Chapter 19

2480 Kata
Alasan terbesar yang selalu membuat ku enggan bercerita tentang masalah hidup terhadap orang terdekat adalah respon dari mereka. Contoh pertama, apapun yang aku ceritakan, pasti akan dilontarkan kembali pada ku, seperti : "Lonya sih, baperan. Masa gitu aja uda sakit hati." "Makanya, jadi perempuan itu harus bisa mandiri. Jangan lemah, jangan manja. Malu sama umur lah." Padahal semua orang juga tau, fikiran perempuan itu selalu rumit, tidak seperti laki-laki yang pada umumnya memilih yang lebih sederhana. Aku selalu merasa kesal dan kecewa apabila mendapat respon seperti itu, apalagi terkadang kondisi ku membutuhkan perhatian atau hanya segedar kata semangat, kalau sudah begitu bukannya menenangkan malah menambah fikiran. Parahnya lagi terkadang ada yang menghakimi. Sebelum tahu detail dari ceritanya itu seperti apa. "Lo sih, uda gue bilangin jangan deket-deket dia terus, masih aja ngeyel. Uda kayak gini baru ngeluh. Sok-sokan merasa tersakiti." "Bego banget. Gue sampe gak habis pikir." Pola dari perespon yang seperti itu membuat kita semakin merasa bersalah terhadap diri sendiri. "Oke, aku salah." "Iya juga yah." Sekarang aku sadar, aku mengerti, bahwa apapun yang mereka katakan pasti memberi pengaruh negatif untuk ku, menjerat ku dalam bentuk kalimat yang semakin mematahkan hati ku. Aku sa da r, setiap masalah yang datang silih berganti seharusnya biar ku tanam sendiri, ku perbaiki sendiri hingga ku tuai sendiri. Bukannya mendengar banyak ocehan tidak jelas dari mereka. Semenjak kepergian orang tua ku, aku berusaha sekuat mungkin mungkin untuk berdiri dikaki ku sendiri, walaupun aku tau ketika aku menikah dengan Mas Bagas, dan Mas Bagas siap menafkahiku baik lahir maupun batin, tidak membuat ju harus terus-menerus berkegantungan padanya. Mas Bagas selalu bilang bahwa perusahaan yang sedang dikelolanya itu bukan miliknya seutuhnya, Mas Bagas hanya sebagai pengganti yang bisa saja suatu saat diganti. Aku marah, aku tidak mu suami ku berfikir seperti itu. Maka, aku diam-diam menghubungi sekretaris pribadi orang tua ku, mengatakan padanya bahwa semua ini tidak lagi milikku, melainkan suami ku. Aku memutuskan segalanya sendirian, tanpa meminta pendapat siapapun, karena menurut ku itu hak dan kemauan ku, biarkan aku saja tau. Segala masalah hidup datang silih berganti, mulai dari Mas Bagas menolak mentah-mentah aku menjadi istrinya, menikah tetapi tidak bisa bersentuhan dengannya, saling tidak sejalan walau sudah satu rumah, hingga tidak sempat saling bertemu walau hanya satu minggu. Semua itu adalah neraka kehidupan untuk ku, dan aku menerimanya karena akulah yang mau memilihnya menjadi teman hidup ku. Hingga sekarang kami sudah seperti pasangan suami istri pada umumnya, sudah hampir saling melengkapi satu lain, sudah hampir saling menyayangi satu sama lain, tetapi kenapa malah hal-hal seperti ini datang kembali menghampiri perjalanan kami yang tentu saha sudah hampir menyentuh kata berhasil. Aku tipikal perempuan yang menganut faham sebuah privasi. Aku tidak akan pernah mengikuti kadar keingintahuan-ku kepada suatu objek, melainkan membuat diri ku lebih berlapang d**a bahwa apapun itu, apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja. Tetapi kalau sekarang, boleh kah aku mencoba mengetahui privasinya? Dengan tangan gemetar aku memegang erat hpnya, berharap sipengirim dari emoji lucu itu hanya khayalan ku semata. Aku menghembuskan nafas pelan, bergerak gelisah agar dapat memposisikan tubuh untuk bisa lebih leluasa melihatnya. Baru saja aku mampu menggapainya, tiba-tiba top up messagenya berganti menjadi foto seorang gadis berparas cantik dilayarnya. Aku terkejut, melemas juga fikiran ku berubah menjadi yang enggak-enggak. Namun disatu sisi Mas Bagas semakin mempererat rengkuhannya tetapi disisi lain aku berusaha melepasnya. Samar-samar melihat isi pesannya; ?? Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Jangan cemburu dan marah, itu keputusan kamu. Tiga bulan lagi, pergunakan waktu itu sebaik mungkin, Gas. Jangan sampi aku yang harus turun tangan. Lagian kamu bisa sama Alena, kenapa aku enggak? Aku juga bisa melakukan apapun seperti yang kamu lakukan pada Alena. Setelah hampir seharian Mas Bagas tidak terlihat, ternyata sosoknya disini. Sangat cocok, yang satunya ganteng dan yang satunya cantik. Jika dibandingkan dengan aku, mungkin aku hanya remah-remahan saja, pantas kalau Mas Bagas lebih memilih Sarah dari pada aku. Tadi aku memang tertegun, sekarang aku sadar bahwa itu memang faktanya. Marah pun tidak bisa lagi, apalagi sampai melerai ciumannya. Biarkan saja, biarkan mereka menikmatinya dengan aku sebagai penontonnya. Lucu sekali, ketika aku sudah berada diujung pengaharapan ku, menempatkan Mas Bagas sebagai pelabuban terakhir untuk hatiku, aku malah disakiti atau malah aku yang menyakitinya? Dengan mengekangnya, menjadikannya milik ku, mengesampingkan perasaannya dengan mengikuti semua kemauan ku. Mungkin saja sekarang dunia sedang menertawakan ku, meremehkan rumah tangga ku dengan Mas Bagas. Aku berjalan mundur dengan mata yang masih menguncinya. Setiap pangutan juga lumatannya memberi rasa, sentuhannya tiada tara sampai keduanya enggan saling melepas satu sama lain. Aku tau itu. Sebab aku pernah merasakannya. Tentu saja, dengan orang yang sama tetapi tidak dengan rasa yang sama. "Sstt, ngapain lo?" Kepalaku sudah pusing. "Alena." Aku berputar menghadap Rio yang sudah berdiri dihadapan ku. "Ngapain lo liatin orang ciuman? Eh... ngapain lo lihatin suami lo ciuman?" Rio tersenyum sinis. "Berisik." Baik, sekarang penglihatan ku mulai berkunang-kunang. Kepala ku bertambah berat. Hampir saja aku terjatuh, untungnnya Rio dengan cepat menangkap tubuh ku. "Pergi yuk, please..." aku berbisik lemah padanya. Memohon agar kali ini Rio mendengar permintaan ku. Ternyata tidak semudah itu. Terdengar Mas Bagas lebih dahulu berdehem serta Sarag yang sudah menyerocos seperti kamilah yang sedang kepergok selingkuh. "Ehem!" "Hmm,gini rupanya tingkah lakunya. Didepanmu berlagak bahwa kamulah satu-satunya lelaki yang dicintainya, tapi giliran dibelakang malah enak main peluk-pelukan sama orang lain." Sarah lebih dulu maju, menyentuh pundak Beni, "Empuk sih, lebar juga, pantesan mau-mau aja." Mau-mau aja, itu seperti yang menggores harga diri ku. Kesannya aku selalu bersamanya, melakukan adegan ini dengannya. Punggung ku seperti dilaser kuat oleh seseorang, panas, rasanya gusar sekali hingga akhirnya aku membalikkan tubuh. Benar saja, Mas Bagas sedang menatap ku lekap, aku membalasnya, lalu menunduk karena tidak sanggup melihat irisnya yang semakin membuat hati ku teriris. "Siapa nama mu?" tanya Sarag pada Rio. "Rio." Rio hendak menyodorkan tangan kanannya pada Sarag, namun Sarah menolak. "Gak perlu. Kamu sadar yang sedang kamu peluk ini siapa? Kamu sadar yang sedang kamu sentuh ini siapa?" Sarah menjedanya, aku melihatnya, Sarah kembali menggenggam tangan Mas Bagas. "Kalau saya yang kasih tau sih kayaknya kurang seru yah, atau kamu aja yang mau kasih tau, Gas? Tapi jangan deh, nanti dianya kegr-an, ngerasa penting banget dibicarain." Jangankan dendam, berbicara padanya saja aku sangat jarang. Bisa dihitung, mungkin satu bulan itu hanya sekali atau mungkin juga tidak sama sekali. Terakhir kali kami bertemu, perempuan itu masih tersenyum pada ku namun kenapa kali ini berbeda? "Kamu tau gak, Gas. Kamu itu ganteng, baik, anak orang kaya. Masa depanmu terang sampai rasanya aku uda kesilauan. Pasti banyakkan yang mau sama kamu? Aku sih yakin, tapi kamu nya aja yang gak peka. Uda bagus ada yang mendekat, mudah dijangkau, tapi milihnya yang rumit, labil, kayak anak kecil. Apa-apa sedih, dikit-dikit nangis eh diem-diem uda gak mau diajak ngomong lagi. Sedih ya.... kamu maksud aku, bukan dia. Tinggalin aja deh. Niatnya bahagia malah bikin susah." "Ayo pulang, Rah. Mataharinya uda terik banget, gak baik buat kulit kamu." Ujar Mas Bagas, menempelkan tangannya di sisi dahi Sarah agar tidak kesilauan. Mendengar itu aku sedikit merutuki hati. Bisa-bisanya Mas Bagas lebih mementingkan Sarah dari pada aku. "Saya calon istrinya. Pacarnya sih banyak, gapapa deh, yang penting dianya tau kemana harus kembali." Ujar Sarah tidak menentu. Sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku berusaha sekuat mungkin menaikkan kepala. Berat sekali, seperti sudah tertimpa palu besar diatasnya. Barus saja aku hendak ngomong kepada Mas Bagas, menyangkalnya, ini bukan seperti yang Mas Bagas lihat juga ini bukan seperti yang Sarah katakan. "M-mas...eh Pak-" "Pulang yuk, sayang. Kita singgah sebentar di tempat toko roti langganan Raga. Orangtua kamu kayaknya masih belum mau ketemu aku. Nanti aku usahain lagi." Seperti tersihir, Mas Bagas menganggukkan kepalanya. Aku kalah telak, tidak ada lagi kesempatan untuk ki. Sarah mengecup bibir Mas Bagas kembali, singkat bertepatan dengan tatapan kami bertemu. Mas Bagas sedikit terkejut, matanya membola kearah ku. Aku tak bisa berkata-kata lagi selain meratapi setiap kata demi kata yang dilontarkan oleh Sarah. Aku itu hanya bikin susah Mas Bagas. Rumit, labil, kayak anak kecil. Gak pernah bikin Mas Bagas bahagia. Posisi ku mulai terancam, gelar ku sebagai istrinya semakin tidak bisa dibanggakan lagi. Kini aku dengannya sudah hampir menyentuh hampa, sudah mendekati usang serta akan mencapai hancur. Selama ini aku hanya mendapat raganya tetapi tidak dengan hatinya. Terimakasih Sarah, terimakasih sudah memperjelasnya. "Gurlsss, kalian tau gak, ada berita baru yang super duper hot!" Aku mematung saat sosok Anya timbul dari balik ruangan tempat ku sedang menyembunyikan diri. Aku menaha nafas, menerka-nerka apa isi dari berita yang super duper hot tersebut. Dapat ku lihat, Anya berkacak pinggang, memamerkan skill ke-kepoannya yang akhirnya berhasil Anya tunjukkan. Membuat semua orang yang ada disekitarnya berseru senang menyambutnya. "Kata Anin, Pak Bagas itu sebenarnya playboy, gak cuma Alena sama Bu Sarah aja yang dideketin, tapi cewek-cewek yang lain juga. Brrrr.... bukan main." "Maksudnya?" "Pak Bagas playboy cap kapak! Suka tebar pesona sani-sini. Gak pernah puas sama satu perempuan. Udah gitu, yang sebenarnya ngerebut Pak Bagas itu Alena, bukan Bu Sarah. Pak Bagas lebih dulu pacaran sama Bu Sarah, tapi keluarganya gak ada yang setuju kalau Pak Bagas sama Bu Sarah." "Nyet, serius lo?" "Serius! Alena kan yatim piatu, orangtuanya uda meninggal dari waktu dia kecil. Dan orangtuanya Pak Bagas kasihan sama dia, jadilah Pak Bagas di jodohin sama Alena. Tapi biasa lah guys... Alena ternyata anak orang kaya juga. Pernikahannya gak jauh dari kata bisnis. Makanya Pak Bagas masih doyan sama Bu Sarah." Tambahnya lagi tanpa pernah mengetahui itu beritanya benat apa tidak. Dan parahnya, Anya mengatakan bahwa itu dari Anin. "Lo tau mana, wak?" Tanya yang lainnya. "Tadi kegep lagi ciuman sama Bu Sarah. Ada Alena juga, tentu saja si pahlawan kesiangan, Rio juga ada." "Widih!!!! Berantem dong? Seru nih kayaknya." "Sabar dulu, gue belom selesai." Anya mengibas-ngibaskan rambutnya, seolah kegerahan membuat beberapa staf laki-laki mendekat dan langsung pura-pura mengipasinya menggunakan beberapa lembar kosong. Anya berdehem, menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kembali, "Gue siap-gue siap." Imbuhnya lagi lebih semangat. Semuanya menggelengkan kepala melihatnya. "Cepetan anjir, keburu datang Pak Bagasnya." "Gini kata Anin, Gue tadi ngeliat Pak Bagas sama Bu Sarah lagi ciuman. Beh, sedep bener, sampek gak sadar ada Rio sama Alena yang lihati dari belakang. Uda gitu Bu Sarah bilang kalau doi itu uda dinobatkan sebagai calon istrinya Pak Bagas, tapi sayangnya Pak Bagas masih doyan perempuan-perempuan lain. Nebar pesona sana-sini. Untung Bu Sarah sabar, jadi bakal setia nungguin Pak Bagas sampai tobat. Gila gak tuh! Dimana lo pada bisa temuin perempuan sebaik dan sebasar Bu Sarah? Alena aja yang gak tau diri. Sudah merebut lakik orang, tapi ngakunya seolah-olah menjadi korban. Jijik banget gue." Mungkin, Anya membeo semua apa yang dikatakan Anin, tapi ini versi lebih menggebu-gebu dan heboh. "Demi apa??!!" "Anya, lo kalau bohong masuknya neraka njir. Dosa." Tiba-tiba Ara muncul. "Bohong dari mana? Temen lo yang bilang sendiri ke gue. Tanyain aja kalau gak percaya." "Gak baik ngomongin orang dibelakang, Nya, jatohnya fitnah. Mending ngomongnya secara langsung." Anya membeliak, "Maksudnya?" "Itu Alenanya lagi sembunyi, dibalik tembok ini." Dan munculnya sosok Anya saat aku hendak kabur. "Anjir! Gue gak tau lo ada disini. Nguping ya lo?" Ujar Anya. "Eng-gak, gue tadi-" "Ah elah, malas gue kalau ada si perusak. Cabut dah, cabut." Aku tertunduk, menatap dalam-dalam sepatu ku. Tidak berdaya membalas kata demi kata yang terlontar dari mereka. Saat ruangan yang tadinya berisik ini mendadak sunyi, menyisahkan aku, Anya dan Ara, Ara mendekat, menatapku remeh. Seperti melenyapkan untaian-untaian kata maaf yang beberapa hari lalu dia ucapkan. "Lo uda gak ada kesempatan lagi buat deketin Pak Bagas, Al, lo harus sadar itu. Walaupun katanya lo itu istrinya, tapi sayangnya Pak Bagas itu gak anggap lo sama sekali. Tapi ya... gak papa sih, setidaknya lo berhasil buat deketin dia. Lumayannnn, bisa dijadiin temen tidur, upsss... atau temen anu." Ara tertawa, begitu pula Anya. "Sudah tidak punya orangtua, yang katanya suami tidak menganggapnya, hidup sendiri, tidak punya teman, bukannya pergi, malah sibuk mencari jati diri." Kata Anya. "Mending lo menghilang, Al. Semua orang uda jijik lihat muka lo." "Gue ada salah apa sih, Ra, sama lo? Kok lo tega giniin gue?" Ucap ku, berusaha membalas tatapannya. "Salah lo? Banyak, Al. Apa ya... lo itu selalu berhasil dapetin semua yang lo mau. Lo mau itu, dapat, lo mau ini, dapat juga. Gue iri? Mungkin. Dan gue gak suka. Gue gak suka lihat dunia seakan-akan baik-baik aja untuk lo. Sedangkan gue dan Anin, gak pernah dapat apa-apa. Selalu Alena, Alena dan Alena. Muak gue." Balas Ara mulai emosi. "Rah... santai, ngadepin orang kek dia gini mesti pelan-pelan, supaya hancurnya juga pelan-pelan." Anya tersenyum miring. "Katanya lo baik, katanya lo asik. Tapi kayaknya enggak deh. Gue gak ngerasain itu ada di lo." Ara menggandeng tangan Anya. Padahal kemarin Ara dan Anin bilang bahwa gue adalah teman terbaik yang pernah mereka punya. Tapi ternyata aku salah. "Uda deh, Ra, gue paling gak bisa lihat manusia kayak gini." Anya menoleh padaku, sorot sinis berganti berubah menjadi remeh, "Mending kita ikut cabut juga. Kayaknya yang lain uda pada nungguin." "Gue dan Anin keknya beneran uda gak mau lagi temenan sama lo, Al. Besok-besok lo cari temen lain aja, jangan ke kita lagi." Ujar Ara pada akhirnya. Aku menatap kearah lain, berusaha menyembunyikan rasa sedih sekaligus sakit yang menyelip didalam hati. Juga genangan air mata yang sudah membuat kabur penglihatan ku. "Iya, Ra. Besok-besok uda gak lagi. Makasih ya sudah ngingetin, makasih juga uda pernah mau temenan sama gue. Maaf ternyata gue masih gagal dalam urusan pertemanan dengan lo dan Anin." Kata ku sok kuat. Begitu aku membalikkan badan ingin mengakhiri perdebatan singkat ini lebih dulu, aku melihat Mas Bagas berjalan beriringin dengan Sarah. Saling tersenyum satu sama lain. Serasi sekali. Pasangan romantis yang sedari tadi menjadi korban bahan ceritaan, akhirnya memperlihatkan kembali keharmonisan hubungannya. Setelah diberi ujian yang begitu besar lewat Mama dan Raga. Keduanya saling bergenggaman, wajahnya memancarkan kebahagiaan sampai dalam hati aku sibuk mengucapkan kata-kata putus asa bahwa memang nyatanya Sarah lebih berhak untuk diperjuangkan dari pada aku. Bayangkan saja, Mas Bagas dan Sarah seperti model dari sebuah brand berkelas. Berjalan sejajar seperti yang sedang dilintasi adalah sebuah karpet merah diiringi musik klasik sebagai backsoundnya. Sarah menatap Mas Bagas dan menghadiahi sebuah kecupan manis dipipinya. Lagi dan lagi, aku hanya bisa menjadi penonton. Menonton adegan yang rasanya ternyata sangat real. Aku merapatkan bibir. Hati ku sakit, terbelah dua hingga enggan untuk menyatu kembali. Aku yang seharusnya berada disampingnya, saling bergenggaman tangan lalu memamerkannya kepada semua orang bahwa laki-laki itu milik ku, begitu pula dengan aku yang sudah menjadi miliknya. Namun kenyataannya berbeda, aku hanya sebagai piguran yang hadir sebentar tanpa memberi kenangan sedikitpun. Aku hanya bisa berdiri kaku diantara orang-orang yang berbondong-bondong menatap takjub keduanya. Aku hanya bisa diam, tidak melakukan apapun, karena untuk segedar berbicara bahwa aku marah akan sikapnya saja sudah tidak mempunyai hak lagi. Aku meringis, memegang d**a. Perih ini semakin mencekam ku dan sakit ini semakin membunuh ku. Apa harus aku pergi? Merelakannya? Agar semua kembali asing, seperti saat pertama kali kami bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN