MY GIRL | 2

2719 Kata
“Weekend harusnya jadi hari untuk santai, berleha-leha, bisa bangun siang. Ini malah kayak gini, setiap weekend harus kerja paksa kayak gini” Bianca terus menggerutu sebal sambil mengepel lantai rumahnya. Ia benar-benar kesal dengan makhluk bernama Dewa itu. Bagaimana tidak pagi tadi saat tepatnya pukul setengah tujuh Dewa sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar Bianca. Padahal ini hari weekend yang seharusnya menjadi hal wajib untuk gadis itu bangun siang. Bianca yang berada di tengah ranjang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut berusaha menghiraukan suara ketukan Dewa. Namun lama kelamaan bukannya menyerah pria itu justru semakin menjadi-jadi, ia bukan lagi mengetuk tetapi sudah dalam tahap menggedor pintu kamar Bianca. Gadis itu yang takut kalau pintunya akan jebol pun akhirnya turun dari ranjang dengan malas. Begitu ia membuka pintu, Dewa langsung menarik tangannya dan mengatakan pada Bianca kalau hari ini mereka akan membersihkan rumah bersama-sama. Dua kata ‘membersihkan-rumah’ langsung membuat tingkat kekesalan Bianca meningkat. Ia yang dulunya sangat mencintai hari weekend dan selalu menunggu-nunggu hari tersebut sekarang tidak lagi semenjak ada Dewa. Karena Dewa akan mengajaknya kerja paksa seperti ini tiap weekend. Ia selalu saja beralasan kalau dirinya tak suka melihat rumah berantakan atau pun kotor. Padahal menurut Bianca rumah juga tidak dalam keadaan kotor atau pun berantakan, buktinya ia nyaman-nyaman saja dengan keadaan tersebut. Ah tidak, Bianca memang selalu nyaman di rumahnya dalam keadaan bagaimana pun. Dan sekarang beginilah nasib Bianca, dengan rambutnya yang dicepol ke atas ia sedang mengepel lantai rumahnya. Setelah tadi ia menyapu, mencuci piring kemudian membersihkan debu-debu yang menempel sekarang langkah terakhir ia harus mengepel. Sementara Dewa sedang berada di taman depan, mengurusi tanaman-tanaman yang layu atau bahkan mati di sana. Ia mengatakan akan membeli beberapa pohon hias lagi. Terserah Dewa ingin melakukan apa dengan taman tersebut karena yang terpenting bagi Bianca ia segera selesai dengan tugasnya dan bisa kembali tertidur. Beberapa menit berselang Bianca telah selesai mengepel seluruh ruangan di rumahnya termasuk kamar Dewa. Melalui pintu samping yang menyambungkan antara dapur dan garasi ia membawa sebuah kantong plastik besar berwarna hitam. Kantong plastik tersebut berisi barang-barang rusak atau pun yang sudah tak terpakai yang berhasil ia kumpulkan dari kamarnya. Ia berniat untuk membuangnya, nanti akan ia letakkan di depan rumahnya saja yang nantinya akan diangkut oleh petugas kebersihan yang rutin lewat di depan rumahnya. “Itu apa?” tanya Dewa Bianca menghentikan langkahnya kemudian meletakkan kantong plastik tersebut. Dewa yang sebelumnya terlihat sedang sibuk dengan salah satu pohon menghampiri gadis itu. “Barang-barang yang udah rusak” Dewa melirik gadis di depannya sekilas kemudian tangannya terulur mengambil sebuah pigura foto berukuran kecil. Dalam foto tersebut terlihat seorang anak perempuan kecil berponi yang tersenyum ke arah kamera dengan diapit seorang wanita dan pria di kedua sisinya. Melihat Dewa mengambil pigura foto tersebut membuat Bianca langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. “Ini mau dibuang?” ia menatap Bianca “Iya” jawab Bianca enggan menatap Dewa “Bukannya ini foto kamu dan orang tua kamu?” Gadis itu menatap Dewa dengan tatapan tajam. “Buang aja, fotonya udah jelek” ia merebut pigura foto tersebut dari tangan Dewa kemudian memasukkannya ke dalam plastik dan kembali membawa kantong plastik tersebut ke depan rumahnya. Merasa ada yang aneh