"Putik udah tidur Bang? Taruh di kasurnya aja, pegel lho. Dia mulai berat." Suara Sekar mengembalikan kesadaranku. Dia sudah berdiri di depanku, Sekar pasti baru datang dari kantor. Tas kerja masih tersampir di bahunya. "Sebentar lagi, nanti saya yang bawa ke kamar sendiri." Sekar mengangguk. "Sekar," panggilku. Dia berbalik dan menaikkan kedua alisnya, bertanya. "Terima kasih ya, karena selalu ada untuk Putik dan saya." Sekar tersenyum dan mengangguk lagi. "Pergilah keluar, cari banyak kenalan. Jalin pertemanan. Kamu masih muda untuk dibebani seorang pria menyedihkan dan anak gendut ini." Sekar menghampiri dan duduk di sebelahku. Tangan kanannya mengelus pipi tembam Putik. "Kalian bukan beban. Sangat menyenangkan berada di sini. Melihatnya tumbuh, juga Bang Giri tetap harus kerja. D

