Chapter 4

2836 Kata
Violet mengganti-ganti siaran TV, saat tidak menemukan yang menarik ia membuang dengan sembarang remote TV. Ia mengusap wajahnya kasar. Sudah seminggu ia tinggal di rumah ini, namun rutinitasnya selalu sama setiap hari. Meskipun rumah ini begitu mewah dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap, namun ia sudah merasa bosan lama-lama berada disini tanpa melakukan apapun. Ingin rasanya mengajak kedua sahabatnya itu untuk sekedar berjalan-jalan atau menghabiskan waktu di mal, namun Elis maupun Karin sekarang sudah bekerja. Tentunya mereka sibuk dengan pekerjaannya saja. Hanya Violet yang sampai saat ini tidak menggunakan ilmu yang ia punya. Bukannya tidak ingin kerja, hanya saja Violet merasa ia belum butuh kerja. Lagi pula ia masih memiliki cukup bahkan lebih uang untuk kebutuhan hidupnya. Apalagi kini ia tinggal bersama Alvaro dan segala macam kebutuhan hidupnya ditanggung oleh Alvaro. Merasa bosan, Violet pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah mencari angin segar. Violet sebenarnya kesal dan sangat ingin protes kepada Alvaro. Alvaro menyuruhnya tinggal bersamanya, namun Alvaro terkesan mengacuhkannya. Ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan untuk protes saja Violet belum menemukan waktu yang pas untuk bertemu dengan Alvaro. Violet mengedarkan pandangannya melihat halaman depan yang sangat luas itu mencari sesuatu yang sekiranya akan menarik. Mata Violet sedikit memicing saat melihat Tio yang sedang membersihkan mobil di bagian samping. Merasa memiliki teman yang bisa diajak berbicara karena seluruh pelayan lainnya terlihat sangat sibuk termasuk Rika, akhirnya Violet pun menghampiri Tio. “Bang...” panggil Violet. Tio yang sedang mengelap mobil mengalihkan pandangannya tersenyum menyambut kedatangan Violet. “Eh Violet, ngapain kesini?” “Bosan aja di dalam. Bang Tio lagi ngapain?” “Lagi ngekepang bulu monyet.” “Yeee jelas-jelas lagi ngelap mobil.” “Ni bocah udah tahu masih nanya.” Violet terkekeh tanpa dosa menanggapi ucapan Tio. “Bang, ini garasinya ya?” tanya Violet penasaran. Pasalnya ia hanya sering melihat satu mobil yang dipakai Alvaro dan satu Alphard yang sering Violet pakai jika sedang ada keperluan keluar. Tio mengikuti arah pandangan Violet pada pintu besi besar yang tertutup. “Iya Vi.” “Mau lihat boleh gak? Abang mah garasinya ditutup muluk.” “Sebagai kepala garasi, abang harus jaga baik-baik mobil-mobil tuan Alvaro.” “Ya udah lihat bentar, please...” Violet menatap Tio dengan tatapan memohon. Tio yang selalu dibuat luluh dengan tatapan itupun akhirnya mengambil sebuah remote di saku celananya kemudian menekan salah satu tombol di remote itu hingga membuat pintu besar garasi terbuka. Violet membulatkan matanya terkejut saat pintu garasi itu terbuka. Bahkan ia tidak bisa berkata apa-apa. Ini bukan seperti garasi, lebih tepat seperti showroom mobil mewah. Violet melangkahkan kakinya memasuki garasi mendekati mobil-mobil mewah yang berbaris rapi di dalam garasi itu. Berbagai macam dan merek mobil sepertinya ada semua di garasi ini, bahkan begitu banyak ferarri dan lamborghini disini. Ada juga beberapa mobil antik dan langka. “Bang ini benaran mobil Alvaro semua?” Tanya Violet tak percaya.  “Ya iya Vi.” “Aku bingung deh, sebenarnya Alvaro itu kerja apaan sih? Kenapa bisa sekaya ini? Oh atau jangan- jangan dia p**************a?” “Hush.. kamu ini sembarangan banget. Tuan Alvaro itu pengusaha sukses. Usahanya banyak banget, usaha properti ada, batu bara ada, tambang minyak di Dubai ada, berlian ada, ah pokoknya banyaklah.” Tio bahkan tidak bisa menjelaskan satu persatu usaha apa yang dimiliki Alvaro hingga ia bisa sekaya sekarang. “Tapi kok dia gak pernah masuk majalah atau TV? Kan biasanya orang-orang kaya bakal masuk majalah atau TV.” “Ya gimana kamu mau lihat kalau kamunya aja nonton cuma gosip, baca majalah juga cuma majalah fashion. Lihat yang mengenai bisnis dong.” Violet menyengir mendengar sindiran Tio. Benar juga yang dikatakan Tio. Violet kembali menjelajahi garasi melihat-lihat deretan mobil yang tak henti-hentinya membuat ia berdecap kagum. Tiba-tiba Violet terpekik saat melihat sebuah Mini Cooper Loius Vuitton yang sering ia lihat di majalah maupun di internet sedang terparkir gagah di sudut garasi. Tanpa berpikir panjang gadis itu langsung berlari mendekati mobil itu. Tio yang kaget mendengar pekikan Violet langsung mengikuti kemana gadis itu pergi. “OMG!!!!!!!!” Violet kembali memekik. Tangannya mengelus mobil itu penuh memuja. Pasalnya mobil ini adalah mobil impiannya, mobil yang bekerja sama dengan brand fashion ternama yang dilapisi emas ini benar-benar terlihat luar biasa. “Ya ampun Violet, abang kirain kenapa.” “Bang please minta kunci mobil ini. Please banget, ini mobil impian aku. Aku mau rasain ada di dalam mobil ini,” pinta Violet mendesak Tio. Ia benar-benar sudah tidak sabar merasakan ada di dalam mobil ini. Ah pasti sangat keren jika ia bisa pergi berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan mobil ini. “Duh, jangan deh Vi. Entar Tuan Alvaro marah mobilnya diacak-acak.” “Ih siapa yang mau ngacak-ngacak sih Bang, mau lihat-lihat doang. Ayolah, pelit banget sama aku ini.” Violet mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes. “Ya udah deh, tapi janji lihat-lihat aja. Jangan dinyalain.” “Siap Bos.” Dengan senyum semringah Violet memberi hormat. Tio menggeleng kecil melihat tingkah gadis cantik ini, ada saja yang dia minta dan rata-rata semuanya konyol. Bahkan pernah saat ia mengantar Violet berbelanja Violet berteriak histeris di tengah-tengah kemacetan saat melewati toko ice cream kesukaannya. Ia merengek meminta untuk dibelikan ice cream itu padahal sedang macet parah. Akibatnya Tio harus memikirkan cara bagaimana bisa agar meminggirkan mobilnya. Gadis ini benar-benar unik. Tio mengeluarkan salah satu kunci di dalam tas kecil yang ia sandang kemudian memberikannya pada Violet. Violet langsung mengambil kunci mobil itu dengan antusias. Ia bahkan kembali memekik saat mendengar bunyi mobil itu saat tombol untuk membuka pintunya dibuka. “Vi, jangan lama-lama loh. Jangan di...” “Tio.....” belum selesai berbicara, Tio mendengar suara seseorang yang ia kenal memanggilnya. Pasti itu suara Ari, salah satu pekerja disana. Akhirnya dengan terpaksa Tio meninggalkan garasi. Ia akan menemui Violet lagi nanti. Tidak ada salahnya memberi Violet waktu untuk melihat-lihat isi mobil. Violet memegang stir mobil dengan mata berbinar-binar. Tidak henti-hentinya ia berdecak kagum. Bahkan design interior mobil ini benar-benar dirancang begitu sempurna. Tidak ingin menyia- nyiakan waktu, Violet mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian berfoto ria di dalam mobil itu. Ah benar-benar foto yang sempurna. Bahkan Violet tidak lupa mengirim foto kepada kedua sahabatnya, pasti mereka akan sangat iri bila melihat foto ini. Merasa tidak puas hanya duduk dan melihat-lihat isi mobil ini, Violet berniat menyalakan mobil itu. Ia melihat ke sekeliling, sepertinya Tio belum datang. Ah kesempatan yang bagus. Violet langsung menyalakannya hingga terdengar bunyi mesin yang sangat halus. Tidak puas hanya dengan menyalakan Violet kembali ingin lebih dengan menjalankan mobil ini. Sepertinya hanya dengan membawa mobil ini berkeliling halaman rumah yang cukup luas ini tidak masalah. Jika nanti Tio marah karena ia melanggar kesepakatan awal, Violet bisa meminta maaf nanti. Dengan begitu antusias, Violet langsung menjalankan mobil itu hingga tiba-tiba... Brakkkkk... Ciittt.... “OMG! Mati gue.” Violet melihat ke belakang. Mini cooper mahal ini terlihat sudah sangat rapat dengan dinding. Violet menepuk dahinya cukup keras dan merutuki dirinya atas kebodohan yang telah ia perbuat. Mungkin karena terlalu antusias, Violet bukannya memajukan mobil itu malah memundurkannya. Tamatlah sudah riwayatnya, dirinya ini benar-benar ceroboh. Dengan d**a yang mulai bergemuruh, Violet keluar dari mobil itu. Ia berharap saat ia melihat ke arah belakang mobil, tidak ada sedikitpun bagian mobil itu yang lecet. Namun apalah daya, saat ia melihat ke belakang mobil, terlihat bagian belakang mobil itu sudah lecet, memang tidak banyak, namun cukup terlihat jika diperhatikan baik-baik. “Ya ampun, b**o banget sih gue. Gimana kalau Alvaro marah.” Violet bergerak gelisah. “Violet... ya ampun... ” Tio yang mendengar ada suara tadi langsung segera menghampiri Violet. Betapa terkejutnya ia saat melihat mobil bosnya itu kini tidak semulus saat ia tinggalkan tadi. Tio mengusap wajahnya frustrasi sementara Violet tampak panik dalam diamnya. “Kan udah abang bilang jangan dinyalain, kalau udah gini gimana lagi coba?” “Ya maaf.” “Terus sekarang gimana? Abang bisa kena marah tuan Alvaro nih.” “Gimana kalau kita tutupin stiker LV aja bang? Kan banyak tu yang jual,” saran Violet. Tio dibuat melongo mendengar saran dari Violet itu. “Vi, mobilnya ini dilapisi emas, kalau kita tutupi stiker, ya jadinya aneh.” Violet menggaruk tengkuknya, benar juga. Ide yang cukup bodoh, sepertinya ia harus mencari cara yang lain. “Kira-kira kalau kita benerin berapa ya Bang? Ini pasti gak semurah mobil biasa. Mana aku gak ada uang lagi, kan kemarin baru belanja. Warisan dari oma masih diurus. Lagi pula yang megangkan Alvaro, gak mungkin aku minta. Duh aku harus gimana.” Violet mengusap wajahnya frustrasi. “Sekarang masalahnya bukan uang Vi, tuan Alvaro bisa beli mobil ini kapan pun dia mau. Tapi masalahnya abang ingat banget kalau dapati mobil ini tu susah karena memang belum dijual di Indonesia.” Violet makin panik mendengar penuturan Tio. Mengingat sikap dingin Alvaro, bukannya tidak mungkin jika Alvaro akan memarahinya habis-habisan karena sudah membuat mobilnya rusak. “Atau gini aja, kamu telefon tuan Alvaro sekarang deh. Kamu jujur aja dulu, siapa tau kalau lewat telefon tuan Alvaro gak bisa marah-marah banget kan.”  “Ah ya, Abang benar.” Violet langsung mencari nomor Alvaro di ponselnya yang sebelumnya sempat ia simpan. Violet menarik nafasnya dalam-dalam mengumpulkan keberaniannya. Sembari menunggu telefon tersambung, otak Violet mulai mempersiapkan kalimat apa yang akan ia katakan pada Alvaro nantinya. "Halo" Jantung Violet langsung berdebar cepat saat mendengar suara Alvaro. Ia pasti bisa, Violet selalu punya cara untuk menyelesaikan masalahnya."Haii Alva. Gimana hari ini di kantor? Semuanya lancar? Karyawan gak ada yang telatkan? Udah makan siang belum? Oh atau mau gue bawain makanan ke kantor? Kita makan siang bareng yuk." "Bisa langsung ke intinya saja? Saya sedang banyak kerjaan.""Hmmmm.... gue tadi lihat-lihat garasi lo. Lo hebat banget ya mobilnya pada keren-keren. Terus gue lihat ada mini cooper LV, pasti lo satu-satunya orang di Indonesia yang punya deh. Kalaupun ada yang punya pasti KW deh..." "Violet!" Violet menelan ludah saat mendengar suara sentakan dari Alvaro. Sepertinya Alvaro benar-benar sedang tidak ingin berbasa-basi."Gue gak sengaja bikin Mini Cooper LV lo lecet. Maaf..." Nada suara Violet terdengar melambat. "Kamu tidak bisa bawa mobil?""Ya gue bisa, tapi mobilnya lo aja kayaknya yang sensi sama gue. Diajak maju, malah mundur." "Kamu suka mobil itu?""Sukaaaa..... makanya gue bawa, tapi malah nabrak." "Ya sudah nanti saya belikan yang baru.""Eh gak usah, lecetnya dikit doang kok, diperbaiki aja." "Gak papa. Ya sudah saya harus kerja lagi."Alvaro mematikan sambungan telefonnya. Violet mendengus kesal, hanya seperti itu saja ucapan perpisahannya? Benar-benar kaku. Namun sesaat kemudian Violet tersenyum lebar mengingat apa yang dikatakan Alvaro tadi padanya. Bukannya meminta ganti rugi, Alvaro malah akan membelikannya mobil itu. “Gimana Vi? Apa kata Tuan Alvaro?” Tanya Tio penasaran. Sedari tadi ia menguping pembicaraan mereka namun ia sama sekali belum bisa menyimpulkan apa pun. “Kata Alvaro gak papa kok, bahkan aku bakal dibeliin mobil kayak gitu.” Tio terlihat kaget mendengar balasan santai gadis itu. Namun ia juga bersyukur, sepaling tidak ia tidak dalam masalah saat ini. “Syukur deh kalau gitu.” “Eh tapi hati-hati loh, tuan Alvaro terlalu baik sama kamu, entar kamu malah dinikahi.” “Aaaaaaaaa mau dong........ ” Tio melongo mendengar pekikan gadis itu. Violet dengan bahagia berlalu dari hadapan Tio. *** Alvaro menghela nafas sesaat sesudah menutup telefon dari Violet. Ada-ada saja gadis itu. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak, pekerjaannya benar-benar banyak saat ini. “Banyak pikiran banget kayaknya Bos, bagi-bagi dong.” Alvaro mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang tidak asing baginya itu. Siapa lagi kalau bukan Demon sahabatnya yang bisa dengan sesuka hati memasuki ruangannya. Padahal tidak ada yang berani menginjakkan kakinya di ruangan ini sebelum ia mempersilahkannya masuk. “Kenapa sih?” Tanya Demon lagi kini sudah duduk di hadapan Alvaro. “Violet, dia baru nabrakin Mini Cooper LV di rumah sampai lecet.” Demon tertawa geli, ternyata gadis itu. “Terus masalahnya dimana? Mini Cooper doang kan.” “Dia suka banget kayaknya sama mobil itu, jadi ya tadi gue lagi pikiri aja buat cari mobil itu lagi.” “Ya udah lah, bagi lo mah itu gampang. Eh btw lo masih kaku sama dia?”  “Maksudnya?” “Pakai kamu saya?” Alvaro mengangguk kecil sebagai jawaban. “Yaelah, bedain dia sama cewek yang lain dong Bro, dia kan tinggal sama lo. Jangan terlalu formal lah,” saran Demon. Pasalnya ia sangat paham kebiasaan sahabatnya yang begitu formal saat bicara dengan wanita. Sebenarnya Demon tahu alasannya, namun ia hanya menyarankan agar sahabatnya itu secepatnya berubah. “Makhluk yang namanya wanita itu harus dikasih batas, biar gak berlebihan,” balas Alvaro. Demon mencibir, ia sudah sangat hafal kalimat itu. “Honey.... honey.... aku masuk ya... honey...” “Kayak gitu tuh contohnya,” ucap Alvaro saat mendengar seorang wanita dari luar ruangannya. Demon tertawa geli melihat ekspresi kesal Alvaro setiap kali wanita itu datang. “Ini semua karena saran lo yang mengharuskan gue kasih sedikit ruang buat cewek masuk.” “Sorry Bos, gue kan gak nyangka kalau akhirnya bakal gini, mending kita kabur makan siang deh kayak biasa.” Alvaro bangkit dari duduknya tanpa menjawab ajakan dari Demon. Karena tanpa dijawab pun gerak-geriknya sudah menandakan bahwa ia setuju. Alvaro membuka pintu ruangannya hingga terlihatlah seorang wanita yang sibuk membenahi tatanan rambutnya. Cantik memang, namun kurang menarik. “Ah akhirnya kamu buka juga. Ayuk Honey kita makan siang bareng. Habis itu kita belanja ya.” “Saya mau ke toilet sama Demon. Kalau mau ikut, silakan.” Alvaro langsung berlalu dari hadapan wanita itu diikuti Demon memasuki lift pribadinya. Wanita itu mengentak-entakkan kakinya kesal. Padahal di ruangannya ada toilet, kenapa ia malah pergi? Saat lift itu tertutup ia baru sadar bahwa Alvaro sudah membohonginya. “Ihhhhhhh.... ngeselinnnnn......... Angel beteeeee!!!” Wanita itu mengentakkan heels mahalnya ke lantai untuk mengungkapkan kekesalannya. ***Violet berjalan keluar dari kamarnya. Ia malam ini merasa susah untuk tidur. Pasti karena ia sudah menghabiskan setengah harinya tadi siang untuk tidur jadi kini ia tidak merasa kantuk. Merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan, Violet pun memilih untuk berjalan menuju lantai bawah. Ternyata rumah ini benar-benar terlihat sepi, apalagi saat tengah malam begini. Pasti semua pelayan dan pekerja rumah sudah beristirahat. Violet memutuskan untuk menuju sofa yang berada tidak jauh dari tangga. Ia merebahkan tubuhnya di sofa itu berharap kantuk akan cepat melanda. Ia berbaring kesana kemari di sofa besar itu mencari posisi yang pas. “Kamu ngapain?” Violet sontak langsung menoleh ke asal suara. Ia menghalau rambutnya yang sudah acak-acakan karena aksinya tadi untuk memperjelas pandangannya. Ia cukup terkejut saat melihat Alvaro sedang berdiri di dekat tangga dengan segelas kopi di tangannya. Violet langsung berjalan menghampiri Alvaro. Sudah empat hari kejadian setelah ia merusak mobil Alvaro saat itu, baru kali ini ia bertemu dengan Alvaro. “Gue gak bisa tidur, makanya rebahan di sofa. Siapa tahu aja jadi ngantuk.” Alvaro tampak mengangguk kecil pertanda paham kemudian mulai menaiki anak tangga. “Eh lo mau kemana?” Violet menahan langkah Alvaro. “Mau ke ruang kerja. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.” “Lo kayaknya kerja dimana-mana ya. Harusnya di rumah itu waktu lo buat istirahat.” Alvaro hanya mendengarkan ucapan Violet sejenak kemudian melanjutkan melangkah. ‘Ehhh.. aw...” Violet terpekik saat ia hampir terpeleset karena mengejar langkah Alvaro yang terlalu besar menaiki anak tangga. Untung saja Alvaro dengan sigap langsung menahan gadis itu agar tidak jatuh. Nafas Violet naik turun karena masih terkejut. Sementara matanya terfokus pada Alvaro yang kini juga sedang menatapnya begitu dalam. Demi Tuhan, Alvaro terlihat makin tampan jika dilihat sedekat ini. Semua yang ada padanya terpahat begitu sempurna, bahkan tatapannya yang dingin terkesan menghangatkan. “Kurangi sikap ceroboh kamu.” Violet tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Alvaro. Ia langsung bangkit dari rengkuhan Alvaro, padahal rasanya begitu nyaman. “Lo sih jalannya cepat-cepat banget,” ucap Violet menyalahkan Alvaro. “Lebih baik kamu masuk ke kamar, sudah terlalu malam.” “Gue belum ngantuk, gue ikut ya ke ruang kerja lo. Gue belum pernah lihat.” “Ruang kerja saya ada di dalam kamar.” “Ya gak papa, kita kan ke ruang kerja lo, bukan ke kamar.” “Tapi itu privasi saya. Saya tidak pernahkan masuk ke kamar kamu, jadi kamu juga tidak boleh,” ucap Ali mengingatkan. Violet mengerucutkan bibirnya kesal. “Gue gak pernah larang lo masuk ke kamar gue kok. Kalau lo mau masuk, ayok boleh.” Alvaro menatap gadis itu heran sementara Violet terlihat menyengir. “Bercanda doang kok. Hidup lo terlalu kaku kayak triplek kontrakan dan bahasa lo terlalu baku kayak kamus berjalan.” Violet mencibir meledek Alvaro. Alvaro hanya diam tak membalas. Hanya Violet satu- satunya orang yang bisa meledeknya seperti itu. “Ini kunci Mini Cooper LV kamu yang baru. Sekarang masuk kamar!” Alvaro memberikan sebuah kunci berwarna emas itu kepada Violet. Mata Violet tampak berbinar melihat kunci itu. “Aaaaaaaa makasih.” Violet memekik girang dan mengambil kunci itu. Ia langsung berlari dengan begitu riang menuju kamarnya. Tanpa sadar Alvaro tersenyum tipis melihat tingkah konyol gadis itu, hanya dengan diberikan Mini Cooper ia sudah bisa sebahagia itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN