Bab 5. Malam Pertama

1158 Kata
"Astagfirullah, aku ketiduran," ucap Alya sembari mengusap wajahnya. Setelah kepergian Reyhan dari kamar mereka, Alya hanya bisa menangis meratapi nasib. Sehingga niatnya untuk berganti pakaian urung sudah. Gadis itu akhirnya ketiduran dengan masih menggunakan kebaya pengantin karena kecapean menangis. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Alya tersadar dari tidurnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar hanya ada dirinya di dalam kamar utama yang begitu luas. Tidak ada tanda-tanda Reyhan masuk ke kamar setelah keluar tadi. "Kenapa kamu menikahi aku, Om. Kenapa kamu menerima permintaan Bu Dewi, jika sebenarnya kamu masih membenciku?" batin Alya sembari duduk di tepi ranjang. Air mata memang sudah mengering karena sejak usai akad nikah tadi, Alya terus menangie hingga ketiduran. Gadis itu beranjak dari tepi ranjang dan berjalan menuju koper besar yang masih teronggok di sudut kamar. Tadi sore sebelum akad nikah berlangsung, Darsih telah mengemasi pakaian Alya dari kamarnya untuk dipindah ke kamar utama. Karena hari ini Alya telah sah menjadi istri Reyhan, maka Dewi memerintahkan kepada Darsih untuk memindahkan pakaian gadis itu ke kamar Reyhan. Sedangkan baju-baju Kinanthi sudah dibereskan juga oleh Darsih dan disimpan di gudang. Alya mengambil satu stel baju tidur lengan pendek berikut celana pendek di atas lutut yang biasa dia kenakan kalau tidur. Setelah memastikan benar-benar tidak ada Reyhan di dalam kamar itu, Alya mulai membuka baju kebayanya dan menggantinya dengan setelan piyama tidur. Namun, saat gadis itu belum selesai mengenakan piyama tidurnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Reyhan terkejut, begitu juga Alya. Gadis itu segera membalikkan badan membelakangi Reyhan karena malu, sebab saat itu posisi dirinya hanya memakai bra dan celana pendek. Sedangkan baju piyamanya belum sempat terpakai. Melihat pemandangan tak sengaja itu, jujur saja sebagai lelaki normal Reyhan sempat menelan ludahnya. Bagaimana tidak? Bagian d**a Alya yang ternyata berukuran besar dan menantang itu terekspos sempurna di depan matanya, meskipun masih tertutup bra warna hitam. Sedangkan Reyhan sudah lebih dari satu bulan menduda. Tak dapat dipungkiri kalau naluri kelelakiannya merindukan kelembutan sentuhan seorang wanita. Namun, rasa ego dan bencinya terhadap Alya membuat duda tampan itu harus menahan diri meskipun gadis itu telah halal untuknya. "Sudah aku bilang, ganti bajumu di kamar mandi! Kenapa kamu masih ganti di kamar?" tanya Reyhan kesal. Alya yang sudah selesai mengenakan baju piyamanya membalikkan tubuh dan menatap ke arah lelaki yang telah menghalalkannya tadi sore itu. "Maafkan saya, Mas. Tadi kamu tidak ada di kamar. Jadi, saya kira tadi kamu tidak akan masuk kamar," balas Alya gugup. "Jangan panggil aku, Mas. Harus berapa kali aku bilang, hmm?" ucap Reyhan dengan rahang mengeras. "I-iya Mas. Eh, maksud saya Om. Maafkan saya." "Kamu sengaja memamerkan tubuhmu, kan? Supaya apa? Supaya aku menyentuhmu? Jangan harap! Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan Kinanthi di hatiku." "Kalau Om masih membenciku, kenapa Om menikahiku? Harusnya biarkan saja aku pergi dari sini," ucap Alya dengan berderai air mata. "Nggak usah nangis karena aku nggak akan pernah merasa kasihan. Kalau kamu bertanya kenapa aku menikahimu karena aku ingin kamu mempertanggungjawabkan semua yang telah kamu lakukan. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dari rumah ini. Aku akan membuatmu menyesal karena telah membuat aku dan Tasya kehilangan Kinanthi." Setelah berkata demikian Reyhan mengambil pakaiannya di lemari kemudian ke kamar mandi untuk mandi dan berganti baju. Sementara Alya kembali duduk di tepi ranjang sembari mengusap air matanya. Gadis itu bingung dengan sikap Reyhan yang semakin dingin. Sejak Alya tinggal bersama Kinanthi setelah kematian kedua orang tua mereka, sikap Reyhan terhadapnya memang acuh, tetapi Alya tidak pernah ambil pusing karena karakter kakak iparnya itu memang seperti itu. Alya permintaan Dewi untuk menikah dengan Reyhan karena wanita paruh baya itu mengatakan kalau Reyhan dan Tasya sangat membutuhkannya sebagai pengganti Kinanthi. Apalagi Tasya yang masih butuh kasih sayang seorang ibu. Dewi mengatakan kalau dia tidak mau Reyhan menikah dengan perempuan di luar sana yang hanya mengincar Reyhan tanpa menyayangi Tasya. Lagi pula Dewi tidak ingin Alya yang kini sebatang kara pergi dari rumah itu. Alya pun akhirnya menerima permintaan Dewi dengan berbagai pertimbangan itu. Lagipula Alya juga sedang putus asa karena Axel telah meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Padahal mereka telah melakukan hubungan yang terlampau jauh. Namun, Alya tidak menyangka kalau sikap Reyhan akan semakin dingin dan acuh setelah mereka menikah. Lelaki itu masih menyalahkannya untuk kematian Kinanthi. Reyhan keluar dari pintu kamar mandi, membuat Alya tersadar dari lamunan. Reflek gadis itu menoleh ke arah pintu tempat keluarnya lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu. Tubuh atletis berbalut kaos oblong putih dipadu celana pendek hitam membuat Reyhan tampak semakin tampan di mata Alya. Belum lagi rambut dan kepalanya yang sedikit basah dan masih meneteskan air, membuat lelaki 35 tahun itu terlihat semakin seksi. Tidak dapat dipungkiri kalau Alya mengagumi kakak ipar yang kini telah menjadi suaminya itu. Jeski usia mereka terpaut 15 tahun, tetapi Reyhan masih terlihat muda. Lelaki itu tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan Axel, pacar Alya yang pengecut dan tidak bertanggung jawab itu. "Jangan melihatku seperti itu. Nanti jatuh cinta." Ucapan Reyhan mengejutkan Alya. Sontak gadis itu membuang pandangan, meski sebenarnya hatinya masih ingin menikmati ketampanan sang suami. "Om mau ke mana?" tanya Alya saat Reyhan mengambil bantal dan guling dari ranjang king size yang ada di kamar itu. "Mau tidur lah. Aku capek," balas Reyhan sembari berjalan menuju sofa. Lelaki itu meletakkan bantal dan guling di sofa panjang yang ada di kamar itu, lalu merupakan tubuhnya. "Om tidur di sofa? Kenapa tidak tidur di sini saja? Ranjang ini kan luas. Aku bisa tidur di sebelah sana dan Om bisa tidur di sebelah situ. Kalau Om tidur di sofa, nanti badan Om bisa sakit semua." "Kamu pikir aku mau tidur satu ranjang sama kamu, hmm? Jangan mimpi! Ini juga untuk sementara. Besok aku pastikan Ibu akan pulang ke rumah Jesi. Kalau Ibu sudah tidak tinggal di sini lagi kamu harus keluar dari sini dan kembali ke kamarmu." Alya tertegun mendengar ucapan Reyhan. Gadis itu tidak menyangka kalau kakak ipar yang kini telah menjadi suaminya itu akan bersikap seperti ini di malam pertama mereka. Alya tidak pernah menyangka kalau akan mengalami hal seperti ini setelah menikah dengan Reyhan. Padahal sebelumnya dia membayangkan akan mendapatkan perlakuan yang manis dari suaminya. Alya berusaha melupakan Axel dan mencoba menerima Reyhan sebagai suaminya karena berharap kalau lelaki itu akan bisa membahagiakannya. Namun kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya. Menurut Dewi, Reyhan memang sangat mencintai Kinanthi. Karena Alya adalah adik kandung Kinanthi, maka Alya memiliki kemiripan dengan kakaknya sehingga, Dewi yakin kalau Reyhan akan belajar mencintai Alya saat mereka telah menikah nanti. Namun, kenyataannya Reyhan telah memupus harapan Alya bahkan di malam pertama mereka. Lelaki itu enggan menyentuh Alya bahkan enggan tidur satu ranjang. "Ya Allah, kenapa ini terjadi pada hamba? Hamba tahu kalau hamba salah, tetapi bukan hamba yang membunuh Kak Kinan. Hanya Engkau yang tahu seberapa besar rasa sayang hamba kepada Kak Kinan. Ya Allah, mengapa bukan nyawa hamba saja yang Kau ambil? Kembalikan Kak Kinan agar Om Rey berhenti membenci hamba," batin Alya disela isak tangisnya. Sementara Reyhan sudah tertidur pulas di sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN