Chapter 18

1428 Kata
"Tungguin dong!" Teriaknya kuat. Aku yang merasa tidak sedang menunggu siapapun, hanya berjalan. Tidak memperhatikan sekitar. "Durhaka banget sih lo sama temen, Al!" Ucapnya saat sudah berhail merangkul bahu ku. "Lo gak usah sok misterius gitu. Sok-sokan gak mau ditemui. Gak cocok. Lo itu cocoknya banyak omong, berisik. Gue jabanin dah walaupun telinga gue terkadang rasanya mau pecah. Gue rela." Benj masih saja meracau tidak jelas. Sedari tadi aku menginjakkan kaki ku dikantor ini, Beni terus-terusan meneror ku, mempertanyakan kenapa tiba-tiba aku bisa menghilang selama seminggu ini. Aku berjalan cepat, mencoba untuk tidak terdistrak atas apapun yang keluar dari mulutnya. Saat Beni berhasil menangkap pergelangan tangan kanan ku, aku langsung menepisnya bertepatan dengan kehadiran Mas Bagas yang menatap ku dengan tatapan mengintimidasi. "Apa sih,Ben? Kerjaan gue masih banyak nih!" Ucap ku akhirnya. "Lo kemana aja seminggu ini? Pakek acara tiba-tiba ngilang gitu. Gue merasa kehilangan banget, Al. Seriusan deh. Kali ini gue gak bohong." "Suka-suka gue lah." Balas ku acuh padanya. Setelah itu perlakuannya bikin aku terkejut berkali-kali lipat. Beni menggenggam kedua tangan ku, menelusuri setiap inci tubuh ku lalu menarik ku yang hampir jatuh kedalam pelukannya, untung saja ada Mas Bagas yang dengan cepat menyelonong masuk keantara tubuh ku dan Beni. "Pagi." ucapnya dingin, matanya kini berpindah pada Beni. Selama beberapa menit Mas Bagas berdiri disamping ku, merapatkan lengan sebelah kanannya ke lengan sebelah kiri ku. "Pagi,Pak!" "Jangan main asal pegang tangan orang kamu ,Ben. Jaga nama baik perusahaan, jangan seenaknya. Apalagi ditempat umum begini." "Yeee jangan iri jangan iri jangan iri dengki." Ejek Beni. "Apalagi belum muhrim, gak baik dilihat orang." Sambung Mas Bagas. Sebentar, ini Mas Bagas lagi menegur Beni karena melakukan kekhilafan terhadap tangan ku atau cemburu? Tiba-tiba tubuh ku terserang hawa panas, menjalar hingga membuat seluruh wajah ku menjadi merah padam. Cemburu nih pasti, iyakan? Mas Bagas cemburu? "Saya dengan Alena sudah biasa seperti ini, Pak. Yakan, Al?" tanya Beni kepada ku, "Gak bakal ada yang ngira ini baik apa gak. Semua juga tau kalau saya dan Alena itu uda deket banget," Tambahnya lagi. "Tapi saya itu-" "Saya best friendnya, Pak. Gak bakal aku selera sama modelan Alena begini. Tenang aja Bapak." Aku menggeleng pelan, berharap Beni berhenti mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak pantas didenger oleh Mas Bagas. Aku takut Mas Bagas mempercayainya, bisa-bisa pulang nanti kami jadi perang dingin. "Lagian nih ya,Pak, saya dan Alena itu cocok kok. Saya jomblo, Alena juga. Jadi ya.... gak masalah dong." ucapnya lagi penuh percaya diri. "Alena itu istri saya. Kamu lupa?" Asli. Aku pengen banget jedotin kepala Beni ketembok. Aku ini uda nikah, Ben, yang kamu ajak bicara itu suami ku. Astaga, kenapasih dia lancang banget. "Apaansih, Ben!" "Apaansih, Al? Lagian Pak Bagas belum klarifikasi masalah kalian sudah nikah apa belum. Rio juga, ditanyain kalian ada hubungan apa, malah diem-diem aja. Emosi saya." Beni tersenyum selebar mungkin. Mas Bagas mulai menjauhkan lengannya dari ku. Aku menolehkan kepala kearahnya, terlihat wajahnya berubah menjadi lebih tegas, rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat. Dari belakang, tangan ku mulai mengusap-ngusap lembut punggungnya agar emosinya dapat teredam dengan cepat, Mas Bagas membalas tatapan ku. Aku tersenyum sendu, gak bosen-bosennya aku mengatakan kalau suami ju itu selalu ganteng. Lihat saja hari ini. Hanya mengenakan jas hitam dengan bawahan celana kain yang juga hitam saja membuat ku selalu termanjakan saat milihatnya. Apalagi gak pakai baju, beh... gak tahan aku. Beberapa menit kemudian tubuhnya sudah sedikit rileks. Senyuman ku lebih mengembang saat ku rasakan satu tangan besarnya menangkap tangannku. Walaupun dari belakang, Mas Bagas berhasil membuat ku seberuntung ini. Ibu jarinya mengelus pungung tangan ku, sangat pelan sampai aku sedikit terhipnotis karena perlakuannya. "Masuk yuk, lo masih banyak kerjaan kan?" Ujar Beni pada ku, lalu menoleg kearah Mas Bagas. "Pak, saya dan Alena masuk dulu ya. Tenang aja, saya bakal jagain Alena sebisa dan semampu saya. Tapi Bapak juga harus janji, bilang sama semua orang kalau Alena itu istri Bapak. Jangan diem-diem begini. Ntar pada ngira Alena yang kepedean sendiri." Beni menarik tangan ku yang bebas. Aku terkejut, ini dia mau nya apasih, bisa kalik nariknya pelan-pelan. "Ben,demi apapun, tangan gue sakit banget ni!" "Nurut, sepet banget gue lihat mukanya Pak CEO-kita yang paling terhormat itu." "Seper pale lo! Suami gue tuh." "Ntar kalo Pak Bagas uda klarifikasi baru lo boleh pamer-pamerin dia didepan gue. Kalau sekarang, mon maaf... gue kagak percaya." Aku memilih tidak menjawab, membalikan tubuh, dapat ku lihat Mas Bagas masih berdiri ditempatnya semula, memandang kami dengan wajah yang tidak bisa ku jelaskan. Aku tersenyum, Mas Bagas pun ikut tersenyum. Walau tipis, tetapi aku masih dapat melihatya. Pilihan Mas Bagas untuk menyembunyikan pernikahan kami memang awalnya tidak ku setujui. Aku meragukannya. Aku takut, jika sewaktu-waktu karena tidak ada yang mengetahuinya, mereka malah berbondong-bondong untuk mendekatkan dirinya pada ku ataupun Mas Bagas. Apalagi Mas Bagas, suami ku itu, walaupun terlihat dingin dan cuek, tetapi pesonanya selalu memberi pengaruh kuat bagi semua penikmatnya walaupun hanya sekali tatap. Lihat saja, semenjak Mas Bagas menduduki posisi CEO, semua para pejabat petinggi negara secara terang-terangan ingin menjadikannya seorang menantu. Bahkan para klien yang tadinya hanya ada urusan pekerjaan dengannya, malah menggeser topiknya kearah hubunga asmara. Dan lebih parahnya lagi, ada beberapa gadis-gadis cantik secara terang-terangan mendeklarasikan bahwa Mas Bagas adalah tipenya, mengklaim sebagai miliknya sehingga membuat beberapa staf kantor yang emang sejatinya sudah tergila-gila dengan Mas Bagas terbungkam mendengarnya. Pesonanya tidak pernah main-main. Mas Bagas selalu mendapat apapun dengan cara cepat atau bisa saja disebut instant. Tetapi kenapa Mas Bagas dulu tidak bisa sutuhnya mendapatkan hati Sarah? Padahal jelas-jelas aku mendengar desas-desus bahwa mereka akan melangsungkan pernikahan diluar negeri tetapi setelahnya Mas Bagas malah datang kerumah, dan melamar ku. Jam sudah menunjukkan tepat di angka satu, teriknya matahari menyilaukan penglihatan ku. Aku berjalan denga hampa dilorong-lorong gedung ini. Wajah Mas Bagas memenuhi pikiran ku. Semenjak perdebatan kecil dengan Beni tadi, Mas Bagas tidak menunjukkan batang hidungnya. Ketika aku bertanya pada beberapa beberapa staf yang ada disini, mereka malah kembali mempertanyakan apa urusannya dengan ku? Emang aku siapanya? Diposisi ini aku ingin berteriak sekencang mungkin bahwa aku ini istrinya. Alena Khandra. Seorang perempuan biasa yang Alhamdulillah-nya mendapatkan seorang laki-laki seluar biasa Bagas Dirgantara. Kenapa sih masih pada gak percaya? Aku sampai pada titik paling atas. Memandang sendu awan-awan indah yang membentangi langit biru. Lalu aku memejamkan kedua mata, teringat lembar demi lembar kenangan ku bersamanya. Bagaimana ketika aku merasa jatuh sejatuh jatuhnya pada Mas Bagas. Bagaimana untuk pertama kalinya Mas Bagas menginzinkan aku untuk ikut bersamanya, melewati hari dengannya. Bagaimana untuk pertama kalinya Mas Bagas berhasil mengucapkan janji sehidup semati, walau dengan hati yang rela. Bagaimana untuk pertama kalinya kami saling bersentuhan, saling menyatu, saling mengisi satu sama lain. Meruntuhkan nikmatinya dunia lewat gerakan-gerakan panas yang selama ini hanya dapat ku lihat dari film. Bahagia sekali. Tetapi... Ntahlah, setiap aku merasa bahwa semua sudah berada tepat pada porsinya, selalu ada kata tetapi didalamnya. Aku masih bingung terhadap Mas Bagas. Disatu waktu Mas Bagas bisa saja menjadikan ku satu-satunya perempuan yang kini telah memenangkan hatinya tetapi disatu sisi lain, Mas Bagas memunculkan perasaan dilema untuk ku. Dilema. Rasanya seperti senang bertabur sedih, ingin menetap tetapi jalan menuju pergi lebih baik. Seperti disuatu malam yang sepi tiada bintang dan rembulan, Mas Bagas datang melangkah penuh percaya diri. Berjalan kearah ku, seperti mengisaratkan bahwa aku harus segera membuka hati kembali untuknya, membiarkannya masuk hingga tangannya berhasil menggenggam ku dan membawa ku pergi kemanapun yang Mas Bagas mau. Namun... Setelahnya Mas Bagas akan dengan mudah membuangnya. Menghilangkannya sejauh mungkin jika nanti Mas Bagas tidak membutuhkannya lagi. Aku tertegun melihatnya. Aku tau saat-saat seperti ini pasti akan tertangkap basah oleh ju. Benar saja, punggung lebarnya sedang menyembunyikan seorang perempuan cantik disana. Ku usal wajah ku dengan teramat kasar, berharap bahwa ini hanya mimpi buruk ju saja. Dan sialnya ini bukan mimpi. Keduanya saling berpelukan, melepas rindu yang mungkin saja sempat terhalang oleh tempat dan waktu. Yatuhan, aku harus apa? Aku bingung sekaligus takut. Ingin melangkahkan kaki ku pergi meninggalkan keduanya, lagi-lagi aku tidak bisa. Mata ku terus merekamnya. Hingga beberapa menit kemudian tubuh ku tiba-tiba kehilangan penyangganya, tulang-tulangnya mendadak hilang melebur dibawa angin. Tepat ketika Mas Bagas, membalikkan tubuh tegapnya kearah ku, membawa perempuan-nya dengan tangan yang saling bertaut-tautan disetiap sela-selanya. Mas Baagas tersenyum lebar dengan indra penglihatannya tak sedikitpun bergerak kearah ku. Perempuan itu mengetahui ku, dengan sengaja... tentu saja dengan sengaja Sarah mencium bibir Mas Bagas, melumatnya tanpa memberi jeda sampai pada akhirnya Mas Bagas membalasnya. Membawa kedua tangannya agar mengalung indah dilehernya. Melihatnya, aku tersenyum kecut, baru ku sadari bahwa dikisah ini hanya aku yang terlalu melebih-lebihkan cinta, tanpa tersadar masih ada seseorang yang lebih mencintainya dari pada aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN