Siang itu, setelah waktu perkuliahan selesai, Reyna mendapati ponselnya menerima pesan. Sebelum membuka pesan itu, terlebih dulu Reyna membereskan barang-barangnya di meja. Kemudian, seorang gadis menghampirinya.
"Hai."
Reyna mendongak, melihat gadis yang waktu itu dia selamatkan dari para pelaku perundungan.
"Oh, kau. Hei, aku tidak sadar jika sekarang kita berada di kelas yang sama."
Teya tersenyum, lalu memberikan sesuatu pada Reyna. "Aku membuatkannya untukmu."
Dilihatnya gadis itu memberikan sekotak makan siang. Reyna tidak mengira jika gadis itu sangat berterima kasih sampai-sampai membuatkannya makan siang.
"Hei, tidak perlu repot-repot. Aku ikhlas menolong mu jika para pelaku perundungan itu kembali. Tidak perlu merasa berhutang budi." Reyna terkekeh, bermaksud untuk membuat Teya bersikap santai terhadapnya.
Namun Teya justru terlihat sedih sebab Reyna menolak pemberiannya. Gadis itu memeluk kotak makan yang tidak diterima, membuat Reyna merasa tidak enak. Hingga pada akhirnya Reyna menerima pemberian Teya sebab gadis itu tidak kunjung pergi.
"Oke, baiklah, ini untukku. Terima kasih. Omong-omong, apa kita berada di semester yang sama?" tanya Reyna.
Teya mengangguk dengan senyum yang sudah kembali. "Sama sepertimu, dulu aku juga menerima beasiswa di kampus ini."
Reyna mengernyit. "Oh, kau juga melihat namaku."
"Kau mendapat skor tertinggi," ucap Teya.
Reyna tertawa singkat. "Percaya lah, sebenarnya aku tidak sepandai itu," ucap Reyna yang mengira bahwa Teya baik padanya sebab menganggap dirinya murid unggul.
"Wah! Jadi benar tebakan kita semalam." Tiba-tiba suara itu muncul.
Barnas dan dua temannya yang semalam menghampiri Reyna, kini kembali datang menghampiri mereka. Teya berpindah ke belakang tubuh Reyna setelah melihat tiga pria itu, membuat Reyna bertanya-tanya.
"Apa?"
"Kau yang menyelamatkan gadis ini," ucap Barnas.
"Memangnya kenapa?" tanya Reyna tanpa perasaan takut sedikit pun, malah dia mengangkat wajah, menantang mereka, melindungi Teya yang bersembunyi di belakangnya.
Sontak tiga pria itu menunduk untuk menertawakannya. Entah apa yang lucu bagi mereka. Namun Reyna tidak lengah. Dia tetap waspada, terlebih lagi ketika pria bernama Barnas itu maju dan menarik tangannya, lalu menyeretnya ke pojokan.
Teya terkejut. Dia tidak memiliki nyali untuk menolong Reyna. Bahkan saat ini dirinya ditahan oleh dua pria yang lain. Beberapa orang yang masih berada di kelas pun tak berkutik, mereka malah menjadikan hal itu sebagai tontonan.
Reyna masih diam, mengamati keadaan sekitar. Bukannya tidak berani untuk melawan, dia hanya ingin melihat siapa yang akan peduli, dan ternyata memang tidak ada. Sungguh fenomena pertengahan abad yang sangat tidak ber-perikewanita-an.
Gadis itu menoleh untuk melihat tangannya yang ditahan oleh pria di depannya. "Lepaskan, aku tidak ingin membuat keributan," ucap Reyna, masih memberinya kesempatan.
Sementara di sebelah sana, Teya tidak bisa bergerak.
Barnas tersenyum getir. "Kau mau taruhan?"
Apa maksudnya taruhan? Siapa pria itu sebenarnya? Kalian mau tau, dia adalah penjahat wanita. Seorang pria yang sengaja daftar dan masuk ke kampus untuk mengoleksi para gadis. Pekerjaan sehari-harinya adalah merundung, menjadikan mereka bahan untuk bersenang-senang. Dan satu lagi hal yang sangat memprihatinkan, pria sepertinya tidak hanya ada satu.
