"Kinan, kenapa secepat ini kamu pergi ninggalin aku? Padahal sudah satu bulan lalu kamu pergi, tetapi harum tubuhmu bahkan masih tercium di kamar ini. Ah, aku bisa gila!" Reyhan meletakkan kembali foto Kinanthi yang sejak tadi dia pandang. Memang tidak ada air mata mengalir dari kedua mata lelaki itu. Namun, raut wajahnya melukiskan kesedihan yang mendalam. Rasa cinta Reyhan kepada Kinanthi sangatlah besar, sehingga dia tidak mampu kehilangan.
"Ini semua gara-gara Alya. Kenapa kamu tidak nurut sama aku, Nan? Kenapa kamu harus mencari Alya malam itu? Seandainya kamu dengarkan kata-kataku untuk tidak mencari Alya, kamu pasti masih ada di sini bersamaku."
Entah kenapa Reyhan benar-benar merasa muak jika melihat Alya. Lelaki itu selalu merasa Alya adalah penyebab kematian sang istri. Ingin rasanya Reyhan mengusir Alya dari rumahnya. Setiap kali melihat gadis itu, Rehan selalu teringat pada kecelakaan yang menimpa Kinanthi malam itu. Namun Reyhan tidak mungkin mengusir adik iparnya begitu saja. Walau bagaimanapun juga, Alya adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Kinanthi. Semasa hidupnya, Kinanti sangat menyayangi Alya melebihi apapun. Kinanti akan marah jika Reyhan mengusir Alya dari rumahnya.
Reyhan menghembuskan napas kasar saat mengingat kata-kata ibunya beberapa waktu yang lalu. Wanita paruh baya yang sudah melahirkannya 35 tahun yang lalu itu memintanya menikahi Alya dengan pertimbangan karena gadis itu sebatang kara. Lagipula Alya masih saudara Kinanthi. Jadi, tidak ada salahnya kalau Reyhan turun ranjang dengan menikahi Alya.
Rehan mengacak rambutnya kasar. Bagaimana mungkin dia bisa menikahi Alya yang notabene adalah wanita yang sangat dia benci? Namun, untuk menolak keinginan sang ibu, Reyhan pun tidak tega karena baginya perintah ibu adalah jalan surga. Akhirnya terpikir ide gila di otak lelaki itu. Dia akan menikahi Alya untuk menyenangkan sang ibu juga demi membalaskan rasa kesalnya terhadap gadis itu karena telah menyebabkan sang istri meninggal dunia.
Raihan menatap kemeja berikut jas putih, dasi dan celana panjang warna senada, bahkan pakaian dalam yang telah disiapkan Darsih di atas ranjangnya. Lelaki itu kemudian membuka handuknya dan memakai stelan kemeja dan celana yang sudah dipersiapkan Darsih. Meskipun sudah tidak ada Kinanthi, Rehan tidak perlu khawatir akan kebutuhannya sehari-hari karena semua sudah disiapkan oleh Darsih, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja bersamanya.
Mulai dari pakaian, makanan, bahkan putrinya Tasya sudah sangat dekat dengan Darsih. Wanita paruh baya itu sudah bersamanya semenjak dia menikah dengan Kinanthi. Kini sudah lebih dari 10 tahun Darsih menjadi asisten rumah tangganya sehingga wanita di paruh baya itu sudah hafal betul apa saja yang dia butuhkan setiap hari.
Reyhan mematut dirinya di depan cermin. Wajah kotak dan rahang kokohnya yang dipenuhi bulu tipis masih tampak sangat tampan. Di usianya yang memasuki 35 tahun, Reyhan memang tergolong lelaki yang mapan dan sukses. Selain wajah yang tampan dan tubuh atletis, karirnya sebagai Ceo disebuah perusahaan ternama di Surabaya juga sedang melambung. Maka tak heran jika baru sebulan menyandang status duda, sudah banyak wanita yang mencoba mendekati untuk mencoba menjadi pendamping hidupnya. Namun, tak satupun dari mereka yang mampu menggantikan Kinanti di hati Reyhan.
Hari ini, Reyhan akan melaksanakan akad nikah untuk yang kedua kali dalam hidupnya. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu saat dia akan menikah dengan Kinanthi yang diselimuti rasa bahagia, karena memang keduanya menikah atas dasar saling mencintai. Namun kali ini Reyhan harus menikahi wanita yang bahkan mrmbuatnya muak hanya demi memenuhi permintaan sang ibu.
"Rey, kamu sudah siap? Kenapa lama sekali dandannya?" tanya Dewi sembari mengetuk kamar Rehan.
"Iya, Bu. Sebentar lagi saya siap," balas Rehan dari dalam kamar.
"Cepat keluar! Penghulunya sudah datang. Jangan biarkan beliau menunggu lama," tambah Dewi.
"Iya, Bu. Saya keluar." Reyhan beranjak dari depan cermin. Lelaki tampan bercambang tipis itu segera keluar kamar karena tidak ingin membuat sang Ibu menunggu lama.
"Wah, ganteng sekali putra Ibu. Pasti nanti Alya akan terpesona melihat kamu," puji Dewi sembari membenarkan letak dasi putranya.
"Biasa saja, Bu. Dari dulu putra ibu ini kan memang tampan," balas Reyhan datar. Lelaki seperti dia memang sudah terbiasa dengan pujian akan ketampanan. Dewi hanya menggeleng pelan mendengar jawaban putranya. Wanita paruh baya itu kemudian menggandeng lengan Reyhan dan mengajaknya turun ke lantai bawah karena Alya dan juga penghulu sudah menunggu.
Saat melihat Reyhan turun dari lantai atas, Alya seolah tersihir dengan ketampanan duda mantan suami kakaknya itu. Begitu pula Sisil, sahabat Alya yang setia menemani gadis itu. Sisil yang duduk di samping Alya berkali-kali mengikutkan lengannya ke tangan Alya membuat gadis itu semakin salah tingkah.
"Gila, Al. Itu kakak iparmu kenapa makin tampan aja? Beruntung banget kamu bisa menikah dengannya," bisik Sisil membuat wajah Alya merah merona. Jantung Alya seolah berhenti berdetak, saat Reyhan duduk tepat di sampingnya dan berhadapan dengan penghulu. Baru kali ini, Alya berada di posisi yang sangat dekat dengan mantan suami kakaknya itu. Harum parfum duda tampan itu benar-benar telah memanjakan indera penciuman Alya, sehingga gadis itu mabuk kepayang. Sepertinya Alya sudah mulai melupakan Axel.
"Apa acaranya sudah bisa dimulai?" Pertanyaan Penghulu membuyarkan lamunan Alya. Gadis itu menundukkan pandangan saat Reyhan meliriknya dengan tatapan tajam.
"Silahkan dimulai, Pak. Kami sudah siap," jawab Reyhan tegas.
"Baiklah, sekarang kita mulai acaranya." Penghulu mengulurkan tangan dan Reyhan pun membalas jabat tangannya. Karena Alya anak yatim piatu, maka walinya diwakilkan pada wali hakim.
"Saudara Reyhan Mahendra bin Ferry Ardiansyah almarhum, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alya Safeeya binti Rustam Effendi almarhum dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 30 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Safeeya binti Rustam Effendi almarhum dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah. Barakallahu lakuma wabaraka alaikuma wa jamaa bainakuma bil khoir. Setelah selesai pembacaan doa, kedua mempelai saling menyematkan cincin pernikahan. Senyum bahagia terlukis di bibir tipis Alya. Meski gadis itu sempat merasa bersalah kepada Kinanthi karena menikah dengan Reyhan, tetapi Dewi berhasil meyakinkannya bahwa dengan menikah dengan Reyhan Alya akan bisa menebus kesalahan yang telah Ia berbuat kepada Kinanti. Karena dengan menikahi Reyhan, Alya bisa menggantikan tugas Kinanthi untuk merawat juga menjaga Reyhan dan Tasya.
Sangat bertolak belakang dengan Alya, Reyhan menampakkan senyum palsu yang sengaja dia ukir untuk mengelabui banyak orang tentang perasaannya. Reyhan tetap tersenyum meski hatinya sangat muak dengan pernikahan ini.
Acara ijab kabul sederhana itu pun akhirnya usai. Setelah acara ramah tamah, beberapa tetangga yang sengaja diundang Dewi untuk menjadi saksi pernikahan Reyhan dan Alya pun meninggalkan rumah itu. Dewi meminta sepasang pengantin baru itu untuk beristirahat di kamar. Sedangkan dirinya membantu Darsih membereskan dapur.
"Ganti bajumu di kamar mandi! Aku nggak mau kamu buka baju di sini," titah Reyhan saat Alya hendak membuka kebaya pengantinnya.
"I-iya, Mas," balas Alya gugup.
"Jangan panggil aku Mas. Aku enek dengernya. Panggil aku Om seperti biasanya!"
"T-tapi kita kan sudah--"
"Menikah maksudmu? Ingat, ya, Alya. Aku menikahimu karena permintaan ibu. Jangan pernah berharap lebih dari pernikahan kita, karena aku sangat muak sama kamu." Setelah berkata demikian, Reyhan keluar dari kamar. Alya menjatuhkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Kedua kakinya melemas seolah tidak mampu menopang bobot tubuhnya. Gadis itu mengusap kedua matanya yang telah basah oleh air mata.
"Ya Tuhan ... ternyata Om Rey masih membenciku. Apakah aku bisa menjalani pernikahan ini?" batin Alya sedih.