1. Taruhan
"Kenapa harus pake taruhan sih?" Sarah menatap bergantian Demon, Ronald, Randy dan Jack; empat cowok yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil. Mereka tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama, sekaligus bersekolah di sekolah yang sama, mulai dari TK sampai sekarang duduk di bangku SMA.
Sarah gadis yang tomboi. Sahabat dan temannya hampir keseluruhan laki-laki. Bahkan penampilannya pun bisa dibilang lebih mirip preman sekolah daripada seorang gadis pelajar. Rambutnya dipotong cepak dan ia pun lebih suka memakai celana, bahkan ketika pergi ke sekolah.
"Ya enggak apa-apa Sar, biar lebih seru," jawab Ronald.
"Berapa taruhannya?"
"Jangan pake uang, yang lebih menantang lagi dong," ujar Jack.
"Apaan?" Demon mengernyitkan dahi ke arah Jack.
"Hmm... Gimana kalau yang kalah harus mau melakukan tantangan dari yang menang?"
"Boleh juga tuh, seru juga kayaknya." Demon mengangguk setuju.
"Oke deh, boleh," jawab yang lain serempak.
***
"Gue musti ngapain? Jangan aneh-aneh ya, awas kalian!" Sarah mendelik ke arah keempat sahabatnya. Ia yakin sekali, pasti mereka bakal mengerjainya habis-habisan karena jarang sekali dirinya kalah bertaruh. Biasanya ia selalu menang dalam pertandingan apapun, tapi kali ini sepertinya nasib baik sedang tidak berada di pihaknya.
"Sabar, kita lagi mikir." Randy mengedipkan sebelah matanya ke arah Sarah.
"Ck! Buruan, gue mau pulang!" Sarah mulai tak sabar.
"Dah malam, nginep aja, telpon nyokap lo!" sahut Demon.
Sarah mendengus kesal, tapi tetap saja ia mengikuti juga saran Demon dan mengirim pesan untuk mamanya, mengatakan jika malam ini dirinya tidak pulang, menginap di rumah Demon. Ia mengerling keempat sahabatnya yang terlihat sedang berbisik-bisik, kemudian tertawa ngakak. Huft habislah sudah... mereka berempat pasti sedang menertawakan dirinya.
"Kita udah mutusin," Demon nyengir lebar, "lo kudu jadian sama Ali, siswa kelas 3 di sekolah. Ajak dia sebagai pasangan lo di acara pensi nanti. Setelah itu terserah deh, mau putus mau lanjut," jelas Demon.
"What?! Yang bener aja! Kalian tau kan gue paling males sama yang namanya pacaran?" Sarah menggebrak meja.
"Justru itu... kita sebagai sahabat merasa prihatin sama lo. Mau sampai kapan lo jadi lesbong gini. Kita dah punya gandengan untuk datang ke pensi, trus lo gimana dong?" Ronald berpura-pura simpati.
"Sialan lo, siapa juga yang lesbong... gue cuma males aja."
"Udah, cobain aja dulu."
"Usaha, biar si Ali mau jadian sama lo."
"Kalo misal dianya nggak mau gimana?"
"Hahaha... gantinya lo kudu rela nyerahin panamera turbo, credit card, dan tabungan lo buat kita."
What? Panamera turbo? Big no...!! Mobil kesayangan Sarah yang memerlukan usaha keras untuk mendapatkannya.
"Trus, kalau gue berhasil dapat apa? Kalo nggak dapat apa-apa, ya rugi banget."
"Hmm... lo boleh ambil PS 5 gue," jawab Ronald.
"Gue bayarin Spp lo setahun penuh," ujar Demon.
"Gue kasih voucher belanja gratis di outlet gue." Randy terkekeh.
"Kalo lo bisa naklukin si Ali, lo boleh ambil seperempat saham gue di perusahaan bokap." Jack tersenyum penuh arti. Ia yakin Sarah tidak akan bisa menaklukkan si Ali yang terkenal dengan julukan gunung es. Bukan karena sikap Ali yang dingin, hanya saja si Ali ini susah sekali untuk didekati kaum hawa.
Sarah merenung sejenak. Tawaran mereka semua sangat menggiurkan. Cuma jadian sama Aladin atau siapapun tadi namanya, gampanglah. Toh keempat sahabatnya juga nggak nyebut kudu jadian berapa lama kan? Sejam jadian trus putus kan gak masalah. Qiqiqi... Sarah ngikik dalam hati. Jika si Aladin ini jual mahal, Sarah bersumpah akan mematahkan lehernya sampai akhirnya dia mau jadian dengannya. Hahahahaha....
"Ok deh, gue terima tantangan kalian."
"Sabtu besok, lo bawa dia sebagai pasangan di acara pensi, ok?"
"Bentar... yang namanya Ali yang mana? Gue nggak tau, gimana mau nembak kalo kenal aja kagak?"
"Ya lo pedekate dulu lah, kenalan..."
"Haishh... waktunya mepet banget ni, pensi kan tiga hari lagi..!"
Demon mengutak-atik ponselnya kemudian berteriak, "ini nih i********: Ali lovers... gila men, followersnya banyak banget!"
"Mana, gue liat..." Sarah merebut ponsel Demon dan melihat gambar Ali di sana. "Haduh please deh... Nggak bisa ya cari yang lain buat target? Kenapa cowok cantik lemah gemulai kayak begini sih?"
"Nyerah?" pancing Ronald.
"No... Hell!! Serah kalian lah. Beneran harus cowok jadul ini?"
"Jangan salah, jadul gitu banyak fans-nya... konon kabarnya dia anti banget sama yang namanya cewek. Lokernya penuh surat cinta setiap harinya."
Sarah merenung sejenak. "Oke deh... pensi ya?"
"Yup," jawab mereka serempak.
***
Sarah celingukan sambil mengintip melalui jendela kelas 3 Ipa 1, kelas Ali. Semalam ia sudah mencari beberapa referensi mengenai Ali, beserta fotonya. Sekarang saatnya eksekusi. Nggak perlu surat, karena belum tentu dibaca. Jadi rencanya Sarah akan langsung tembak ditempat. Hahaha... cewek sangar dia.
Sarah belum juga melihat makhluk bernama Ali. Kemana dia? Padahal Sarah sengaja datang ke sekolah lebih pagi supaya bisa nyamperin langsung si Ali di kelasnya. Tapi sepertinya si Ali datangnya siangan. Bah! Katanya siswa teladan, datangnya aja siang. Lima menit lagi bel tanda masuk berbunyi, tapi si jadul Ali belum juga datang. Sarah mengumpat sendiri dalam hati.
Saat mondar-mandir di depan kelas Ali, tiba-tiba dua orang siswa keluar dari kelas Ali. Dilihat dari penampilannya sih sebelas dua belas lah sama si Ali, sama-sama jadul. Tipe cowok membosankan menurut Sarah. Monoton dan nggak asyik.
"Woi.. bang.. sini bentar deh...!" Sarah memanggil kedua cowok teman sekelas Ali. Gayanya sudah mirip preman mau malak di terminal.
"Iya dek, ada yang bisa dibantu?"
"Kak Ali gak masuk ya?"
"Ohh... Ali... sebelum pelajaran dimulai dia selalu di perpus."
"Ohh, kalau istirahat ke perpus juga?"
"Kurang tau, tapi biasanya sih memang di sana."
"Ya udah deh, ntar bilangin sama bang Ali, Sarah kelas 1-6 nyariin."
"Iya, nanti kita sampaikan."
"Makasih bang." Sarah menepuk pundak kedua teman sekelas Ali dan berlalu meninggalkan mereka. Sebetulnya ia bermaksud menyusul Ali ke perpustakaan, tapi bel masuk sudah berbunyi.
"Busyeet deh, cepet amat ini bel bunyinya?" Sarah mengumpat sendiri. Ia mengurungkan niatnya mencari Ali dan berlari kembali kelasnya sendiri, lupa belum mengerjakan PR fisika.
Selama pelajaran fisika, Sarah duduk tak tenang di bangkunya. Lama amat bel istirahat. Udah gurunya kalo jelasin mendayu-dayu, yang ada malah bikin ngantuk.
Sedetik kemudian Sarah pun tertidur di bangkunya. Semalam ia menginap di rumah Demon bersama ketiga sahabatnya. Mereka main PS sampai menjelang subuh. Alhasil, sekarang ini ngantuknya tak bisa lagi ditahan.
"Sar, bangun." Indra teman sebangku Sarah menggoyangkan tubuh Sarah.
"Berisiik." Sarah menggeliat.
"Ntar lo nonjok gue lagi, kalo gak ngebangunin lo. Ayo bakso di kantin dah nungguin..."
"What? Bakso? Mana?"
Sarah langsung membuka mata begitu mendengar kata bakso. Ia celingukan mencari dimana mangkuk baksonya berada. Hobinya memang makan. Mendengar kata makanan langsung membuat dia semangat empat lima. Tapi anehnya tubuhnya tak juga bertambah gendut. Sarah memang energik dan aktif mengikuti ekstrakurikuler di sekolah. Basket dan futsal menjadi pilihan favoritnya ditambah karate, taekwondo dan juga musik.
Karena tak melihat ada bakso di meja dan sekitarnya, Sarah menggebrak meja membuat Indra terlonjak. "Mana baksonya?"
"Ya belum, masih di kantin."
"Trus kenapa lo bangunin gue bego? Minta dihajar lo ya?"
"Ampun Sar... jangan dihajar dong...!" Indra memelas.
"Lo tau gak, semalam gue kurang tidur!"
Sarah menarik kerah kemeja Indra dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah mengepal dan siap mengayunkan tinju mautnya ke arah Indra.
Beruntung sekali bagi Indra, karena belum sempat tinju Sarah mengenai wajahnya, sebuah suara merdu dan dalam mengalihkan perhatian Sarah.
"Sarah..."
Ternyata Ali yang datang.
Demi apa si cowok jadul nyamperin ke kelas? Batin Sarah.
"Kamu tadi pagi ke kelas mencariku? Ada keperluan apa?"
Busyeet resmi amat ngomongnya. Sarah mendengus seraya melepaskan Indra dari cengkeramannya kemudian berjalan menghampiri Ali sambil cengengesan.
"Ohh... iya tadi gue cariin. Barusan mau kesana lagi," jawab Sarah dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos.
"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya?"
"Yaelah... santai aja kali, gak usah resmi-resmi amat."
Ali hanya diam, menunggu Sarah menjelaskan tujuan datang mencarinya. Namun sebelum Sarah sempat menjawab, sebuah gangguan datang.
"Sar gawat! Buruan ke lapangan sekarang juga..." Seorang siswi berlari menghampiri Sarah dengan wajah berantakan dan napas ngos-ngosan.
"Da pa?"
"Relia siswi baru di kelas kita di bully sama genk Prita."
"Brengsek..!! Kak, tunggu bentar ya..." tanpa pikir panjang Sarah melompati beberapa meja dan kursi lalu berlari ke luar kelas.
Sampai di lapangan, Sarah melihat seorang gadis duduk berlutut di tengah lapangan dengan pakaian basah kuyup. Bau menyengat menyerang indra penciumannya saat dirinya berlari semakin dekat ke tengah lapangan. Rupanya itu bau air comberan yang disiramkan ke tubuh Relia, teman sekelasnya.
Prita, Anjani, Vera dan Rowena siswi dari kelas 3 berdiri mengelilingi Relia. Mereka berempat menjambak dan menampar Relia secara bergantian dengan tidak berperasaan. Belum lagi caci maki yang mereka lontarkan lantaran Relia gadis miskin yang hanya mengandalkan bea siswa untuk bisa bersekolah di sini.
Tidak ada yang berusaha membela Relia tentu saja. Karena mereka semua tidak ada yang ingin berurusan dengan genk Prita. Mereka memiliki orangtua yang cukup terpandang dan berpengaruh. Cari masalah sedikit saja, bisa-bisa besoknya mereka akan berurusan dengan hukum, keluarganya bangkrut atau yang lainnya. Begitulah memang kondisi di sekolah Sarah. Kesenjangan sosialnya begitu luar biasa.
Rowena mengayunkan telapak tangannya, bermaksud kembali menampar Relia. Dirinya merasa kesal, karena Relia hanya bungkam tak menjawab satu pun cacian mereka. Dimana puasnya menindas manusia lemah yang tidak ada perlawanannya sama sekali?
Sarah datang tepat waktu. Ia menangkap tangan Rowena dan memelintirnya ke belakang tubuh Rowena.
"Aauww.. sakit...tolong..." Rowena menjerit kesakitan dan meminta tolong kepada teman-temannya.
"Berani kalian maju, gue patahin ini tangan!" Ancam Sarah kepada kawan Rowena yang terlihat ingin maju membantu temannya.
Mereka semua menjadi bahan tontonan seluruh siswa sekolah. Demon, Ronald, Randy dan Jack menonton Sarah di pinggir lapangan. Bukannya tidak mau ikut membantu, tapi mereka yakin Sarah bisa mengatasi masalah ini sendiri. Mereka tahu betul kemampuan Sarah. Lagipula genk Prita juga akan berpikir seribu kali jika ingin berurusan dengan keluarga Sarah.
"Heh lo cewek tengil, ngapain lo ikut campur urusan kita?" Vera bereriak.
"Dia teman sekelas gue. Apa urusan lo sama dia?" jawab Sarah enteng.
"Dia numpahin saos di sepatu gue yang dibeliin nyokap di paris, lo tau berapa harganya?" Kali ini Prita, si ketua genk yang berbicara.
Sarah mendengus keras. Ditatapnya ketiga cewek di hadapannya dengan sinis. "Hanya karena numpahin saos, kalian sampai bikin dia malu di hadapan seluruh siswa?" Sarah berusaha menahan emosinya. Ia tak mau lepas kendali dan menghajar genk prita. Malas saja berurusan dengan cewek cengeng yang senjata terakhirnya pasti menangis histeris. Karena sudah pasti mereka tidak akan bisa meminta bantuan orangtuanya untuk melawan Sarah dan keluarga Sarah.
"Dia gak mau tanggung jawab! Gue udah minta baik-baik biaya untuk laundry, dianya malah nyolot! Ngotot mau cuci sendiri. Dasar miskin, gembel. Sudah gembel gak tau diri! Beraninya dia masuk ke sekolah elit kayak gini? Mau jual diri? Lo harusnya dukung gue buat ngebersihin sekolah ini dari sampah orang-orang miskin."
Plak!!
Sarah melepaskan tangan Rowena. Ia melesat menghampiri Prita dan menamparnya dengan sangat keras. "Lo, gak punya hak buat ngehina siapapun! Lo juga gembel tanpa kedua orangtua lo! Dia miskin? So what? Dia gak ngemis di rumah lo, buat minta makan!," bentak Sarah.
"Lo berani nampar gue? Lo liat akibatnya!" Prita mencoba mengancam Sarah.
"Hahahaha....!! Lo ngancam gue?" Sarah tertawa ngakak, kemudian menatap keempat genk prita dengan tatapan meremehkan.
Plak!
Plak!
Plak!
Sarah menampar mereka berempat bergantian membuat Prita dan ketiga temannya mengaduh kesakitan.
"Sakit?" Sarah mendelik menatap mereka,"Sama, dia juga sakit! Bukan hanya fisik, tapi hatinya juga terluka... kalian dengan seenak hati mempermalukan dia hanya karena alasan gak bermutu." Sarah membentak mereka garang.
Relia terisak, "Aku.. aku gapapa.. udah Sar, aku gapapa."
"Lo juga! Jangan diem aja! Lawan semampu lo biar gak makin diinjak-injak!!"
Relia menunduk, tak berani melihat Sarah. Ia tahu bagaimana jika seorang Sarah sudah mengamuk.
"Berapa harga sepatu lo?! Jawab cepet, gue sedang ada urusan yang lebih penting dari ini!" Sarah akhirnya menurunkan nada suaranya dan mencoba menyelesaikan masalah secepatnya. Urusan kak Ali lebih mendesak. Panamera turbo yang jadi taruhan. Alamaaaakkk
"Eh? Li-lima juta," jawab Prita takut-takut.
Sarah mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. "Berapa nomor rekening lo?!" Ia bertanya pada Prita.
"Untuk apa? Gak usah..aku..."
"Buruan jawab cepet!" bentak Sarah tak sabar membuat Prita mengkerut dan terpaksa menyebut nomor rekeningnya.
"Gue beli harga diri lo seharga 5 juta, lo bisa cek. Sekarang minta maaf sama Relia," ujar Sarah seraya menunjuk satu per satu wajah genk Prita.
"Gak akan! Najis banget!" Prita menolak sambil berjalan mundur membuat emosi Sarah kembali bangkit.
"Lo bener-bener bikin kesabaran gue habis ya...," desisnya sambil mengayunkan kepalan tinjunya ke arah Prita. Belum juga mengenai wajah congkak gadis itu lagi-lagi suara merdu menghentikannya.
"Sarah...!"
Kepalan tinju Sarah berhenti di udara. Ia menoleh dengan murka. Siapa yang berani menghalangi dirinya?
Ali....
Cowok itu berjalan mendekati lapangan dengan beberapa guru di belakangnya. Langkahnya anggun dengan tatapan wajah yang tenang membuat Sarah tanpa sadar menurunkan kepalan tinjunya seraya tersenyum lebar menatap Ali.
"Ehh... kak Ali... hehehe..." Sarah cengengesan. Ia sudah lupa dengan amarahnya dan juga genk Prita.
"Jangan main hakim sendiri, biar masalahnya diambil alih BP."
"Ohh... gitu ya? Udah selesai kok masalahnya, uangnya dah diganti, cuma nenek lampirnya masih belum mau minta maaf."
"Kalian... sekarang juga ikut ke ruang BP." Pak kepsek memerintahkan kepada genk Prita dan Relia.
"Tunggu pak..." ucap Sarah, ia menghampiri Relia. "Ini kunci loker gue, mandi gih.. lo ambil baju, sabun dan shampo gue di sana." Sarah yang mengikuti berbagai ekskul olahraga di sekolah memang selalu sedia baju ganti dan peralatan mandi di lokernya.
Relia mengangguk dan menerima kunci loker Sarah. "Makasih Sar... gue gak tau musti gimana cara bererima kasih sama lo...." ujar Relia pelan.
"Biasa aja... buruan, ditunggu di ruang BP."
Relia mengangguk dan berjalan keluar lapangan. Prita dan temannya digiring ke ruang BP. Kerumuman di lapangan pun mulai bubar. Begitu juga Ali, yang sudah berjalan menjauhi lapangan.
"Kak Ali.. Tunggu...!!" Sarah berteriak kencang. Seantero lapangan menoleh mendengar teriakannya.
Ali menoleh dan menatap Sarah dengan penuh tanya. "Ya?"
"Kak Ali, mau gak jadi pacar Sarah? Sabtu besok kita bisa ke pensi bareng... hee...," ujar Sarah sambil nyengir.
Semua yang ada di lapangan membelalak tak percaya dengan pendengaran mereka. Sarah, si tomboi nembak cowok di lapangan? Dan parahnya cowok itu Ali, si gunung es?
Keempat sahabat Sarah Demon, Randy, Ronald dan Jack yang menonton di pinggir lapangan mengutuk kebodohan Sarah. Bodoh Sarah! Bisa-bisanya nembak cowok dengan cara yang paling enggak banget. Mana mungkin diterima? Alamak Sarah... jangan sampai Ali lo hajar ya kalau sampai dia nolak.
"Apa?" Ali masih belum mempercayai pendengarannya.
"Jadi cowok Sarah, mau ya?"
Ali kebingungan juga kaget. Nggak salah ini, dirinya ditembak di hadapan seluruh warga sekolah di tengah lapangan pula.
Memang banyak cewek menyatakan cinta padanya, tapi hanya sebatas surat yang dimasukan ke dalam loker. Ali tak pernah membacanya dan membiarkan saja tumpukan surat itu. Tapi apa ini? Dia ditembak secara blak-blakan? Ya Tuhan, mimpi apa Ali semalam.
"Gimana kak?" Sarah berjalan pelan mendekati Ali, membuat Ali gelagapan.
"A-apanya gimana?" Ali menjadi gugup sendiri dengan tingkah agresif Sarah.
"Yaelah kak... ini Sarah diterima gak? Kok malah bengong sih? Sabtu besok kita kan kudu bawa pasangan buat hadir di pensi. Kak Ali mau ya jadi pasangan Sarah?"
Ali bingung. Ia menyadari saat ini mereka berdua menjadi tontonan. Di satu sisi dirinya tak ingin mempermalukan Sarah, apalagi setelah kejadian heroik Sarah barusan. Ali menyaksikan sendiri, meski Sarah terkenal sebagai cewek liar, tapi Sarah memiliki sisi baik juga. Di sisi lain, ia tahu betul bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan menurut keyakinannya.
"Hmm... kamu keberatan kalau kak Ali jawabnya nanti saja? Sorean kakak datang ke rumahmu." Ali tersenyum singkat, kemudian berbalik meninggalkan lapangan. Entah mengapa hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mengingat senyum cengengesan Sarah.
Ali berjalan cepat menuju kelasnya. Selama perjalanan, ia juga terus mengatur napas untuk meredakan debaran jantungnya yang tak karuan. Senyuman Sarah masih terbayang di benaknya.
Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa sulit sekali membuang bayangan Sarah dari ingatannya. Saraaaaah... Kenapa kamu harus muncul terus di pikiranku!?
Dan kali ini, untuk pertama kalinya selama hidup, Ali tak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Hati kecilnya terus berbisik bahwa dirinya harus menerima Sarah. Tapi bagaimana, Sarah terlalu liar sebagai cewek?
***
"Maksud kedatangan saya kemari, mau melamar Sarah." Ali menatap bergantian kedua orangtua sarah dengan mantap tanpa ragu sedikit pun. Ia sudah membicarakan masalah ini dengan kedua orangtua dan juga keluarganya. Dan semua mendukung keputusannya.
Sore ini Ali datang ke rumah Sarah. Sendiri. Kedua orang tuanya berjanji akan segera menyusul. Mereka ingin agar Ali terlebih dahulu berani menyampaikan maksudya sendiri, setelah itu mereka akan mendukung di belakang.
Orang tua Ali tak terlalu terkejut ketika tiba-tiba saja sepulang sekolah, Ali menyampaikan niat baiknya untuk melamar seorang gadis. Apakah kedua orang tua Ali sudah gila? Apakah mereka begitu tega membiarkan anaknya menikah di usia yang masih tergolong remaja? Tentu tidak! Mereka berpikiran terbuka. Daripada anaknya melakoni pergaulan bebas, lebih baik menjalani hubungan secara halal dan bertanggung jawab.
Ali mendatangi rumah Sarah bermodal mobil butut VW kodok yang ia beli dari uangnya sendiri. Ia merasa bersyukur karena kebetulan sekali kedua orang tua Sarah sedang berada di rumah. Mereka menyambut kedatangannya dengan baik.
"Bukan saya tidak mengijinkan nak Ali, hanya saja... eh, apa kamu yakin? Menikah bukan urusan main-main?," jawab Pak Andika, papanya Sarah.
"Saya yakin om, saya sudah mempertimbangkan baik dan buruknya. Saya hanya ingin menjalani hubungan yang halal bersama Sarah."
Tak lama berselang, kedua orang tua Ali datang sambil membawa beberapa bingkisan sebagai seserahan untuk Sarah. Ternyata mama Ali dan Sarah merupakan teman satu sekolah semasa SMA dulu, meski dulunya tidak saling mengenal. Mereka ngobrol lama membahas masa-masa sekolah dulu sampai melupakan tujuan awal Ali datang kemari.
"Ehem..." Ali berdehem untuk meminta perhatian. "Ehm, mohon maaf sebelumnya, bagaimana dengan lamaran saya untuk Sarah om, tante?"
"Pak Andika tidak perlu khawatir, Ali anak yang bertanggung jawab. Saya bisa jamin itu." Ayah Ali ikut menambahkan.
"Pa... sudah diterima saja, mumpung ada yang mau sama Sarah... papa tau sendiri kan kelakuan Sarah? Siapa tahu dia bisa berubah nantinya." Mama Sarah mencoba merayu Papa Sarah agar mau menerima lamaran Ali. Sebagai seorang ibu, mama Sarah juga memiliki kekhawatiran besar melihat putri semata wayangnya yang sudah beranjak dewasa lebih sering bertingkah seperti laki-laki.
"Gimana ya ma? Lebih baik kita minta pendapat Sarah saja dulu, coba mama panggil anak itu kemari."
Ajeng, mama Sarah masuk ke dalam rumah dan memanggil Sarah. Tak berapa lama mereka berdua memasuki ruang tamu.
"Ini yang namanya Sarah?" Bunda Ali bertanya.
"Iya bunda," jawab Ali sambil tersenyum simpul. Ia tak tahu bagaimana tanggapan kedua orangtuanya terhadap Sarah. Sekilas tadi memang dirinya sudah menjelaskan jika Sarah adalah gadis yang tomboi.
"Cantik..." Bunda Ali tersenyum cerah melihat Sarah. Waahh... agak mengejutkan juga ternyata gadis pilihan Ali yang seperti ini.
"Sarah ini kedua orang tua Ali. Mereka datang kemari untuk mengutarakan niat baik, yaitu melamar kamu," papa Sarah menjelaskan maksud kedatangan Ali dan keluarganya.
"Apa? Gak salah?!" Sarah membelalak terkejut. Kak Ali melamarnya? Hahaha... ini pasti mimpi kan? Sarah menepuk kedua pipinya, siapa tahu ini masih di alam mimpi.
"Hust...! Sarah, gak sopan! Salim dulu sama mereka," tegur mama Sarah.
Sarah berdecak tak sabar. "Tapi Ma, Ya Tuhan...! Kak Ali salah paham ini, tadi di sekolah kan aku bilang pacar atau cowok bukan begini ini?" Sarah belingsatan.
"Ya ini jawabanku Dek Sarah," jawab Ali kalem.
What? Dek? Hoekk... badan Sarah merasa geli semua mendengar panggilan Ali untuknya.
"Gak... gak bisa begini. Sarah kan maunya kak Ali jadi pacar Sarah, bukan malah ngelamar Sarah begini. Alamaaaaak..."
"Maaf kalau itu kak Ali nggak bisa. Marry me or never!" tegas Ali.
***