Chapter 6

2278 Kata
Violet terkikik geli membaca pesan yang dikirim oleh sahabat-sahabatnya Elis dan Karin di grup chat mereka. Gadis-gadis ini selalu saja punya bahan pembicaraan. Jika tidak membicarakan diri sendiri, pasti mereka membicarakan tentang orang lain. Seperti saat ini, mereka sedang membicarakan tentang Lukas, lelaki paling populer di sekolah saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu. Belum lama ini lelaki yang dulu melanjutkan kuliah di Barcelona itu di kabarkan sudah kembali ke Indonesia. Itulah yang kini sedang gadis-gadis itu bicarakan. Tak hanya membicarakan tentang Lukas, mereka juga mengingat masa-masa dimana dulu Violet, Elis dan Karin pernah saling bersaing untuk mendapatkan Lukas. Namun pada akhirnya tidak ada yang bisa mendapatnya karena lelaki tampan itu sudah pergi ke Barcelona. “Aaaaawwwww....” Violet terpekik saat ponselnya jatuh tepat mengenai wajahnya. Pasti karena terlalu asyik berbaring di sofa sembari memainkan ponsel. Ah benar-benar ceroboh. Setelah memastikan hidungnya yang terkena jatuhan ponsel itu tidak terasa sakit ataupun luka, gadis itu kembali memainkan ponselnya dan berkirim pesan ria dengan dua sahabatnya. “Yah... yah.... kok mati.” Violet berdecap mendapati ponselnya yang mati. Ia merutuki ponselnya yang kehabisan baterai pada saat-saat seperti ini. Rasanya beberapa waktu belakangan ini, baterai ponselnya sangat boros. Violet melemparkan asal ponsel itu di sofa tempat ia berbaring sekarang. Rasanya malas sekali menaiki tangga yang memiliki cukup banyak anak tangga itu untuk mengambil charger dan mengecas ponselnya. Pasti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengisi baterai ponsel ini kembali. Violet mendengus kesal kembali merasa bosan, pasti Elis dan Karin sudah kembali bekerja karena tidak lagi mendapat balasan darinya. Tidak berapa lama, tiba-tiba saja gadis cantik itu mendongakkan wajahnya yang tadi ia tenggelamkan di sofa. Ia tersenyum penuh arti saat sebuah ide terlintas di otak cerdasnya. Dengan bersemangat Violet merubah posisi menjadi duduk. Ia mengambil ponsel tadi kemudian mengangkatnya ke atas. Dalam hitungan detik setelah itu, ia melepaskan tangannya yang memegang ponsel hingga ponsel itu jatuh ke lantai. “Yah jatuh....” Violet menatap sendu yang dibuat-buat melihat ponsel miliknya tergeletak begitu menyedihkan di lantai dengan layar yang sudah pecah. Pasti karena ia terlalu tinggi tadi mengangkatnya. Hanya beberapa saat, wajah sendunya berubah menjadi wajah gembira dengan senyuman puas terukir disana. “Saatnya minta beliin HP baru deh sama Alvaro. Sorry ya pe, lo udah butut sih. Ya walaupun gue baru beli lo 4 bulan yang lalu. Tapi gue kepingin yang baru, gimana dong. Lagian lo sih pakai habis baterai, kan gue males ngecas, jadi mending beli yang baru.” Violet terkekeh menyadari kebodohannya berbicara dengan ponsel yang sudah hancur itu. Violet mengambil ponsel itu kemudian langsung berlari dengan riang gembira menuju kamarnya. Bahkan gadis itu terdengar bersenandung. Benar-benar reaksi yang tidak pernah ditunjukkan oleh orang lain sebelumnya saat mendapati ponselnya baru saja rusak. ***“Eh... eh... mau kemana?” Tio berlari tergesa-gesa dari pos penjaga mansion milik Alvaro saat melihat Violet mendekati Mini Cooper nya. “Mau ke kantor Alvaro.” “Ngapain? Terus ini apa maksudnya langsung nyelonong aja pergi tanpa bilang abang?” “Abang, aku mau ketemu Alvaro. Mau ajak Alvaro makan siang bareng.” “Ya udah, abang antar. Gak ada ya pergi-pergi sendiri, abang bisa kena marah tuan Alvaro kalau gak antar kamu.” “Ih, aku mau pergi sendiri. Aku bisa nyetir kok. Ya udah aku pergi dulu ya.” Violet mendelik kesal saat Tio langsung mencegahnya dengan berdiri di depan pintu Mini Coopernya. “Abang yang antar!” “Abang mah gak sayang sama aku. Katanya udah anggap aku kayak adik sendiri. Aku kan lagi usaha PDKT sama Alvaro. Kalau ada abang, bisa gagal rencana aku. Padahal aku mau pergi berdua aja sama Alvaro.” Violet menunduk dengan wajah sendu. Tio dibuat serba salah, jika gadis ini sudah memasang wajah seperti ini, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. “Ya udah, kamu boleh pergi sendiri. Tapi kalau tuan Alvaro marah, kamu yang tanggung jawab.” “Siap! Dia gak akan berani marahi calon istrinya.” Violet mengedipkan sebelah matanya kemudian langsung masuk ke dalam mobil. Tio menggeleng sembari tersenyum, kenapa sepertinya gadis itu yang sangat ingin menikah dengan tuannya? ***Dengan menggunakan dress hitam sebatas lutut membuat Violet merasa percaya diri memasuki Cetta Holding. Untung saja ia tadi tidak jadi menggunakan ripped jeans dan baju kaos favoritnya. Pasti sangat aneh memasuki perusahaan besar ini dengan style seperti itu. Violet berdecap kagum saat melihat perusahaan milik Alvaro itu. Design interiornya saja sudah bisa menggambarkan bahwa pemilik perusahaan ini memiliki selera yang bagus. Untuk pertama kalinya Violet menginjakkan kakinya di perusahaan Alvaro, dan ia benar-benar terkesan. Setelah mendapat informasi dimana ruangan Alvaro, Violet langsung menaiki lift menuju lantai paling atas. Ia sempat dibuat kesal saat tadi begitu susah mendapatkan informasi dimana ruangan Alvaro. Ia ditanyai banyak hal, hingga akhirnya beberapa kalimat yang ia lontarkan langsung membuat mereka memberi tahu dimana ruangan Alvaro. “Calon suami saya meminta saya kesini untuk menemaninya makan siang. Kalau kalian memang sudah bosan bekerja disini, ya sudah saya pulang saja. Nanti saat calon suami saya pulang, saya tinggal beri tahu bahwa karyawannya tidak mau memberi tahu ruangannya pada saya.” Violet terkikik geli membayangkan wajah pucat mereka saat mendengar ancamannya tadi. Violet keluar dari lift, matanya langsung tertuju pada sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna coklat dan hitam. Itu pasti ruangan Alvaro. Dan ruangan dengan dinding kaca di sampingnya itu pasti ruangan sekretarisnya. Tapi kenapa kosong? Oh atau jangan-jangan ia dan Alvaro sedang di dalam? Apa mereka sedang..... Violet langsung menggeleng cepat saat khayalannya mulai terkontaminasi dengan novel-novel romantis tentang hubungan antara bos dan sekretaris yang tidak benar. Violet mempercepat langkahnya. “Honey.... honey.... upsss sorry, gue buru-buru.” Violet berdecap kesal saat ada yang menabraknya dari belakang dan mendahului langkahnya menuju ruangan Alvaro. Heiii siapa wanita ini? “Honey... honey... aku mau masuk, kangen tahu.” Wanita itu mengetuk pintu ruang kerja Alvaro. Siapa sebenarnya dia? Honey? Apa dia kekasihnya Alvaro? “Eh bisa gak usah gedor-gedor gitu gak? Berisik,” tegur Violet Wanita yang tidak lain adalah Angel itu menatap Violet sinis. “Lo itu yang berisik, dasar anak kecil!” “Honey... honey..” ia kembali mengetuk pintu ruangan Alvaro dan kini makin keras. “Dasar tante-tante.” Angel langsung berhenti mengetuk pintu ruang Alivaro saat mendengar Violet memanggilnya dengan sebutan 'tante-tante'. Hei ia masih terlalu mudah untuk dipanggil seperti itu. “Lo mau ngapain sih kesini?” Tanya Angel. “Mau ketemu Alvaro lah.” “Alvaro gak mungkin mau ketemu sama lo.” “Dih, siapa lo? Terus menurut lo Alvaro mau gitu ketemu sama cewek yang dandanannya serba berlebih kayak lo? Dari tadi manggil-manggil gak dibukain kan,” balas Violet dengan nada menantang. Angel dibuat makin tersalut emosi mendengar sindiran Violet. “Aduh... ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di depan ruangan tuan Alvaro?” “Bocah ini nih cari masalah. Mending lo suruh dia pergi deh,” pinta Angel pada Weni, sekretaris Alvaro yang baru saja datang. Violet terdengar menghela nafas lega saat melihat sekretaris Alvaro datang. Ternyata tidak seperti yang ia bayangkan, sekretaris Alvaro memakai jilbab dan terlihat cukup berumur. Itu intinya khayalannya tadi tidak akan menjadi kenyataan. “Lo aja yang pergi, kenapa harus gue,” balas Violet tak ingin kalah. Weni menghembuskan nafasnya gusar. Biasanya hanya ada satu wanita yaitu Angel yang membuat kehebohan di depan ruang bosnya. Namun kini ada 2. Ini benar-benar membuatnya pusing. “Ya udah biar saya yang coba panggilin tuan Alvaro ya. Mbak-mbak semua tunggu disini.” “Gak usah, biar gue aja yang panggil Alvaro,” tolak Violet. Tanpa menghiraukan tatapan tak suka dari Angel, Violet berjalan mendekati pintu ruangan Alvaro dan mulai mengetuknya. “Alvaro... ini Violet, gue masuk ya,” teriak Violet berharap Alvaro mendengar dan menjawabnya. Angel melipat kedua tangannya di depan d**a bersiap untuk meledek seorang gadis yang tidak ia kenal itu karena akan mendapatkan respons yang sama dengannya dari Alvaro. “Masuklah.” Violet tersenyum penuh kemenangan saat mendengar sahutan dari dalam oleh Alvaro, sementara Angel membulatkan matanya tidak percaya. Dengan masih tersenyum seolah mengejek Angel, Violet memasuki ruangan Alvaro. Saat sudah berada di dalam ruang kerja Alvaro yang luar biasa besarnya itu, Violet mendapati Alvaro yang sedang duduk di kursi kejayaannya. Alvaro tampak melirik Violet sejenak, namun sesaat kemudian ia kembali fokus pada file di tangannya. “Kesel banget deh, kenapa sih lo punya pacar bar bar kayak dia?” Violet tampak meluapkan kekesalannya kepada Alvaro. “Dia bukan pacar saya.” “Bukan pacar? Terus kenapa dia manggil lo honey dan dia maksa-maksa mau masuk?” Alvaro hanya menaikkan bahunya seolah tidak tahu sebagai jawaban. Violet yang melihat respons dari Alvaro dibuat makin kesal. Ia menghempaskan badannya untuk duduk di kursi yang berada di hadapan Alvaro. Namun saat mengingat tujuannya datang kesini, ia langsung mengubah ekspresinya menjadi ceria. “Alvaro. ” panggil Violet lembut terdengar manja. “Hmmmm..” Alvaro hanya berdehem sebagai jawaban. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. “Ih dengar dulu dong.” “Saya dengar, kamu ngomong aja.” Violet mengambil file yang membuat Alvaro tidak fokus padanya kemudian menutup file itu. Alvaro terlihat menghela nafas kemudian kini benar-benar memberikan seluruh fokusnya pada gadis di hadapannya ini. “Kenapa?” Violet tersenyum saat Alvaro kini sudah fokus dengannya. “Hmmm... HP gue rusak.” Violet mengeluarkan ponselnya dari tas kemudian memperlihatkannya pada Alvaro. “Tadi gak sengaja jatuh waktu gue lagi mau ke toilet.” “Kamu ke toilet bawa HP?” “Ya iya, kan bosen kalau lagi buang air tapi gak ada kerjaan.” Violet menyengir sementara Alvaro hanya menatapnya heran. Alvaro mengambil ponselnya kemudian terlihat menghubungi seseorang. Violet kembali terlihat kesal, kenapa Alvaro malah menelfon? Sepertinya ia sedang tidak diacuhkan. “Belikan saya satu Iphone keluaran terbaru dan antarkan ke ruangan saya secepatnya.” Violet membulatkan matanya tidak menyangka. Padahal Violet belum mengutarakan permintaannya namun sepertinya Alvaro sudah paham. Violet tersenyum senang. “Yang rose gold ya ,” pinta Violet kemudian tersenyum tanpa dosa sebelum Alvaro menutup telfonnya. “Satu Iphone keluaran terbaru rose gold special edition,” ucap Alvaro pada orang di seberang telfon kemudian memutuskan sambungannya. “Makasih,” Violet tersenyum manis pada Alvaro, sementara Alvaro hanya mengangguk kecil kemudian kembali mengambil file yang sempat disita Violet tadi. “Alvaro. ” panggil Violet lagi dengan nada yang