Selepas mandi dan berganti seragam, Sarah masih betah mematut dirinya di cermin. Masih tak habis pikir, apa sih yang Ali lihat dari dirinya. Wajah pas-pasan, badan juga pendek kunthet, pemalas, otak karatan. Nah, kalau sudah begini, gimana Sarah bisa yakin kalau Ali itu cinta mati sama dia? Ahh, jangan-jangan kak Ali cuman ngerjain Sarah. Memikirkan itu, wajah Sarah menjadi lesu. Gimana enggak, kalau hati sudah terlanjur nyangkut di sana? Masak harus patah hati? Alamaaak! Malulah, masak preman patah hati? Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Sarah. Ia menoleh. Ternyata Ali. "Dek Sarah lama sekali, semua menunggu di bawah." Ali tersenyum melihat Sarah mulai mau menguncir rambutnya sendiri, meskipun jadinya malah terlihat awut-awutan. "Sarah gak mau sekolah." Sarah mencebikan bib

