Plak! "Tega sekali kamu, Prast!" Laras menampar Pras. "Padahal selama ini Yunita sudah mencintaimu dengan tulus, dan ini balasanmu?!" Pras tersenyum getir seraya mengusap pipinya yang baru saja mendapat hadiah sebuah tamparan dari tangan seorang wanita yang selama bertahun-tahun sudah menjadi penghuni tetap di hatinya. Ia menatap Laras dengan ekspresi terluka. "Hanya satu hal yang sejak dulu ingin kutanyakan padamu, jika waktu dapat diputar kembali, bersediakah kau menikah denganku?" Laras tergugu. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia tidak ingin menyakiti hati siapapun. Masalah isi hatinya yang terdalam, biar dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Beruntung Ali, Rayhan dan Fatih segera datang, diikuti oleh beberapa sahabat Ali, sehingga dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan Pras.

