MY GIRL | 1
Pukul enam lebih dua puluh menit pagi.
Bianca semakin panik begitu melihat jam di dinding kamarnya. Ia semakin mempercepat gerakannya, memoleskan lipstick nude dibibirnya kemudian menjepit setengah rambutnya dengan jepitan. Ia beralih mengambil tas berwarna hitam di sofa kemudian memasukkan ponsel, dompet, id card dan beberapa barang wajib lainnya. Baru setelah itu ia menyampirkan sebelah tali tasnya ke bahu dan berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa sambil menenteng heels tiga sentinya.
Gadis itu benar-benar merutuki kebodohan dan kesalahannya sendiri. Karena tadi malam ia marathon menonton drama korea membuatnya tertidur saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Sekarang ia malah kesiangan bangun yang membuatnya terancam datang terlambat ke tempat kerja. Sial, sial, sial. Ini semua karena drama korea itu.
Bianca masih terlihat sibuk memakai sepatunya di sofa ruang tengah saat terdengar suara deru mobil dari garasi depan rumahnya. Itu suara mobil Dewa, seseorang yang menyewa kamar di rumahnya. Biasanya dijam segini pria itu memang sudah siap akan berangkat ke kantor dan sekarang ia terlihat sedang memanaskan mobilnya di garasi.
Sambil menunggu memanaskan mobil, Dewa berdiri besandar pada bagian samping mobil sambil memeriksa beberapa notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Tak lama berselang terdengar suara pintu yang dibuka kemudian ditutup kembali. Dewa yang sudah rapih dengan setelan jasnya mengangkat kepala. Ia melihat Bianca yang sudah rapih dengan rok pensil selutut berwarna navy ditimpali dengan blouse berlengan sesiku berwarna biru soft.
Jujur saja selama satu minggu Dewa tinggal di rumah tersebut, ia sangat jarang melihat Bianca yang berpakaian rapih seperti ini. Biasanya gadis itu selalu berpakaian kaos yang terkadang kebesaran atau pun warnanya sudah pudar, ditimpali dengan celana piyama dan rambut yang diikat asal. Bahkan Dewa terkadang sampai mengerutkan dahi bingung melihat penampilan aneh Bianca. Cuek, itu sifat gadis itu. Ia bahkan terlihat pede saja dengan penampilannya yang seperti itu walaupun ada Dewa di rumahnya.
Bianca melangkah dengan terburu-buru begitu juga saat menuruni beberapa undakan di teras depan rumahnya. Dewa memasukkan ponsel ke saku celana kemudian menegakkan tubuhnya. Sepertinya jika dipikir-pikir selama satu minggu tinggal di rumah Bianca, mereka belum pernah mengobrol atau pun memiliki kedeketan apapun. Padahal tujuan utama Dewa menyewa kamar di sana untuk mendekati gadis itu—dengan maksud dan tujuan lain. Tetapi nyatanya sampai sekarang mereka masih terlihat tidak saling sapa satu sama lain. Tak salah kan jika Dewa mulai mendekati Bianca, anggap saja ini sebagai awal misi utamanya.
“Mau berangkat?”
Bianca yang berada di undakan terakhir menoleh. “Hah? Oh iya, mau berangkat kerja”
“Bareng aja. Ke arah mana?”
“Rumah sakit Kartika”
“Yaudah bareng aja. Searah kok”
“Beneran?”
Dewa menganggukkan kepala sambil tersenyum. Senyuman yang menurut Bianca terlihat seperti gula aren. Manis. Karena tidak ingin menolak rezeki dipagi hari ia pun menganggukkan kepala kemudian berjalan ke sisi mobil satunya saat Dewa masuk ke mobil bagian kemudi. Setelah dirasa Bianca selesai memasangkan seatbelt di tubuhnya, Dewa pun melajukan mobilnya keluar pekarangan rumah.
Suasana begitu hening dalam perjalanan, hanya terdengar suara penyiar radio yang menyapa para pendengarnya dipagi hari. Baik Bianca atau pun Dewa sibuk dengan pikirannya masing-masing. Padahal keduanya sedang memutar otak harus memulai obrolan darimana karena jujur saja mereka pun sama-sama tidak betah dengan kondisi seperti ini.
Sedikit memberanikan diri, Bianca menoleh ke arah Dewa yang terlihat fokus menyetir. Ia pun yang sudah berniat memulai obrolan harus menelan kembali pertanyaan yang akan ia ajukan karena takut akan menganggu konsentrasi pria itu. Gadis itu kembali memilih menatap jalanan melalui jendela sampingnya.
Namun beberapa menit berselang terdengar suara deheman yang disusul dengan suara Dewa. “Kerja di rumah sakit, kamu dokter atau perawat?”
Bianca menoleh berbarengan dengan Dewa yang juga menoleh sekilas ke arahnya. “Oh bukan, saya nutritionist”
Pria itu mengangguk-anggukan kepala mengerti. “Udah berapa lama kerja di sana?”
“Tiga hari” gadis itu menyengir yang ternyata menular pada Dewa yang tersenyum mendengar jawaban Bianca.
“Pantesan keliatan panik banget karena takut telat”
Gadis itu tersenyum. “Nggak lucu aja kalo anak baru udah telat. Kalo kamu, kerja dimana?”
Sebenarnya Bianca merasa ada yang aneh karena menggunakan kata kamu tetapi ia hanya mengikuti Dewa saja. Lagipula ia sendiri juga bingung harus memanggil atau menggunakan kata apa saat berbicara dengan pria itu. Ingin memanggil namanya langsung, ia takut dibilang tidak sopan. Terlebih lagi Dewa terlihat seperti beberapa tahun di atasnya. Ingin menggunakan kata Pak, sepertinya terlalu formal. Atau mungkin Mas, Mas Dewa begitu. Ah tidak, Bianca jadi memikirkan hal yang tidak-tidak jika menggunakan kata tersebut.
“Pratama group”
Gadis itu membentuk bibirnya seperti huruf O. Tanpa perlu mencari tahu pun, Bianca tahu kalau perusahaan yang baru saja disebut Dewa adalah sebuah perusahaan besar yang cukup terkenal di Jakarta. Namun sayangnya gadis itu mengira bahwa Dewa hanyalah karyawan biasa di sana tanpa pernah tahu kalau Dewa adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Dan Dewa sendiri juga tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya.
“Gaji di sana besar ya. Udah lama kerja di sana?”
Dewa tersenyum mendengar kalimat utama yang diucapkan gadis itu. Bianca tidak tahu saja kalau ia yang menggaji semua karyawannya. “Udah. Kenapa? Mau lamar kerja di sana?”
Buru-buru gadis itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Baru kerja tiga hari masa mau pindah”
Pria di sampingnya menoleh sekilas sambil membalas senyuman Bianca.
***
Bianca merapihkan kertas di atas mejanya, menumpuk menjadi satu kemudian menyimpannya. Nanti ia akan melanjutkan pekerjaannya lagi, sekarang ia ingin makan siang terlebih dulu karena perutnya sudah sangat keroncongan. Pagi tadi ia tidak sempat sarapan karena kesiangan bangun. Begitu tiba di rumah sakit ia hanya membeli sekotak s**u dan roti untuk mengganjal perutnya. Tentu saja sekotak s**u dan sepotong roti tidak akan mampu mengganjal perutnya sampai siang hari seperti ini.
Gadis itu keluar ruangannya kemudian berjalan di lorong rumah sakit sambil sesekali tersenyum saat berpapasan dengan dokter atau pun perawat lainnya. Gelar anak baru masih begitu melekat pada dirinya, jika ia tak bersikap ramah pada yang lain tentu ia akan menjadi bahan gosip yang lainnya. Itu pasti. Daripada ia digosipkan sebagai anak baru yang sombong, jutek atau pun pelit senyum. Alangkah baiknya jika ia digosipkan sebagai anak baru yang murah senyum, setidaknya senyum itu ibadah kan.
Tiga hari bekerja di sana belum membuat Bianca hafal dengan seluk beluk rumah sakit tersebut. Pengetahuannya mengetahui ruangan-ruangan dan tempat lainnya di rumah sakit masih sangat terbatas. Selain itu ia juga belum terlalu mengenal semua dokter atau pun perawat-perawat di sana, beberapa yang sudah sangat ia hafal itu pun karena berprofesi sama dengannya.
Ya nutritionist atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ahli diet dan nutrisi. Saat kuliah dulu Bianca berkuliah dijurusan ilmu gizi yang akhirnya membuatnya menjadi seperti sekarang. Sebagai nutritionist Bianca merupakan tenaga kesehatan non medis yang mengatur pemberian diet, memberikan konsultasi, informasi maupun edukasi mengenai pengaturan diet kepada individu atau kelompok.
Sebetulnya sejak awal tak ada niatan sedikit pun dari Bianca untuk menjadi seorang nutritionist. Hanya saja saat ujian masuk di kampusnya, ia malah lolos pada jurusan tersebut. Jadi ia hanya mengikutinya saja, mungkin memang sudah seperti itu jalan hidupnya. Tetapi setelah menjadi nutritionist selama beberapa tahun Bianca merasa senang dengan pekerjaannya. Karena ia bisa bertemu dengan orang banyak dan juga dapat membantu mereka.
Sebelum bekerja di rumah sakit yang sekarang, Bianca pernah bekerja di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar seperti ini. Hanya saja ia harus dipecat karena dirinya yang terlalu sering datang terlambat. Jarak rumah dengan rumah sakit yang begitu jauh membuatnya sering terlambat. Dan di tempatnya yang sekarang, Bianca tidak ingin hal buruk seperti itu terulang lagi. Ia sudah bertekad untuk berubah, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
“Boleh duduk sini?”
Kunyahan di mulut Bianca terhenti, ia mendongakkan kepala melihat seorang gadis berpakaian perawat dengan memegang nampan makanan berdiri di samping kursinya sambil tersenyum. Bianca membalas senyuman gadis itu kemudian menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Lalu ia mengambil segelas air putihnya, meneguknya sedikit guna mendorong makanannya agar turun dengan mulus ke lambung.
“Salsa” gadis berpakaian perawat itu mengulurkan tangan ingin berkenalan.
Masih dengan senyuman diwajahnya Bianca membalas uluran tangan tersebut. “Bianca”
“Panggil mbak Bianca boleh? Kayaknya usia mbak di atas aku”
Bianca bergumam dengan alis yang terangkat. Ia jadi berpikir apa wajahnya memang terlihat tua sehingga sebelum gadis itu bertanya usianya, ia sudah bisa menyimpulkan sendiri kalau Bianca lebih tua dibanding dirinya. Walaupun memang kenyataannya benar begitu.
“Oh, boleh kok”
“Nutritionist baru ya mbak? Penggantinya mbak Wulan?”
Lagi-lagi Bianca menganggukkan kepala. “Iya, baru tiga hari”
Gadis perawat bernama Salsa itu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Pasti belum kenal sama dokter-dokter atau pun perawat di sini ya mbak?”
“Yang baru aku kenal cuma beberapa aja”
Terlebih dulu Salsa menelan makanannya kemudian menolehkan kepala ke sekitar membuat Bianca bingung melihat gadis itu. “Aku kenalin beberapa dokter dan perawat yang ada di kantin ini”
“Boleh” Bianca mengangguk-anggukkan kepala
“Jarum jam angka dua, yang badannya subur itu—namanya bu Mira, perawat senior yang kalo udah marah ucapannya melebihi sambel mercon. Pedes banget” Salsa memulai aksinya, sendok yang berada ditangannya mengarah ke objek yang dimaksud sementara Bianca mengikuti arah sendok tersebut dengan telinganya yang siap mendengarkan penjelasan gadis itu.
Senyuman terlukis diwajah Bianca mendengar perumpamaan Salsa. “... Nah, kalo yang dipojok sana itu namanya dokter Tari, dokter paling cantik di sini. Dokter Tari itu dokter anak, dia pernah ada hubungan sama salah satu dokter di sini. Namanya dokter Bintang tapi sekarang dokter Bintang udah nggak di sini tapi denger-denger mereka masih berhubungan sih”
“Kalo yang di sana, itu dokter kandungan, namanya dokter Arum” Bianca menoleh ke arah kanan mengikuti arah pandang Salsa. Berjarak beberapa meja dengannya terlihat seorang perempuan berhijab biru lengkap dengan jas dokternya bersama dengan orang yang seprofesi dengannya namun dengan rambut yang dikuncir kuda.
“... Dokter Arum tuh baiiik banget, nggak pernah marah, pokoknya cerminan istri sholehah banget. Kalo yang di depannya itu dokter Vanessa, dokter THT yang selalu kecentilan sama dokter Reza”
“Dokter Reza?”
Salsa menganggukkan kepala. “Dokter paling ganteng di sini mbak. Nah panjang umur, itu orangnya. Dokter Reza, si dokter tulang”
Bianca menolehkan kepalanya melihat ke arah pintu masuk dimana terlihat seorang pria tampan dengan jas putihnya yang tersenyum ramah menyapa temannya di salah satu kursi. Bianca memang tidak memungkiri bahwa dokter yang bernama Reza itu memang tampan. Sebagai perempuan normal Bianca mengakui itu.
“Udah punya pacar ya mbak?”
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Bianca hanya tersenyum, tidak menjawab ya atau pun tidak. Ingin ia menjawab ya tetapi jika begitu maka ia berbohong karena kenyataannya ia tidak memiliki pacar. Dan jika ia mengatakan yang sejujurnya, ego pada dirinya melarang ia melakukan hal tersebut. Ia sudah dewasa, usianya dua puluh empat tahun. Perempuan di luar sana diusianya yang seperti sekarang sudah menikah, mempunyai anak atau bahkan paling tidak memiliki tunangan atau pun pacar.
Tetapi Bianca, ia masih saja sendiri mengharapkan seseorang yang tak kunjung pasti. Sampai kapan? Entah lah. Dan sepertinya ia akan terlihat seperti orang yang menyedihkan jika mengatakan yang sejujurnya pada Salsa. Maka lebih baik ia tidak menjawab pertanyaan tersebut.
“Cantik” ucap Salsa sambil mengunyah makanan dan memandangi gadis di depannya
“Siapa?”
“Mbak Bianca”
Bianca tersenyum. “Terimakasih. Kamu orang kedua yang memuji aku cantik hari ini setelah diri aku sendiri”
Dan Salsa pun tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Bianca. Hingga tanpa mereka sadari tawa mereka menarik perhatian seseorang yang duduk di salah satu kursi kantin sambil menikmati makan siangnya. Seorang pria berkemeja kotak-kotak yang dibalut jas putih. Sebuah stetoskop terlihat menyembul dari saku jasnya. Di d**a bagian kiri—tepatnya dibagian bawah logo dan nama rumah sakit, terukir namanya di sana. Reza Satria Syahputra, Sp.OT.
***
“Masak apa?”
Bianca terlonjak kaget saat mendengar sebuah suara bariton tersebut. Sambil memegangi d**a kirinya dimana jantungnya berdetak cepat karena kaget, ia membalikkan badan dan melihat Dewa yang sedang menuangkan air ke gelas. Sejak kapan pria itu datang? Bahkan Bianca tidak mendengar suara pintu dibuka atau pun langkah kakinya. Ia yang berada di dapur dengan suasana hening dan ditambah dengan sudah larut malam begini tentu kaget luar biasa saat ada seseorang yang tiba-tiba bersuara.
Walaupun Dewa tak memiliki maksud untuk mengagetkan tetapi tetap saja Bianca merasa sangat kaget. Gadis yang sudah dengan pakaian ternyamannya, kaus dan celana piyama itu masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Sementara Dewa yang duduk di kursi meja makan memandanginya dengan santai tanpa rasa berdosa sambil sesekali meneguk air putih di gelasnya. Kalau bukan karena wajahnya tampan Bianca ingin sekali rasanya melempar wajah tak berdosanya itu dengan wajan.
“Masak apa?” tanya Dewa lagi karena tak kunjung mendapat jawaban
Bianca membalikkan badannya lagi membelakangi Dewa. “Masak mie instan. Kenapa, mau?”
Tak ada jawaban dari Dewa, ia terlihat sibuk dengan ponsel sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. “Boleh deh”
Kemudian setelah mengatakan hal tersebut, Dewa beranjak dari kursi meja makan dan berjalan menuju ruang tengah. Sementara Bianca menambahkan air rebusan untuk mie instan karena sekarang ia harus membuat dua bungkus mie. Padahal sebelumnya sebentar lagi air rebusannya akan mendidih tetapi sekarang ia harus mengulang menunggu sampai airnya mendidih. Sepertinya ia sedikit menyesal karena menawari Dewa.
Pria yang sering dipanggil Dewa itu sudah melepaskan jas dan dasinya menyisakan kemeja dengan lengan yang digulung sesiku dan ujung kemejanya yang dikeluarkan. Saat ini ia berada di sofa ruang tengah, matanya sibuk menatap layar ponsel dengan gerakan jemarinya yang terlihat seperti sedang membalas chat seseorang. Setelah selesai ia meletakkan ponselnya di meja, matanya melirik ke arah laptop berwarna hitam dengan sebuah kacamata yang berada di atas keyboard laptop tersebut.
Laptop yang dalam kondisi menyala dengan layar yang menampilkan barisan demi barisan kalimat pada microsoft word membuat Dewa penasaran. Jari telunjuknya bergerak menekan panah ke atas, menscroll tulisan tersebut kemudian ia sedikit membacanya sampai terus ke atas. Ia juga melihat judul per bab yang tertera di bagian paling atas.
“Kamu penulis?”
Dewa bertanya saat melihat kedatangan Bianca dengan membawa dua mangkuk mie instan. Melihat Dewa yang sedang membaca tulisannya membuat gadis itu buru-buru meletakkan dua mangkuk tersebut di meja.
“Duh jangan dibaca, malu tau” ia merebut laptopnya kemudian menyimpannya di kamar. Bianca sendiri sebenarnya tidak ada maksud apa-apa hanya saja ia selalu merasa malu tiap kali ada seseorang yang ia kenal membaca tulisannya.
Sekembalinya Bianca dari kamar ia mendudukkan tubuhnya di sofa yang berbeda dengan Dewa. Pria itu sudah menikmati mie-nya lebih dulu dan melirik saat melihat Bianca. “Sejak kapan jadi penulis?”
“Itu cuma hobi aja, isi waktu luang” ia menjawab sambil mengaduk-ngaduk mie-nya
“Udah nulis berapa cerita?”
“Satu dua tiga empat lima enam tujuh del—“
“Ditanya serius jawabnya begitu”
“Delapan”
Dewa mengangguk-anggukkan kepala. “Ceritanya bagus”
“Emang udah baca dari awal?”
“Belum”
Mendengar jawaban Dewa membuat Bianca mendecakkan lidah sambil menatap malas ke arah Dewa. Mudah sekali pria itu mengatakan ceritanya bagus padahal ia hanya membaca sekilas. Perlu diketahui Bianca memang seorang penulis. Ia memiliki hobi tersebut saat masih kuliah dulu. Awalnya ia hanya suka membaca novel saja namun lama kelamaan ia merasa tak cukup jika hanya sekedar membaca. Ia juga ingin menumpahkan imajinasinya dalam bentuk tulisan seperti penulis lain.
Beruntung jika suatu hari nanti ia bisa melihat novel karyanya dengan namanya yang tertera di bagian cover depan novel berjejer di rak toko buku. Setelah ceritanya dijadikan novel, Bianca memiliki mimpi baru yaitu ceritanya diangkat menjadi sebuah film. Kedengarannya memang mustahil karena ia merasa ceritanya belum sebagus itu sampai harus dilirik oleh rumah produksi. Namun siapa yang akan tahu, karena banyak orang yang mengatakan kalau tak ada yang mustahil di dunia ini. Kita lihat saja.
Mie di mangkuknya sudah ludes berpindah ke dalam perutnya. Sementara mie milik Dewa sudah habis lebih dulu. Bianca kemudian menumpuk mangkuknya yang sudah kosong diatas mangkuk milik Dewa. Sontak menyadari hal tersebut membuat Dewa menoleh ke arahnya.
“Saya udah buat mie tadi sekarang tugas kamu cuci piring” Bianca tersenyum
Dewa ikutan tersenyum. “Cuma ini aja kan?” ia menunjuk mangkuk kotor tersebut
“Kebetulan saya belum cuci piring dari pagi tadi” gadis itu kembali menyengir kemudian membawa gelas berisi air miliknya ke dapur.
Sedangkan Dewa, ia menyesal karena mengiyakan tawaran mie Bianca tadi.