"Jika kau kalah, kau harus menjadi gadis penurut untukku selama satu minggu."
"Cisk!" Reyna mendecak getir. "Kalau kau yang kalah, kau harus keluar dari kampus ini selama-lamanya!"
Dugg!
Reyna menendang pangkal paha pria itu dengan lutut, membuatnya kejang beberapa saat. Tak ingin membuang waktu, Reyna segera menambahkan tonjokan di wajah pria itu. Dia tidak berhenti menyerang, juga tak memberi kesempatan pria itu untuk menyerangnya.
"Agh!" Barnas meringis, membuat orang-orang yang melihatnya tak percaya.
Bagaimana bisa dia kalah?
Reyna memasang kuda-kuda. Kali ini dia memberi kesempatan untuk pria itu. Dia menantangnya untuk maju menggunakan empat jari.
"Aarrghh!" Barnas tersulut emosi. Dia langsung maju untuk menyerang gadis itu tanpa ampun.
Malangnya, tetap dia yang terpukul mundur. Malah kali ini Reyna membuatnya sampai terpental hingga akhirnya mendarat di atas meja. Suara dentuman antara b****g* dan meja menjadi saksi bahwa Reyna berhasil mengalahkannya.
Dua pria yang menahan tangan Teya pun segera melepaskan gadis itu ketika Reyna menatap ke arah mereka. Kini suasananya terasa awkward bagi para pelaku perundungan yang sudah kalah. Reyna membersihkan tangannya.
"Aku masih memberikan kesempatan padamu untuk tetap berada di kampus ini, dengan syarat kau tidak akan menggangguku, juga mengganggu gadis lainnya. Kecuali jika gadis-gadis itu memang menginginkanmu." Reyna tertawa getir, membayangkan beberapa gadis yang rela dibayar untuk menjadi pemuas hasrat pria itu.
Dia mengambil tas, ponsel, juga kotak makan yang terletak di meja, lalu melenggang meninggalkan kelas. Namun sebelum itu, Reyna sempat berterima kasih pada Teya atas makanannya.
"Terima kasih makanannya." Reyna melempar senyum pada gadis itu.
"Oke," balas Teya dengan senyum juga.
Sambil melangkah, Reyna membaca pesan di ponselnya.
|Lama tak bertemu, aku menunggumu di luar| Fan.
Di koridor, Reyna mendongak, melihat Fan yang benar-benar sudah menunggunya di halaman parkir. Pria itu bersandar di sebuah mobil berwarna ungu metalik yang tidak pernah Reyna lihat sebelum ini. Segera dia menghampirinya.
"Untuk apa kau menjemput ku? Tempat tinggal ku sangat dekat dari sini, bahkan hanya memakan waktu lima menit jika aku berlari," kata Reyna.
Fan tidak menjawab, hanya memamerkan senyum serta gayanya, yang memang saat ini terlihat lebih keren dari hari-hari sebelumnya.
"Tunggu, mobil siapa ini?" tanya Reyna seraya mengangkat sebelah alis.
"Kau tidak mengenalinya?" Fan bertanya kembali.
"Kau menyewa mobil mewah hanya untuk menjemput ku?" tuding Reyna.
Sekejap Fan terpaku, detik berikutnya dia menghela napas singkat. "Aku mengganti warna cat mobilku," kata pria itu.
"Oh, benarkah? Tapi ini terlihat baru," kata Reyna.
"Sudah. Ayo, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ajak Fan.
"Tidak, tidak, aku tidak boleh keluar dari area kampus," tolak Reyna. "Aku harus kembali ke asrama."
"Oh, ayolah. Aku punya banyak hal baru untuk ditunjukkan padamu," bujuk pria itu. Dia sudah sangat merindukan Reyna, sudah lama mereka tidak bertemu, tapi perasaan Fan untuk gadis itu masih tetap sama.
Reyna berpikir sesaat, sebenarnya dia mau menerima ajakan Fan. Namun dia harus kembali ke asrama sebelum pukul lima sore, sebab setelah pukul lima, pintu utama gedung asrama akan dikunci, dan hanya pengurus saja yg tahu password pintunya. Reyna menatap Fan, lalu dia mendapatkan ide.
"Jika aku terlambat, maka aku tidak bisa pulang. Aku tidak bisa pergi. Kecuali jika kau bisa membantuku mengetahui password pintu utama," ucap Reyna.
"Setuju," kata Fan. Segera dia membukakan pintu mobil untuk gadisnya. "Silahkan, Nyonya."
Reyna tertawa malu. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Apa-apaan ini."
Mobil pun melaju meninggalkan kampus. Salah satu security tampak memperhatikan mobil itu lekat-lekat, dia seperti pernah melihatnya dengan warna yang berbeda. Security itu pun mengecek plat mobil tersebut, dan ternyata berbeda dari mobil yang pernah menjadi buronan mereka.
Fan beruntung sebab telah mengganti plat mobilnya, membuat security itu tidak mengenalinya. Dia juga beruntung sebab saat mengantar Reyna hari itu, dia tidak bertemu security yang mengenali mobilnya. Fan memang sengaja mengubah semuanya, untuk menghindari orang-orang yang mengejarnya sebab Jamie.
Setelah melaju cukup lama, akhirnya Fan dan Reyna tiba di sebuah toko komik klasik. Reyna mengernyit bingung. Untuk apa Fan mengajaknya ke tempat seperti ini?
"Apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Reyna penasaran, sekaligus curiga.
"Ee, toko ini," jawab Fan kikuk.
"Memangnya ada apa di sini?"
Pria itu menggaruk leher, sebenarnya Fan hanya ingin bersama dengan Reyna. Selain itu, ada sesuatu yang juga ingin dia ungkapkan. Namun Fan tampak ragu.
"Ada … komik, hehe," jawab pria itu.
Kedua alis Reyna menyatu. Gadis itu melipat kedua lengan di depan perut. "Kau mengajakku kemari hanya untuk menemanimu membaca buku?"
Akhirnya Fan punya alasan. "Ya. Bukankah ini hal baru. Toko komik sangat jarang dikunjungi akhir-akhir ini."
Reyna menghela, lalu mendarat di salah satu kursi. "Untuk apa datang ke toko komik kalau kau bisa membacanya di ponsel," kata Reyna.
"Aku pikir membaca di sini lebih menyenangkan." Fan mencari buku yang dia inginkan.
Reyna mencoba untuk mengerti apa yang diinginkan Fan. Lagipula sudah lama dia tidak bertemu dengan pria itu. Dia mengambil salah satu komik untuk dibaca. Hal itu membuat Fan lega.
"Kenapa tadi kau lama sekali?" tanya Fan.
"Apa?"
"Aku melihat orang-orang sudah keluar dari kelas, tapi kau belum."
"Em, ada seseorang yang mengajakku taruhan," jawab Reyna.
"Taruhan? Untuk apa?"
"Dia menantang ku untuk mengalahkannya. Dia bilang aku harus menjadi gadis penurutnya selama seminggu jika aku kalah. Hhe! Dia bukan lawanku," ucap Reyna dengan senyum getir.
"Dia seorang pria!" Fan tertegun. "Kenapa kau tidak langsung bilang padaku saat di kampus tadi?"
Reyna terpaku sekejap, lantas menoleh pada Fan. "Memangnya kenapa?"
"Setidaknya aku harus memberi pelajaran pada pria *m***m* itu." Fan tampak serius.
Sejenak Reyna memperhatikannya. Entah lah, Fan tampak lucu saat mengatakan hal itu.
Reyna tertawa kecil. "Tidak perlu. Dia langsung kalah tanpa sempat menyerangku."
"Benarkah? Bukankah itu memalukan? Dia kalah dengan seorang wanita, haha." Fan ikut tertawa, terbawa suasana.
"Hei, jaga ucapanmu, Tuan. Jika itu kau, aku yakin kau juga tidak akan menang," ucap Reyna.
Fan menatapnya tak serius. "Kau mau bertaruh?" tantangnya dengan sudut bibir tertarik.
Reyna bangkit dari posisi duduk. "Kau pikir aku takut. Kau harus meneraktir ku makan selama seminggu jika kau kalah," ucap Reyna menerima tantangan.
"Dan kau harus menjadi gadis penurut untukku selama-lamanya jika kau kalah," ucap Fan, membuat Reyna terkejut, dan otomatis membuat bibirnya perlahan melengkung ke bawah.
Tanpa aba-aba, Reyna langsung menendang kaki pria itu.
"Akh!" Fan terlonjak hampir terjatuh. "Hei, aku hanya bercanda." Pria itu tidak menyangka jika Reyna akan menyerangnya sungguhan.
Bukannya berhenti, Reyna malah kembali memukulnya.
"Akh!" Fan terpukul mundur. Dia melihat Reyna yang menantangnya untuk maju menggunakan empat jari.
"Oh, jadi kau benar-benar menantang ku." Fan meregangkan otot-otot tubuhnya, dia siap untuk beradu kekuatan.
Namun, pukk!
"Akh! Hei." Fan kembali terkena pukulan Reyna.
"Haha. Lemah." Reyna tertawa. Kembali dia melayangkan tinju untuk Fan.
Namun kali ini Fan tidak ingin kalah. Meski sedikit terlambat, tapi sekarang dia berhasil menangkis serangan keempat dari gadis di depannya. Dia menahan tangan Reyna di depan wajah.
Tak kehilangan ide, Reyna masih punya jurus untuk menjegal kaki pria itu. Namun sial, dia gagal. Fan lebih cepat membuat tangannya terkunci di punggung.
"Aah!" Reyna meringis sebab Fan memutar tubuhnya dan mengunci tangannya di punggung.
Fan mendorong tubuh Reyna hingga terpojok dan membungkuk di atas meja. Suara kaki meja yang terseret di lantai menjadi saksi bahwa saat ini Reyna berada di bawah serangan pria itu.
"Hebat," puji Fan untuk dirinya sendiri. "Apa aku menang?" godanya.
Reyna menggeram sebab tak bisa bergerak. Posisinya yang memunggungi Fan membuat pria itu menghimpit tubuhnya dengan meja, juga mengunci satu tangannya di punggung.
"Apa kau menyerah? Kalau iya, aku akan membuka pakaianmu di sini."
Kedua mata Reyna terbelalak. "Lepaskan aku. Kau lebih *m***m* dari pria yang aku temui sebelum ini."
Fan tertawa. "Ayolah, aku hanya bercanda," bisiknya di telinga Reyna.
"Oh, Fan, lepaskan aku!" Reyna tidak bisa menganggap hal ini sebagai lelucon lagi. Dia bergerak sampai membuat meja yang ia tindih berguncang.
Belum sempat Fan melepaskan Reyna, sang pemilik toko komik menghampiri mereka. Dia datang sebab mendengar suara orang berkelahi.
"Tolong jangan buat keributan di --- " Ucapannya terpotong sebab melihat Fan tampak sedang mendominasi gadis di bawahnya.
Reyna bergerak, mengisyaratkan Fan untuk segera melepaskan tangannya dan menjauh dari belakang tubuhnya. Segera pria itu melepaskannya.
"Ini bukan hotel," ucap pemilik toko itu memperingati sebelum kembali meninggalkan mereka.
"Ya, aku tau, lagipula kami hanya bercanda," ucap Fan tanpa merasa bersalah. Dia benar-benar sedang bercanda sejak tadi.
Sementara Reyna entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan. Bodohnya dia menganggap taruhan itu sungguhan.
"Bukankah begitu, Re --- "
Dugg!
"Akh!"
Reyna baru saja menonjoknya lagi. Kali ini sampai membuat Fan tergeletak di lantai, tepar. Reyna tidak tahu mengapa serangan yang terakhir ini sangat dahsyat. Namun yang pasti, dia merasa jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Barusan Fan membuat hati dan pikirannya terancam.
____________
Jatuh cintanya seorang Reyna emang beda ya, wkwkwk.