Bab 14. Tragedi di Kamar Mandi

1269 Kata
"Gila cepet banget tidurnya," gerutu Alya kecewa saat mendengar dengkuran halus dari Reyhan yang menunjukkan kalau lelaki itu memang sudah tertidur pulas. "Bagaimana aku bisa menggoda Om Reyhan kalau jam segini aja dia sudah tidur," ucap Alya kesal. Gadis itu kemudian memutar otak untuk mencari cara agar malam ini dia bisa menaklukkan seorang Reyhan yang sedingin kulkas dua pintu. Alya teringat ucapan Sisil, dirinya bisa saja hamil anak Axel. Kalau sampai Reyhan tahu dan menceraikannya maka bukan saja Alya yang akan malu, tetapi dia juga tidak akan pernah lagi punya kesempatan untuk menebus kesalahan kepada Kinanti dengan menjaga Reyhan dan Tasya. "Aku harus bisa membuat Om Rey menyentuhku malam ini. Setidaknya kalau emang aku hamil dengan Axel, dia akan menganggap ini adalah anaknya. Ayo berpikir, Alya. Kesempatan kamu hanya tinggal malam ini, besok malam belum tentu kamu boleh tidur di sini lagi." Alya bermonolog sambil memijat keningnya. Otaknya buntu tidak bisa memikirkan cara untuk membuat Reyhan takhluk padanya. Namun, beberapa menit kemudian, Alya tersenyum karena telah memikirkan suatu cara untuk membuat Reyhan bangun. Alya membuka kopernya dan mengambil dress putih selutut milik Kinanthi yang masih dia simpan. Dress pendek warna putih itu adalah baju kesayangan Kinanthi karena Alya yang membelikannya sebagai hadiah anniversary pernikahan wanita itu satu tahun yang lalu. Semua baju-baju Kinanthi sudah disimpan oleh Reyhan di gudang karena lelaki itu tidak mau teringat pada almarhumah istrinya. "Mungkin dengan memakai baju Mbak Kinan, Om Rehan akan menyentuhku," pikir Alya. Gadis itu kemudian ke kamar mandi dan mengganti bajunya Setelahnya Alya mematut diri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Tubuhnya benar-benar mirip dengan Kinanti kalau sedang memakai baju itu. Setelah puas dengan penampilannya, Alya membasahi tubuhnya dengan air shower sehingga baju putih yang melekat di tubuhnya basah dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang seksi. "Sekarang tinggal beraksi," batin Alya sambil tersenyum. "Tolong! Om Reyhan! Tolong aku!" jerit Alya dari dalam kamar mandi. Reyhan yang sedang tertidur pulas seketika membuka matanya saat mendengar teriakan Alya dari kamar mandi. Lelaki tampan itu segera duduk dan melihat keberadaan Alya di sofa. Namun, ternyata tempat itu kosong. "Om Rey, tolong aku! Aku takut!" teriak Alya lagi dari dalam kamar mandi. Sontak Reyhan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dan membuka pintunya. Lelaki itu terkejut saat melihat seorang wanita memakai baju milik Kinanthi. Baju putih yang basah terkena air itu membuat lekuk tubuh pemakainya terekspos, sehingga Reyhan terpana. Saat pintu sudah terbuka, Alya berlari keluar dari kamar mandi dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat. Keduanya bertabrakan. Sejenak Reyhan terdiam mematung saat merasakan sebuah benda kenyal dan dingin menempel di bibirnya. "Kinan," batin Reyhan. Seketika rasa rindu kepada almarhumah sang istri kembali menyeruak. Dalam bayangan Reyhan, wanita yang kini menempel tanpa jarak dengannya adalah Kinanthi. Beberapa detik setelahnya, Reyhan melumat benda kenyal yang menempel di bibirnya dengan penuh gairah. Tangan kiri lelaki itu memegang tengkuk Alya, sedangkan tangan kanannya meraba salah satu benda kembar yang ada di d**a gadis itu dan meremasnya lembut. Alya yang mendapat serangan mendadak terkejut. Namun, gadis itu sangat menikmati sentuhan sang suami sembari memejamkan mata. Alya meleguh saat jemari Reyhan lebih kuat lagi meremas Bukit kembarnya secara bergantian, lalu mendorong tubuh Alya hingga menempel dinding kamar mandi. Reyhan masih terus melumat bibir Alya yang terasa manis sambil terbayang wajah Kinanthi. Kerinduannya kepada almarhumah sang istri membuatnya lupa diri dan tidak menyadari kalau wanita yang ada di hadapannya bukanlah Kinanti, melainkan Alya. Satu tangan Reyhan mulai turun ke bawah, menyibak dress pendek yang dipakai Alya. Tangan nakal itu kemudian menyelusup dibalik segitiga pengaman yang melindungi area pribadi Alya, membuat gadis itu kelonjotan merasakan kenikmatan permainan tangan Reyhan. Sementara itu, junior kecil di balik celana Reyhan sudah tegak menantang dan memberontak ingin segera memasuki sarangnya. Reyhan melepaskan tautan bibir dan menurunkan ciumannya di leher jenjang Alya, hingga gadis itu mendesah manja. Desahan Alya membuat Reyhan semakin bersemangat menurunkan ciumannya ke bukit kembar Alya, sedangkan satu tangan Reyhan yang lain masih bermain di bawah sana, tepat di area sensitif Alya. Reyhan semakin beringas dan menurunkan baju depan di bagian d**a dari dress yang dipakai Alya. Dua bukit kembar yang bersembunyi di balik dress putih itu langsung menyembul karena Alya memang sengaja tidak memakai bra. Tanpa banyak bicara, Reyhan langsung melahap puncak bukit kembar itu secara bergantian sembari terus memainkan jarinya dibawah sana. Alya semakin kelonjotan merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa akibat permainan Reyhan yang bersamaan di bagian atas dan bawah. "Ah, Om." Alya tak kuasa menahan lagi. Gadis mendesah keenakan dengan kedua mata terpejam. Namun, kali ini karena menyebut nama Om, desahan Alya membuat Reyhan tersadar kalau wanita yang ada di depannya bukanlah Kinanti. Seketika lelaki itu menghentikan semua sentuhannya. "Astaghfirullahaladzim," ucapnya sembari berbalik membelakangi Alya. Napas Reyhan masih ngos-ngosan menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk. "Maafkan aku, Alya," ucap Reyhan lirih tanpa berbalik memandang ke arah gadis itu. "Kenapa minta maaf, Om? Aku ini istri kamu. Kamu boleh melakukannya. Kita sudah halal," ucap Alya kecewa. Tadinya gadis itu sudah merasa bagaikan melayang tinggi karena hendak diajak Reyhan mengarungi bahtera surga dunia. Namun, tiba-tiba lelaki itu menghentikan sentuhannya. "Tapi kamu bukan istri yang aku harapkan." "Kenapa? Om munafik. Jujur saja, Om. Om ingin menyentuhku, kan? Om rindu dengan sentuhan seorang wanita. Iya, kan? Kenapa Om mengelak? kenapa Om menghindar? Aku ini seorang istri. Om sudah menikahiku dan aku berhak mendapatkan nafkah batin dari Om," ucap Alya nekat. Gadis itu benar-benar kecewa karena Reyhan tidak jadi menyentuhnya. "Sudah aku bilang, jangan berharap lebih dari pernikahan kita, Alya. Aku hanya mau melakukannya dengan wanita yang benar-benar aku cintai dan aku tidak mencintaimu. Oh ya, satu lagi. Jangan pernah kamu memakai baju Kinanti. Jangan membuat aku semakin membencimu." "Please, Om. Tolong berikan kesempatan sama aku untuk bisa bikin Om jatuh cinta. Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketika aku sudah menjadi seorang istri maka seluruh cinta dan hidupku hanya akan aku berikan kepada suamiku dan itu adalah Om. Apa Om tidak mengerti juga?" Alya mendekati Reyhan yang masih berdiri membelakanginya. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di perut sixpack sang suami membuat Reyhan terkejut. Dadanya kembali bergetar. Namun, segera lelaki itu melepaskan tangan Alya dari perutnya. "Cukup, Alya! Jangan pernah berusaha menggodaku lagi. Aku mau tidur. Kalau kamu tidak mau keluar dari kamar ini, biar aku yang pindah ke kamar tamu." Setelah berkata demikian Reyhan melangkah keluar kamar mandi meninggalkan Alya yang masih dipenuhi kekecewaan. "Kenapa, Om? Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa tubuhku ini sama sekali tidak menarik buatmu?" Tubuh Alya merosot ke lantai kamar mandi.Tangisnya pecah. Meskipun sudah membuang semua harga dirinya, Reyhan tetap tidak mau menyentuhnya. "Apakah pernikahan ini masih bisa dipertahankan?" pikirnya. Sementara itu, Reyhan bergegas keluar kamar dan berpindah ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Laki-laki itu mencoba menidurkan junior kecil yang sudah terlanjur tegak karena godaan dari Alya. Namun, semakin lelaki itu menahan hasratnya, kepalanya semakin terasa pening. "Sial, bisa-bisanya aku menganggap Alya itu Kinanti. Untung saja aku belum berbuat jauh. Mulai saat ini aku harus menjaga jarak. Aku tidak mau dekat-dekat lagi dengan Alya," ucap Reyhan bermonolog. Lelaki itu merasa bodoh jika mengingat kejadian yang menurutnya seperti tragedi di kamar mandi tadi. Reyhan mencoba memejamkan matanya. Namun, sia-sia. hHasratnya yang sudah di ujung tanduk benar-benar membutuhkan pelampiasan. "Mungkin kopi bisa membantuku menurunkan hasrat ini," pikir Reyhan. Lelaki itu kemudian beranjak dari ranjang dan keluar kamar menuju dapur. Reyhan tidak tega membangunkan Darsih untuk membuatkannya kopi karena hari sudah sangat malam. Terpaksa lelaki itu membuat kopi sendiri. "Om mau ngapain? Om mau aku bikinkan kopi?" tawar Alya yang tiba-tiba sudah berada di dapur membuat Reyhan terkejut. Kedua mata lelaki itu menatap Alya yang sengaja memakai baju seksi dengan belahan d**a rendah membuat Reyhan kesulitan menelan ludahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN