Chapter 5

1699 Kata
“Ayo lah Kak, aku bosen banget nih. Ajak yang lain juga.” “Duh Vi, kerjaan kakak lagi banyak. Yang lain juga pada kerja.” “Ih kesel deh. Tinggal disini kayak di penjara. Gak ada yang sayang sama aku, diajakin main monopoli aja pada gak mau.” Gadis itu kini mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang ditekuk. Ia menunduk sembari memainkan ujung bajunya. Rika yang melihat ekspresi sedih gadis itu jadi merasa tidak tega. “Ya udah deh, iya... iya. kakak mau main monopoli.” “Seriusan?” Violet langsung tampak antusias. Ekspresinya langsung berubah seketika saat mendengar Rika menyetujui ajakannya. “Iya, ya udah kakak panggil yang lain dulu.” “Siap aku bakal siapin perlengkapan buat main monopolinya ya.” Rika menggeleng kecil sembari tersenyum melihat gadis itu berlari dengan begitu bahagianya menaiki tangga. Sepertinya ia akan menuju kamarnya untuk mengambil perlengkapan bermain monopoli yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. Terkadang Rika merasa iba pada gadis itu, selama tinggal disini sepertinya ia merasa kesepian. Maklum saja, tuan Alvaro sangat sibuk. Tapi yang membuat Rika merasa ingin tertawa setiap kali membayangkan gadis itu adalah, ia selalu punya cara untuk mengusir kesepiannya. Ya seperti sekarang, dengan mengajak para pelayan untuk bermain. Violet benar-benar tidak memberi jarak dirinya dengan pelayan. Jujur, Rika dan pelayan yang lain sudah merasa begitu menyayangi Violet. Apalagi melihat sifat manja Violet membuat mereka menganggap Violet seperti adiknya sendiri. Rika pun akhirnya memutuskan untuk memanggil beberapa pelayan untuk ikut bermain dengan Violet. Sepertinya ia akan mengajak Dodi, Puri untuk bermain. Mungkin hanya mereka yang sedang santai saat ini. ***“Yeayyyy berhenti di Australia. Aku mau beli............. aku mau bangun hotel dan rumah yang banyak disana buat aku tinggalin bareng Ali dan anak-anak kami nantinya. Aaaaaa mau minta beliin negara Australia sama Alvaro... Awwwww. ” “Ihhhh kak Rika sakit tahu.” “Kamu sih ngayalnya ketinggian.” Violet menatap Rika kesal mendengar ledekannya, sementara yang lainnya langsung tertawa geli. Ada-ada saja gadis ini. “Ini tuh monopoli, jadi gak usah berlebihan deh,” ucap Puri ikut meledek. “Yeeeee... bisa aja tahu aku minta beliin sama Alvaro. Uang Alvaro kan banyak, waktu itu aja aku dibeliin Mini Cooper, iya kan Bang?” Violet menatap Tio yang baru saja ikut bergabung untuk meminta dukungan. Tio tampak mengangguk sebagai jawaban. “Eh tapi, kamu teh emangnya suka sama tuan Alvaro?” Tanya Dodi dengan logat sunda khas miliknya. Violet yang sedang menghitung sisa uang monopoli yang ia miliki langsung terhenti saat mendengar pertanyaan dari Dodi. “Aa Dodi, cewek normal mana sih yang gak suka sama Alvaro? Udah ganteng, kaya pula. Ya kalau soal sifat mah bisa dipoles entar,” balas gadis itu santai. “Tapi aku kesel deh, ketemu sama Alvaro itu susah banget. Pada serumah, tapi kayak tinggal beda negara, gak pernah ketemu,” protes Violet. Gadis itu kini beralih ke sofa menjauhi karpet turki berbulu tempat mereka bermain monopoli tadi. Sepertinya membahas tentang Alvaro membuat ia tidak konsentrasi lagi bermain. “Ya gimana mau ketemu, kamu aja bangunnya lama. Kalau mau ketemu tuan Alvaro itu pagi-pagi, sarapan bareng.” Jeni yang sejak tadi sedang berada di dapur langsung menyahut saat hendak bergabung. Ia meletakkan sepiring pie yang baru saja ia masak di meja. Melihat ada cemilan, mereka semua langsung menyerbunya tidak terkecuali Violet. “Ya gimana lagi, aku kan gak bisa bangun pagi,” balas Violet dengan mulut penuh pie. “Ya dibiasain dong Vi, Puri setiap pagi juga bangunin kamu kan,” ucap Rika. “Lagian nih ya Vi, tuan Alvaro itu setiap pagi dia jogging. Nah biasanya kalau jogging, tuan Alvaro suka pakai singlet aja atau kaos tanpa lengan gitu. Duh otot-ototnya yang pas itu langsung kelihatan. Apalagi waktu dia keringatan, dia kelihatan seksi.” Liur Violet hampir menetes saat mendengarkan ucapan Tio. Pikirannya langsung membayangkan bagaimana tampannya Alvaro saat sedang jogging. Tiba-tiba saja gadis itu berdiri diatas sofa. “Pokoknya mulai besok aku bakal bangun pagi. Aku bakal jogging sama Alvaro,” tekad gadis itu. Rika dan yang lainnya hanya mampu tertawa geli, selalu saja akan ada hal konyol yang ia lakukan. Sepertinya pesona Alvaro benar-benar sudah memikat gadis itu. *** “Vi... Vi... bangun dong...” “Ihhhhh masih ngantukkkkk.. 5 jam lagi deh.” “Kelamanaan, bangun dong. Katanya minta dibangunin pagi banget.” Puri berdecap kesal saat tidak melihat ada tanda-tanda gadis itu akan bangun. Sepertinya hanya tekadnya saja yang besar, namun usahanya nol besar. Puri membuka gorden jendela besar di kamar Violet agar cahaya bisa masuk dan mungkin saja gadis itu akan bangun. Ia kembali melirik Violet yang masih tak bergerak di dalam selimut. Puri melihat keluar jendela, tiba-tiba saja ia tersenyum penuh arti. Sepertinya ia tahu apa yang dapat membuat gadis itu bangun. “Wahhhh tuan Alvaro udah pergi jogging. Ya ampun, ganteng banget. Ototnya itu loh, jadi kepingin ngeraba. Ah keringatnya, jadi kepingin ngelapin,” Puri mengeraskan suaranya. “Haaaaa??? Alvaro udah jogging? Kok gak bangunin aku? Kak Puri mah jahat.” Violet langsung melompat dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. “Kak tolong siapin baju aku dong buat jogging,” teriak Violet dari kamar mandi. Puri tersenyum dan langsung menuju lemari besar milik Violet mencarikan baju untuknya. ***“Wah kebetulan banget ya kita jogging bareng. Lo jogging, gue juga jogging.” Violet menyamai langkah larinya dengan Alvaro. Setelah berusaha keras berlari cukup kencang akhirnya Violet bisa juga mulai memelankan larinya saat sudah sejajar dengan Alvaro. Melihat Violet yang tiba-tiba saja datang membuat Alvaro cukup terkejut, namun tidak berlangsung lama karena ia kembali fokus berlari. Violet menggerutu pelan merasa ditipu. Kemarin Tio bilang bahwa Alvaro jika jogging sering menggunakan singlet atau kaos tanpa lengan, tadi pagi Puri juga terdengar begitu heboh karena melihat Alvaro jogging. Namun kenyataannya Alvaro memakai jaket yang membaluti tubuh kokohnya. Bagaimana ia bisa melihat otot-otot kekarnya, ya meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ia terlihat tetap tampan. “Tumben kamu bangun pagi,” ucap Alvaro akhirnya buka suara. “Ya... gue emang biasa bangun pagi, cuma gak langsung keluar kamar. Biasanya gue yoga dulu di dalam kamar,” jawab Violet. Alvaro menatap gadis itu sejenak dengan dahi berkerut seolah tidak yakin. Namun sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Merekapun sama-sama berlari-lari kecil mengitari kompleks perumahan mewah itu. Ini memang merupakan rutinitas di pagi hari yang selalu Alvaro lakukan. Kesibukannya yang padat oleh pekerjaan mengharuskan Alvaro untuk tetap menjaga kesehatan. “Lo kuat banget ya, olah raganya cuma lari tapi bisa kuat kerja gak berhenti-henti,” ucap Violet membuka obrolan. “Olah raga saya bukan cuma ini. Kalau sempat, sebelum tidur saya olah raga di ruang fitness.”  “Di rumah lo ada ruang fitness? Kok gue gak tahu?” “Ada, di sebelah kamar saya.” “Mau dong kapan-kapan fitness disana, kalau capek istirahat deh di kamar lo.” Violet terlihat menyengir memperlihatkan senyum lebarnya sementara Alvaro hanya menatapnya datar. Ada-ada saja gadis ini. “Aaaaaaaaaaaa. ” Violet tiba-tiba saja memekik dan berhasil membuat Alvaro kaget. Ia menghela nafas kasar, apalagi yang dilakukan gadis ini? Ia kini mengalungkan tangannya di leher Alvaro dan berusaha untuk naik ke dalam gendongan Alvaro. “Kamu kenapa sih?” “Gendong... gendong ” rengek gadis itu. “Gendong ngapain sih?” “Itu ada anjing, please gue takut anjing.” “Tapikan anjingnya di ikat. Lagi pula ada pemiliknya. Malu dilihatin orang.” “Aaaaaaa gak mau, please gendong....” Alvaro lagi-lagi harus menghela nafasnya. Gadis itu ternyata sedang ketakutan melihat sekumpulan anjing yang sedang dibawa berlari-lari pagi oleh para pemiliknya. Violet makin merapatkan dirinya dengan Alvaro saat mendengar anjing itu menggonggong. “Ya udah naik.” Alvaro sedikit membungkukkan badannya agar Violet bisa menaiki punggungnya. “Gendong depan boleh?” “Violet!” Violet langsung melompat ke punggung Alvaro saat mendengar sentakan Alvaro yang secara tidak langsung ia dapat menyimpulkan bahwa Alvaro menolak permintaannya. Violet mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal pasti sangat menyenangkan saat bisa digendong Alvaro dari depan, ia bisa menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Alvaro dan menghirup aroma tubuh Alvaro. Violet menggeleng sembari tersenyum geli menyadari khayalannya itu. “Berhenti menciumi rambut saya,” protes Alvaro. Violet langsung menghentikan aksinya yang sedari tadi tidak berhenti mencium rambut Alvaro. Ah sampo apa yang Alvaro pakai? Kenapa rambutnya sangat wangi? Pasti harganya sangat mahal. “Dikit doang. Sekali lagi ya.” Violet langsung menghirup dalam-dalam wangi rambut Alvaro kemudian benar-benar berhenti dari kegiatannya itu sebelum Alvaro benar-benar marah. Alvaro tersenyum kecil membayangkan apa yang baru saja gadis itu tadi lakukan. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang berani menciumi rambutnya. Bahkan gadis seolah memanfaatkan keadaan. Alvaro berjalan menuju rumahnya, tidak mungkin rasanya ia melanjutkan joggingnya sembari menggendong Violet. Tampak beberapa orang yang juga sedang berlari pagi menatap penuh memuja pada Alvaro dan juga menatap iri pada Violet yang bisa digendong oleh seorang Cetta yang terkenal sangat amat kaya dan tentunya tampan itu. Sementara Violet tampak memperlihatkan senyum bangganya pada setiap orang yang memperhatikan mereka. Alvaro menurunkan Violet dalam gendongannya saat mereka sudah berada di depan pintu utama masion milik Alvaro. Violet menghela nafas lega akhirnya terbebas dari sekumpulan binatang yang mengerikan baginya itu. Sepertinya orang kaya di kompleks ini rata-rata mempunyai anjing sebagai hewan peliharaan. “Ya ampun lo sampai keringatan gini.” Violet menyeka keringat di dahi dan leher Alvaro dengan handuk kecil yang sedari tadi ia bawa. Alvaro hanya diam membiarkan gadis itu menyeka peluhnya. Violet sempat salah tingkah saat Alvaro memperhatikannya. Badan gadis itu bahkan dibuat kaku saat tangan Alvaro terangkat untuk menyeka keringat Violet di dahinya. Tadinya Violet berniat menghapus keringatnya sendiri saat sudah selesai menghapus keringat Alvaro. “Mandilah, setelah itu kita sarapan bersama.” Alvaro langsung pergi dari hadapan Violet setelah mengucapkan kata itu. Violet masih terpaku di tempatnya. Ia memegang dahinya yang tadi disentuh Alvaro sembari tersenyum. Ah ternyata kamus berjalan itu bisa bersikap manis juga. “Cieee udah main lap-lapan keringat,” goda Rika sembari menyenggol lengan Violet. Violet hanya senyum-senyum saja menerima godaan itu. “Sekarang lap-lapan, besok apaan lagi?” “Besok elus-elusan, terus pegang-pegangan, peluk-pelukan, terus dinikahin deh. Aaaaaaa mauuuuu....” Violet memekik bahagia kemudian berlalu dari hadapan Rika yang terheran-heran mendengar balasan gadis itu. “Ihhhhh dasar genit.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN