Aroma yang Tak Biasa

1321 Kata

“Sayang.” Entah sudah panggilan yang keberapa dari Kak Damar, aku masih enggan membuka mata. Aku hanya mengeratkan pelukanku dan bersembunyi di ceruk lehernya. “Sayang, serius, kita ke sini cuma untuk tidur saja?” Aku masih bergeming. “Oke, Kakak sangat siap.” Aku segera bangun, duduk menyandar di ranjang saat Kak Damar menyelinap di bawah selimut. Tidak, tidak untuk yang ketiga kalinya. Kak Damar terkekeh, melihat reaksiku. Jujur, aku benar-benar lelah. “Sudah lebih baik?” Kak Damar menyandarkan dirinya di ranjang, dan aku bersandar di bahunya, nyaman. “Sedikit.” Pagi tadi, aku mengeluh nyeri di salah satu bagian tubuhku ketika berjalan, tapi sekarang lebih baik. “Maaf, Sayang,” lirihnya. “Kok, maaf, sih. Beneran sudah lebih baik, kok.” “Oh, ya, kalau begitu, ayo, kita ulangi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN