Bangun - bangun, aku mendapati Anis sedang melipat peralatan sholatnya di sebelah kasurku. Aku tahu ini di rumah sakit. "Nis," panggilku. Dia berbalik dan tersenyum lega. "Kenapa Mas? Ada yang sakit? Mau dipanggilkan dokter?" "Putik sama siapa?" Tanyaku khawatir. "Sama mbak Rina dan mas Virgo di rumah. Mas Giri sudah enakan? Sebentar aku panggil dokter." Aku menghentikan adikku dengan menarik lengannya pelan. "Sekar di mana?" Tanyaku. "Dia baik - baik aja kan?" Anis tersenyum menenangkan kali ini, sambil mengelus lenganku dia berkata. "Mas pasti kaget kalau lihat dokter Sekar. Dia malah udah kerja seperti biasa." Aku mendesah napas lega. Tiba - tiba, aku teringat tentang telepon Alex sesaat sebelum aku berangkat menemui Kino. Aku pun meminta ponselku pada Anis dan segera mencari n

