Chapter 16

2162 Kata
"ALE!!!!!!!!!! GILA YA, GAK ADA ANGIN, GAK ADA HUJAN. TIBA-TIBA UDA SAMPAI BALI AJA. MANA GAK NGAJAK-NGAJAK LAGI! MALESINNNNM!!!!" Jeritan hebohnya sampai hampir merusak gendang telinga ku. Ada Keira, yang tiba-tiba menghubungiku. "SAMA SIAPA?" "Mas Bagas, Kei. Suaramu bikin telinga ku hampir copot. Berisik tau." Wajahnya yang putih bersinar itu memenuhi ponsel ku. "Emangnya Mas-mu uda luluh? Kok kamu gak pernah cerita? Pasti aku ketinggalan jauh deh..." "Kei, bisa gak sih telfonnya nanti aja? Kamu merusak honey moon ku nih. Aku lagi kelonan nih. Jangan ganggu dong." Dibalik sana Keira memberenggut, menjauhkan wajahnya dari kamera. "Ye... sombong amat. Awas aja kalau datang pas lagi ada maunya. Gak bakal aku ladenin. Bilang juga sama Mas-mu, kalau memang belum siap nikahin anak orang, ya jangan. Bikin rusuh aja. Capek telinga aku kalau kamu ngomongin dia lagi dia lagi." "Kali ini enggak kok, kita berdua uda beneran baikan. Kamu tenang aja, besok-besok aku hubungi kamu bukan karena Mas Bagas lagi, kamu siap-siap aja." "Bohong banget. Kemarin juga gitu, baikan-baikan, tapi pas ditelfon kok nangis? Aku sama kamu tuh uda dari kecil banget, Ale. Aku tau kamu. Jangan bohong. Sedikit-sedikit nangis, sedikit-sedikit ketawa. Gak seru. Sekali-sekali yang banyak dong!" Serunya kuat. Gak ngerti juga sebenarnya. Tapi iyain aja deh, supaya cepat. "Kamu gak percaya, Kei?" "Aku gak pernah percaya sama ucapanmu yang terkadang cuma bikin aku supaya gak khawatir aja." "Beneran kali ini, ya kan, Mas?" Kamera ku berpindah ke wajah Mas Bagas. "Jawab, Mas." "Iya." Ucapnya singkat. Keira membelalakkan matanya. Menutup mulutnya lalu membuang ponselnya jauh-jauh hingga yang terlihat di layarnya hanya hitam. "KENAPA?" Tanya ku kuat. "Aku gak tau disamping mu ada suamimu." Ucapnya pelan, membuat ku tertawa. "Kok kamu gak bilang?" "Ya kenapa? Kamu takut?" "Gak sih. B aja." Aku masih dengan sabar melihat layar hitamnya. "Kalau bukan wajahmu, aku matiin ya. Aku mau lanjut kelonan. Jangan iri!" "Umur gak ada yang tau, jangan sombong ihhh... yaudah... Matiin aja, kebetulan aku juga lagi ada pasien. d**a SAYANG!!!! HAVE FUN!" Teriaknya kuat lalu memutuskan hubungannya. Aku dan Keira hanya sebatas teman masa kecil, tetapi berhasil hingga teman sampai akhir. Aku lupa tepatnya kenal Keira dimana dan karena apa, tapi sosok Keira selalu ada di saat-saat terpuruk ku. Keira selalu mampu membuat ku kembali berdiri tegar ditengah kuatnya debuaran ombak menerjang. Terakhir kali bertemu Keira sekitar lima bulan yang lalu, dua bulan setelah aku sah menjadi istri Mas Bagas. Keira itu seorang Dokter, super duper sibuk. Susah banget menghubunginya. Sampai terkadang aku harus menerornya dengan mengirimnya puluhan pesan agar di notice olehnya. Kalau tidak, alamat tidak akan pernah ada balasan darinya. "Aku belum pernah melihat muka Keira dengan jelas. Waktu diacara nikahan kita, Keira selalu menghindar kalau ketemu aku. Eh sekalinya ketemu malah kayak ngajakin berantem. Beneran gak suka anaknya kalau lihat aku." Kata Mas Bagas membuyarkan lamunan ku. Aku mengerjap lalu tertawa. "Ngawur. Anaknya baik kok. Emang rada gila, sedikit. Tapi selebihnya nyenengin banget. Ntar kapan-kapan kita main deh kerumah sakit, jumpain dia. Aku juga uda kangen, uda lama banget gak ketemu dia." Mulut ku sesekali terbuka saat Mas Bagas menyodorkan satu sendok nasi goreng kepadaku. "Enak?" Tanyanya. "Apanya?" "Nasi gorengnya lah." "Kirain kamu nya, hehehe..." "Kiriin kimi nyi, hihihi. Tadi aja sok-sokan ngambek cuma karena gak dikasih pake dress kurang bahan." "Namanya juga usaha, siapa tau berhasil." La Plancha Bali, berlokasi tepat di tepi pantai kawasan Seminyak Bali. Cocok bagi kaum rebahan sambil menikmati indahnya sunset dipinggiran pantai. La Plancha salah satu restaurant yang paling sering direkomendasikan oleh orang-orang yang berwisata ke Bali. Mempunyai beach club yang paling sering didatangi oleh para sweet couple, contohnya seperti aku dan Mas Bagas. Tempatnya Colourful dan Cheerful, didekorasi oleh payung warna-warni beserta beanbag berwarna cerah mendera, sehingga memperlihatkan suasana yang ceria dan penuh warna. Tentu saja, sangat aman untuk chill ala-ala di pinggiran pantai. "Kalau Mas sukanya sunset atau sunrice?" "Sukanya kamu." "Hah?" "Aku sukanya kamu. Karena kamu sunset dan sunrice ku." "Dangdut banget, Bapak..." Selain keindahan alamnya, La Plancha juga menyediakan makanan-makanan yang tidak kala enaknya. Mulai dari makanan Western hingga Seafood. Harganya juga sangat ramah dikantong, hanya berkisar dua puluh lima ribu hingga dua ratus lima puluh ribu rupiah. Cukup mengejutkan dengan suasana semenyenangkan ini. Aku dan Mas Bagas duduk saling bersisian, tidak berjarak seperti enggan untuk saling berjauhan. Kami menikmati setiap hembusan angin pantai yang sejuk dan dingin. Anginya bergerak pelan, menghembus rambut-rambut yang tadinya rapi kini menjadi berantakan. Aku tertawa saat menyadari kedua tangan Mas Bagas terangkat, menangkup pipi ku lalu menyisir sedikit demi sedikit anak rambut yang menghabat penglihatannya di wajah ku. Begitu pula tatapannya, yang sedari awal sampai, hingga duduk disini, tidak terlepas dari ku, bahkan satu detik pun. "Aku sampai gak bisa bedain mana yang lebih mempesona, kamu atau La Plancha-nya, Al." Bisiknya ditelinga ku. "Oh ya?" "Iya. Seperti kata orang, La Plancha itu memang cantik, menarik dan bikin ketagihan. Tapi masih kalah dari kamu. Kamu lebih cantik dan menarik, tentu saja bikin aku ketagihan. Apalagi kalau dipandangin lama-lama, haduh... pengen bungkus, bawa pulang." Mas Bagas semakin mengikis jarak kami, dengan wajahnya yang mengecup pucuk hidung ku. "Mas belajar dari mana sih? Harus banget ya omongannya manis terus? Diabetes nih entar..." Aku pura-pura merengek, menenggelamkan wajah ku di perpotongan lehernya. "Gak dari mana-mana. Aku cuma lagi belajar menikmati kamu dengan cara pandang ku sendiri. Aku hanya bingung, kenapa tidak dari dulu aku menyadari bahwa kamu secantik ini, Al. Padahal untuk bangun dan tidur ku, aku selalu jumpa kamu. Aku sudah melihat versi dirimu, mulai dari yang terbaik hingga terburuk, mulai dari mengenakan baju hingga tidak mengenakan baju, mulai dari-" "'Mulai dari perawan hingga gak perawan lagi." Sambung ku. Entah apa yang salah dengan ucapan ku, tetapi ketika mendengarnya Mas Bagas menarik dirinya dari jangkauan ku, mengulum bibirnya kedalam menahan senyum. "Am i wrong, Mas?" "Gak wrong-wrong amat sih, tapi boleh lah." Kami tertawa, sungguh saat ini dunia terasa milik merdua. Aku menikmati segalanya. Tentang dirinya, tentang Bali, tentang matahari yang mulai menyembunyikan sosoknya dibalik sana, dan tentang perjalanan kami. Aku tau, ini bukan awal dan akhir dari segalanya. Malainkan ini bagain dari perjalanan kami. Perjalanan yang nantinya akan berliku ataupun buntu. Tetapi, semua perjalanan itu akan aku lalui dengan senang hati seperti semesta yang sudah memberikan ku kesempatan untuk terus bersamanya, menikmati indahnya hari tanpa takut hari esok. Sosoknya yang kini tengah merengkuh ku adalah sosok yang paling aku kagumi sekaligus aku cintai. Aku tau, aku pernah hampir berada di penghujung harapan antara mundur, maju atau tetap disitu saja. Tetapa lagi-lagi aku diberi kelapangan hati yang luar biasa besarnya, hingga aku bisa bertahan sampai disini bersamanya. "Semalam aku dapet pesan dari Rio, dia minta ketemu, tapi aku bilang aku mau ke Bali sama kamu. Ara sama Anin juga. Tapi aku lagi gak mau ketemu mereka. Bukan karena takut, tapi belum mau aja. Mas ngerti kan?" "Kalau aku jadi kamu sih, aku gak bakal mau temenan sama mereka lagi." Balasnya enteng. "Syukurnya aku bukan kamu sih." "Apa kamu gak sakit hati, Al? Mereka uda nuduh kamu yang enggak-enggak. Seharusnya kalau mereka memang teman baikmu, pasti mereka bertanya dulu padamu bukannya menghakimi seenak jidat. Aku gak ngerti lagi hatimu terbuat apa kalau sampai kamu masih mau-mau aja temanan sama mereka." "Tuhan aja pemaaf, Mas, masa kita enggak. Jangan karena satu kesalahan, kita jadi melupakan seribu kebaikannya. Manusia itu ladangnya dosa, Mas. Semua pasti pernah melakukan salah." Ibaratnya, gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang pantai nampak terlihat jelas. Kesalahan diri sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan orang lain terlihat jelas. Sangat egois rasanya bila hanya karena itu saja aku jadi bermusuhan dengan Ara dan Anin. Aku yakin, mereka pun tidak bermaksud seperti itu. Aku bukan manusia tanpa dosa, mungkin aku juga pernah melakukan dosa hanya saja tidak pernah merugikan orang lain. "Dan Rio?" Tanya Mas Bagas sedikit ragu. "Aku dan Rio... aku susah mendefenisikannya, Mas. Sebab Rio ada ketika sosokmu tidak bisa ku genggam. Rio ada ditempat-tempat terbaik yang seharusnya menjadi tempatmu." Aku hanya mencoba menjelaskan versi terbaik dari ku agar Mas Bagas tidak sakit hari ketika mendengarnya. "Apa tempat itu sudah bisa ku ambil kembali?" "Sudah. Mas sudah berhasil mengambilnya. Bukan itu saja, melainkan semuanya. Kami juga gak pacaran, Rio hanya meminta izin untuk mendekat dan aku setuju. Sebatas itu saja, tidak lebih." "Dan kalau aku meminta untuk berjauh dengannya," Mas Bagas menatap ku teduh. "Kamu mau." "Mau." Balas ku tanpa pikir. "Gak ada lagi selain kamu, Mas. Cuma kamu satu-satunya dihati aku. Semoga aku pun begitu dihatimu." "Setelah Mama, ada kamu, Alena. Semoga perasaan ini semakin bertambah setiap hatinya." Aku mengangguk. Tidak ada yang salah. Mas Bagas sedang belajar menerima keberadaan ku, maka aku dengan senang hati mengikutinya. Tetapi lagi-lagi tingkahnya bikin aku kesem-sem sendiri. Lihat aja sekarang. "Apasih Mas, kepalanya jangan deket-deket terus! Sesak nih. Uda tau badan kamu lebih gede dari aku, masih aja di kekep." Mas Bagas semakin mendekatkan tubuhnya. "Gerah, ayo pulang." Gerah dari mananya? Dingin begini. "Kok pulang sih? Lagian gerah dari mananya coba? Dingin begini. Pesanan ku masih ada, Mas. Nasi goreng aja gak cukup buat lambung karet ku. Mas juga kan? Tungguin makanan ku dulu, baru pulang. Ya, sayang?" Aku gak tau kenapa, mood Mas Bagas jadi anjlok banget. Padahal barusan lagi sibuk senyum-senyum sendiri, eh sekarang uda berubah total tiga ratus enam puluh derajat. "Kenapa, Mas?" Aku mendongak saat tangannya perlahan-lahan meletakkan kembali bendah pipih tersebut ke atas meja. "Apa ada?" Iya, moodnya anjlok karena baru mihat ponselnya. "Gak papa, Al." "Bohong." "Serius, Alena." "Kasih tau gak, Mas! Bohong banget kalau cuma gara-gara lihat hp kamu, mood kamu jadi anjlok begini." "Diem, Alena." "Ih gak seru banget. Aku kan kepo." Mas Bagas semakin mendekat, mengecupi leher ku. "Diem." Ucapnya di sela-sela kecupannya. "Yaudah diem. Tapi bibirnya juga dong. Katanya mau pulang, tapi masih aja ngajak turn on disini. Jangan tanggung-tanggung dong." Jawab ku asal. Eng... gimana ya... kecupannya itu kayak sedang berusaha membangun suatu hasrat yang sedari tadi ku tahan setengah mati. "Kamu pakai shampoo apa sih, Al? Wangi banget." Yee... nanyanya shampoo tapi yang di endus malah pertongan p******a ku. Gak jelas. "Gak tau lotionnya apa, wangi banget ya, Mas?" "Kok jadi lotion?" Dahinya berkerut. Menatap ku heran. "Itu d**a ku, Mas, bukan rambut ku. Kamu kenapa sih? Manja banget, heran aku." "Manja salah, gak manja juga salah." Ujarnya dengan intonasi memelas. Ya Tuhan... sungguh menggemaskan. Tolong hamba, hamba tidak kuat. "Dih..." Aku memencet ujung hidung mancungnya, lalu ku kecup sejenak. "Kenapa sih, Mas? Gemes aku jadinya." Aku bangkit saat beberapa pelayan menghampiri kami. Membawa pesanan-pesanan kami. Setelahnya mengambil satu piring berisi beberapa olahan seafood kesukaannya. "Makan ya, Mas, ntar Mas sakit." "Enakan makan ini..." Kembali Mas Bagas mendekatkan dirinya pada ku, menyingkirkan piring yang sudah berada ditangan ku. Menarik selimut kecil yang tadinya menutup setengah tubuh ku untuk menutupi wajahnya dan p******a ku. Di dalam sana, aku merasakan Mas Bagas berhasilkan meloloskan p******a kiri ku dari dalam bra, sehingga bibirnya dengan cepat melahap putingnya yang sudah mengeras. Astaga! Ini gimana ceritanya coba? Mau mendesah tapi takut kedengaran orang, mau marahin Mas Bagas tapi rasa nikmatnya kalah dari rasa amarah ku. Sial. Bisa aja Mas Bagas bikin aku gila begini. "Ah, Mas... jangan kuat-kuat gigitnya! Sakit!" Bisik ku dengan suara pelan. Parahnya, Mas Bagas juga berhasil meloloskan yang satunya, memilin ujung putingnya tanpa memberi ku jeda agar siap menghadapi serangan selanjutnya. "Mas, jangan kuat-kuat..." Aku terkejut ketika hisapannya mengeluarkan suara. Membuat ku pusing tujuh keliling menghadapinya. "Yaudah, pulang yuk pulang." Aku menyerah, mencoba memperbaiki bra ku. "Malu Mas Bagas kalau ada yang tau." Bukannya berhenti, Mas Bagas semakin mempermainkan ku. Jari-jarinya bergerak menggelitik perut ku, sampai membuat ku mengaduh kegelian. "Mas ih!" "Sssst diem, lagi enak nih." Enak sih enak, tapi gak gini juga dong. "Nanti kedengaran sama yang lain, Mas." "This is Bali, Alena. Lagian kamu istri ku, yang lain gak punya hak ngelarang aku buat ngelakuin ini kekamu." Hm... Aku tersenyum geli saat mendengarnya mengucapkan This Is Bali, Alena. Seperti mengejek ku. Mengikuti nada bicara seperti tadi aku marah ketika hendak disuruhnya menukar dress setengah bahan. Ngerti gak sih, pengen mendesah tapi kayak di tahan itu capek banget. Sampai sesek rasanya. Males ngeladenin Mas Bagas yang saat ini terkesan egois, jadi aku lebih memilih menikmati pesona La Plancha yang tidak ada habis-habisnya. Juga sesekali mendesah dan mengerang ketika Mas Bagas mulai kehilangan kontrolnya di dalam sana. Setelah selesai makan dan hampir mencapai puncak semaksimal mungkin, aku dan Mas Bagas memilih diam, saling merengkuh satu sama lain. Menikmati sejuknya angin malam yang bersemilir kencang, sehingga membawa kesejukannya. Suara deburan ombak terdengar merdu, ditambah sinaran rembulan terpampang nyata dilangit malam, membuat kesan romantis meningkat seratus persen. Mas Bagas menarik ku lebih dekat lagi, hingga rasanya angin saja sangat susah menelusup lewat cela-cela sempit diantara kulit yang saling bersentuhan. Damai sekali. Dada telanjangnya menyatu dengan ku. Aroma maskulin yang semerbak alami terhirup menyegarkan oleh ku. Kalau sudah begini, bagaimana bisa aku berfikir untuk meninggalkannya? Setelah lika-liku prahara rumah tangga menerpa kami, membuat ku menjadi lebih yakin bahwa yang kemarin menjadi bagian pemanisnya saja. Dan semoga saja akan selalu manis. Amin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN