"Marry me or never."
Sarah mengacak rambutnya, frustasi. Ia jadi bingung sendiri, kok urusannya bisa jadi begini? Padahal niatnya untuk menjadikan Ali sebagai pacar hanya sampai pentas seni saja, sekedar untuk menunjukkan pada keempat sahabatnya bahwa dirinya bisa memenangkan tantangan mereka. Setelah itu dirinya akan meninggalkan Ali begitu saja, tapi kalau kejadiannya malah seperti, benar-benar di luar dugaan.
"Ma... Pa... kita kan masih sekolah, masih SMA... belum mapan, belum dewasa, kok kalian malah dukung Kak Ali sih?" Sarah mendelik kepada kedua orangtuanya, memberi isyarat pada mereka supaya menolak lamaran Ali.
Ayah dan Bunda Ali tersenyum simpul mendengar perkataan Sarah. Mereka bisa maklum, fenomena menikah mudah zaman sekarang ini memang merupakan hal yang aneh dan langka. Padahal justru dengan menikah muda, kematangan berfikir akan terbentuk, rasa tanggung jawab pun otomatis akan mengikuti. Mereka juga bisa terhindar dari pergaulan bebas, free s*x, pornografi ataupun hamil di luar nikah.
"Iya karena mama dan papa sayang sama Sarah, kamu tau sendiri mama dan papa sering bepergian untuk urusan bisnis. Kami merasa telah memenuhi tanggung sebagai orangtua dengan memberikanmu materi berlimpah. Memberikan apapun yang kamu inginkan. Tapi kami sadar, kami salah. Kamu kesepian," papa Sarah sambil menghela napas berat. Menyadari kesalahannya selama ini yang terlalu sibuk dengan bisnis hingga mengabaikan perkembangan putri semata wayangnya.
"Sarah gak kesepian kok. Tiap mama dan papa pergi kan Demon, Ronald, Randy ataupun Jack pasti nginep sini. Kalo gak gitu, Sarah yang nginep rumah mereka."
"Iya justru karena itu mama makin merasa bersalah. Kamu jadi tomboi begini. Sisi perempuan kamu hilang karena selalu bergaul sama cowok."
"Tidak apa-apa Tante dan Om, Ali tidak memaksa, semua terserah Sarah." Ali tersenyum sopan sembari menatap kedua orangtua Sarah dengan ekspresi menenangkan. Tapi siapa yang tahu di dalam hati Ali rasanya nyut-nyutan. Merana sekali rasanya. Untuk pertama kali ia tertarik pada perempuan dan berniat serius, ternyata malah ditolak.
"Kak Ali... pacaran dulu aja kenapa sih? Kita kan belum terlalu mengenal satu sama lain?" Sarah mencondogkan tubuhnya ke arah Ali dan menatapnya dengan wajah memelas, membuat Ali gelagapan dan salah tingkah.
"Maaf, tidak bisa dek Sarah. Prinsip kak Ali, pacaran itu setelah menikah. Kita bisa memiliki waktu seumur hidup untuk bisa saling mengenal." Ali menjawab setengah gugup karena tanpa sengaja matanya menatap bulu mata Sarah yang ternyata lebat dan lentik, membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Hahaha... kak Ali pikirannya kejauhan nih, mending pacaran dulu aja, kalo gak cocok masih bisa putus. Kalo dah nikah gimana? Gak cocok cerai dong? Jadi janda di usia muda? Alamaaaak... " Sarah bergidik ngeri membayangkan dirinya menyandang status janda muda.
Ali tersenyum mendengar jawaban Sarah. Mugkin bagi Sarah memang lamarannya kali ini terkesan main-main, tapi ia serius. Ia pun bukan orang yang mudah berubah pendirian.
"Kak Ali janji akan menjaga hubungan kita dengan baik, tidak ada perceraian setelah menikah, dan yang Sarah perlu pahami, tidak ada yang namanya ketidak cocokan selama komunikasi masih berjalan baik dan keduanya bisa saling mengerti. Perpisahan dengan alasan ketidak cocokan merupakan alasan yang sangat klise."
Sarah melongo. Cowok jadul itu barusan ngomong apaan ya? Panjang bener kayak kereta api lewat. Oh my god. Kalo ditolak, kalah taruhan dong? Ia musti ngerelain Porsche Panamera Turbo kesayangannya. Tidaaaakkk!!! Padahal untuk mendapatkan itu mobil, dirinya musti ngambek sebulan penuh, ngurung diri, mogok makan dan hampir bunuh diri meski cuma pura-pura.
"Ok, kalo Kak Ali maunya begitu," jawab Sarah Akhirnya. Biar saja jadi janda muda, yang penting mobil kesayangannya aman.
Mama dan Papa Sarah melihat anaknya dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu yakin Sarah?" tanya mama Sarah.
"Iyaa.. demi panamera, apa aja deh."
"Terima kasih dek Sarah." Ali tersenyum sumringah, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya.
"Ehem... mohon maaf sebelumnya nak Ali, papa mau tanya dulu... apa nak Ali sudah yakin sama Sarah." Papa Sarah bertanya serius kepada pemuda yang berniat melamar putrinya.
"Ya," jawab Ali mantap.
"Nak Ali harus tau kalau Sarah itu pemalas."
"Ali tahu." Ali mengangguk mantap.
"Sarah tidak bisa memasak, padahal makannya banyak."
"Saya bisa memasak untuk kami berdua," jawab Ali sambil tersenyum simpul.
"Sarah itu ceroboh dan tidak sabaran."
"Saya tahu."
"Sarah juga tidak cantik." Papa Sarah melirik putrinya jail, yang dibalas cibiran oleh putri semata wayangnya itu.
"Buat Ali Sarah yang cantik."
"Dia juga bisa dibilang tidak terlalu cerdas." Papa Sarah melanjutkan, "nilai ulangannya haduuuh," ujarnya sambil menepuk-nepuk jidat.
"Saya tau."
"Dia juga paling susah diatur."
"Yang itu, Ali juga sudah tahu." Ali tersenyum melirik Sarah.
"Tapi, papa bisa menjamin Sarah adalah anak yang baik. Dia rela berkorban demi orang lain dan empatinya sangat tinggi."
"Itu pun saya sudah tahu."
"Baiklah, berarti semua sudah jelas." Papa sarah tertawa. "Kan hal-hal seperti ini perlu diketahui sejak awal, supaya tidak kaget nantinya."
Sarah merengut. Apa-apaan ini, membuka kejelekan anaknya sendiri dihadapan orang lain. Ck! Ayah durhaka! Seharusnya kan mereka ngomongin yang baik-baik tentang dirinya, bukan malah membuka aibnya seperti ini. Sarah mengomel dalam hati.
"Tunggu dulu... Mama punya satu syarat untuk nak Ali."
"Silahkan, jika Ali mampu akan Ali penuhi syaratnya."
"Eh, Sarah kan putri Mama satu-satunya. Mama maunya nak Ali tidak membawa Sarah pergi dari rumah ini. Mama akan merasa sangat berterima kasih jika Ali bersedia tinggal di sini. Paling tidak saat mama dan papa ada di rumah."
Ali terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah kedua orangtuanya. Meminta pendapat dalam diam. Ali melihat ayah dan bundanya mengangguk setuju.
"Jika memang Ali bersedia, ayah sama bunda tidak keberatan. Toh di rumah ada mas Fatih dan dik Alya. Ayah dan bunda tidak akan terlalu merasa kesepian." Ayah Ali menepuk bahu putranya.
"Baik. Ali bersedia."
Kedua orangtua Sarah lega mendengarnya. "Dan, kalo bisa mama minta supaya nak Ali eh.. anu... ehm, Sarah kan masih sekolah, usianya masih muda, jadi kalau harus hamil dan mempunyai anak sepertinya... eh maaf..."
Kedua orangtua Ali tertawa mendengarnya. "Soal itu tidak perlu khawatir. Tujuan Ali menikahi Sarah bukan untuk itu. Murni karena ingin berpacaran dengan Sarah secara halal saja. Namun, jika suatu saat terjadi hal yang diluar dugaan kita, toh mereka sudah halal."
"Ali berjanji akan menjaga Sarah, tante." Ali melirik Sarah. Gadis itu terlihat cuek saja dan tidak tertarik dengan pembicaraan keluarga mereka. Dia malah terlihat sedang asyik mengupil di sudut sofa membuat Ali terkekeh geli.
Mengapa harus gadis liar seperti Sarah yang sanggup menggetarkan hatinya? Tapi Ali tidak menyesali perasaannya. Di mata Ali, Sarah cantik dan menarik dengan caranya sendiri, hanya perlu sedikit bimbingan saja.
"Baiklah kalau begitu, kita semua sudah sepakat resepsi akan dilaksanakan setelah Sarah lulus SMA. Lalu untuk akad nikah, kapan kira-kira akan dilaksanakan?" Mama Sarah terlihat antusias sekali dengan pernikahan putrinya ini. Dalam hati terus berdoa semoga semua bukan mimpi. Kapan lagi ada laki-laki yang mau dengan putrinya? Dalam artian menyayangi dengan tulus, bukan karena harta atau tahta yang mereka miliki.
"Kami pikir, niat baik tidak boleh ditunda. Jadi kami kemari tadi sudah sekalian mengajak penghulu." Ayah Ali menjelaskan.
"Apa?! Penghulu? Memangnya mau nikah sekarang?" Sarah yang sedang asyik memainkan upilnya terlonjak kaget mendengar kata 'penghulu'.
"Iya dek Sarah. Katanya sabtu mau ke pensi bareng kak Ali?" tanya Ali kalem.
"Iya cuma ke pensi doang kan? Masak harus nikah dulu sih?"
"Kalau dek Sarah belum siap tidak apa. Kita tunda dulu," jawab Ali tenang.
"Lalu ke pensinya tetap jadi kan meski nikahan ditunda?"
"Tidak bisa dek Sarah. Belum nikah berarti belum boleh berduaan, jadi tidak bisa ke pensi dulu."
Sarah menepuk keras jidatnya. Alamaaak, bener-bener salah target ini namanya. Maksudnya mau mancing ikan teri kenapa malah dapat ikan hiu. Dicaplok kan jadinya? Demon, Ronald, Randy, Jack... kalian bener-bener minta dibunuh!!! Sarah mengumpat dalam hati.
"Sarah..."
Sialan! Suara merdu itu lagi! "Oh-eh.. i-iya kak," Sarah gelagapan, gagal fokus melihat Ali yang terus menatapnya dengan pandangan teduh tapi menghanyutkan.
"Terima kasih," jawab Ali.
"Cepetan ayahah, panggil penghulunya kemari." Bunda Ali pun ikut bersemangat. Akhirnya sang putra menemukan tambatan hatinya. Meski berat, tapi ia pun harus ikhlas ketika akhirnya Ali sudah memiliki tanggung jawabnya sendiri dan pastinya akan lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk dirinya sendiri dan sang istri. Bukankah memang ini yang menjadi didikannya sejak lama kepada Ali dan kakaknya. Mereka tidak boleh asal suka dan mempermainkan perasaan wanita, jika mencintai seorang gadis, mereka harus nersedia memiliki gadis itu dengan cara yang penuh tanggung jawab.
Lho? Iya apa sih? Sarah bingung. Tadi memangnya dia ngomong apa? Bukannya Ali memanggil namanya dan dirinya hanya menjawab 'iya' untuk panggilan itu. Wah mereka salah paham ini. Baru Sarah akan protes, ayah Ali dan pak penghulu sudah memasuki ruang tamu diikuti beberapa orang, sepertinya sanak keluarga Ali. Sarah tak bisa berkutik lagi, apalagi mama dan papanya juga sudah memanggil seluruh pekerja di rumahnya untuk menyaksikan akad nikah mereka.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Djayadiningrat binti Andika Djayadiningrat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima puluh ribu rupiah dibayar tunai."
"Sah?"
"Saaaaahhhhh....."
Sarah menghela napas pasrah. Sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri Ali. Setengah hati ia menerima selembar uang lima puluh ribu yang dipajang apik dalam sebuah pigura mini dengan hiasan mobil-mobilan kecil.
Setelah akad, mereka meminta Sarah mencium tangan Ali, sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Sarah menurut saja tanpa banyak membantah meski dalam hati dongkol setengah mati. Dan ketika Ali membalas mencium keningnya, Sarah bergidik ngeri. Terserahlah ya... liat aja nanti.
"Sarah, ini Mas Fatih... kakaknya Ali, putra sulung bunda... ini Alya adiknya Ali." Bunda Ali memperkenalkan anggota keluarganya.
"Hai..." sapa Sarah.
Mama Sarah menyikut pinggang Sarah, "Yang sopan dong, masak bilang hai gitu?"
Sarah mengernyitkan dahi. Menurutnya ia sudah sopan kok.
"Mbak Sarah," Alya mendekat dan mencium tangan Sarah.
"Eh... iya," jawab Sarah canggung sembari menarik tangannya dengan cepat. Risih. Seumur hidup baru kali ini ada yang cium tangannya. Sarah tersenyum kikuk ke arah Fatih.
"Dek Sarah, malam ini nginap di rumah Kak Ali dulu ya, biar lebih kenal sama keluarga kak Ali. Besok baru kak Ali boyongan kemari."
"Apa?!" Sarah terkejut. Ia melirik ke arah kedua orang tuanya berharap mereka menolak permintaan konyol Ali.
"Iya tidak apa-apa nak Ali. Sarah kan sudah jadi istri kamu," jawaban mama Sarah membuat Sarah membelalak.
Disuruh nolongin juga. Ihh si mama gak ngerti banget sih.
"Bik, tolong siapkan seragam dan keperluan yang akan dibawa Sarah ke rumah mertua dan suaminya," Papa Sarah memberi perintah kepada salah seorang pembantu di rumahnya.
"Tidak perlu Pa, biar Ali saja yang membantu Sarah menyiapkan keperluannya," ujar Ali, "ayo dek, kak Ali bantu."
"Oh-eh... i-iya..." Sarah tak tahu lagi harus menjawab bagaimana. Akhirnya ia pun berjalan lebih dulu untuk menunjukkan letak kamarnya pada Ali yang terletak di lantai dua.
Sarah berjalan sambil dengan sengaja menghentakkan kakinya yang memakai sandal jepit hingga menimbulkan bunyi yang kurang sopan. Tapi apa pedulinya. Memangnya siapa Ali? Bisa-bisanya manusia cupu itu memanipulasi keadaan dengan cara yang begini halus.
Sampai di kamarnya, Sarah menjeblak pintu kamarnya begitu saja dan masuk tanpa terpikirkan untuk mempersilahkan Ali masuk juga. Keempat sahabatnya sudah biasa nyelonong masuk ke kamarnya begitu saja.
Setelah beberapa lama barulah Sarah menyadari jika Ali masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Yaelah, ngapain masih bengong di situ? Buruan masuk!"
Ribet amat urusannya kalau kebanyakan aturan begini mah. Hadeuhh... Sarah mengumpat dalam hati. Ia pun membanting tubuhnya ke atas tempat tidur yang berantakan dengan posisi tengkurap.
Melihat tingkah istrinya, Ali hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengulum senyum. Tanpa disuruh dua kali, ia pun masuk ke dalam kamar Sarah atau bisa dibilang kamarnya juga, karena sekarang status mereka sudah adalah suami istri. Tapi tetap saja, ia memerlukan ijin dari Sarah saat awal masuk tadi. Bagaimanapun dia orang baru di rumah ini.
Begitu masuk kamar sarah, Ali betul-betul dibuat terkejut melihat kondisi di dalamnya. Sama sekali tidak mencerminkan kamar seorang gadis.
Kamar bernuansa biru putih itu terlihat berantakan dengan berbagai benda berserakan di sana sini. Tanpa banyak bicara, Ali memungut barang yang berserakan di lantai dan mulai merapikannya. Di rumahnya, Ali dibiasakan untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapihan oleh bundanya.
***
Setelah selesai merapikan kamar Sarah dan menyiapkan keperluan Sarah yang perlu dibawa, Ali dan Sarah kembali turun ke bawah. Ternyata semua sudah berkumpul di ruang makan.
"Makan malam dulu Ali," Mama Sarah menyambut kedatangan mereka.
"Baik, Ma," jawab Ali tanpa merasa canggung. Ali memang memiliki rasa percaya diri tinggi dan bisa menempatkan diri dengan mudah dimanapun ia berada.
Sarah duduk berhadapan dengan Ali di meja makan. Ia memperhatikan cowok yang baru saja sah menjadi suaminya itu. Menurutnya Ali bukanlah tampan, tapi dia berkarisma. Setiap gerak gerik Ali seolah sudah terlatih dan diperhitungkan. Meski Ali terlihat pendiam, tapi sangat luwes dalam bergaul. Luwes? Benar-benar bukan tipe suami idamannya. Sarah mendesah pelan memikirkan nasibnya ke depan. "Uhuk...uhuk..." ia pun tersedak makanannya saat tiba-tiba saja Ali ke arahnya dan memergoki dirinya sedang mengamati Ali.
"Sarah... pelan-pelan dong makannya, malu sama Ayah dan Bunda kamu tuh," tegur mama Sarah.
Sarah meminum segelas air putih yang disodorkan mamanya. Wajahnya merah padam karena malu. b******k! Lagian, ngapain juga si jadul itu tiba-tiba noleh. Lama-lama gue hajar juga.
Ayah dan Bunda Ali tersenyum maklum ke arah Sarah.
Setelah makan malam dan berbincang sebentar, mereka semua pamit undur diri. Begitu juga sarah pamit pada kedua orangtuanya.
"Jangan ngorok kalo tidur!" pesan papanya.
"Jangan ngiler, malu sama Ali!," ujar mama Sarah tanpa memelankan suaranya membuat semua yang mendengar tertawa.
Sarah seperti biasa, cuek bebek tidak mempedulikan perkataan kedua orangtuanya. Dia malah sedang sibuk mencongkel sisa makan malam yang nyangkut di sela giginya menggunakan kukunya. Pikir Sarah semua sudah tahu tabiatnya buruk, jadi enggak ada yang perlu ditutup-tutupin lagi dengan berlagak sok anggun. "Jadi pamit pulang apa masih mau lanjut ngobrol di teras aja nih? Ngantuk banget dah."
Ali tersenyum mendengar perkataan Sarah. "Ngantuk banget ya, ayuk berangkat sekarang kalau begitu."
"Masih ditanya juga," jawab Sarah sambil berjalan mendahului Ali ke arah samping teras dimana tempat parkir mobil dan garasi rumahnya berada.
"Mobil kak Ali disana," ujar Ali kalem.
"Aku bawa mobil sendiri aja," jawab Sarah kethus.
"Mulai sekarang Sarah sekolahnya bareng kak Ali ya."
"What? Gak bisa gitu dong?"
"Kenapa gak bisa?" Tanya Ali masih dengan nada tenang.
"Ya... gak bisa, kalo Sarah mau hang out..."
"Sarah, nurut apa kata suami," tegur papanya yang berteriak dari arah teras.
Ali tersenyum menenangkan,"Sarah tinggal bilang, nanti kak Ali antar."
Sarah berdecak tak suka. Belum apa-apa sudah suka ngatur. Demi Tuhan Sarah bertekad untuk meminta cerai setelah acara pensi. Titik.
***
Selama perjalanan ke rumah Ali, Sarah hanya diam. Ia masih merasa kesal. Pada Ali juga mama dan papanya. Ia merengut sambil terus menatap ke luar jendela.
Ali tersenyum melihat tingkah Sarah. Entahlah mengapa setiap tingkah laku Sarah seolah bisa menghiburnya dan membuat dirinya selalu ingin tertawa. Ia pun merasa begitu bahagia karena saat ini dirinya bisa memikiki Sarah.
Di sekolah, Ali sering mendengar kabar tentang kenakalan Sarah, tapi ia tak pernah tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang Sarah, gadis yang dikenal dengan preman di sekolahnya. Sampai saat tadi pagi Tono dan Dito memberitahu dirinya jika Sarah si biang onar mencarinya. Ia punmerasa terkejut karena memang merasa tak memiliki masalah dengan Sarah.
Karena penasaran, saat jam istirahat Ali memilih mendatangi Sarah lebih dulu. Meski dirinya dikenal sebagai sosok yang pendiam, tapi dirinya bukanlah seorang pengecut. Sekalipun itu preman sekolah, ia akan tetap menghadapinya.
Saat masuk ke kelas Sarah, Ali sempat dibuat terkejut saat melihat Sarah hendak menonjok teman laki-lakinya. Awalnya ia memanggil Sarah dengan maksud untuk menghentikan Sarah menindas temannya. Namun, saat Sarah menoleh dan tersenyum ke arahnya, dunianya seakan runtuh. Dan sejak saat itu, setiap melihat Sarah jantungnya selalu berdebar hebat.
"Sarah kenapa diam saja? Marah sama kak Ali?"
"Gak!" Sarah melengos menatap keluar jendela.
"Bener nggak marah? Kalau gitu senyum doong, dikit aja," goda Ali.
Sarah masih diam dan enggan melihat Ali. Ia lebih tertarik melihat pemandangan di luar jendela dan berpura-pura Ali tidak ada di sana.
"Sarah cantik lho kalo senyum."
What? Cantik? Hoeeekk... Sarah merinding mendengarnya. Ia pun menoleh dan menatap Ali dengan pandangan jijik.
"Kenapa? Sarah tidak suka dibilang cantik?" Ali menghela napas pelan, "tapi gimana dong, Sarah memang beneran cantik dimata kak Ali."
"Sumpah ya, jangan sampai Sarah ngehajar kak Ali nih," semburnya dengan kesal. Seumur-umur kenal sama cowok, baru kali ini ada yang bilang dia cantik. Sudah keren pakai celana gunung dan kaos oblong begini dibilang cantik.
"Sudah sampai. Jangan turun dulu!"
Sarah mengernyitkan dahu, "kenapa gak boleh?"
Ali hanya tersenyum sebelum kemudian keluar dari kursi kemudi, berjalan mengitari depan mobil dan membukakan pintu untuk Sarah. "Karena Kak Ali yang akan bukain pintu buat Sarah."
"Yaelah kak, gini doang... Sarah bisa kali buka pintu sendiri," ujar Sarah berkata cuek sambil melompat turun dari dalam mobil, mengabaikan usaha Ali yang berusaha memperlakukannya dengan romantis.
Sarah mengedarkan pandangan ke sekeliling pelataran rumah Ali. Ia sukses Melongo. Sama sekali tidak menyangka Ali memiliki rumah yang demikian megah. Kontras sekali dengan penampilannya saat di sekolah dan VW bututnya.
"Ayo masuk." Ali memberanikan diri merangkul pinggang Sarah dan menggiringnya menaiki undakan menuju pintu utama rumahnya.
"Ehh, jangan gini ah kak, Sarah bisa jalan sendiri kok." Sarah mengelak dan berlari ke samping, menjauh dari jangkauan Ali. Gila! Beraninya si jadul itu macem-macem. Tonjok juga baru tau rasa dia!
"Ya sudah, ayo masuk... semua sudah menunggu di dalam." Ali berusaha berbicara tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal hatinya cenut-cenut juga.
Pintu utama terbuka sebelum Ali sempat memencet bel. Bunda Ali berdiri di ambang pintu menyambut mereka dengan hangat. "Selamat datang Sarah... ayo masuk, tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri ya... kan Sarah sekarang juga sudah jadi anak Bunda."
"Ehh.. iya... makasih tante..." Sarah benar-benar risih dengan segala sopan santun Ali dan sekarang bundanya. Hadeuh...
"Lho, kok masih panggil tante? Mulai sekarang panggil Bunda ya."
"Ehehehe...ya Bunda...," jawab Sarah kikuk.
"Mbak Saraaaahhh....!!" Alya, adik perempuan Ali tiba-tiba berlari dari dalam rumah dan menghambur memeluk Sarah. Ia antusias sekali dengan istri sang kakak yang konon kabarnya macho ini.
"Eh?" Sarah hampir saja terjengkak ke belakang menerima pelukan Alya yang tiba-tiba. Risih juga sebetulnya, tapi mau mengelak juga ia merasa tak enak. Jadi, ia hanya berdiri di tempat dengan tubuh kaku.
Bunda Ali yang sepertinya bisa membaca gerak tubuh Sarah pun tersenyum maklum. "Sarah pasti capek ya...? Istirahat dulu saja tidak apa-apa." Ia berganti menatap Ali. "Ali, ajak Sarah ke kamar nak."
"Baik, bun."Ali menjawab sopan. Ia menggandeng tangan Sarah dan menuntunnya masuk ke dalam dengan sebelah tangan menyeret koper Sarah. Sarah tak bisa menolak tentu saja karena ada Alya dan Bundanya. Itu membuat Ali ingin tertawa membayangkan apa yang bergejolak di hati Sarah saat ini. Pasti saat ini cewek preman itu dengan mengumpat dan memakinya dalam hati. "Kenapa dek Sarah?"
"Sorry banget kak, Sarah risih... geli semua nih badan...," Sarah menarik pelan tangannya dari genggaman Ali begitu dirasa mereka sudah tidak dalam jangkauan penglihatan bunda dan Alya. "Tuh liat bulu kuduk Sarah berdiri semua," Sarah menambahkan sambil menunjuk bulu di tangannya.
Ali tersenyum penuh pengertian. "Sudah sampai, ini kamar Kak Ali," ujarnya sembari membuka pintu kamarnya dan mengajak Sarah masuk.
Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Cukup terkejut melihat kondisi kamar Ali yang rapi dan bersih. Berbeda sekali dengan kamarnya atau kamar sahabat-sahabatnya yang lain.
"Ini kamar kak Ali, semoga kamu betah."
"Hehehe... aneh."
"Aneh?"
"Terlalu rapi... jadi serem liatnya," jawab Sarah sambil bergidik.
Ali sama sekali tak merasa tersinggung mendengar ucapan Sarah. Ia justru tertawa terbahak. "Bukankah kamar memang seharusnya seperti ini dek? Nyaman dan bersih."
"Nggak juga. Kamar Demon, Ronald, Randy dan Jack berantakan, tapi nyaman..."
Ali terkejut, "Kamu sering masuk kamar mereka?"
"Seringlah, nginep juga kadang kalo mama sama papa pergi."
Tanpa sadar, Ali mengepalkan kedua tangannya. Ia tak suka mengetahui bahwa Sarah sering menginap di rumah teman laki-lakinya. "Mulai sekarang, Sarah tidak boleh lagi menginap di rumah mereka ya...," Ali berusaha mengatakan itu dengan nada setenang adn selembut mungkin. Ia tahu Sarah tidak terbiasa diatur. Jadi, ketika dirinya terlalu keras mengatur Sarah, ia khawatir justru dirinya akan kehilangan Sarah.
"Ehh... kenapa gak boleh? Mereka sahabat Sarah sejak kecil."
"Karena sekarang sudah ada kak Ali, kan? Jadi Sarah tidak boleh lagi terlalu dekat dengan laki-laki lain, kecuali saudara dan kerabat."
Sarah mendengus mendengar ucapan Ali. Dia pikir dia siapa? Hahaha... ngelindur mungkin dia. Biarlah dia mau ngasih peraturan apa aja. Toh nanti selesai pensi, dirinya bakal menceraikan Ali. Titik. Hahahaha.....!!!
****