"Siapa ini yang nelpon? Jangan-jangan Om Reyhan," batin Alya senang saat ponselnya berdering. Gadis itu segera menepikan motor metik yang sedang ia kendarai, lalu membuka tas dan segera mengambil ponselnya. Alya sangat bersemangat menerima telepon karena mengira itu dari Reyhan yang sedang mencarinya karena khawatir. Namun, gadis itu mengerucutkan bibirnya saat membaca tulisan di layar benda pipih itu.
"Sisil? Kirain Om Reyhan," gerutu Alya kecewa. Sudah di bela-belain berhenti, padahal posisinya sedang naik motor di jalanan. Eh, malah yang nelpon bukan yang diharapkan.
"Ngapain sih Sisil nelpon? Bukannya baru saja kita ketemu. Udah gitu aku juga seharian ada di kamar kosnya. Rasar lebay!" batinnya kesal. Meski begitu Alya tetap menerima panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo, Sil. Ada apa? Udah kangen, ya, sama aku? Baru juga kita ketemu udah nelpon lagi. Aku masih di jalan, nih. Belum sampai rumah," cerocos Alya setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Duh bawel banget, sih kamu ini, Al. Aku lupa ada sesuatu yang belum aku sampaikan tadi."
"Apa?"
"Kamu beneran nggak mau pisah sama Om Reyhan, meskipun dia sama sekali nggak cinta sama kamu?"
"Ya enggaklah. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ini beruntung dinikahin sama Om Reyhan yang memang udah paket komplit. Kenapa aku mesti berpisah? Aku akan berusaha mendapatkan hatinya meskipun itu mustahil tapi aku mesti mencoba."
"Nah, begitu dong semangat. Kamu harus bisa bikin Om Reyhan sentuh kamu sebelum satu bulan pernikahan."
"Memangnya harus, ya?"
"Ya iyalah, Alya. Bagaimana kalau kamu hamil, sedangkan Om Reyhan belum menyentuh kamu? Bisa-bisa dia langsung ceraikan kamu." Alya terdiam mendengar ucapan Sisil. Apa yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya. Bagaimana kalau dirinya hamil anak Axel dan Rehan mengetahuinya? Bisa-bisa lelaki itu bertambah benci dan bahkan mungkin malah menceraikannya.
"Haduh, iya juga ya, Sil. Tapi bagaimana caranya? Om Reyhan itu bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda dan diperdaya."
"Kamu usaha, dong. Kalian kan tidur satu kamar. Masa iya kamu nggak punya kesempatan buat menggoda dia,"
"Iya juga. Nanti aku coba, deh. Makasih sarannya, Sil."
"Oke, selamat mencoba. Semoga sukses." Sisil terbahak dari seberang telepon kemudian mengakhiri panggilan. Alya terdiam sejenak dan berpikir bagaimana caranya menaklukkan hati si kulkas dua pintu macam Reyhan.
"Oke, aku harus bisa. Aku tidak mau sekretaris Om Rey yang seksi itu menggantikan posisi Kak Kinan. Aku harus mempertahankan Om Reyhan sampai titik darah penghabisan, meskipun dia sangat membenciku. Bukankah cinta dan benci itu beda tipis?
Alya tersenyum kemudian kembali menjalankan motor metiknya menuju rumah Reyhan. Selama dalam perjalanan, gadis itu berpikir apa yang akan dia lakukan nanti malam untuk membuat Reyhan menyentuhnya.
"Aku harus mengesampingkan semua harga diriku. Semua demi mempertahankan Om Reyhan," tekad Alya. Beberapa menit mengendarai motor metik membelah jalan kota Surabaya, akhirnya Alya sampai di rumah kediaman Reyhan,
Rumah tampak sepi. Sepertinya para penghuninya sudah terlelap. Gadis itu melirik benda bulat di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Lampu kamar Reyhan dan Darsih sudah terlihat padam dari jendela rumah. Hanya tinggal kamar Tasya yang masih menyala lampunya. Mungkin gadis kecil itu masih mengerjakan tugas sekolah.
Alya segera masuk setelah memarkirkan motornya di garasi. Gadis itu segera naik ke lantai dua menuju kamar utama. Namun, betapa terkejutnya Alya saat hendak membuka pintu kamar dan melihat Reyhan sudah berdiri di depannya dengan hanya berbalut kaos oblong ketat warna putih dan celana pendek hitam yang membuat tubuhnya semakin terlihat seksi.
"Dari mana saja kamu? Harusnya kamu tidak usah pulang sekalian," ucap Reyhan dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
"Saya tadi ke tempat kosan Sisil, Om," jawab Alya dengan suara gemetar. Melihat Reyhan yang menatapnya tajam penuh kemarahan membuat nyalinya menciut.
"Ini baju-baju kamu. Mulai Malam ini kamu kembali tidur di kamarmu," ucap Reyhan sembari menyerahkan koper besar milik Alya. Gadis itu syok dan masih terdiam di posisinya berdiri sembari menatap koper yang diberikan Reyhan. Alya tidak menyangka kalau Reyhan akan mengusirnya dari kamar.
"Kamu tuli? Kenapa masih berdiri di sini? Cepat pergi ke kamarmu!" titah Reyhan.
"Tapi, Om--"
"Tapi kenapa lagi, hmm? Kamu masih berharap tidur di kamar ini? Jangan harap, ya. Kalau kamu kelamaan tidur di sini, bisa-bisa badanku kena encok karena tiap hari tidur di sofa."
"Biar saya yang tidur di sofa, Om. Tapi ijinkan saya tetap tinggal di kamar ini," mohon Alya penuh harap. Alya berpikir keras agar bisa tetap tidur di kamar Reyan. Kalau dia tidur di kamarnya sendiri bagaimana mungkin bisa menggoda dan meluluhkan hati Reyhan?
"Nggak. Kembali sana ke kamarmu," tolak Reyhan.
"Tapi, Om. Kita sudah menikah. Aku mau tidur di kamar ini meskipun tidak seranjang dengan Om, boleh, ya," mohon Alya lagi sembari berhambur memeluk Reyhan membuat lelaki itu melebarkan kedua matanya.
Dada Reyhan bergetar saat dua benda kembar dan kenyal milik Alya yang berukuran lumayan besar menempel di tubuhnya. Belum lagi harum parfum gadis itu terhindu oleh indra penciumannya. Sebagai lelaki normal sebenarnya Reyhan tertarik pada Alya, apalagi sudah lebih dari satu bulan lelaki itu tidak mendapatkan sentuhan seorang wanita. Namun, teringat kebenciannya pada sang mantan adik ipar, Reyhan segera mendorong tubuh gadis itu.
"Lepaskan! Jangan coba-coba ganjen sama aku. Cepat kembali ke kamarmu!" titah Reyhan sembari memalingkan pandangan dari Alya.
"Tapi. Om aku takut tidur di kamar sendirian," tolak Alya mulai melancarkan aksinya. Tentu saja Alya tidak mau diusir begitu saja dari kamar Reyhan. Gadis itu masih berusaha untuk mendapatkan hati dan cinta sang suami. Kalau mereka pisah kamar akan kesulitan baginya untuk mendekati Reyhan.
"Sejak kapan kamu takut tidur di kamar sendirian, hmm? Mau modusin aku, ya?"
"Aku beneran takut, Om. Please, untuk malam ini saja biarkan aku tidur di kamar ini. Tadi di kosan Sisil, aku habis nonton film horor. Aku jadi takut sendirian, Om. Please izinkan aku tetap di kamar ini. Aku rela kok kalau mesti tidur di sofa, asalkan tidak tidur sendirian di kamar. Aku beneran takut, Om," ucap Alya sembari berakting ketakutan. Reyhan terdiam sejenak dan berpikir.
"Baiklah tapi tapi hanya untuk malam ini dan kamu yang tidur di sofa," putus Reyhan akhirnya.
"Terima kasih, Om," balas Alya senang hendak memeluk Reyhan lagi.
"Eits, jangan peluk-peluk aku," cegah Reyhan saat Alya hendak memeluknya lagi.
"Maaf, Om." Alya hanya bisa nyengir kecewa karena gagal memeluk sang suami.
"Om Rey, tunggu saja. Aku bakal terus godain kamu sampai kamu mau menerima aku sebagai istrimu yang sesungguhnya," batin Alya sembari tersenyum. Gadis itu memasukkan kembali kopernya ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara Reyhan sudah kembali berbaring di ranjang. Mata lelahnya kembali terpejam.
Kedua mata Reyhan terbuka karena terkejut mendengar suara jeritan seorang wanita dari dalam kamar mandi. Lelaki muda itu segera duduk dan melihat ke arah sofa. Namun, dia tidak menemukan Alya di sana.
"Om Rey, tolong aku. Aku takut!" teriak Alya dari dalam kamar mandi. Spontan Reyhan beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar mandi pada saat yang sama Alya berbalik menuju pintu kamar mandi keduanya bertabrakan.
Reyhan berdiri mematung saat sebuah benda kenyal dan dingin tiba-tiba sudah menempel di bibirnya.