dengan sikap Bianca karena foto tersebut Dewa menolehkan kepalanya melihat Bianca yang sedang meletakkan kantong plastik tersebut di depan rumahnya. Kemudian gadis itu kembali memasuki pekarangan rumah dan berjalan melewati Dewa begitu saja. Sebenarnya ada apa dengan Bianca dan orang tuanya? Karena hari yang beranjak siang Dewa sudah selesai dengan kegiatannya di taman. Matahari sudah begitu terik membuatnya tidak kuat jika harus berpanas-panasan. Mungkin ia akan melanjutkan kegiatannya nanti sore. Saat ini ia sudah berada di kamarnya sedang menyejukkan tubuhnya yang berkeringat di bawah pendingin ruangan. Rasanya sejuk sekali saat tubuh yang berkeringat diterpa oleh hembusan sejuk sebuah pendingin ruangan. Merasa haus Dewa beranjak dari ranjang tidurnya menuju dapur. Ia berniat untuk membuat es jeruk. Langkahnya yang akan menuju dapur terhenti begitu melihat pintu utama yang terbuka, padahal ia ingat sekali kalau tadi ia menutup pintunya. Pria itu pun melangkah menuju pintu utama dan melihat Bianca yang sedang duduk di kursi kayu teras depan dengan kedua lutut yang naikkan ke atas kursi kemudian ditekuk. Kedua tangannya memeluk kedua lututnya dengan dagu yang diletakkan di atas lutut. Ia tampak sedang melamun. Dewa bukan pria bodoh, jelas ia menyadari ada hal yang tak beres dengan gadis itu. Terlebih setelah kejadian pigura foto tadi. Apa mungkin Bianca melamun karena sedang memikirkan orang tuanya? Tetapi sebenarnya dimana orang tua gadis itu? Kemudian Dewa pun melanjutkan niatnya menuju dapur. Tak lama berselang, Bianca terlonjak kaget saat merasakan pipinya yang dingin. Ia menoleh dan melihat Dewa yang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan memegang segelas es jeruk—dengan salah satu gelasnya yang ia tempelkan ke sebelah pipi Bianca. Pria itu tersenyum melihat gadis itu yang kaget kemudian menyodorkan segelas es jeruk tersebut disusul dengan dirinya yang duduk di kursi kosong satunya dengan meja yang berada di tengah-tengah mereka. Dewa meneguk es jeruk buatannya kemudian menoleh ke arah Bianca yang hanya memegangi segelas es jeruk tersebut. Jelas terlihat kalau ia sedang memikirkan sesuatu. “Diminum es jeruknya, jangan dipegangin aja” Bianca menoleh kemudian meneguk sedikit es jeruknya. “Asem” “Kayak wajah kamu sekarang, asem” pria itu menoleh. “Kenapa sih?” “Pengen tau aja” Dewa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Seharusnya ia tak perlu menanyakan hal itu dan seharusnya ia tahu dan sadar diri dengan keberadaannya. Hubungannya dengan Bianca tak lebih dari pemilik dan penyewa kamar. Mereka pun baru dua minggu ini terlihat saling mengobrol dan membuka percakapan. Mereka tak saling mengenal satu sama lain, hanya mengetahui sebatas nama. Mana mungkin jika keduanya hanya memiliki kedekatan sebatas itu Bianca mau berbagi keluh kesahnya pada Dewa. Dan begitu juga sebaliknya. “Katanya mau tidur, kok malah di sini?” Dewa berusaha mengalihkan pembicaraan “Nggak bisa tidur” “Kenapa?” Bianca mengangkat kedua bahunya. “Nggak tahu” “Kamu nggak pergi sama teman-teman kamu?” Gadis itu menoleh. “Teman yang mana?” “Yang berjilbab dan satunya itu” “Oh Mayra sama Ocha. Kalo Mayra lagi ikut kajian dan Ocha lagi di Jogja karena kerjaannya” Entah kenapa hati Dewa tersentuh mendengar Mayra yang sedang mengikuti sebuah kajian. Benar-benar wanita sholehah pikirnya. Betapa beruntungnya pria yang akan menjadi suaminya kelak karena bisa mendapatkan Mayra menjadi istrinya. Bianca memukul meja di sampingnya yang membuat Dewa langsung tertarik ke dunia nyata. “Kenapa bengong?” Pria berkaus hitam itu menggelengkan kepala. “Nggak” kemudian meneguk es jeruknya. *** Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Bianca berada di kamarnya. Ia duduk di tengah ranjang menghadap laptop dengan jemari lentiknya yang menari-nari di atas keyboard. Jika di saat malam hari begini, suasana hening, perutnya sudah kenyang, tidak ada yang menganggu maka ide akan muncul dengan mulus di otaknya. Ia sangat-sangat senang dengan situasi seperti ini karena dengan begitu ia bisa cepat menyelesaikan ceritanya. Tok. Tok. Tok. Bagaikan sebuah tayangan televisi yang rusak, ide yang sebelumnya sudah berada di otak Bianca langsung hilang entah kemana saat suara ketukan pintu tersebut memasuki indera pendengarannya. Jelas ia tahu siapa pembuat kerusuhan di luar sana, siapa lagi kalau bukan Dewa. Bianca benar-benar baru menyadari kalau ternyata Dewa bukan hanya tampan tetapi ia juga memiliki sisi menyebalkan. Seperti sekarang ini contohnya, merusak konsentrasi Bianca saja. Sama seperti pagi tadi, saat Bianca menghiraukan Dewa maka pria itu akan semakin menjadi-jadi. Karena ia tahu kalau Bianca belum tertidur, hal itu terlihat dari lampu kamarnya yang masih menyala. Dengan sebelumnya menggeram kesal Bianca beranjak turun dari ranjang menuju pintu. Ia membuka pintu hanya sedikit dengan kepala yang tersembul keluar dan sebelah tangannya memegang handle pintu. “Kenapa sih?” “Keluar dulu” Bianca mendecakkan lidah. “Yaudah ngomong aja” Tangan Dewa terangkat kemudian memasuki celah pintu, ia memegang kepala Bianca dari belakang kemudian mendorongnya keluar. Bianca yang awalnya berusaha menahan tubuhnya untuk tidak keluar harus kalah dengan tenaga Dewa yang sangat kuat. Gadis itu berdiri di hadapan Dewa dengan wajah kesal, ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Kenapa?” “Ikut ke supermarket, beli bahan makanan buat isi kulkas” “Nggak bisa besok aja?” “Lebih cepat lebih baik” Gadis itu menghentakkan kakinya kesal kemudian kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Dewa hanya tersenyum tipis melihat hal tersebut kemudian berjalan keluar rumah dan menunggu gadis itu di samping mobilnya. Tak lama berselang, Bianca sudah berdiri di undakan terakhir teras rumahnya. Ia hanya berdiri menatap Dewa yang sibuk dengan ponselnya. Dewa mengangkat wajah menatap Bianca yang tetap mengenakan celana jogger wanita pas di kakinya dengan stripe putih di bagian sampingnya. Namun sepertinya ia mengganti kausnya dengan hoodie berwarna putih. Rambutnya yang sebelumnya terlihat tak berbentuk, ia kuncir kuda dengan anak-anak rambut yang membingkai wajahnya. Dan jangan lupakan sandal jepit berwarna merah yang menjadi alas kakinya. Tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya menurut Dewa. Hanya berubah sedikit. Lagipula memangnya Bianca harus berpenampilan bagaimana, mereka juga hanya akan pergi ke supermarket. Dan Dewa pun hanya memakai celana pendek selutut bewarna krem yang ditimpali dengan kaus berwarna hijau army. Sialnya saja ia tetap terlihat tampan walaupun hanya dengan setelan seperti itu. Di supermarket, suasana terlihat ramai di supermarket tersebut walaupun hari sudah terbilang malam. Semua pengunjung hampir didominasi oleh pasangan suami istri yang mendorong troli belanjaan mereka. Maka tak sedikit dari mereka yang mengira kalau Bianca dan Dewa adalah pasangan suami istri. Bianca berjalan sambil mendorong troli belanjaan dengan Dewa di sampingnya. Bianca menghentikan troli dibagian sayur-sayuran hijau, ia terlihat sedang memilih brokoli, wortel, bayam dan yang lainnya. “Nggak usah beli sayur, saya nggak suka sayur” Bisik Dewa pelan Gadis itu menoleh dengan matanya yang sedikit membulat kemudian tersenyum. “Kamu lupa tinggal bersama siapa? Saya nutritionist, saya selalu memperhatikan makanan pasien di rumah sakit mana mungkin saya tidak memperhatikan makanan seseorang yang tinggal bersama saya” “Saya nggak perlu diperhatikan oleh kamu” Lagi-lagi Bianca tersenyum. “Jangan gitu, nanti kalo udah saya perhatiin malah ketagihan” ia meletakkan sayur-sayuran pilihannya ke dalam troli kemudian kembali melanjutkan langkahnya Setelah lelah berkeliling dan juga troli mereka sudah hampir penuh mereka pun langsung menuju kasir dan masuk dalam antrian. Karena supermarket yang sebentar lagi akan tutup membuat orang-orang mempercepat kegiatan berbelanja mereka yang akhirnya membuat antrian cukup panjang di kasir. Dewa mengedarkan pandangan mencari antrian kasir paling pendek sehingga mereka bisa berpindah agar lebih cepat. Namun sayangnya antrian setiap kasir memang panjang membuatnya pasrah menunggu gilirannya. Saat akan mencapai gilirannya, Bianca mendorong trolinya sedikit. Dewa yang berdiri di sampingnya sedikit menundukkan kepalanya membisikkan sesuatu pada gadis di sampingnya. “Siapin uangnya” Sontak Bianca langsung menoleh kemudian menyempatkan untuk melirik sekitar. “Uang? Saya nggak bawa dompet, handphone aja nggak dibawa” ucapnya dengan suara pelan “Kok gitu? Semua belanjaan ini untuk isi kulkasnya siapa?” “Kulkas saya” “Yaudah berarti kamu yang bayar” Walaupun mereka berdebat dengan suara pelan tetap saja mengundang perhatian orang-orang yang ada disekitarnya terlebih lagi orang-orang yang berada diantrian yang sama dengannya. Dan baik Dewa atau pun Bianca menyadari hal itu. “Ya tapi saya nggak bawa dompet, kan kamu yang ajak saya ke sini” Dewa menggaruk dahinya yang tak gatal. “Ya terus gimana?” “Yaudah balikin lagi aja semuanya” Bianca sudah akan membelokkan trolinya namun langsung dicegah oleh Dewa. “Saya yang bayar” Bianca mendecakkan lidahnya. Sungguh sudah berapa kali ia mendecakkan lidahnya hari ini karena kesal dengan pria di sampingnya. Bahkan saking kesalnya Bianca ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada Dewa. Dan ia pun merealisasikan hal tersebut, ia menginjak sebelah kaki Dewa membuat pria itu terlonjak kaget kemudian mengaduh kesakitan. “Aw!” Tanpa mempedulikan hal tersebut Bianca justru mendorong trolinya karena kini sudah gilirannya membayar, ia memindahkan belanjaannya ke meja kasir sementara Dewa masih nampak mengaduh kesakitan diposisinya. *** Sepulang dari supermarket Dewa mengajak Bianca untuk makan di salah satu restoran Jepang tetapi gadis itu menolak karena ia tak menyukai makanan Jepang. Satu-satunya makanan Jepang yang ia sukai hanya mie ramen, selain itu tak ada yang ia sukai. Dan Bianca pun lebih memilih untuk makan di salah satu warung tenda makan nasi goreng di pinggir jalan. Menurutnya dibandingkan makanan Jepang, nasi goreng pinggir jalan seperti ini jauh lebih nikmat. Bianca dan Dewa sudah duduk berhadapan di salah satu meja panjang. Sambil menunggu pesananannya datang Dewa terlihat sedang memeriksa beberapa notifikasi yang masuk dalam ponselnya sementara Bianca lebih memilih mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sampai akhirnya terlihat segerombolan kelompok anak motor yang didominasi oleh laki-laki memasuki warung tenda tersebut. Sialnya mereka memilih meja yang sama dengan meja Bianca dan Dewa. Bahkan saking banyaknya personel mereka, salah satu diantaranya harus duduk bersampingan dengan Bianca. Gadis itu yang merasa kalau jarak mereka terlalu dekat pun menggeser kursinya. Dan rupanya hal tersebut tak luput dari pandangan Dewa, ia melihat Bianca yang terlihat tak nyaman dengan kehadiran orang-orang itu. Dewa menggenggam ponsel di tangan kiri kemudian bangkit berdiri dan dengan tangan