sama dengan tadi. “Gak enak deh duduk disini, dipangku boleh?” “Vi!” Violet terbahak karena berhasil menggoda Alvaro. Tak ingin mengganggu Alvaro dan sebagai ucapan terima kasihnya karena Alvaro membelikannya ponsel baru, Violet pun memutuskan untuk tidak mengganggu Alvaro dan duduk di sofa besar berwarna coklat di ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan itu, ternyata Alvaro benar-benar tidak lepas dari kemewahan. “Kamu pulang saja, nanti HP kamu bakal diantar ke rumah.” “Enggak ah, gue bosan di rumah. Mau disini aja. Lo kerja aja, gue gak ganggu kok,” balas Violet. Alvaro mengangguk paham. ***Rasanya Violet ingin memekik bahagia saat ponsel barunya sudah di tangan. Ia langsung mencoba ponselnya dengan berselfie ria di ruangan Alvaro. “Apaan sih.” Alvaro terlihat tidak nyaman saat Violet mengarahkan kamera ponselnya pada Alvaro.  “Gue mau foto lo.” “Jangan!” “Ya udah, kalau gitu kita foto berdua deh.” “Vii!” Violet mencibir kesal. Ia sudah sangat hafal jika Alvaro memanggilnya dengan nada seperti itu, berarti ia benar-benar tidak ingin di ganggu. Violet akhirnya memutuskan untuk kembali duduk di sofa dan langsung menghubungi Elis dan Karin memberi tahu bahwa sekarang ia tidak lagi memakai kontak yang lama. Saat sedang asyik kembali berchat ria dengan sahabatnya, tiba-tiba saja Elis dan Karin memberi tahu bahwa mereka merasa bosan bekerja dan ingin meminta izin pulang cepat. Mereka ingin jalan-jalan dan juga berbelanja dengan Violet. Violet ingin sekali ikut, apalagi mereka sudah lama tidak jalan bersama. Namun apakah Alvaro mengizinkan? ah harus dicoba dulu. “Alvaro. ” untuk tiga kalinya Violet memanggil Alvaro dengan nada seperti itu. “Apa lagi Viii?” “Hmmmm teman-teman gue, si Elis sama Karin yang waktu itu pernah datang ke rumah ngajak gue jalan-jalan terus belanja ke mal. Gue boleh ikut kan?” Tanya Violet dengan tatapan memohon. Alvaro tampak menimbang sejenak. Sebenarnya ia bukan ingin mengekang Violet, namun mengingat kesibukannya, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Violet karena tidak berada dalam pengawasannya. “Kamu boleh pergi, tapi jangan pulang malam ya.” Violet langsung mengangguk sembari tersenyum bahagia. “Makasih.” Violet mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruangan Alvaro. “Viii,” panggil Alvaro sebelum gadis itu keluar. Violetmenghentikan langkahnya dan menoleh pada Alvaro. “Pakai kartu ini buat belanja.” Alvaro menyodorkan dua buah kartu kredit American Express Centurion atau yang lebih dikenal dengan black card pada Violet. Violet tampak kaget melihat Alvaro memberikannya kartu kredit. Violet langsung berlari menghampiri Alvaro kembali untuk memastikan apakah benar kartu itu adalah black card. “Seriusan gue belanja pakai ini? Enggak ah, ngeri gue.” “Pakai aja.” “Yang lain deh, entar gue disangka miliarder,” tolak Violet lagi. Bukannya tidak mau, tapi ia merasa sedikit takut. Berlebihan sekali rasanya berbelanja dengan itu. Mendengar penolakan dari Violet, Alvaro mengambil kartu lain di dalam dompetnya kemudian menyodorkannya pada Violet. “Lo punya kartu kredit yang biasa aja gak sih?” Tanya Violet saat Alvaro memberikannya dua buat kartu kredit platinum. “Itu yang paling biasa yang saya punya.” Violet berdecap, ia ternyata benar-benar kaya. Satu aja deh, udah cukup.” “Ambil keduanya saja, nanti kalau limit yang satunya sudah habis kamu bisa pakai yang satu lagi,” ucap Alvaro. Karena Alvaro memaksa, tanpa ragu lagi Violet mengambil kedua kartu kredit itu. “Makasih .” Violet tersenyum senang dan langsung keluar dari ruangan Alvaro dengan begitu riang gembira. Alvaro tersenyum melihat kepergian gadis itu. Sangat mudah membuatnya bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN