Chapter 17

1385 Kata
"Namanya bukan honeymoon kalau gak ngelakuin itu, Al." katanya sih gitu. "Gak juga tuh, temen ku selama honeymoon cuma tidur doang." "Emangnya kamu tau, sebelum tidur temenmu ngapain?" "Tau lah." "Apa emang?" Ya Tuhan, ini kenapa jadi bicarain temen ku sebelum tidur ngapain sih. "Jangan ngurusin rumah tangga orang, Mas, gak baik." Ucap ku mulai jengah, mencoba terlepas dari jeratannya. "Kamu yang mulai." Geram rasanya setiap mendengar jawaban-jawaban asalnya. Gak mau ngalah banget, kerjaannya pengen menang terus. Decakan ku membuatnya mendengus, bukan kesal, melainkan rasa deli yang selalu dilihatnya disaat-saat seperti ini. "Perutku yang sesak, membuat ku malas membungkuk untuk hanya segedar membuka tali sepatu. Duduk juga, pengennya rebahan trus mengejar mimpi indah ku dalam dekapan hangatnya. Sungguh, aku kesusahan sampai bernafas saja tersengal-sengal. "Bantu bukain,Mas" Pinta ku padanya. Mas Bagas tersenyum simpul, bukannya membantu, suami ku itu malah lewat begitu saja, ibarat tidak ada sosok ku disampingnya. "Bantu bukain dong, Mas..." Kali ini dengan nada suara lebih manja. Syukur-syukur suami ganteng ku itu terbius mendengarnya. Mas Bagas berbalik dan mendekat. Tuh kan, tapi- "Heh! Bukan yang itu!" Tangannya otomatis berhenti ketika aku menepuknya dengan lumayan kuat. "Terus mana?" "Sepatu, bukan kancing bajuku." "Males kalo yang itu," Jawabnya enteng. "Mas Bagas... kenapa sih otaknya nakal banget?" Rengek ku lagi. Berakhir merebahkan diri diatas lantai yang dingin. Mas Bagas tuh selalu maunya yang enak-enak aja. Giliran untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak menguntungkan untuknya, gak bakal pernah mau. Tangan dan kaki ku sengaja bergerak-gerak seperti sedang menikmati dinginnya salju. Tiba-tiba aku melupakan rajan ku, saat Mas Bagas menyentuh kedua kaki ku lalu merapatkannya. "Jorok, bajumu putih." Dengan telaten Mas Bagas akhirnya membuka sepatu ku, diikuti kaus kakinya, "Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk, tanpa aba-aba Mas Bagas menggendong ku, merebahkan ku diatas kasur king sizenya kami. "Anakmu nendang, Mas." "Biar." "Aduh duh, nendang lagi." Bukannya menanggapi, Mas Bagas malah membuka kancing baju ku, "Kalau bisa yang kuat, supaya perut buncitmu ini meletus. Tunjuknya. Dress ku kini sudah menyingkap keatas, mempertontonkan lelukan tubuh ku dibawah tatapan gelinya. Mas Bagas memajukan kepalanya, mengecup juga menghisap kulit perut ku berulang kali sampai mengeluarkan suara. Setelah itu tangannya terulur membantu ku melepas dressnya. Setelah terlepas, aku terbaring salah tingkah karena hanya menggunakan dalaman saja. "Kenapa ,Mas?" "Perutmu buncit,gak serata kemarin. Isinya apasih, Alena? Anak atau bakso?" Pertanyaan macam apa itu? Ya jelas.., eh gak tau deng, tadi kan aku cuma bercanda doang. "Sel telur kamu, Mas, isinya. Mereka lagi berlomba-lomba, anggar jago, makanya jadi rusuh gini." Tunjuk ku pada perut yang sengaja ku goyang-goyangkan agar penuturan ku terlihat benar. Tapi yang ada Mas Bagas malah menyentil dahi ku, kuat, sampai aku meringis kesakitan. "Ish! Sakit tau!" Ucap ku ketus sambil mengusap-ngusap dahi. "Siapa suruh ngejawabnya kayak gitu," Kemudian tubuhnya bangkit, membuka seluruh pakaiannya dengan tatapan yang masih terkunci pada ku. Kalau sudah begini pasti ngajak olahraga lagi. Sama sepertinya, aku mengikuti setiap gerakannya. Setelah membukanya, Mas Bagas merangkak naik, melewati ku, sebelum benar-benar berhenti ditempat persinggahannya, Mas Bagas mengecupi seluruh tubuh ku, mulai dari puncak kepala hingga ujung kaki. Ada sensasi geli bercampur nikmat menerpa ku, apalagi ketika kecupannya berubah menjadi basah pada setiap area sensitif, membuat ku berlenguh dan mengerang dalam gairah panas yang akan dimulainya. "Mas Bagas menindih ku, memenjarakan ku diantara kedua otot besarnya. Lalu mencium bibir ku pelan dan dalam. Beberapa detik kemudian, bibir kami sudah saling berpangutan, mencari jejak kenikmatan disetiap belitannya. Suara cecapan terdengar sensual oleh ku. Juga saat tangan kanannya turun membelai lipatan paha ku yang sedari tadi ku tahan sebab pangkalnya sudah terasa berdenyut. Ridak ada kesulitan sedikitpun, jemarinya masuk sangat lancar didalam milik ku. Walaupun masih menggunakan celana dalam, Mas Bagas bermain seperti aku sudah bertelanjang bulat dibawahnya. Kedua paha ku menjepit tangannya kuat, apalagi ketika tiga jemarinya berhasil masuk menerobos ku sangat dalam dan nikmat, membuat ku tidak berdaya akan siksaannya. Desahan ku berpadu dengan lenguhannya, tidak sedikitpun Mas Bagas berikan jeda pada ku saat kami sama-sama diterpa kegairahan. Kami berdua seperti berada diatas langit, yang siap jatuh kapanpun dan dimanapun saat percintaan kami sudah berada diujungnya. Tubuh saling menyatu, lidah saling berbelit juga tatapan saling mengunci mengakibatkan kami terus melakukannya tanpa memperdulikan waktu lagi. Alhasil, aku terkapar dengan tubuh merengkuhnya erat. Mas Bagas seperti anak kecil, harus berdekatan dengan ku tanpa memberi jarak. Seperti biasa, Mas Bagas membenamkan wajahnya dipertengahan p******a ku yang selalu menjadi tempat kesukaannya. Gak perduli mau aku capek atau males ngeladeninya, tetep aja Mas Bagas bakal melakukannya. Suara dentingan dari ponselnya membuyarkan lamunan ku. Sudah jam setengah empat pagi, ada apa gerangan seseorang mengirimkan sebuah pesan kepada suami ku. Maaf kalau kesannya aku lancang, aku hanya penasaran, mengapa harus sepagi ini? Setelah kulihat, top up messagenya menampilkan dua buah emot lucu, yaitu kelinci san sekuntum bunga. Aku mengkerutkan dahi, siapa dia? Apalagi ketika kulihat isi pesan singkatnya berisi, ?? Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia? Maksudnya siapa? Semakin penasaran, aku mengescrollnya lebih kebawah lagi. ?? Jangan cemburu, ini keputusan kamu. Tiga bulan lagi, pergunakan dengan baik, Gas. ?? Jangan sampai aku yang harus turun tangan. Begitulah isinya, aku langsung kebingungan Tiga bulan apa? Turun tangan? Tangan siapa? Yang buat emot juga siapa sih? Alay banget! Gak mungkinkan Mas Bagas, mustahil banget. Paginya, aku memandang takjub deburan ombak yang menghantam kuat bebatuan besar. Demtumannya seperti menyihir ku, membawa kedamaian serta kesejukan untuk ku. Sang pemberi cerah timbul tanpa malu-malu, memperlihatkan indahnya bentuk rupa yang selalu memberi kehangatan bagi setiap penikmatnya. Aku tersenyum, hari ini adalah hari terakhir kami di Bali. Kami memutuskan untuk seharian dihotel sampai malam tiba dan kami harus balik kerumah karena waktu honeymoon ala-ala kami sudah berakhir dengan aku dan perasaan yang sedikit teriris. Biasanya dekapan hangatnya mampu meruntuhkan segala perasaan buruk ku untuknya, memberikan ku aman serta nyaman yang tidak terhingga nikmatnya. Sehingga membuat ku tertidur pulas didalam dekapannya. Namun ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, aku menjadi gelisah. Grasak-grusuk tidak menentu sampai aku memutuskan untuk turun dari ranjang, takut jika aku menganggunya. Mas Bagas masih bertemu alam mimpinya, sama sekali tidak merasa kedinginan ataupun terganggu saat aku membuka lebar pintu balkon yang jika terbuka akan disambut langsung oleh hamparan lautan biru. Sebenarnya jiwa keingintahuan ku tentang siapa sipemilik emot kelinci juga sekuntum bunga itu sangat menggebu-gebu, namun disatu sisi aku takut, takut jika pada nyatanya dia masih seseorang yang sama, yang selalu datang untuk Mas Bagas membawa senyumannya. Sarah. Apa benar, kalau itu Sarah? Ada apa denganya? Kenapa dia selalu ada kemanapun Mas Bagas pergi? Kenapa dia tak pernah menerima kenyataan, bahwa kini Mas Bagas sudah memiliki istri? Kenapa- Aku terpekik kaget saat merasa dua lengan besar mengapit tubuh ku kuat. Hembusan nafas hangatnya menerpa leher ku, juga kecupan bertubi-tubi Mas Bagas serangkan tepat dipipi ku. "Selamat pagi, Alena, sayang..." Ucapnya serak dan berat. Suara khas bangun tidurnya. "Astaga, Mas! Pelan dong! Kalau aku jatuh, gimana? Emangnya kamu mau jadi duda dadakan?" Aku memukul tangannya, mencoba melepaskan rengkuhannya. "Kita. Aku memegangmu, kalau jatuh, ya berdua lah. Bukan kamu aja." Jawabnya enteng. Ntahlah, aku lagi males berdebat. Biarkan saja Mas Bagas dengan segala teori-teorinya. "Kenapa diem?" "Tadi malem hp kamu-" "Baju mu tipis." "Ada pesan masuk-" "Hangat kalau meluknya begini." Ungkapnya. Mas Bagas memutar balikkan tubuh ku, sehingga kami berhadapan. Mata sayu khas bangun tidurnya menatap ku lekat dan dalam. Firasat ku mengatakan kalau Mas Bagas sedang mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak biasanya Mas Bagas seperti ini. Mas Bagas selalu membiarkan ku berucap semau ku apabila ada sesuatu mengganjal digati. Mas Bagas akan menengahinya jika yang ku maksud tidak lagi searah tetapi masih dengan pembahasan yang sama. Namun kali ini Mas Bagas membawanya jauh dari titik pembahasan kami. Apa benar jika... "Dahimj ini lama-lama mengerut selamanya, gak bakal bisa balik kesemula lagi." Tangannya naik memijat-mijat dahiku. "Jangan gitu ah." Aku membenamkan wajah ku didada lebarnya. Dapat ku dengan suara detak jantungnya berderu normal juga tangannya berpindah tempat menjadi membelai rambut hitam ku. Apa yang harus ku lakukan? Baru saja semalam ku pastikan jika aku tidak akan pernah meninggalkannya, namun sekarang sudah berbeda. Kini tingkat ketidak kepercayaan ku padanya lebih meningkat drastis dari sebelumnya. Aku paham, aku tau, diantara kami masih ada sebuah tembok besar sebagai pemisahnya. Walaupun hubungan kami membaik, tetapi masih ada beberapa hal yang mengganjal. Aku tersenyum didalam rengkuhannya. Berfikir, mengapa aku masih bisa bertahan untuknya? Sedangkan Mas Bagas sama sekali tidak melihat ku, tidak menjadikan ku rumah sebagai tempatnya untuk pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN