Akhirnya, kami bertemu Sekar juga. Sebelum tangisan Putik merobek gendang telinga semua orang, aku pun segera mengajaknya ke tempat Sekar. Begitu bertemu Sekar, wajah Putik secerah Matahari pagi. Tawanya tergelak saat bercanda dengannya. Membuat sudut mataku basah tiba - tiba. "Saya ngerokok dulu ya, Dok. Titip Putik." Kuelus kepala Putik yang menolak sentuhanku dan malah memeluk leher Sekar. "Papa tinggal sebentar kok, bukannya mau ngajak pulang." Putik bergumam tak jelas, Sekar tertawa dan memeluknya dengan sayang. Aku menemukan bangku kayu kosong tidak jauh dari tempat Sekar dan Putik. Membakar sebatang rokok, menghembuskannya perlahan, dan menyandarkan punggung di sandaran bangku sambil melihat - lihat kafe di seberang tempatku duduk yang mulai ramai dengan orang asing. Beberapa p

