Bab 11. Duda Paket Komplit

1297 Kata
"Sisil." Alya memeluk wanita yang dia panggil Sisil itu. Sisil adalah sahabatnya semenjak SMA. Keduanya sudah sangat dekat satu sama lain. Mereka juga tidak segan untuk saling curhat dengan masalah masing-masing. "Kamu ke mana saja, Al! Gak pernah nongkrong sama kita lagi. Mentang-mentang sekarang sudah jadi Nyonya Reyhan, nggak mau lagi main sama aku," lanjut Sisil sambil memanyunkan bibirnya. "Ceritanya panjang." "Ya sudah kita ke kosanku, yuk! Sudah lama kita nggak ngobrol dan saling curhat. Aku juga lagi butuh teman cerita, nih," ajak Sisil. Alya terdiam sejenak. Tidak ada salahnya dia ke tempat kosan Sisil sebentar untuk ngobrol. Lagian di rumah juga tidak ada orang, hanya ada Darsih, asisten rumah tangga di rumah suaminya. Reyhan masih di kantor dan ibu mertuanya juga sudah kembali ke rumah Jessica. "Ya sudah, ayo naik motorku saja," ajak Alya. Keduanya kemudian berboncengan motor meninggalkan sekolahan Tasya menuju rumah Sisil. "Apa? Jadi, kakak iparmu itu tidak cinta sama kamu? Dia menikahi kamu karena disuruh sama ibunya?" tanya Sisil setelah Alya bercerita panjang lebar tentang pernikahannya dengan Reyhan yang sebenarnya. Selama ini Ayah memang belum sempat cerita kepada sahabatnya itu. "Benar, Sil." "Wah, tapi kamu beruntung loh, Al. Ditinggalin si Axel dapatnya Om Reyhan yang ganteng, dewasa, tajir, paket komplit deh pokoknya. Meski dia tidak mencintaimu tapi aku yakin lama-lama dia akan jatuh cinta sama kamu." "Jadi, menurutmu aku beruntung?" "Tentu saja. Dimana kamu bisa dapatkan cowok paket komplit kayak Om Reyhan, hmm? Jangan bilang kalau kamu masih ngarepin Axel. Percuma, dia aja udah nggak pernah tampak batang hidungnya. Setelah merenggut kehormatan kamu dengan dalih cinta, eh ... dia pergi begitu saja. Dasar laki-laki nggak bertanggung jawab. Untung saja kamu dinikahi sama Kakak iparmu itu. Coba kalau tidak? Bagaimana kalau kamu hamil anaknya Axel? Siapa yang bakal tanggung jawab?" "Apa? Hamil anak Axel?" "Kenapa kamu terkejut begitu, Al? Itu bisa saja terjadi, kan? Kalian ngelakuinnya dalam keadaan sadar, tanpa pengaman." "Astaghfirullahaladzim! Kenapa aku nggak pernah mikir seperti itu ya, Sil? Bagaimana kalau seandainya aku benar-benar hamil anak Axel?" Alya tampak bingung. Gadis itu sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. "Ya, kamu bilang saja itu anak Om Reyhan. Beres, kan? Ngapain mesti bingung?" "Bukan begitu, masalahnya--" "Apalagi masalahnya?" "Masalahnya, Om Reyhan tidak mau menyentuhku. Kami tidak pernah melakukan apa-apa, apalagi hubungan suami istri." Penjelasan Alya membuat Sisil terkejut. "Apa? Jadi, selama ini kamu cuma dianggurin sama Om Reyhan?" Alya hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Gila itu cowok. Kok bisa tahan." "Aku juga nggak tahu, sih. Aku sudah coba membuang harga diriku demi mendapatkan cintanya sampai aku memakai lingerie yang seksi agar Om Reyhan tergoda dan menyentuhku, tetapi yang aku dapat bukannya sentuhan dan cintanya, melainkan malah penghinaan. Aku malu sekali, Sil. Om Reyhan tidak pernah mencintaiku, bahkan sangat membenciku karena menganggap aku adalah penyebab kematian Kak Kinan. Dia menikahiku karena terpaksa memenuhi permintaan ibunya. Om Reyhan adalah anak yang berbakti. Dia tidak pernah membantah sedikitpun apa yang diucapkan oleh ibunya. Kalau ada Ibu, dia selalu bersikap lembut baik padaku, tetapi kalau tidak ada Ibu dia selalu menghina dan mengatai aku dengan kata-kata yang menyakitkan. Kadang-kadang aku tidak tahan lagi. Aku ingin pergi sejauh mungkin, tetapi kalau ingat Kak Kinan, aku merasa sangat berdosa. Aku ingin menebus semua kesalahanku pada Kak Kinan dengan mengabdikan hidupku untuk suami dan anaknya. Meskipun aku tidak pernah diharapkan oleh mereka." "Ya Allah, Al. Ternyata masalah yang kamu hadapi sangat berat jauh lebih berat daripada Apa yang kini aku alami. Tapi kamu sangat kuat. Kamu bisa menghadapi semua ini sendirian." "Memangnya kamu juga sedang ada masalah? Ada apa, Sil?" Sisil terdiam mendengar pertanyaan Alya. Gadis itu ingin menceritakan semua beban hidupnya, tetapi Alya sendiri sudah banyak masalah. "Kenapa kamu diam saja, Sil? Bukankah kita sahabat? Aku sudah menceritakan semua masalahku dan kini saatnya kamu menceritakan semua beban hidupmu. Ya, meskipun mungkin aku tidak bisa membantumu, tetapi setidaknya hati kamu akan lega jika sudah menceritakannya kepada orang lain." "Aku nggak tahu harus mulai dari mana, yang jelas hidupku juga sudah hancur, Al." "Apa maksudmu, Sil?" "Kamu ingat pacarku yang aku ceritakan waktu itu?" "Oh, yang itu. Iya, siapa namanya? Aku lupa." "Erlangga." "Oh iya, Erlangga. Ada apa dengannya?" "Aku baru tahu kalau ternyata dia itu sudah punya istri dan juga anak." "Apa? Jadi, dia bohongin kamu?" tanya Alya terkejut. Sisil hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Ya sudah, tinggalkan saja dia, Sil! Kamu jangan jadi pelakor." "Tapi, masalahnya tidak semudah itu, Al." "Apa maksudmu?" Sisil terdiam. "Sil, ada apa? Jangan bilang kalau kalian sudah--" "Iya, Al. Aku bodoh.Seharusnya aku tidak termakan rayuannya." "Astaghfirullahaladzim. Kenapa kamu harus mengalami hal yang sama denganku, Sil. Waktu itu aku sudah bilang sama kamu, jangan percaya sama laki-laki. Kita jangan berikan kehormatan kita pada laki-laki yang belum sah menjadi milik kita. Aku sudah mengalaminya dengan Axel dan aku tidak mau itu terjadi sama kamu." "Iya, Al. Aku bodoh, aku termakan rayuan Angga. Sekarang mungkin kami tidak akan bertemu lagi karena istrinya sudah tahu hubungan kami dan mengancam mau minta cerai. Dan yang lebih menyakitkan adalah Angga lebih memilih istrinya daripada aku." "Ya Allah, kamu yang sabar ya, Sil. Lain kali kamu harus lebih selektif dalam memilih laki-laki. Tidak semua laki-laki itu bisa tulus sayang kepada kita." "Iya, aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya." "Ya sudah. Sekarang bagaimana kalau kita makan dulu? Aku yang traktir, deh," ajak Alya. Sisil terdiam sejenak namun akhirnya dia menerima ajakan Alya. "Baiklah. Kita makan di mana?" "Bagaimana kalau kita makan bakso di depan sekolah kita dulu." "Setuju. Aku kangen masa-masa kita sekolah dulu, Al." "Oke, kita sambil nostalgia di sana." Keduanya kemudian berboncengan motor matic menuju warung bakso yang ada di depan SMA Nusantara. Setelah sampai di tempat yang mereka tuju, keduanya pun memesan bakso berikut es teh seperti semasa SMA dulu. Keduanya sama-sama pernah disakiti oleh laki-laki, sehingga keduanya cocok satu sama lain dalam hal mengobrol. Sejenak keduanya melupakan masalah yang sedang menghimpit di hati dengan bernostalgia dan menceritakan masa-masa mereka saat di SMA. "Eh, Sil. Aku pulang dulu, ya. Aku harus jemput Tasya," ucap Alya sembari beranjak dari duduknya. "Bukannya tadi kamu bilang Tasya nggak mau dijemput?" "Iya, tapi aku harus jemput dia." "Kalau memang Tasya tidak mau kamu jemput, ya nggak usah dijemput, Al. Lagian kan sudah ada mobil jemputan sekolah. Kenapa nggak dimanfaatin?" "Tapi ibu mertuaku menginginkan aku yang antar jemput Tasya. Katanya biar aku lebih dekat dengan anak itu." "Iya, maksud ibu mertua kamu itu baik, tetapi Tasya nggak mau kan? Dia malah bakal jadi semakin benci loh kalau kamu nekat jemput dia." "Terus aku mesti gimana, Sil. Siang ini juga aku harusnya mengantarkan makan siang untuk Om Reyhan ke kantor, tetapi aku malas bertemu dengan sekretarisnya yang cantik dan seksi yang tentu saja lebih menarik di mata Om Reyhan daripada aku. Apalagi sekarang sudah tidak ada ibu mertuaku di rumah. Hari ini pasti Om Reyhan dan Tasya akan nyuekin aku. Aku jadi takut pulang." "Kalau selama ini kamu perhatian tetapi dicuekin dan tidak dianggap oleh Om Reyhan dan Tasya, bagaimana kalau sekarang ganti kamu cari perhatian mereka?" "Maksud kamu?" "Begini saja, kamu nggak usah pulang sampai malam. Pasti Om Reyhan bakal bingung nyariin kamu, bagaimana?" "Apa? Nggak ah yang ada nanti Om Reyhan malah tambah marah." "Sama saja, kan? Kamu perhatian dan berusaha jadi istri dan ibu yang baik sama mereka tidak dihargai. Mendingan kamu yang cari perhatian sama mereka. Tetapi, ya terserah kamu, sih. Kalau kamu mau terus diinjak-injak sama Om Rehan dan Tasya. Kalau aku jadi kamu sih ogah." Alya terdiam sejenak. Sepertinya apa yang dikatakan Sisil perlu dicoba apapun resikonya. Karena menjadi istri yang baik pun tidak akan pernah terlihat baik di mata Reyhan. "Baiklah, Sil. Aku akan turuti saranmu. Aku ke kosanmu saja sampai nanti malam. Aku ingin tahu apakah Om Reyhan akan mencariku ataukah dia malah senang dengan kepergianku." "Nah, begitu dong. Kita lihat reaksi Om Reyhan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN