"Ih, kok nggak ada pesan masuk dari Om Reyhan, sih," ucap Alya kesal sembari membanting ponselnya di atas ranjang kamar Sisil. Berkali-kali gadis itu melihat ke arah telepon genggamnya itu. Namun, tidak ada satu pun pesan chat dari orang yang saat ini dia harapkan padahal jelas-jelas nomor Reyhan saat ini sedang online.
"Kenapa wajahmu kesal gitu, Al?" tanya Sisil yang baru keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutnya yang basah setelah keramas. Kamar kos Sisil memang tidak ada ACnya, sehingga solusi kalau sedang kegerahan dengan suhu kota Surabaya bagian kamar kos, Sisil selalu mandi keramas, meskipun itu sudah malam hari.
"Ini, Om Rehan. Dia sama sekali nggak menghubungi aku, padahal dia online lho. Sekarang sudah jam sembilan malam. Aku mau pulang saja. Percuma juga dia nggak bakal nyariin aku," jawab Alya kesal.
"Mendingan kamu nginep sini, deh. Kalau sampai besok dia nggak nyariin kamu, berarti dia memang manusia kulkas dua pintu."
"Nggak, nggak. Aku nggak mau nuruti ide gilamu lagi, Sil. Bisa-bisa Om Reyhan sama marah besar."
"Ya sudah, terserah kamu. Kalau kamu takut Om Reyhan marah. Kalau aku jadi kamu, aku akan bikin dia marah, terus dia ceraikan kamu, deh. Percuma juga kan jadi istrinya kalau dianggurin dan gak dianggap?"
"Nggak, Sil. Aku nggak mau. Aku nggak mau cerai dari Om Reyhan."
"Kenapa? Bukannya kamu terpaksa menikah dengan dia?"
"Aku, aku juga nggak tahu kenapa, tetapi aku sayang sama Om Reyhan. Meskipun dia selalu jahat dan tidak pernah mempedulikan perasaan aku."
"OMG, Alya ... itu artinya kamu udah jatuh cinta sama suami kamu itu. Makanya kamu jadi bucin banget. Ih, jijay, deh." Alya terdiam mendengar ucapan Sisil. Benarkah dirinya telah jatuh cinta pada Reyhan? Alya tidak siap untuk kehilangan lelaki seperti Reyhan yang begitu sempurna di matanya. Seandainya Reyhan bisa menunjukkan sedikitt saja sifat baiknya padaAlya, pasti gadis itu akan bahagia.
"Terserah, deh. Kamu mau katain aku bucin, kamu mau jijay sama aku, pokoknya aku mau pulang sekarang."
"Ya udah, hati-hati. Ini udah malam, loh. Kamu nggak takut nanti ketemu sama preman?"
"Sisil! Kamu kok malah nakut-nakutin, sih?"
"Bukan gitu, Al. Aku tuh maunya kamu nginep di sini dan besok pagi ada pangeran tampan yang datang ke sini untuk menjemput putri Cinderella," balas Sisil sembari terkekeh.
"Nggak, nggak bakalan. Aku bukan Cinderella. Om Reyhan nggak mungkin nyariin aku, apalagi sampai ke tempat kos kamu ini. Aku aja yang bodoh mau nurutin saran kamu. Yang ada sekarang ini dia bakal bakalan marah besar."
"Alya, Alya. Ya sudah, deh. Terserah kamu. Pulang sana, gih! Dasar bucin." Sisil tertawa mengejek. Sementara Alya bertambah kesal. Gadis itu segera mengambil tasnya dan keluar dari kamar kos Sisil.
"Aku pulang dulu, ya, Sil. Oh ya, aku sarankan kamu lupain itu pacar kamu si Angga. Jangan jadi bucin kayak aku," balas Alya masih kesal.
"Iya, iya. Aku bakal nyari cowok baru, kok. Lagian dia juga nggak bakal muncul lagi."
"Oh, iya. Kapan kamu mau kuliah lagi, Al? kamu sudah satu semester lo berhenti kuliah." Alya memang tidak melanjutkan kuliah setelah sang ibu meninggal. Tadinya Kinanthi berencana menanggung biaya kuliah Alya, tetapi belum sampai rencana itu terwujud, kakak Alya itu sudah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.
"Entahlah, Sil. Mungkin kalau Om Reyhan mau membiayai kuliahku, aku akan kuliah lagi. Tetapi kalau nggak, ya, aku akan terima nasib menjadi ibu tiri Tasya dan menjadi istri yang tidak pernah diharapkan oleh suamiku."
"Hahaha, ngenes banget nasibmu, Alya. Sabar ya, Al. Badai pasti akan berlalu.
"Iya aku akan sabar. Meskipun batinku terus tersiksa. Ya sudah, aku pulang dulu, ya, Sil." Alya memeluk Sisil. Gadis itu kemudian meninggalkan rumah kost Sisil dengan mengendarai motor matiknya membelah jalanan Kota Surabaya. Meskipun malam semakin larut, tetapi kota Surabaya seolah tidak pernah sepi. Kendaraan tetap ramai berlalu-lalang terutama di jalan-jalan utama kota, sehingga Alya tidak perlu khawatir mengendarai motor sendirian.
***
"Kok sepi, Bik? Tasya mana?" tanya Reyhan saat pulang dari kantor. Hari sudah gelap. Jarum jam menunjukan pukul delapan malam. Hari itu Reyhan sengaja lembur sampai malam karena besok pagi akan ada meeting penting. Reyhan dan beberapa staf kantornya lemburuntuk mempersiapkan bahan meeting besok pagi.
"Non Tasya lagi mengerjakan tugas di kamarnya, Den."
"Kalau Alya ke mana?" tanya Reyhan lagi sembari melangkah masuk rumah dan melonggarkan dasinya. Sementara Darsih mengekor di belakang sang majikan.
"Non Alya belum pulang dari tadi pagi, Den."
"Apa? Alya belum pulang dari tadi pagi? Terus siapa yang menjemput Tasya tadi?" Reyhan menghentikan langkah dan berbalik menghadap pada Darsih yang mengekor di belakangnya.
"Tadi Non Tasha pulang sama mobil jemputan sekolah, Den." Mendengar jawaban Darsih, Reyhan menjadi geram.
"Jadi, Alya tidak menjemput? Terus ke mana dia sampai malam gak pulang?"
"Saya juga kurang tahu,Den."
"Dasar abege labil.Bisa-bisanya dia pergi dari pagi sampai malam nggak pulang dan melepaskan tanggung jawabnya di rumah ini. Mentang-mentang Ibu sudah pulang, mau seenaknya saja dia," gerutu Reyhan kesal.
"Den Reyhan mau makan malam? Biar Bibik siapkan," tawar Darsih.
"Nggak usah, Bik. Tadi saya sudah makan di kantor. Bibik istirahat aja, sudah malam. Saya mau ke kamar Tasya dulu."
"Baik,Den." Darsih kembali ke kamarnya. Sementara Reyhan melenggang ke lantai 2 menuju kamar Tasya. Lelaki itu mengetuk pintu kamar putrinya sebelum masuk.
"Wah, rajin banget putri Papa. Lagi ngapain, Sayang?" tanya Reyhan setelah dipersilahkan masuk oleh Tasya.
"Lagi ngerjain PR, Pa," jawab Tasya sambil sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
"Oh, ya. Tadi kamu pulang sama mobil jemputan sekolah, ya?"
"Iya, Pa."
"Kenapa Aunty Alya tidak menjemput?"
"Nggak papa, Pa. Memang aku yang larang dia. Aku males kalau musti dijemput dia. Mending aku ikut mobil jemputan sekolah saja, lebih seru. Pa. Aku bisa puas ngobrol sama teman-teman."
"Oh, begitu. Ya sudah kalau kamu lebih nyaman pulang dengan mobil jemputan sekolah. Terus sekarang Aunty Alya di mana? Kok belum pulang?"
"Hallah, paling dia main ke tempat Tante Sisil, Pa. Dia kan nggak punya temen selain Tante Sisil."
"Ya sudah. Kamu sudah makan belum?"
"Sudah, Pa. Kalau Papa capek, istirahat saja. Tasya udah bisa ngerjain PR sendiri, kok."
"Oke, kalau nanti pr-nya sudah selesai, cepat tidur, ya!"
"Iya, Pa. Papa duluan saja." Reyhan mencium kening putrinya, lalu melenggang meninggalkan kamar gadis kecil itu. sejenak Reyhan berbalik memandang putrinya yang masih sibuk mengerjakan tugas sekolah.
"Kinan, seandainya kamu masih ada. Pasti Tasya tidak akan sendirian," batin Reyhan sedih. Lelaki itu kemudian berjalan menuju kamar pribadinya dan bergegas mandi. Sejenak, Reyhan memanjakan tubuhnya yang penat di bawah guyuran air. Selesai mandi, Reyhan memakai kaos oblong warna putih dan celana pendek, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponselnya dan membalas beberapa pesan chat. Setelah semua pesan terbalas, lelaki itu meletakkan kembali telepon genggam itu di atas nakas.
"Alya ke mana, sih? Sudah malam masih juga belum pulang. Kerjaannya cuma bikin orang khawatir. Apa dia sedang merajuk? Ah, bodo amat. Ngapain aku mikirin dia? Bukannya tambah enak kalau nggak ada dia? Aku nggak perlu tidur di sofa lagi. Nanti kalau dia sudah puas main pasti dia juga pulang. Seandainya dulu Kinanthi menuruti ucapanku untuk tidak mencari Alya, pasti sekarang ini dia masih ada di sini bersamaku. Oh, Kinan. Aku merindukanmu, Sayang."
Reyhan kembali meraih ponselnya dan membuka foto-fotonya bersama Kinanthi di galeri. Tak terasa kedua matanya berkaca-kaca."
"Semua gara-gara Alya. Entah kenapa sampai saat ini aku belum bisa memaafkan gadis itu," batin Reyhan kesal. Kedua matanya tertuju pada koper besar milik Alya yang ada di sudut kamar. Lelaki itu kemudian beranjak dari ranjang, lalu membuka lemari dan membereskan baju-baju Alya yang ada di sana. Reyhan pun memasukkannya ke dalam koper besar itu.
"Mulai Malam ini, kamu harus kembali ke kamarmu, Alya," ucap Reyhan setelah menutup koper Alya. Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidak berapa lama kemudian kedua matanya terpejam. Reyhan telah terbuai ke dalam alam mimpi. Namun, tak berapa lama kemudian lelaki itu terjaga saat mendengar suara deru motor matik milik Alya memasuki halaman rumah.
Reyhan melirik oleh jarum jam yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dengan perasaan kesal, lelaki itu segera bangkit dari ranjang, lalu berdiri di depan pintu kamar. Tak berapa lama kemudian pintu kamar dibuka oleh Alya. Gadis itu terkejut karena Reyhan sudah berdiri tepat di depannya.
"Dari mana saja kamu? Harusnya kamu tidak usah pulang sekalian," ucap Rehan dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
"Saya tadi ke tempat kosan Sisil, Om," jawab Alya dengan suara gemetar. Melihat Reyhan yang menatapnya tajam penuh kemarahan membuat nyalinya menciut.
"Ini baju-baju kamu. Mulai Malam ini kamu kembali tidur di kamarmu," ucap Reyhan sembari menyerahkan koper besar milik Alya. Gadis itu syok dan masih terdiam di posisinya berdiri sembari menatap koper yang diberikan Reyhan. Alya tidak menyangka kalau Reyhan akan mengusirnya dari kamar.
"Kamu tuli? Kenapa masih berdiri di sini? Cepat pergi ke kamarmu!" titah Reyhan.
"Tapi, Om--"
"Tapi kenapa lagi, hmm? Kamu masih berharap tidur di kamar ini? Jangan harap, ya. Kalau kamu kelamaan tidur di sini, bisa-bisa badanku kena encok karena tiap hari tidur di sofa."
"Biar saya yang tidur di sofa, Om. Tapi ijinkan saya tetap tinggal di kamar ini," mohon Alya penuh harap.
"Nggak. Kembali sana ke kamarmu," tolak Reyhan.
"Tapi, Om. Kita sudah menikah. Aku mau tidur di kamar ini meskipun tidak seranjang dengan Om, boleh, ya," mohon Alya lagi sembari berhambur memeluk Reyhan membuat lelaki itu melebarkan kedua matanya.