Aku mendengus kesal meskipun sudah mendengar penjelasan dari Kak Damar. Dia bilang sepanjang hari hanya berada di kantor, dan pertemuan dengan klien juga dilakukan di sana. Setelah menyiapkan air mandi untuk Kak Damar, aku memilih merebahkan tubuhku di kasur. Aku akan tidur lebih dulu tanpa menunggunya. Bergerak ke sana dan ke sini, akhinya aku menemukan posisi yang pas dan nyaman untuk tidur. Namun, baru saja memejamkan mata, aku merasakan tangan yang menyusup masuk ke dalam bajuku, mengelus lembut perutku. “Jingga mau tidur, Kak.” “Silahkan, Kakak cuma mau memeluk kamu.” “Tapi Jingga terganggu.” Bagaimana tidak, dia terus menggodaku. Bahkan saat ini, dia pun dalam keadaan topless. Kalau boleh jujur aku sangat ingin menyentuh d**a bidangnya, tapi rasa kesal menyelimuti hatiku. Kak

