"K-kau baik-baik saja?" Reyna bertanya khawatir.
"Ugh." Fan mengusap pipi, bangkit dari jatuhnya, lantas duduk di lantai.
Reyna berjongkok di depan Fan untuk memastikan sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Dia melihat sudut bibir Fan yang terluka. Reyna meringis, entah mengapa tiba-tiba dia bisa merasakan sakitnya.
Fan yang menyadari Reyna meringis segera bertanya, "Aku yang jatuh, kenapa kau yang meringis?"
Sekejap Reyna terpaku, membuat pria di depannya menatap curiga.
"Kau khawatir padaku?" tanya Fan penuh selidik, sudut bibirnya yang terluka itu tertarik membentuk senyum miring.
Seketika Reyna mengubah ekspresinya. Jika tadi dia merasa kasihan, sekarang dia merasa jengah pada pria itu. Hampir saja Reyna melayangkan tinjunya lagi, kalau saja Fan tidak segera berpura-pura kesakitan.
"Aaah, ini sakit sekali," ucap Fan sambil menutup mata dan memegangi sudut bibirnya.
Tinju Reyna tertahan di udara. Gadis itu menghela napas singkat. Kemudian, dia bangkit dan meninggalkan Fan.
Fan bingung, melihat Reyna melangkah ke luar toko. "Hei, kau mau ke mana?" Fan mencoba untuk menghentikannya, tetapi tidak berhasil.
Pria itu mendecak, lalu bangkit dari posisi duduk. Fan menjatuhkan tubuh di sofa. Dia mengeluarkan ponsel untuk bercermin.
"Memangnya aku salah? Kenapa dia pergi tiba-tiba," gerutunya sambil mengecek kondisi wajah tampannya yang terluka.
Fan mengira jika Reyna pergi meninggalkannya. Namun dia salah. Dia tertegun ketika mendengar suara langkah kaki dan melihat Reyna datang menghampiri, bersama kotak P3K.
Gadis itu mendarat di sebelah Fan, sedangkan Fan masih mencerna apa yang dilakukannya. Dia melihat Reyna mengeluarkan kapas dan obat merah. Kemudian gadis itu menatap ke arahnya, siap untuk mengobati.
"Kau mau mengobatiku?" tanya Fan ragu.
"Kalau tidak mau tidak apa-apa." Reyna hendak membereskan kembali kotak P3K-nya.
"Eh, iya, iya. Kau harus mengobatiku," ucap Fan, melarang Reyna membereskan kotaknya.
Reyna mendengus, sedangkan Fan melebarkan senyum. Pria itu bersandar di sofa, membiarkan Reyna mengobati sudut bibirnya yang terluka.
"Ternyata kau baik juga ya," puji Fan, kedua matanya tak berkedip menatap Reyna, membuat gadis itu jengah.
Reyna mengabaikannya, setidaknya sampai dia selesai mengobati pria itu. Namun dia tidak tahan, sesekali dia melirik Fan yang menatap dan menggodanya dengan senyum smirk. Merasa geram, Reyna sengaja menekan-nekan-kan kapas yang berlumur obat merah di luka Fan, membuat pria itu meringis.
"Aah! Aah! Rey." Fan mencengkram tangan gadis itu agar berhenti. "Sakit tau," protesnya.
Sekejap keduanya terpaku. Fan menatap kedua manik mata Reyna penuh rasa kagum, sedangkan Reyna hanya diam tak bergerak, bagaikan lukisan dinding yang sedang dinikmati oleh pemiliknya.
Sejak tadi Reyna melihat ke arah tangan Fan yang mencengkram, berharap pria itu sadar dan segera melepaskan tangannya.
Namun Fan tak juga sadar, dan sepertinya tidak ingin sadar. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengagumi keindahan itu dari dekat, keindahan yang sebelumnya sangat sulit untuk ia raih. Reyna pasti akan menonjoknya jika situasinya tidak seperti ini.
"Lepaskan tanganku," ucap Reyna pada akhirnya. Dia menatap ke wajah Fan, membuat pria itu berkedip untuk pertama kalinya setelah berkata 'sakit tau'.
Namun Fan tidak melepaskannya, malah menarik tangan gadis itu agar semakin mendekat ke arahnya.
Reyna tertegun. "Apa yang kau--!"
"Rey, aku serius, aku akan menikahimu besok," ucap Fan bersungguh-sungguh.
Kedua mata Reyna membulat sempurna, lantas berkedip beberapa kali. "K-kau, akan, melepaskan, t-tanganku bukan?" tanyanya hati-hati. Entah mengapa sekarang Reyna merasa takut pada tatapan pria itu.
"Tidak, sampai kau mengatakan iya," jawab Fan.
Reyna merasa kacau, hati dan pikirannya sedang bertengkar. Di sisi lain dia tidak ingin mengatakan iya, tapi anehnya dia tidak bisa marah. Biasanya Reyna akan mengamuk jika Fan melakukan hal ini. Namun sekarang, jujur dia merasa sangat canggung. Namun dia berusaha keras untuk tidak menampakkannya.
"Fan, lepaskan aku," titah Reyna.
"Tidak," kata Fan, teguh pada pendiriannya.
Reyna mencoba untuk menarik tangannya, tapi dia tidak berhasil. Fan menahannya sangat erat, bahkan sampai membuat kapas yang semula berada di tangan Reyna jatuh ke lantai.
"Fan!" seru gadis itu.
"Aku sudah mengatakannya tadi. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mengatakan iya," ucap Fan.
"Kalau seperti itu sama saja kau memaksaku!" Reyna kembali menyeru.
"Aku tidak punya pilihan lain."
"Aku tidak mau!" pungkas Reyna.
Seketika cengkraman tangan Fan melemah. Pria itu tersadar sesuatu. Dia terlalu memaksakan kehendak.
Reyna menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangannya. Dia bangkit hendak meninggalkan Fan.
"Rey, aku … "
"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Kau sama saja seperti pria *m***m* di luar sana. Hanya bisa memaksa!" ungkap Reyna.
Gadis itu melangkah meninggalkan toko komik. Sementara Fan tampak meratapi diri. Pria itu menunduk lemah, membiarkan rambutnya meliuk ke bawah.
Ia sudah berkali-kali ditolak, tapi tidak tahu kenapa, hari ini rasanya sangat sakit, membuat Fan ingin membenci dirinya sendiri.
Dia mengeluarkan kalung berlian dari saku celana. Seharusnya dia tidak menggunakan cara ini. Namun sekarang Fan tidak punya pilihan. Reyna pasti sangat membencinya.
Fan mengingat perdebatannya dengan Jamie dan Mahesa tadi pagi.
"Ini tidak adil! Kau tidak bisa melamarnya dengan kalung berlian itu. Kita mendapatkannya bersama-sama!" protes Jamie setelah mendengar Fan ingin melamar Reyna dan memberikan kalung itu padanya.
Mahesa manggut-manggut, setuju dengan ucapan Jamie.
"Kenapa tidak adil? Kau mau bekerja sama denganku karena kau butuh tempat tinggal," ucap Fan pada Jamie. "Aku sudah memberimu tempat tinggal."
"Kau juga." Kali ini Fan menunjuk Mahesa. "Kau berjanji akan mengabdi padaku seperti kau mengabdi pada tanah air negeri."
Mahesa cemberut, sedangkan Jamie masih tidak setuju dengan pembagian hasil yang hanya menguntungkan satu pihak seperti ini.
"Aku sudah memutuskan, berlian ini milikku, dan aku akan memberikannya pada Reyna," ucap Fan mengakhiri penjelasan singkatnya.
Jamie mendengus kesal, pria itu berkacak pinggang. "Apa kau pikir Reyna akan menyukaimu setelah mendengar bahwa berlian itu hasil curian!" serunya.
"Kami bertaruh dengan berlian itu, Reyna pasti akan membencimu!" tambah Jamie. Pria itu menyenggol bahu Mahesa dan menyuruh pemuda itu untuk mendukungnya.
"Hm." Mahesa mengangguk sekali sambil melipat kedua tangan di depan perut.
Mulanya Fan tidak percaya dengan taruhan mereka, dan tetap bersikeras untuk membuat Reyna bersedia menikah dengannya, apapun caranya. Dia ingin membuktikan pada Jamie dan Mahesa bahwa Reyna bisa menerimanya.
Namun sekarang semuanya tampak jelas. Reyna membencinya, bahkan sebelum Fan sempat memberitahu tentang jati diri yang sebenarnya, bahwa dia adalah seorang pencuri. Jika Reyna tahu, pasti gadis itu akan semakin membencinya.
Fan menghembuskan napas berat. Seharusnya dia menyadari hal itu. Reyna tidak akan membuka hati untuk orang lain, begitupun dengan dia.
Fan menyimpan kembali kalung itu di saku celana. Tanpa semangat, dia keluar dari toko komik. Dia tidak sadar jika ada orang yang mengambil fotonya bersama berlian itu. Orang itu juga sudah memperhatikan Fan dan Reyna sejak tadi, bahkan dia juga sudah mengambil foto Reyna.
Mobil Fan melaju di jalanan. Berkali-kali Fan menghembuskan napas frustasi, sampai akhirnya dia tiba di rumah. Fan mengaku pada Jamie dan Mahesa bahwa dia kalah.
"Bukankah aku sudah bilang," ucap Jamie setelah melihat Fan tak bersemangat.
Pria itu meletakkan kalung berliannya di atas meja, membuat Mahesa mengambilnya dan mengeceknya.
"Sudahlah, tidak perlu murung seperti itu. Masih banyak yang akan menerimamu apa adanya," nasehat Jamie, tidak tahu baik atau buruk, tapi sepertinya buruk. Sudah jelas bahwa pekerjaan mereka itu merugikan banyak orang.
"Kita harus memesan tiket pesawat. Berlian ini memiliki harga tinggi di Mediterania," ucap Fan.
Kini Jamie bersemangat. Ucapan Fan itu berarti bahwa mereka akan menjual kalung berliannya dan membagi hasil secara adil. Mahesa pun tak kalah semangat dengan Jamie.
***
Reyna turun di halte tak jauh dari Universitas Burnei. Gadis itu masih kesal sebab ulah Fan tadi. Dia melihat jam yang melingkar di tangan, menunjukkan pukul empat lebih lima puluh lima menit. Hanya tersisa lima menit sebelum pintu utama gedung asrama ditutup.
Reyna memutuskan untuk berlari mengejar waktu. Namun sesuatu yang buruk terjadi. Belum sempat dia memasuki gerbang kampus, dua orang sudah menyekapnya dan hendak membawanya masuk ke mobil.
"Apa-apaan ini!" Reyna menyeru, menahan tubuhnya, bersiap untuk menendang orang itu.
Namun ternyata mereka tidak hanya dua orang. Satu orang lagi keluar dari mobil, lalu mengangkat kaki Reyna, mereka bertiga menggotong Reyna masuk ke dalam mobil.
"Hmmpp!"
________________
Nah, kan. Fan kamu harus tanggung jawab!