kanannya ia menarik tangan Bianca untuk berpindah kursi—karena kebetulan baru saja ada pengunjung yang pergi. Mereka memilih meja yang berada di dekat pintu masuk. “Kenapa pindah?” tanya Bianca Pria itu meletakkan ponselnya di meja. “Kamu keliatan nggak nyaman di sana” Bianca tidak menanggapi ucapan Dewa namun dalam hati ia mengiyakan ucapannya itu. Ia memang tak nyaman dengan keberadaan orang-orang itu. Dan harusnya Bianca mengucapkan terimakasih karena Dewa menyadari ketidak nyamanannya dan mengajaknya pindah. Tetapi rasanya Bianca masih kesal dengan pria itu karena kejadian di supermarket tadi sehingga ia malas untuk mengucapkan terimakasih. Tak lama berselang pesanan mereka datang, keduanya pun langsung menyantap nasi goreng mereka dalam diam. Tak ada diantara mereka yang memulai obrolan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya saat Bianca hendak menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, gerakan tangannya terhenti begitu ada yang memanggil namanya. Ia menoleh dan menemukan Mayra di sana, di samping gerobak nasi goreng. Dewa pun menoleh ke arah yang sama, ia terlihat memandangi gadis itu dalam waktu yang cukup lama. Gadis dengan gamis berwarna hitam yang ditimpali dengan khimar berwarna pink soft. Cantik. Mayra terlihat begitu cantik. “Saya ke sana dulu” ucap Bianca begitu Mayra menggerakkan tangan memintanya menghampirinya Bahkan saat Bianca mengatakan hal tersebut Dewa tidak menanggapi apapunkarena ia masih terus menatap ke arah Mayra diiringi dengan debaran jantungnya. Dan sepertinya menyadari sedang ditatap begitu intens oleh Dewa. Mayra pun memilih membalikkan badan membelakangi Dewa. Ia tidak suka dengan pria yang memandanginya seperti itu kecuali pria itu adalah kekasih halalnya. “Kamu ngapain di sini Ra?” “Aku beli nasi goreng buat ibu ku” Sepertinya Bianca baru menyadari kalau keberadaannya sekarang tentu dekat dengan gang rumah sahabat cantiknya ini. “Kamu ngapain pergi sama cowok itu?” sambung Mayra lagi “Tadi aku abis dari supermarket, beli bahan makanan buat isi kulkas” “Bi, aku tuh selalu khawatir kalo inget kamu tinggal berdua sama cowok itu. Aku tahu kamu nggak mungkin ngelakuin hal yang dibenci Allah tapi aku takut hal buruk terjadi sama kamu” Bianca tersenyum melihat kekhawatiran sahabatnya. Sejak awal Mayra memang sangat menentang saat Dewa akan menyewa kamar di rumahnya. “Kamu tenang aja Ra. InsyaAllah aku baik-baik aja, dia orang baik” “Orang baik juga bisa jadi orang jahat karena ada kesempatan” “Ngomongnya jangan gitu dong Ra. Kamu kapan main ke rumah aku? Rumah aku udah bersih, rapih, wangi loh” Bianca menyengir “Iya insyaAllah aku main ke rumah kamu. Tapi aku mau main ke rumah kamu kalau cowok itu lagi nggak ada di rumah kamu” Dahi Bianca mengernyit. “Kenapa?” “Ya nggak enak aja Bi ada cewek-cewek dan cowok yang bukan muhrim dalam satu rumah. Walaupun kita nggak ngapa-ngapain tapi aku nggak mau kayak gitu” “Yaudah nanti aku atur waktunya, sekalian tunggu Ocha balik ke Jakarta” Mayra menganggukkan kepala. “Yaudah aku duluan, nasi gorengnya juga udah selesai. Kamu hati-hati ya Bi nanti kita sambung di chat. Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” Setelahnya Bianca kembali ke mejanya. Dewa yang sejak tadi memperhatikan keduanya langsung buru-buru menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Ia bahkan sejak tadi seperti tak berkedip menatap gadis berkerudung lebar itu tetapi sayangnya yang ditatap bahkan tak meliriknya sama sekali. Dan mungkin Dewa akan semakin sedih jika mendengar apa yang tadi diucapkan oleh Mayra. Tetapi memangnya kenapa ia harus bersedih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN