Chapter 20

2662 Kata
Katanya rumah adalah tempat paling aman untuk menetap, katanya juga rumah adalah tempat untuk menjadi persinggahan terakhir, setelah seharian beraktifitas. Untuk membuang rasa lelah juga penat. Nyatanya menurut ku rumah hanya seperti tempat persinggahan, segedar menumpang untuk tidur ataupun mandi. Tidak ada yang lain, begitu pula dengan aman dan nyaman. Rumah besar ini diselimuti oleh kesepian, dinaungi oleh kesedihan serta dibiarkan dalam kesengsaraan. Sama seperti aku. Besar dan kemewahan yang diperlihatkan olehnya hanya menjadikannya pajangan saja. Suara orang-orang bersenda gurau ataupun bercengkrama pun tidak akan terdengar sama sekali. Aku selalu takut dalam kesendirian. Perasaan akan kehilangan juga ditinggalkan terus menerus menggerogoti perasaan ku. Dalam hening aku selalu berusaha sekuat mungkin mengabaikannya, tetapi sunggu terasa sia-sia, sebab itu sudah seperti teman sehari-hari ku. Aku berjalan gontai menelusuri setiap sisinya. Suara jangkrik dan beberapa kicauan burung menemani ku dalam sepi. Sedih sekali, hampa rasanya ketika dia yang namanya selalu ku sebutkan dalam doa kini menjauh dari sisi ku. Sudah hampir empat bulan aku meyakinkan diri kembali bahwa sosoknya sudah benar-benar berubah. Dari perlakuannya, ucapannya hingga perhatian-perhatiannya yang membuat perasaan ku seperti ditumbuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Berakibat setiap menit, setiap detik, tidak pernah terlewatkan oleh ku tanpa memikirkannya. Dia sudah menjadi pentahta utama dihati ku. Menghadang orang-orang yang ingin masuk, mendekat ataupun menetap. Dia secara sempurna membuntukan perasaan ku. Hingga mati rasanya sebab perasaan ini hanya tercurah padanya. Ternyata aku salah. Disini aku berdiri, menatap nyalang langit hitam dengan bintang yang timbul secara terpisah. Selama ini pikiran ku terus saja mengatakan bahwa dunia itu kejam, berbahaya juga mematikan. Faktanya yang kejam itu bukan dunianya, tetapi manusianya. Lihat saja Mas Bagas, apa dia tak pernah bersyukur bisa mencapai seperti sekarang ini karena campur tangan dari keluarga ku? Apa Mas Bagas tak pernah berpikir untuk sedikit saja lebih mengerti bahwa didunia bukan hanya ada dia dan Sarah saja, tetapi ada aku juga. Yang selalu menunggunya untuk pulang, walau berpuluh-puluh kesalahan atau mungkin berjuta-juta kesalahan ditorehnya pada ku? Apa Mas Bagas tidak pernah menyadari mengapa wajah ku selalu pucat, tubuh ku melemas, juga penglihatan ku sering sekali mengabur secara tiba-tiba? Apa Mas Bagas juga gak pernah merasa bahwa perut ku sudah mulai membuncit? Isi yang dikiranya hanya bakso, kini berubah menjadi sesosok malaikat kecil kebanggaan ku? Aku tidak menyangka, bahwa keisengan ku membuah hasil. Aku yang selalu merasa mual, tidak enak badan dan sering kali moodnya berubah ternyata bukan hanya segedar masuk angin, melaikan sedang mengandung anak ku dan Mas Bagas. Dengan hanya mengandalkan test pack dan keteguhan hati, harap-harap cemas aku menunggunya, ternyata dua garis itu muncul dari benda pipih yang sedang ku genggam erat. Aku mengucap syukur, memanjatkan doa serta meminta kesehatan yang berlimpah. Diberi kekuatan yang tidak ada habis-habisnya agar bisa bernafas dan hidup bersamanya, sebab mulai dari bulan lalu aku sudah memutuskan bahwa pusat dunia ku bukan lagi Mas Bagas melainkan dirinya, calon anak ku. Aku mengelus perut. Tertunduk sambil tersenyum lembut. Walau berusaha kuat, masih saja sakit dan kecewa itu datang silih berganti. "Nak, ibumu ini hanya sebatang kara. Tidak ada kisah juga cerita indah dalam hidupnya." Batin ku berkata. Memori-memori tentangnya berputar seperti film diotak ku. "Bagas Dirgantara, sudah ya, saya mau main game dulu, kamu keluar, kalau ada kamu fokus saya jadi teralihkan" Masih kecil saja dia sudah secuek itu. Aku ingat, dulu Mas Bagas menentang permintaan kedua orangtuanya agar tidak menikahkannya dengan ku. Mas Bagas sempat perang dingin dengan orangtuanya, kalau tidak salah hampir satu bulan. Tetapi akhirnya Mas Bagas menyerah. Satu minggu kemudian Mas Bagas sudah berucap lantang didepan puluhan orang, meminta izin-Nya dan semua umat-Nya atas tuntutan keadaan untuk mempersatukan dua keluarga yang saling bersatu karena bisnis. "Saya terima nikahnya Alena Khandra binti..." "SAHHHH!!!" Semuanya tersenyum, terharu melihat kami. Mas Bagas memasangkan cincin bermata berlian merah delima dijari manis ju dan akupun memasangkan cincin polos putih dijari manisnya. Sejenak ku pandang jari tersebut, lalu ku kecup lama sambil menitikan air mata kebahagiaan. Mas Bagas tidak berekspresi sama sekali, masih saja datar tetapi aku berterimakasih padanya, karena sosoknya masih dapat tersenyum ketika berbicara dengan keluarga ku. "Papa titip anak perempuan Papa satu-satunya ini, maaf kalau nantinya kamu merasa direpotkan oleh tingkahnya, tetapi Papa bisa jamin kamu bakal luar biasa bersyukur-nya karena telah menjadikannya sebagai seorang istri. Tolong tetap menepati janjimu pada Allah dan Papa, apapun yang terjadi, jaga dia, lindungi dia, jangan pernah beri dia kekecawaan dan merasa menyerah terhadap kamu, karena kalau itu terjadi, Papa akan menjadi orang pertama yang akan merasa paling bersalah karena telah memilih lelaki yang tidak tepat untuk menjadi imam serta temannya disurga nanti." Aku menangis tersedu-sedu. Papa... Mas Bagas tidak mengingat janjinya, Mas Bagas juga tidak menjaga ku. Segudang kekecawaan telah diberinya pada ku sampai pada akhirnya aku ingin menyerah. Aku memukul perut, menumbuknya kuat diiringi tangis ku yang semakin menjadi-jadi. Disini aku ingin malaikat ini segera menghilang, menganggapnya mimpi buruk yang tak ingin ku temui lagi. Karena semakin hari, seiring dengan rasa syukur itu datang, aku akan semakin merasa perempuan paling menyedihkan sebab menerima semuanya hanya seorang diri tanpa sosoknya. "Kenapa baru pulang?" Ucapnya untuk pertama kali setelah satu harian asik bergelut dengan pikiran ku sendiri. Terlalu malas menunggu jawabannya, aku menyalim tangannya lalu berjalan terlebih dahulu, meninggalkannya dalam diam. Biasanya aku akan membantunya membukakan jasnya, mengambil alih tasnya kemudian pipi ku akan bersemu ketika merasakan kecupan manis yang diberinya. Kali ini tidak, batin juga fisik ku sangat lelah. Butuh tenaga ekstra untuk lebih melapangkan hati agar kecewa tidak lagi datang. Mata ku masih sembab, wajah ku merah padam serta penampilan ku tidak karuan. Aku tau Mas Bagas menyadarinya. "Alena." Aku rindu sekali panggilan itu, aku rindu sekali suara itu. Apakah kami sudah sejauh itu, sampai rasanya perasaan ku amat merindukannya? "Tadi pulang sama siapa?" tanyanya. Aku mendaratkan tubuh disofa empuk ruang TV kami. Mas Bagas mengekori, biasanya juga aku akan marah jika Mas Bagas masuk kedalam rumah dengan kondisi masih bersepatu. Tentu saja pengecualian untuk hari ini, terserah dia memakainya berjalan sampai kamarpun aku tak perduli. "Bareng Rio." "Kenapa mau?" "Kenapa harus nolak? Dari pada jalan," balas ku acuh. "Sudah makan?" "Sudah." "Makan apa?" "Ikan." Selama menjawab pertanyaannya, aku tidak sedikitpun beralih membalas tatapannya. Mas Bagas terlihat mencoba berulang kali mencari topik-topik pembicaraan. "Tadi macet, meetingnya juga bubarnya agak malaman. Jadi baru sampai sekarang. Pak Direktur nawarin dinner di restaurant kemarin yang kamu pengen, ya... aku ikut aja. Ternyata enak, weekend nanti kita kesana yah." Suaranya melembut, memohon agar aku mengiyakan ajakannya. "Tukang nasi goreng depan komplek kita juga uda buka loh. Kemarin katanya kamu pengen pake banget. Mau dibeliin?" Tambahnya lagi. Aku meliriknya ragu. Lapar suh, pengen juga. Tapikan ini lagi mode nyuekin dia. "Atau mau makan disana? Ayuk, keburu larut." Aku melawan segala keluluhan hati yang akan ku beru untuknya. Kedua tangan ju memegang kuat ujung sofa, setelah itu beranjak berdiri namun terhenti ketika Mas Bagas berpindah duduk kesamping ku. "Maaf soal yang tadi, maaf kalau lagi-lagi aku menyakitimu," Mas Bagas melepas genggaman tangannya. Kepalanya tertunduk lemas disamping ku, "Aku salah, dan akan selalu salah. Aku terbuai, Alena, aku terlena. Ntah apa penyababnya, Sarah selalu berhasil memberi ku nyaman dalam setiap dekapannya. Memberi ku damai dalam setiap sentuhannya juga memberi ku sayang dalam setiap kecupannya." "Dalam sekejap semua tentang kamu bisa hilang secara tiba-tiba, lalu Sarah mengambil ahli. Semuanya. Seluruh tubuh ki seakan-akan tertunduk apabila Sarah sudah mendekat pada ku. Lantas aku harus bagaimana, Alena?" Mendengar itu aku hanya bisa tersenyum simpul. Rupanya Mas Bagas masih terjerat pada masalalunya, "Sekarang ini kamu lagi mendeklarasikan kalau kamu masin sayang sama Sarah?" "Engg-gak, aku gak bermaksud begitu." kesedihan itu menyergap ku, mengukung ku seposesif mungkin, sampai-sampai semua perkataannya juga keberadaannya hanya semu bagi ku. Ku rengkuh tubuhnya, tidak sanggup melihat raut kacau wajahnya. Aku sangat menyayanginya, aku sangat mencintainya, bahkan Mas Bagas mengetahuinya sejak pertama kali kami bertemu. Pertemuan itu merubah takdir ku. Merubah masa depan ku juga merubah tujuan hidup ku. Aku menemukannya, diantara beribu-ribu pilihan hidup sebagai seorang anak pembisnis hebat, aku memilihnya. Memberinya seluruh sisa hidup ku, tanpa takut jika suatu saat nanti itu ternyata tidak sejalan dengan kemauan ku. "Seharus kamu bisa lebih tau kamana hati mu harus menetap. Bukannya berubah-ubah seperti ini. Untuk pertama kalinya, aku capek sama kamu, Mas." Teriknya sinar matahari menembus kaca jendela kamar kami. Terangnya menganggu lelap ku, terpaksa aku harus bangun. Baru saja aku hendak bangkit ingin menyatukan antara kedua tirai yang berjarak itu, namun gagal ketika aku menyadiri ada lengan besar memeluk perut ku secara posesif. Aku menoleh, menatap lelaki bertubuh besar itu. Tubuh setengah telanjangnya menyamping kearah ku. Sepertinya aku tertidur saat mendekapnya tadi malam, sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah berada disini dengannya, dengan Mas Bagas yang seharusnya ku hindari. Pelan-pelan aku menggeser lengannya manjauh. Tiba-tiba Mas Bagas terbangun, menarik ku kembali, "Mau kemana?" Aku mengerjap-ngerjap, berusaha menyadarkan diri kembali. "Begini dulu, sebentar saja." ucapnya. Suara khas seraknya menyapa manja indra pendengaran ku. "Aku mau ke kantor." Dalih ku. "Weekend kantor gak buka." Matanya kembali terpejam. "Ya kemana aja, asal gak disini." "Masih pagi juga." "Geser." Aku meronta, mencoba membebaskan diri, "Pengap, aku gak bisa napas." "Tumben banget? Biasanya juga paling demen kalo uda kek gini, apalagi bagian yang lebih-lebihnya." Ucapnya lembut. Demi apapun, gimana gak pengap, perut aku dililit sama tangan dia. Kakinya juga mengunci ku, menjadikan ku guling hidup. "Aku gak mau kita berantem. Geser sana, aku mau mandi." Dahinya berkerut, kenapa? Ada yang salah dengan ucapan ku? "Cuma gini aja, Alena, masa harus berantem?" volume suaranya mulai meninggi. "Yaudah geser!" Dan sekarang aku membentaknya. Ini diluar dugaan, baru kali ini aku kelepasan. Sepertinya mood ku pagi ini lagi bercampur aduk. Apalagi aku sedang hamil, selamat Pak Suami. Dengan jengkel Mas bagar memberikan ku ruang untuk menjauh, wajahnya merah padam, sepertinya emosinya sebentar lagi akan meledak jika ku senggol sedikit saja. "Dasar gak peka." Gumamnya pelan tapi aku masih berhasil mendengarnya. Aku melangkahkan kaki kearah jendela, lalu menyatukan tirainya. Hembusan-hembusan angin masuk terselip melewati celanya. Sejuk sekali, sontak aku memenjamkan kedua mata, menikmatinya sejenak. Aku menarik nafas dengan sangat perlahan dan ku hembuskan kembali dengan perlahan juga, tanpa ku duga sebuah benda kenyal menghinggapi bibir ku, kering tanpa basah sedikitpun, membuat bibir ku rerasa sangat lengket saat benda itu menjauh darinya. Ketika mata ku terbuka, pandangan ku langsung tertutup oleh sesosok wajah ganteng dan rupawan. Aku diam terpaku dihadapannya yang menatap ku dekat dan seintens itu, kemudian wajahnya maju kembali, hendak menjamah bibir ku lagi, dengan cepat aku mengalihkannya. "I miss you." Bisiknya ditelinga ku. Mas Bagas merengkuh ku, menepis ke belakang beberapa helai rambut dibahu sebelah kiri, kemudian menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher ku. Sesekali diendus juga dikecupnya, membuat sensasi pusing dikepala ku. Tangannya bergerak sangat cepat, masuk kedalam piyama tidur ku, membuka ikatan branya dan menggeserkan talinya hingga tersangkut dilengan. Aku menggigit bibir sesaat tangannya sudah melingkupi seluruh tubuh ku dengan bebas. Angin yang tadinya terasa sejuk kini berubah menjadi panas. Tidak ada kesempatan untuk menolak perlakuannya, godaan dan rayuan terdengar merdu darinya membuat tubuh ku terlena, sehingga aku kembali berbaring dibawah naungan kuasa tubuhnya. Bersusah payah aku menelan air liur ku sendiri melihat Mas Bagas mulai bergeriliya diatas ku. Menjadikannya strageri agar dapat merebut juga merobohkan tembok pertahanan kemudian menguasainya kembali. Dan berhasil. Mas Bagas menjelajahi setiap lekukan ku, memberinya kecupan-kecupan mesra yang entah kenapa membangkitkan hasrat untuk membalasnya. Dengan liarnya Mas Bagaa mempermainkan ku, menjadikan ku objek utama untuk sasarannya. Mas Bagas menatap mata ku dengan buas, memberikan senyuman miring, sehingga membuat bulu kuduk ku berdiri. Hebat sekali. Apa yang dilakukannya seperti menghipnotis ku. Melupakan semua pikiran-pikiran buruk mengenainya. Sejenak aku terdiam, melihat raut wajahnya saat menikmati ku, ini rasanya tak adil. Aku memejamkan mata, mencerna apa yang telah terjadi. Dia yang selalu mengecewakanku, dia yang selalu menyakiti ku dan dia yang selalu membuat ku menangis tetapi dia juga yang selalu membuat ku mengerti bahwa perasaan ku padanya tidak pernah sebercanda ini. Ku lihat wajahnya lagi, kedua matanya juga terpejam, bibir merahnya sibuk bergerak terbuka dan tertutup sampai urat-urat yang ada dilehernya mulai mengintip keluar. Aku mengenali itu, sebagai tanda sesuatu yang mendesak akan keluar setelah kenikmatannya tercapai. Jahat sekali rasanya jika aku berpikir bahwa Mas Bagas tidak boleh melepaskannya, aku menahannya, sekuat mungkin menghentikan gerakannya. Membuatnya memberi ku eskpresi tanya. Aku menyeringai nakal. Dengan berani ku genggam miliknya, tegang dan besar sekalisi. Tentu saja, aku terkejut kemudian menjauhkannya dari milik ku. "Maaf." Kata ku singkat. Setelah itu kabur melarikan diri masuk kedalam kamar mandi. Jantung ku berdegup kencang, kaki ku lemas dan nafasku berderu kencang. Untuk pertama kalinya aku membiarkannya, menghukumnya atas apa yang dilakukannya pada ku. Masih bisa ku dengar Mas Bagas mengumpat, mengatakan beberapa kata memohon dan ikut memanggil nama ku. Aku tidak perduli, biar Mas Bagas tersiksa, tersakiti, bukan secara lisan tetapi secara fisik. Weekend ini aku memutuskan untuk bermalas-malasan dirumah. Cuaca panas seakan mendukung untuk enggan keluar rumah, padahal biasanya aku paling gak bisa diem, sibuk kesana kemari. Gangguin Mas Bagas, ngerecokin atau sering ngajakin lunch diluar. Dan juga berhubung kami saat ini lagi perang dingin karena permasalah tadi pagi, jadi lah sekarang kami disini. Duduk saling berjauh-jauhan, jangan kan berbicara, saling bertemu tatap saja kami tidak mau. Sedari tadi mulut ku gak bisa diam, asik ngunyah terus, tubuh ku selonjoran dengan kaki naik keatas meja, apalagi ruangan home teater kami kesannya mirip banget sama yang ada dibioskop. Disisi kiri ada mesin popcorn khusus dibuat Mas Bagas untuk ku, sedangkan disisi kanan ada bar kecil diisikan oleh beberapa minuman bersoda dan camilan kesukaannya. Aku melangkahkan kaki bar kecil tersebut, membuka kulkas. Bermacam-macam snack terpampang dihadapan ku. Semenjak hamil tingkat kepekaan ku terhadap makanan semakin meningkat. Baru menghirup saja, perut ku langsung keroncongan. Belum, Mas Bagas belum tau kalau aku lagi hamil. Mungkin gak sadar, karena kalau dirumah itu pakaiannku selalu longgar, gak pernah yang terlihat pas dibadan. Perut ku sedikit mulai membuncit. Tetap saja Mak Bagas itu gak mungkin sadar, diotaknya isi perut ku ini cuma bakso, bakso dan bakso. Dengan santai aku mendaratkan p****t ketempat semula. Merasakan ekor matanya melirik, tajam sekali ya ampun. Awas keluar Bapk bola matanya. Aku tersenyum bangga melihat koleksi bungkusan camilan ku. Membuka salah satunya lalu menyandarkan punggung kembali kepunggung sofa. Mas Bagas berdecak kesal mendengar kriuk-kriuk dari mulut ku, membuatnya mengalihkan pandangannya kearah ku. Aku mengedikkan bahu tidak perduli, bodo amat, yang penting perut ku kenyang. "Ngapain makan punya orang?" tanyanya. Aku menoleh kekanan dan kekiri, seakan mencari asal sumber suara tersebut, kemudian kembali memfokuskan pandangan ku. "Itu punya ku!" ucapnya lagi dan aku kembali tidak perdulu. "Alena!" Weits... marah dia. "Jangan dimakan!" Mas Bagas bangkit, mendekat, membuat ku sedikit bergesar menjauh darinya. "Balikin gak!" "Gak mau!" "Balikin!" "Gak mau!" "Balikin, Alena." "Heboh banget! Kalau mau kan masih bisa ambil yang lain. Kayak cuma satu ini aja camilannya." Kesal ku. "Makanya kalau disuruh beli untuk kamu itu diambil jangan pas udah disini malah ngambil punya orang! Heran, setiap disuruh katanya gak suka, gak mau, tapi doyan, diem-diem ngambil tanpa izin." Sindirnya kasar. Apaan deh, doyan dari mana coba? Baru kali ini aja kok. Selama ini aku paling anti makan beginian. Darah ku mulai mendidih, emosi memuncak. "Besok ku ganti dua kali lipat, puas!" Tubuhnya maju juga tangannya ikut terulur. Sekuat tenaga aku mempertahankannya, gak boleh sampe direbut olehnya. Kami berdua sudah seperti anak kecil yang saling berebutan, bedanya ini versi agak romantis dikit. Lihat aja, masih sempat-sempatnya mencuri beberapa kecupan dibibir ku. "Jangan cium-cium!" Aku mengusap kasar bekas kecupannya. "Makanya balikin!" Mas Bagas gak pernah denger apa kalau orang pelit itu kuburannya sempit. Masa gara-gara ini doang Mas Bagas langsung kebakaran jenggot. Yaudalah, ngalah sama yang lebih tua. Lagian uda kenyang juga, perut ku gak sanggup nampung lagi, takutnya sikecil ini gak ada tempat bermain lagi kalau area bermainnya diblokade oleh camilan lainnya. "Nih-nih! Bawa pulang, jagain, kelonin bila perlu tidurin sekalian, supaya beranak!" Aku bangkit, meninggalkannya yang masih memberi tatapan jengkel. "Dasar bakso beranak!" Balasnya setengah menjerit. Ku usap perut ku secara perlahan, sedikit merasa bersalah karena kemaren aku sempat berpikir untuk menghilangkannya. Buktinya sekarang sudah kembali sayang sekali padanya, akan ku biatkan dia tumbuh besar didalam sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN