku saja sudah sangat mengagumkan, apalagi aslinya. Mungkin yang melihatnya akan terpesona, termaksud suami ku sendiri. Setelah memastikan semua sudah selesai, aku keluar kamar.
"Alena."
Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara beratnya. Kepalaku menoleh kekanan, melihatnya sedang berdiri menatap ku sambil menggelengkan kepalanya. "Heh, ngapain itu?! Buka-buka!" Katanya cepat. Melempar poselnya ke atas meja, kemudian melipat kedua tangannya didepan d**a. "Jangan cari masalah, Al."
"Siapa coba yang ingin cari masalah? Salam dulu, bukannya main nyelonong masuk aja." Ucap ku kesal karena kaget.
Mas Bagas melipat kedua tangannya didepan d**a, menatap ku nyalang tanpa rasa kagum sedikit pun. "Assalamualaikum. Kamu mau ngapain itu? Kenapa pakai baju itu? Mau pamerin tubuhmu? Baju kekurangan bahan gitu bukannya dibuang malah dipakai."
"Waalaikumsalam, Cantikkan, Mas?" Layaknya seorang princess, dihadapannya, tubuh ku berputar-putar ingin memamerkan dress hitam yang sedang ku kenakan. Rambut ku yang tergarai bebas ku kibas-kibaskan ke arah wajahnya.
Mas Bagas sampai harus memukul kepala ku pelan saat beberapa helai rambut mengenai matanya. "Jelek, ganti, Alena, tubuhmu itu jelek, gak ada bagus-bagusnya. Lemak dimana-dimana aja bangga kamu. Lihat tuh dibetismu, banyak bekas luka. Punggungmu juga, lengannmu besar, leher sama dadamu banyak lebamnya. Gak ada indah-indahnya." Mas Bagas berjalan masuk melewati ku dengan lirikan tajam. Mukanya memerah seperti menahan sesuatu yang aku pun tak tau itu apa.
Redup lampunya ku ubah menjadi terang menderang, ingin menyelediki tubuh ku atas tuduhan sepihaknya. Perut ku masih rata tanpa lemak sedikitpun. Betis yang tadi katanya ada bekas luka terlihat bersih-bersih saja. Punggung ku masih aman, lengan juga, serta bagian akhir leher dan d**a, "Ini mah bukan lebam, Mas, tapi bekas gigitanmu. Lihat baik-baik,Mas." Aku mendongak, memperlihatkan perpotongan leher dan d**a ku.
"Ya resiko." Ucapnya ketus.
"Kok resiko?"
"Tubuhmu bagus, jadi ketagihan."
"Halah, tadi aja katanya jelek, lemak dimana-mana." Mendengarnya aku tersenyum jumawa. Kemarin-kemarin aja sok jual mahal.
Mas Bagas tidak menghiraukan aku lagi. Membuka jas, kemeja dan celana kainnya. Menyisahkan boxer hitam yang tertinggal demi menutup miliknya dibalik sana. Berselang beberapa menit, aku mulai jengah menunggunya mengacak-ngacak koper kami, aku sudah tidak perduli lagi, terserah Mas Bagas mau apa dan ngapain, tetapi yang jelas sekarang aku ingin menikmati udara luar tanpa ocehan menyebalkan darinya.
"Aku pergi sendiri deh, Mas, kamu lama, bosen aku" Aku berdiri, merapikan dress kurang bahanku.
"Sebentar."
"Malesss ah, Mas lama. Dari tadi uda tungguin. Katanya setengah jam, taunya dua jam. Sebel." Baru saja aku ingin melangkahkan kaki ku mengambil slingbag didekatnya, Mas Bagas langsung menaruh satu dress putih panjang dengan handbag dan sepatu berwarna yang sama keatas kepalaku.
"Pakai ini aja. Lebih cantik kalau kamu yang pakai." Mas Bagas menunduk, hendak menyingkap dress ku dari bawah, langsung ku tahan karena sungguh tidak adil rasanya jika di Bali aku harus memakai baju yang tertutup.
"GAMAUUUUUUUUUU." Aku mencebikkan bibir, sedikit mendorong tubuhnya agar menjauh dari ku. Mengambil dress, handbag dan sepatu warna tersebut dari kepala lalu mengembalikan padanya. "Gak mau, mau pakai ini aja, Mas." Rengek ku.
"Tuh tuh tuh, double chinmu kelihatan." Tunjuknya dengan dagunya. "Gak malu? Kalau aku sih malu. mending di hotel aja, goleran."
"Gak ada hubungannya. Lagian double chin-ku gak terlalu nampak kok." Bela ku.
"Lipatan perutmu kelihatan, Alena, apa susahnya sih nurut sama suami? Lagian mereka gak bakal nafsu sama kamu.
"Bagus dong, yang boleh nafsu sama aku itu cuma Mas doang, kan Mas Bagas yang suami aku bukan mereka. This is Bali, Mas. Sayang banget kalau pakaian kayak gini dianggurin begitu aja. Lagian gak bakal ada yang perduli, palingan lirik-lirik sedikit, habis itu udahan. Boleh ya, Mas, ya ya ya..." Mohon ku. Kedua tangan ku merapat di depan d**a, memasang ekspresi sesedih mungkin agar dapat meluluhkan hatinya.
"Gak."
"Ih kok gitu. Jahat banget..."
"Bukan jahat, sayang, aku cuma gak mau-"
"Mas kebanyaan gak mau nya, ngeselin. Aku pergi sendiri aja deh." Langkah kakiku sampai diambang pintu, tanganku hendak memutar knopnya, lantas urung, saat mendengar suaranya kembali menyapa telinga ku.
"Terserahmu, lakukan semuanya sesukamu." Terdengar santai, tetapi seperti menyadarkan ku kalau ada sesuatu yang seharusnya tidak aku lewatkan. "Pulangnya jangan terlalu malam, bawa jaket. Angin pantai bisa bikin kamu masuk angin. Kalau ada apa-apa langsung telfon." Tambahnya.
Tubuh ku otomatis berbalik, melihat Mas Bagas sudah memakai kembali pakaiannya yang tadi, kilatan amarah tidak lagi terpancar dikedua bola matanya. Melainkan Mas Bagas terkesan sangat terburu-buru, sampai kancingnya saja tidak terpasang rapi.
"Mas Bagas..."
"This is Bali, Alena, terserah kamu mau pakai apa aja. Percuma juga aku larang kamu, kamu gak bakal mau denger."
"Bukan gitu, Mas..."
"Senang kayaknya dilirik-lirik, haus perhatian kamu? Sampai omongan ku aja gak kamu dengar lagi. Katanya mau jadi istri yang baik, nurut sama suami, hal gini aja kamu gak perduli, Alena. Gimana seterusnya."
"Masalah baju ini termaksud simple loh, Mas, kenapasih mesti pakai urat?"
Masalah simple gini kenapa harus di perpanjang sih, kayak gak ada kerjaan aja.
"Simple kamu bilang? Ini kamu, Alena, istri ku dan aku suamimu. Aku berhak mengatur kamu kalau menurut ku apa yang kamu lakukan, kenakan, katakan itu gak pantes. Kamu kira aku sudi ngelihat mereka yang nantinya bakal memandang kamu lapar? Gitu aja kenapa kamu gak faham sih?!" Mas Bagas menggelengkan kepalanya, berdecak kesal kearah ku.
Mata ku mulai memanas ketika nada suaranya mulai meninggi. Aku bukan bermaksud begitu. Baju-baju seperti ini sangat sering kulihat pada semua orang-orang yang datang kesini. Aku hanya ingin mencobanya, bukan bermaksud memamerkan tubuh.
"Kalau mau pakai itu silahkan, tapi jangan berada dijangkauan ku." Ucapnya final.
Kepala ku menggeleng mendengarnya, mana mungkin aku menyusuri Bali seorang diri, walaupun tadi sebenarnya males mendengar ocehannya, tetapi aku tidak seberani itu.
"Gak mau, maunya sama Mas aja." Suara ku mulai bergetar, takut akan tatapan tajamnya yang seakan ingin menusuk bola ku.
"Ya kalau mau sama ku, ganti. Jangan pakai itu. Aku gak suka lihatnya. Aku tau ini Bali, aku tau pakaian-pakaian seperti ini akan terlihat biasa saja disini. Bahkan ada yang lebih terbuka dari ini. Tapi aku gak mau, aku gak mau kamu jadi di pandang lapar sama laki-laki lain. Tubuh mu hanya untuk ku, cuma aku yang boleh melihat, menyentuh dan menikmatinya. Apa aku salah?" Jelasnya, Mas Bagas mendekat lalu menarik tubuh ku. "Ganti ya, Alena, sayang... dressnya yang ini pakainya nanti malam aja. Cantik kok, gak ada jeleknya sama sekali. Aku juga suka. Tapi aku juga gak mau membagikan kesukaan ku dengan yang lain. Kamu selalu cantik, pakai apapun tetap cantik. Makanya aku cinta banget sama kamu."
"Maaf, Mas. Aku ganti, tapi tungguin" Ucap ku akhirnya. Aku mengerti, Mas Bagas seperti itu bukan karena tidak suka melihat ku senang. Lantas teramat menyayangi ku membuatnya bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada ku.
Mas Bagas berdehem.
"Maafin ya, Mas."
Lagi, Mas Bagas berdehem.
"Makasih juga, aku tau kamu sesayang itu sama aku."
Mas Bagas mendengus geli. Lincah sekali tangannya kalau sudah urusan ketubuh ku, lihat saja sekarang, Mas Bagas mulai menyingkap dress ku keatas, meloloskannya dari tubuh ku dengan mudah.
"Haus, Al, ngelawan kamu ternyata susah. Makin kesini makin berani sama aku." Ucapnya disela-sela kegiatannya.
"Siapa suruh."
Mas Bagas memakaikan dress putih tadi, merapikannya juga merapikan rambut ku. Mas Bagas sangat telaten, aku selalu suka.
"Bibir mu ini kerjaannya kalau gak berciuman dengan ku, ya berucap asal." Balasnya geram. Mas Bagas menarik bibir bawah ku, membawanya agar menghampiri bibirnya. Kecupan-kecupan manis diberinya, sampai kini berubah menjadi ciuman yang membara, panas dan dipenuhi kegairahan.
Seperti permintaan Mama, Papa dan Raga, kedepannya kami akan sibuk bergulung didalam selimut. Saling berciuman dibawah teriknya matahari yang masuk lewat cela-celan jendela, saling bersentuhan dibawah suara deburan ombak yang menghempas bebatuan, saling mendesah dan melenguh di bawah dinginnya hembusan angin, dan saling mengisi satu sama lain.